Hidup tak pernah memberi pilihan mudah pada Regatta Aulia, atau yang biasa dipanggil 'Ega'. Dia adalah seorang gadis berusia 21 tahun, yang tumbuh di dalam lingkungan sebuah panti asuhan sejak dilahirkan.
Suatu malam, Ega berhasil menyelamatkan seorang pria. Pria itu adalah Raka Adinata (27 thn), seorang pengusaha muda kaya raya yang baru saja kehilangan segalanya akibat pengkhianatan orang-orang terdekatnya.
Ega hanya berniat untuk menyelamatkan pria tersebut, namun dia tidak menyangka ... jika usahanya malam itu malah menjebaknya di dalam putaran arus kehidupan pria itu lebih dalam.
Di tengah pertengkaran, rahasia masa lalu, perebutan perusahaan, dan perasaan yang perlahan tumbuh, Regatta dan Raka mengerti akan satu hal:
"Keluarga bukan selalu tentang darah, akan tetapi tentang seseorang yang memilih untuk tinggal."
↔ UPDATE 2X SEHARI, JAM 12 SIANG DAN JAM 3 SORE.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PITB - 01.
...꧁✿ 🅷🅰🅿🅿🆈 🆁🅴🅰🅳🅸🅽🅶 ✿꧂...
Langit Bandung menumpahkan rintik hujan yang deras malam itu. Di bawah pendaran lampu kota yang sendu, seorang wanita berjalan membelah malam.
Regatta Aulia, gadis berusia 21 tahun yang jenius, lulusan S2 IT dengan predikat 'Summa Cumlaude', sekaligus sosok rahasia di balik nama 'Queen Relia'—seorang CEO Jenius dari REGALL SECURITY.
Srak!
Sambil merapatkan jaket parasut serta membuka payungnya, Ega menenteng kantong plastik berisi makanan dari sebuah restauran yang menjadi 'kamuflase' pekerjaan sehari-harinya.
"Semoga adik-adik panti belum pada tidur," gumam Ega, melirik jam tangannya yang hampir menyentuh angka dua belas malam.
Tap ... Tap ... Tap ...
Langkahnya mendadak melambat saat tiba di ujung jembatan. Siluet seorang pria berdiri tegak di atas pembatas jembatan, menatap derasnya sungai di bawahnya.
"Astaga Dragon ... itu manusia apa dedemit jembatan, ya? Tapi kakinya napak tanah, sih," bisik Ega panik.
Wajahnya langsung pucat-pasi, karena dia memang takut dengan yang namanya 'Dunia Perhantuan'.
"Duh, Gusti nu Agung! Kumaha ieu teh? Mana sepi banget lagi!" gumamnya dengan suara gemetar.
Dengan sisa keberaniannya yang setipis jembatan 'Shirattal Mustaqim' itu, Ega mendekat dan menepuk bahu pria itu.
Pluk!
"Um ... permisi Om, Abang, Pak, A'a ...???" panggilnya dengan nada ragu.
Tidak ada jawaban ...
Pria itu sangat tampan, mengenakan jaket mahal yang sudah basah kuyup, dengan rambut basah yang menutupi sebagian wajah pucatnya.
"Haish! Saha maneh, hah?! Manusia apa jurig? Eneng takut, tahu!" seru Ega kesal karena diabaikan.
"A'a... jawab atuh ah!" pintanya dengan suara gemetar, hampir menangis.
Sret!
Pria itu akhirnya menoleh perlahan ...
Matanya kosong dan sarat akan kelelahan yang amat dalam.
"Pergilah! Jangan pedulikan saya!" ujarnya dengan nada dingin.
Regatta menatap mata itu perlahan, dia tahu pancaran rasa lelah itu. Rasa lelah dari seseorang yang merasa dunianya sudah runtuh.
"Anda mau melompat, ya?" tanya Ega dengan nada blak-blakan.
Pria itu tersentak, dia menatap Ega dengan tatapan mata yang penuh.
"Bagaimana jika saya benar-benar ingin melakukan hal itu?" tanya pria itu, datar.
Regatta tidak berteriak panik, dia justru mengikat payungnya di pembatas jembatan, lalu melipat kakinya dan duduk santai di jalanan basah pinggir jembatan itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu dengan nada bingung.
"Saya sedang duduk," jawab Ega singkat.
"Saya melihatnya! Kamu pikir saya buta?!" ujar pria itu dengan nada kesal.
"Baguslah, itu artinya mata Anda masih berfungsi dengan normal!" sahut Ega dengan nada santai.
"Kamu ini sedang apa sih?! Pergi sana! Jangan ganggu saya!" hardik pria itu, karena dia merasa mulai terganggu.
Regatta tidak menghiraukan hardikan pria itu, dia malah membuka kantong plastiknya dan mengambil satu bungkus nasi dari dalam sana.
Aroma ayam goreng serundeng langsung menguar di udara dingin, membuat perut siapapun yang menciumnya langsung berdemo.
"Anda lapar tidak? Mau makan dulu?" tanya Ega, sambil menyodorkan nasi bungkus itu.
Pria itu menatap Regatta dengan tatapan curiga, seolah-olah melihat seorang gadis yang baru saja kehilangan akal sehatnya.
"Saya ini mau mati!" ujar pria itu.
"Iya, saya tahu itu," jawab Ega santai.
"Kenapa kamu malah menawarkan makanan, hah?!" ujar pria itu kembali dengan nada kesal.
"Jika Anda ingin mati, setidaknya jangan dengan perut kosong, Tuan. Nanti tiba di akhirat lambungnya perih kalau kelaparan," jawab Ega enteng.
Pria itu langsung tertegun dengan jawaban Regatta, ekspresinya langsung pecah menjadi sebuah kebingungan yang nyata.
"Kamu gadis yang ... aneh!"
"Itu adalah julukan saya," sahut Ega.
"Kamu tidak takut jika saya benar-benar melompat ke bawah sana?" tanya pria itu dengan wajah yang mulai melunak.
Regatta menatap pria itu lekat-lekat ...
"Tentu saja saya takut! Saya takut Anda benar-benar terjatuh ke bawah sana," jawab Ega.
Suasana mendadak hening, setelah mendengar jawaban Regatta yang terdengar lugas. Hanya ada suara deru air sungai yang deras dan air hujan.
"Saya tidak tahu masalah Anda, Tuan ... namun satu yang pasti, jangan pernah menyerah dengan keadaan," lanjut Ega sambil menggigit sepotong daging ayam.
"Jika berkenan, ceritakan saja tentang semua masalah Anda kepada saya, dan saya akan menjadi tempat curhat yang baik malam ini ..." ujarnya kembali, setelah menelan makanannya.
Pria itu tertawa datar, seolah-olah menganggap ucapan itu adalah sebuah lelucon yang lucu ditengah keputus-asaan dirinya malam ini.
"Hahaha ... Kamu tidak akan pernah mengerti," ujarnya dengan nada yang sedikit terdengar ... pahit.
Regatta menganggukkan kepalanya.
"Benar, mungkin saya tidak mengerti. Saya tidak tahu rasanya kehilangan sebuah perusahaan dan rasa dikhianati oleh orang-orang yang kita percaya. Tapi saya tahu, bagaimana rasanya tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini ..." jawab Ega.
Pria itu langsung membeku di tempatnya, saat dia mendengar jawaban gadis di sampingnya itu.
"Asal Anda tahu ya, Tuan ... Saya tumbuh besar di dalam sebuah panti asuhan. Saya tidak tahu, siapa orangtua saya, dan sering bertanya dalam hati ... kenapa mereka sampai membuang saya begitu saja saat masih bayi? Apakah saya tidak cukup berharga untuk menjadi pilihan dalam hidup mereka?" ujar Ega sambil tersenyum tipis.
"Namun, setelah itu saya sadar ... hidup saya bukan ditentukan oleh orang-orang yang membuang saya. Hidup saya ditentukan oleh takdir alam, ketika saya beranjak dewasa," lanjutnya dengan nada miris.
"Lalu, siapa yang berhak menentukan?" tanya pria itu dengan nada suara bergetar.
Regatta menunjuk ke atas langit, lalu ke arah dirinya sendiri.
"Tuhan pemilik semesta dan diri kita sendiri," jawabnya lugas.
Pria itu terdiam sesaat, matanya menatap lampu-lampu yang berpendar dari kejauhan.
Bahunya yang tegap, langsung merosot begitu saja, ketika mendengar jawaban gadis itu.
"Saya telah kehilangan semuanya ..." ujar pria itu dengan suara yang terdengar rapuh.
"Saya telah membangun perusahaan itu sejak sepuluh tahun yang lalu, perusahaan peninggalan almarhum kedua orangtua saya. Dan dalam semalam, semuanya direnggut begitu saja oleh mereka!"
"Mereka yang saya sebut 'Keluarga' ... ternyata isinya hanyalah orang-orang licik, yang menunggu kesempatan untuk menghancurkan saya dari dalam!"
"Saya bahkan tidak bisa melindungi anak-anak saya ..." ujar pria itu, mengakhiri curhatannya.
Regatta tersentak, ketika mendengar ucapan terakhir pria itu.
"Anak-anak? Tuan sudah mempunyai anak?" tanyanya dengan wajah terkejut.
"Ya. Mereka triplets, dan usianya masih lima tahun," jawabnya dengan kilatan rasa sakit di matanya.
Regatta menghela napas panjang.
Pria ini bukan ingin mati karena jatuh miskin, tapi karena dia merasa gagal sebagai seorang ayah.
"Apakah Ibu mereka sudah tidak ada?" tanya Ega tiba-tiba.
"Ibu mereka kabur, saat mendengar kejatuhan saya ..." jawab pria itu.
"Um, Tuan ..."
"Hmm?"
"Jika anak-anak itu kehilangan ayahnya malam ini, siapa yang akan menjadi pelindung mereka kedepannya?" ujar Ega dengan tatapan tajam.
"Mereka tidak membutuhkan semua itu, Tuan! Yang mereka butuhkan adalah kehadiran Ayahnya ditengah-tengah dunia yang kejam ini!" lanjutnya dengan nada sedikit tinggi.
Kata-kata Regatta menghantam telak jantung pria itu, membuat dirinya sadar ... anak-anak memang membutuhkan dirinya, bukan hartanya.
Pria itu terpaku cukup lama di bawah derasnya hujan, sampai akhirnya dia menarik napas dalam-dalam dan melangkah mundur dari pagar pembatas jembatan.
Satu langkah ...
Dua langkah ...
Dan, sampai akhirnya kembali menapak aman di jalanan.
Regatta menghembuskan napas lega, setelah dia melihat pria itu dalam batas aman.
Dia membungkus kembali makanannya, lalu berdiri sambil mengambil payung yang dia ikat di pagar pembatas itu.
"Nah, gitu dong! Sekarang, ayo kita pulang!" ujar Ega dengan nada ceria.
"Haaah?! Kita ...??" beo pria itu dengan wajah bingung.
"Iya. Anda pulang ke rumah Anda, dan saya pulang ke panti," sahut Ega dengan wajah sumringah.
Sebuah senyuman tipis nan tulus, muncul perlahan di wajah pucat pria itu.
"Apakah kamu selalu seberani ini bicara dengan orang asing, hm?" tanya pria itu.
"Yup! Dengan catatan, orang asing itu akan melakukan sesuatu yang aneh, seperti Anda yang ingin 'Bundir' malam ini," jawab Ega, lugas.
"Dasar gadis aneh!" ujar pria itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Itu adalah nama tengah saya, Tuan! Hehehehe," sahut Ega sambil terkekeh.
Ketika mereka hendak berpisah, pria itu mendadak menahannya.
"Tunggu!"
"Ya, ada apa lagi, Tuan?"
Pria itu merogoh dompetnya yang basah, lalu dia menyodorkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan warna emas yang elegan.
"Jika kamu membutuhkan pertolongan saya suatu hari nanti, jangan ragu untuk menghubungi ..." ujar pria itu, sambil menyodorkan kartu nama itu.
Begitu Regatta menerima kartu itu dan membacanya, matanya langsung terbelalak lebar.
'Raka Adinata-CEO Adinata Group'
Regatta sangat tahu nama itu.
Siapa yang tidak kenal dengan seorang Raka Adinata? Salah satu pengusaha termuda yang sukses dan terkaya di negara ini.
Berita kejatuhannya masih simpang-siur di berbagai media dan medsos, dan salah satu berita terviral saat ini.
"A-Anda adalah ... Raka Adinata?!" tanya Ega dengan wajah syok.
Pria itu hanya menatap Regatta dengan wajah datar.
"Lupakan nama besar itu malam ini, saya hanyalah seorang pria yang hampir mati karena putus-asa."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Raka langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Regatta disana, yang masih terpaku memegang kartu namanya.
Regatta mengira, jika malam itu adalah akhir dari segalanya. Hanya sebuah aksi 'Heroik' tanpa sengaja di tengah hujan.
Namun dia salah besar ...
Tiga hari kemudian, sebuah sedan mewah menjemput paksa dirinya di panti, dan langsung membawanya ke sebuah gedung Apartemen mewah dibilangan Sudirman-Jakarta.
Dirinya langsung dibawa ke lantai paling atas, tempat dimana seorang Raka Adinata berada saat ini.
Begitu pintu 'Penthouse' itu terbuka, Regatta tidak disambut oleh pelayan atau deretan bodyguard ... melainkan oleh tiga 'Minion' yang sudah berpakaian rapi, dan langsung berlari memeluk kakinya dengan erat.
Ketiga Minion itu mendongak serempak dengan mata berbinar ke arah Regatta.
"Apakah Tante ini Mommy baru kami?"
"Haah ...??!!!!"
...🍃☀†๏ вэ ¢๏и†เиµэ∂☀🍃...
Assalammualaikum, Gaess ...
Selamat datang dicerita baru aku, yang mengusung tema berbeda dari sebelumnya. Semoga kalian suka, yah!
Tolong bacanya jangan SKIP-SKIP, kalau gak suka, scroll aja sampai bab yang kalian inginkan 🙏🏻😁.
Kalau suka, taruh di favorit kalian, Like, Komen yang banyak, dan Vote setiap hari Senin, hehehehe. Jangan lupa Penilaiannya 🌟🌟🌟🌟🌟, untuk mendukung dan penyemangat menulisku.
Aku akan berikan Visual Pemeran Utamanya dulu di awal, supaya kalian bisa menghalu bareng aku, oke? 😁.
Pemeran lain akan menyusul secara bertahap visualnya.
*Regatta Aulia (Ega), 21 tahun*
*Queen Relia ( Saat bekerja di dunia bawah)*
*Raka Adinata (CEO Adinata Group), 27 tahun*
*Triplets (Minion), 5 tahun*
Nah, semoga sesuai dengan kalian ya visualnya ....😅😅😅.
Salam hangat, and ... Happy Reading.