Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 01
Rean Arya Pratama, dokter muda berbakat yang memilih pulang ke negaranya, demi untuk membantu orang-orang di sekitarnya.
Memiliki seorang adik kembar laki-laki yang kariernya jauh lebih hebat di atasnya.
Sean Aryo Pratama, adik kembar dari Rean Arya Pratama ini di kenal banyak orang dalam kalangan medis karena kehebatan dan ketelitiannya dalam menangani banyak orang di meja operasi.
Dokter bedah saraf yang di kenal banyak orang. Tak kalah tampan dari sang kakak, Sean lebih terkenal di kalangan dokter karena mengambil spesialis bedah saraf. Sedangkan sang kakak terkenal julukan dokter muda dermawan yang lebih memilih tugas di desa, demi membantu banyak orang yang membutuhkan.
Prang!
Baik Rean maupun Sean, mereka sudah terbiasa melihat hal seperti ini jika pulang ke rumah utama.
Mereka melihat kemarahan sang kakek yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
"Berapa kali kakek bilang untuk melihat pasar lebih dulu, Vincent. Lihat, apa yang terjadi sekarang?" kata kakeknya mengamuk disana.
Rean dan Sean hanya diam saja, karena bukan mereka yang di marah. Lagi pula bukan mereka yang berambisi untuk meneruskan bisnis keluarga. Melainkan Paman dan anak-anaknya.
"Maaf, kakek. Aku salah." ucapnya menyesal karena hanya itu saja yang bisa dia lakukan sekarang.
Rean dan Sean yang melihat itu hanya diam saja. Tidak ingin ikut campur karena bukan urusan mereka. Tapi, bagaimanapun kesehatan kakek yang paling utama saat ini.
"Bik, tolong bawakan teh hangat ke ruangan kerja kakek. Sean, kamu ambil peralatan di mobil ku." ucap Rean pada adiknya, membuat Sean mengerti.
"Ayo kakek, kita istirahat dulu."
"Tidak! Kakek ingin saudara mu itu sadar jika apa yang dia lakukan telah merugikan perusahaan." tolak kakeknya mentah-mentah.
"Baik, jika begitu kami pamit." Rean dan Sean siap meninggalkan sang kakek, namun dengan cepat kakeknya mengalah.
"Baiklah, ayo kita ke ruangan kerja kakek." ucap orang tua tersebut membawa kedua cucu kembarnya pergi.
Sedangkan Vincent, dia menatap penuh kebencian pada kedua anak kembar itu. Karena sejak kecil mereka yang selalu menjadi prioritas kakeknya.
"Aahhkkk!!!" Vincent berteriak melampiaskan amarahnya dengan hal ini.
Tak lama, mama dan papanya baru saja kembali dari luar kota urusan bisnis. Mereka cukup terkejut melihat anak mereka yang terlihat berantakan.
"Vincent, ada apa?" tanya mamanya panik melihat anak sulungnya.
Vincent menatap mamanya, dan terlihat aura kemarahan yang luar biasa.
"Mereka kembali membuat kakek memarahiku."
"Maksud kamu, Rean dan Sean?" tanya papanya.
"Ya! Lalu siapa lagi? Hanya mereka saja yang selalu mencari masalah denganku. Bahkan mereka bersikap seolah-olah mereka begitu peduli dengan kakek." adunya pada mama dan papanya, membuat sepasang suami istri tersebut terlihat marah.
"Beraninya mereka!" umpat papanya geram mendengar semua ini.
Sedangkan Sean yang hendak lewat, hanya tertawa kecil melihat itu. Sudah terbiasa baginya mendengar cerita tidak masuk akal keluarga ini.
"Apa yang kau tertawakan hah?" tanya Vincent menatap tidak suka pada sepupunya itu.
"Apa di rumah ini ada peraturan baru, selain anak dari keluarga laki-laki tidak memiliki hak apapun? Bahkan tertawa saja juga tidak boleh?" jawab Sean menatap penuh kedamaian pada keluarga pamannya itu.
"Pantas saja ibumu memilih pergi dan menikah lagi dengan laki-laki lain. Karena kedua anaknya-"
"Jangan pernah berani menyebut nama ibuku jika tidak ingin aku membuatmu terbaring di rumah sakit!" ucap Sean penuh dengan ancaman, bahkan auranya terlihat sangat mengerikan sekali, di balik sikap tenang yang selama ini dia tampilkan pada banyak orang-orang di luar sana.
Ternyata di balik ketenangannya, terdapat aura membunuh yang begitu luar biasa saat ini.
"Jangan lupakan satu hal, jika aku adalah orang yang pernah membuat tanganmu patah sewaktu SMA dulu. Aku bukan kak Rean yang bisa diam saat kau menghinanya!"
"Lepaskan Vincent!" teriak istri pamannya saat putranya di perlakukan begitu.
"Jaga kesehatan Tante, dan jangan sampai kita bertemu di meja operasi!" ucap Sean pergi meninggalkan keluarga menyebalkan itu.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh