Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Tiga Bulan yang Kelam
"Aku nggak akan menyentuhnya."
Karina menarik tangannya lebih dulu.
Telapak yang tadi menggantung di udara ia letakkan di lantai, jauh dari kedua anak itu. Nathan masih mengacungkan sapu, tetapi tidak lagi berteriak. Napasnya terdengar berat. Lucas menempel di punggung sang kakak sambil menggigil.
"Kalian boleh tetap di sana," lanjut Karina. "Aku yang akan menjauh."
Ia menyeret tubuhnya kembali ke dekat tikar. Gerakan kecil itu membuat kepalanya berdenyut. Karina menahan dinding agar tidak roboh, lalu sengaja memalingkan wajah dari mereka.
Satu menit berlalu.
Bunyi gagang sapu yang menyentuh lantai akhirnya terdengar.
Karina tidak menoleh. Ia menunggu sampai derit langkah kecil berhenti di seberang ruangan, barulah ia berkata, "Tadi malam kepalaku terbentur. Ada banyak hal yang nggak kuingat."
Tak ada jawaban.
"Kalian sudah tinggal di sini berapa lama?"
"Nggak tahu," sahut Lucas lirih.
Nathan segera mendesis, "Jangan jawab."
Lucas kembali diam. Beberapa detik kemudian, jemarinya terangkat diam-diam. Tiga jari kurus muncul dari balik bahu Nathan.
Tiga bulan.
Karina menunduk. Serpihan ingatan yang bukan miliknya menyusun jawaban sebelum ia sempat bertanya lagi.
Tiga tahun lalu, tubuh ini menikah dengan Sebastian Wijaya melalui perkenalan keluarga. Bukan pernikahan yang hangat, bukan pula rumah yang dibangun bersama. Ketika perebutan kekuasaan di keluarga Wijaya memanas, Susan memakai alasan mendidik anak agar tahan hidup susah untuk mengirim Karina dan dua anak itu ke Cibungur, kampung leluhur keluarga suaminya.
Sebastian tetap bekerja jauh. Karina ditinggalkan menghadapi rumah bocor, sumur, dan tatapan orang kampung dengan dua anak yang bahkan bukan darah dagingnya.
Ia marah karena merasa dibuang.
Lalu ia memilih sasaran yang tidak mampu melawan.
Karina mengepalkan tangan di atas lutut. Kecewa kepada keluarga suami bisa ia pahami. Kesepian dan marah juga bisa ia pahami. Namun tidak ada satu pun yang bisa mengubah kelaparan dua bocah menjadi sesuatu yang pantas.
"Siapa yang membuat luka di kaki Lucas?" tanyanya.
Tubuh Nathan kembali tegang.
Karina sudah mendapatkan jawabannya.
Ia bangkit perlahan. Nathan langsung meraih sapu, tetapi Karina menunjuk ke arah pintu lain di sudut ruangan.
"Aku mau cari makanan. Kalian nggak perlu ikut."
Ruangan di balik pintu itu ternyata dapur. Lebarnya tak lebih dari dua rentang tangan orang dewasa. Sebuah tungku tanah berdiri di bawah jendela, penuh abu dingin. Panci aluminium yang penyok digantung pada paku. Di sebelahnya ada tempayan air dengan dasar yang hampir terlihat.
Karina membuka tong beras.
Hanya ada segenggam butir putih di bagian dasar, terlalu sedikit untuk tiga orang. Stoples garam tinggal separuh. Tidak ada telur, tidak ada minyak, tidak ada sayuran segar. Di atas meja bambu tergeletak setengah singkong yang ujungnya mengering.
Itu saja.
Lambung Karina kembali berkontraksi. Ia menekan perutnya, lalu menatap singkong itu cukup lama.
Di halaman sempit, udara gunung menggigit kulit. Sumur berada beberapa langkah dari pintu dapur. Karina menurunkan ember, tetapi tali kasar nyaris lepas dari telapak tangannya yang lemas.
"Bukan begitu."
Suara Nathan muncul dari ambang pintu.
Karina menoleh. Anak itu berdiri dengan Lucas di belakangnya. Sapunya sudah tidak dibawa, meski tubuhnya masih siap mundur.
"Harus pelan," kata Nathan. "Kalau miring, embernya nyangkut."
"Begini?"
Karina mengendurkan tali sedikit demi sedikit. Ember menyentuh air dengan bunyi cipratan. Ia memiringkan pergelangan, menunggu ember tenggelam, lalu menariknya kembali.
"Iya," jawab Nathan singkat.
Karina mengangkat ember ke bibir sumur. Air tumpah mengenai sandalnya dan membuat jari kakinya mati rasa.
"Terima kasih sudah mengajariku."
Nathan segera memalingkan wajah. "Aku cuma nggak mau embernya rusak."
"Tetap saja, terima kasih."
Anak itu tidak membalas. Namun ketika Karina membawa air masuk, ia tidak menarik Lucas menjauh.
Baru saja ember diletakkan, perut Lucas kembali berbunyi.
Bocah itu tersentak. Tangannya buru-buru menutup mulut, lalu tubuhnya meringkuk seolah bunyi lapar tadi adalah kenakalan yang harus segera ia sembunyikan. Matanya terpaku pada tangan Karina, menunggu tangan itu terangkat.
Karina berhenti bernapas sesaat.
Ia berjongkok perlahan, tetap membiarkan jarak di antara mereka. "Lapar itu bukan salahmu."
Lucas tidak menjawab. Jemarinya masih menekan bibir sampai memutih.
Karina mengulurkan tangan sedikit demi sedikit. Nathan mengawasi dari samping, bahunya menegang, tetapi kali ini ia tidak mengambil sapu. Ketika Lucas tidak mundur, Karina menyentuh puncak kepalanya dengan ujung jari.
Hanya satu usapan ringan.
Lucas memejamkan mata dan mengecilkan bahu. Namun tidak ada tamparan yang menyusul. Saat ia kembali membuka mata, tangan Karina sudah turun dan perempuan itu telah berbalik ke meja bambu untuk menyiapkan singkong.
Karina mengupas bagian singkong yang mengeras, membilasnya, lalu membelah bagian yang masih layak menjadi dua. Setelah direbus hingga lunak, ia meletakkan dua potong itu di piring seng.
"Makan."
Lucas menatap singkong, lalu menatap Karina. "Buat... kami?"
Pertanyaan itu keluar dengan sangat hati-hati, seakan makanan di atas piring bisa ditarik kembali jika suaranya terlalu keras.
Nathan menyikut adiknya pelan.
"Buat kalian," jawab Karina. "Satu untuk Nathan, satu untuk Lucas."
"Terus... kamu?"
"Aku belum lapar."
Perutnya langsung berbunyi, panjang dan memalukan.
Lucas membelalakkan mata. Nathan menatapnya tanpa berkedip. Untuk sesaat, tak ada satu pun yang bergerak.
Karina menahan senyum pahit. "Perutku berisik, tapi aku masih bisa menunggu. Kalian makan dulu."
Nathan tidak mengambil bagiannya. Ia mematahkan singkong milik Lucas menjadi dua, memberikan potongan lebih besar kepada sang adik, lalu meletakkan sisanya kembali di piring.
"Kak Nathan juga makan," protes Lucas.
"Kamu sakit."
"Tapi Kakak lapar."
"Nggak."
Perut Nathan membantah dengan bunyi pelan.
Lucas menatap kakaknya, lalu membagi lagi potongan besar di tangannya. Hasilnya tak sama rata dan ujung singkong hancur di antara jemarinya, tetapi ia tetap menyodorkan separuh.
"Kita sama-sama."
Karina memalingkan wajah ke tungku. Matanya terasa panas.
Dua anak yang hampir tak punya apa-apa masih tahu cara berbagi. Orang dewasa yang seharusnya menjaga mereka justru mengambil semuanya.
Ia menuangkan air rebusan yang hangat ke dua cangkir. Nathan baru membiarkan Lucas makan setelah Karina meneguk air dari cangkirnya sendiri, seolah memastikan tidak ada sesuatu yang berbahaya di dalamnya.
Mereka menghabiskan singkong tanpa bersuara.
Menjelang siang, cahaya masuk lebih terang melalui celah dinding. Lucas duduk di dekat pintu dapur, lututnya ditekuk ke dada. Keringat masih mengilat di atas bibirnya.
Karina mengambil kain bersih yang ditemukannya di dasar lemari. Ia membasahinya dengan sisa air hangat, lalu berjongkok beberapa langkah dari anak itu.
"Lucas, boleh aku memeriksa keningmu?"
Bocah itu langsung melihat Nathan.
Nathan menatap kain di tangan Karina. "Buat apa?"
"Kalau dia demam, badannya harus dibersihkan dengan air hangat. Nanti aku cari obat."
"Nanti kapan?"
Pertanyaan Nathan terdengar seperti tuduhan. Mungkin ia pernah mendengar janji yang sama dan menunggu sampai demam Lucas turun sendiri.
"Setelah aku tahu tempat beli obat dan punya uang untuk membayarnya," jawab Karina jujur. "Kalau nggak bisa hari ini, aku akan cari cara lain. Tapi aku akan pergi."
Nathan masih ragu. Lucas mengusap hidung dengan punggung tangan, lalu menundukkan kepala sedikit.
Karina tidak segera maju. "Boleh?"
Lucas mengangguk kecil.
Ia mendekat hanya sejauh yang diizinkan. Punggung jarinya menyentuh rambut lembap, kemudian kening bocah itu. Panas, tetapi tidak setinggi yang ia takutkan.
Lucas memejamkan mata.
Tangannya terangkat untuk menutup kepala, refleks menahan pukulan. Namun sentuhan Karina tetap ringan. Tidak ada tamparan. Tidak ada kuku yang menjambak rambutnya.
Karina mengusap puncak kepalanya satu kali, sangat pelan, lalu segera mundur.
Ketika Lucas membuka mata, perempuan itu sudah kembali ke dekat tungku. Jarak aman di antara mereka utuh.
Nathan meraih bahu adiknya. Tatapannya kepada Karina belum lunak, tetapi sapu tetap bersandar di dalam rumah.
Hari berjalan lambat. Karina menjemur tikar yang lembap, membersihkan abu, dan menyisir setiap sudut untuk mencari bahan makanan. Ia menemukan beberapa lembar uang receh di saku jaket, tetapi tak cukup untuk banyak hal. Ia juga menemukan sebuah HP lama di bawah tumpukan kain. Layarnya retak pada satu sudut dan baterainya tinggal sedikit.
Saat senja membuat dinding tanah berwarna kelabu, ketiganya kembali berada di ruangan depan. Lucas tertidur sambil bersandar pada Nathan. Nathan sendiri duduk tegak, berusaha tidak ikut terlelap.
Karina membuka lagi lemari rendah di dekat tikar.
"Harus ada yang tersisa," gumamnya sambil membongkar tumpukan pakaian. "Beras, uang, apa saja."
HP di atas meja mendadak bergetar.
Suara dengungnya kasar dan nyaring dalam rumah yang sunyi.
Lucas terbangun. Nathan membeku. Wajah kedua anak itu kehilangan warna pada saat yang sama.
Karina meraih HP tersebut.
Tak ada nama pada layar retak itu. Hanya deretan angka dari nomor yang tidak disimpan.
Namun tubuh yang ditempatinya mengenali nomor tersebut lebih dulu daripada pikirannya.
Telapak tangan Karina langsung berkeringat.
Itu dia.