NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Cahaya matahari pagi yang menyeruak di antara celah gedung SMA Tunas Bangsa menyinari sosok Kanza Arumi yang sedang beradu argumen dengan waktu.

Kanza berlari kecil, napasnya tersengal, sementara tangan kanannya sibuk menata ujung hijab parisnya yang terus-menerus tertekuk ditiup angin.

Penampilannya adalah definisi dari kata "darurat". Kemeja putihnya yang tidak sempat disetrika dengan licin memperlihatkan garis lipatan yang jelas.

Dasi abu-abu yang seharusnya melingkar rapi di kerah, kini melorot rendah hingga ke kancing kedua, memberikan kesan pemberontak yang tidak disengaja.

Di bawah matanya yang bulat, terdapat bayangan gelap tipis saksi bisu maraton drama Korea Twenty-Five Twenty-One yang ia tonton hingga pukul tiga pagi tadi.

“Kanza Arumi! Lo mau sekolah atau mau ikut audisi jadi gembel?” Suara melengking itu menghentikan langkah Kanza tepat di depan gerbang.

Yuma, sahabatnya sejak SMP, berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada.

Penampilan Yuma adalah antitesis dari Kanza: hijab instannya tegak sempurna tanpa kerutan sedikit pun, sepatu hitamnya mengilap, dan aroma parfum vanilla tercium manis bahkan dari jarak dua meter.

“Umi... Umi pelit banget, Yum,” rengek Kanza sambil mengatur napas.

“Gue telat bangun, dan beliau cuma nontonin gue panik sambil nyeruput teh. Katanya, 'Ini simulasi kehidupan dewasa, Za'. Simulasi apaan kalau gue hampir kena kunci gerbang!”

Yuma menggeleng, namun tangannya terulur untuk memperbaiki dasi Kanza yang miring.

“Gue heran, sistem bertahan hidup lo tuh gimana sih? Keajaiban macam apa yang bikin lo belum pernah kena sanksi poin berat?”

Kanza hanya menyengir lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi dan satu lesung pipi yang muncul samar.

“Pesona anak tunggal, Yum. Tak terkalahkan.”

Hari itu berlalu seperti kaset yang diputar lambat. Di dalam kelas, Kanza duduk bersandar sambil sesekali mencoret-coret pinggiran buku paket Biologinya dengan gambar karakter kartun.

Suara dengung kipas angin di langit-langit kelas yang berdecit ritmis seolah menjadi lagu pengantar tidur yang sempurna bagi matanya yang berat.

Namun, di balik sifat pelupa dan cerobohnya seperti saat ia hampir masuk ke kelas 12 IPS padahal ia anak kelas 11 Kanza adalah nyawa bagi kelasnya. Ia punya stok cerita konyol yang tak ada habisnya.

Saat jam istirahat di pojokan kantin, di atas meja kayu yang penuh coretan tipe-x, Kanza memegang sebuah bakwan jagung seolah itu adalah mikrofon.

“Lo tahu nggak? Semalam Abi ceramah dua jam cuma gara-gara gue lupa jemur baju. Beliau bilang gini,” Kanza mendehem, memberatkan suaranya hingga terdengar lucu.

“Kanza, kamu itu anak perempuan. Masa depan itu dibangun dengan tanggung jawab, bukan cuma dengan duduk manis nungguin aktor Korea jemput pakai mobil mewah.”

Yuma hampir menyemburkan es tehnya.

“Tapi Abi lo bener, Za. Lo kalau di rumah emang manja kuadrat.”

“Gue bukannya manja, Yum,” Kanza membela diri sambil mengunyah bakwan.

“Gue cuma lagi menikmati masa transisi. Dunia orang dewasa itu kelihatan... abu-abu. Ribet. Harus mikir cicilan, kerjaan, rumah tangga. Ih, mending gue mikir gimana caranya dapet nilai 75 di ulangan Matematika besok.”

Kanza merasa dunianya sudah sangat cukup. Sekolah, Yuma, pisang goreng Umi, dan omelan hangat Abi.

Ia merasa aman dalam gelembung masa mudanya yang berwarna-warni.

Malam itu, suasana rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Kanza sudah berganti kostum tempur: kaus tidur oversized warna kuning dengan gambar kelinci yang telinganya sudah mulai pudar, dan celana kain longgar.

Rambutnya diikat asal-asalan ke atas hingga menyerupai sanggul kecil yang berantakan.

Ia baru saja hendak membalas pesan di grup WhatsApp kelas ketika Abi memanggilnya dari sofa ruang tengah.

Abi baru saja melipat sajadah, wajahnya tampak segar setelah berwudhu, namun ada gurat keseriusan yang tidak biasa di matanya.

“Kanza, sini sebentar. Simpan dulu HP-nya,” panggil Abi lembut.

Kanza merinding seketika. Pikirannya langsung melayang ke segala kesalahan yang mungkin ia lakukan hari ini.

"Apa Umi lapor kalau gue nggak sengaja mecahin tutup wadah bekal tadi pagi? Atau soal pesanan alat listrik yang lupa gue ambil?"

“Duduk sini,” pinta Abi lagi, menepuk ruang kosong di sampingnya.

Kanza duduk dengan kaku, bantal sofa ia dekap erat seolah menjadi tameng pelindung.

“Bi... Kanza janji bakal ganti tutup wadah bekal Umi. Tapi jangan potong uang jajan ya? Sumpah, itu tadi licin banget...”

Abi terkekeh pelan, namun tawanya tidak bertahan lama.

Ia menarik napas panjang, menatap putri bungsunya yang masih terlihat seperti anak kecil itu dengan tatapan haru sekaligus berat.

“Ini bukan soal wadah bekal, Za. Abi mau tanya... tapi Abi ingin jawaban jujur dari hati kamu.” Abi menjeda sejenak.

“Kalau ada seorang laki-laki yang datang ke rumah ini untuk meminang kamu... untuk menjadikan kamu istrinya, apakah kamu sudah siap?”

Dunia Kanza seolah berhenti berputar. Suara TV yang samar dari ruang dalam mendadak hilang.

Ia merasa seperti baru saja dijatuhkan dari lantai sepuluh ke tumpukan kasur, tidak sakit, tapi sangat mengejutkan hingga paru-parunya lupa cara bernapas.

“Bi...” Kanza memulai, suaranya naik satu oktav.

“Abi habis salah minum obat? Atau ini gara-gara Kanza telat bangun terus Abi mau 'membuang' Kanza dengan cara halus?”

“Abi serius, Kanza Arumi,” potong Abi dengan nada yang lebih dalam.

“Laki-laki ini orang baik. Keluarganya sahabat lama Abi. Dia sudah mapan, agamanya bagus, dan dia yang meminta izin langsung ke Abi untuk mengenalmu lebih jauh lewat jalur yang benar.”

Kanza mendadak ambruk. Ia menjatuhkan tubuhnya ke karpet, tengkurap dengan wajah terbenam di lengan.

“Ya Allah... ini pasti mimpi buruk akibat nonton drama genre thriller kemarin. Bi, Kanza ini masih anak SMA! Kanza aja masih suka nangis kalau kuota internet habis. Masa Kanza mau jadi istri orang? Nanti kalau suaminya minta makan, Kanza kasih sereal tiap hari gimana?”

Abi tersenyum pahit, mengusap kepala putrinya yang tertutup rambut berantakan itu.

“Abi tidak memintamu menikah besok pagi, Za. Tapi lamaran ini nyata. Dia bersedia menunggu sampai kamu lulus, atau membimbingmu sambil kamu kuliah. Dia hanya ingin mengikat janji.”

Kanza mengangkat kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca karena panik.

“Tapi Kanza belum siap dewasa, Bi. Kanza masih mau jadi 'pajangan' di rumah ini. Kanza masih mau jadi anak kecil yang dimarahin Abi gara-gara lupa jemur baju.”

Malam itu, di ruang tengah yang hangat, Kanza menyadari satu hal yang menyakitkan: gerbang masa kecilnya perlahan mulai tertutup, dan ia dipaksa melihat sebuah jalan baru yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya.

"Tenang, Sayang. Abi dan Umi nggak akan memaksakan. Cuma, coba kamu pikirkan baik-baik. Kita akan ngobrol lagi nanti kalau kepala kamu sudah dingin, ya."

Suara Abi mengalun tenang, sejuk seperti air di tengah padang pasir, namun bagi Kanza Arumi, kata-kata itu justru terasa seperti beban berat yang dijatuhkan tepat di atas dadanya.

Kanza hanya bisa mengangguk pelan, sebuah gerakan mekanis yang tidak sinkron dengan isi kepalanya yang sedang berputar hebat seperti gasing yang kehilangan kendali.

Biasanya, kapasitas otaknya hanya penuh dengan tiga hal: rumus trigonometri yang tidak pernah ia pahami, kuah seblak kantin yang level pedasnya menantang maut, dan analisis mendalam mengapa tokoh utama di drama China favoritnya harus menderita di episode terakhir.

Sekarang? File-file itu terhapus paksa, digantikan oleh satu kata raksasa yang berkedip merah: PERNIKAHAN.

Kanza menoleh ke arah Abi dengan tatapan penuh selidik, menyipitkan mata seolah sedang menginterogasi tersangka di kantor polisi.

“Bi... cowoknya beneran manusia, kan? Maksud Kanza, dia napas pake paru-paru kan? Bukan makhluk halus atau jin kiriman Umi biar Kanza rajin bantuin cuci piring karena takut dihantui?”

Tawa Abi meledak seketika. Beliau sampai harus memegang perutnya yang sedikit buncit, sementara Umi hanya geleng-geleng kepala sambil menahan senyum di balik cangkir tehnya.

“Ya Allah, Kanza… imajinasimu itu terlalu jauh pengaruhnya dari tontonan tiap malam!” ujar Abi di sela tawa.

Malam itu ditutup dengan pemandangan yang tak biasa di ruang tengah: Kanza yang biasanya ceria, kini tengkurap pasrah di atas karpet bulu.

Pipinya menempel di lantai dingin, matanya menatap kosong ke kolong meja kopi sambil menggumamkan doa-doa acak, campuran antara Istighfar dan permohonan agar besok pagi ia bangun dan mendapati bahwa ini semua hanyalah konten prank tersembunyi.

Keesokan paginya, Kanza Arumi muncul di gerbang sekolah seperti zombi yang salah kostum.

Langkahnya gontai, kakinya seolah berat melangkah di atas aspal. Seragam putih-abunya tampak sangat menderita.

Satu sisi kerah mencuat ke atas, dasi merah marunnya melilit longgar di bawah kerah yang kendor, dan tas ranselnya yang berat diseret di atas lantai koridor seperti membawa beban dosa satu kelurahan.

Begitu sampai di bangku kelas, Kanza tidak meletakkan tas. Ia langsung melakukan "pendaratan darurat".

Wajahnya jatuh pasrah, menempel di atas buku cetak Matematika yang permukaannya dingin dan keras.

Yuma, yang sedang asyik memoles lip balm aroma jeruk, langsung menghentikan kegiatannya.

Ia menatap sahabatnya dengan ekspresi seperti sedang melihat fenomena alam yang langka.

"Za? Lo kenapa? Muka lo ditekuk lebih parah dari kertas origami yang gagal. Habis liat saldo ShopeePay sisa seribu perak gara-gara flash sale semalam?" tegur Yuma heran.

Kanza hanya mengeluarkan suara erangan pelan yang teredam permukaan meja.

"Yum... gue... gue bakal tamat. Hidup gue berakhir."

"Hah? Lo di-DO? Atau lo ketahuan nyontek PR Sejarah di perpus?"

Kanza duduk tegak dengan gerakan lambat, matanya yang sembab menatap Yuma dengan intensitas yang menakutkan.

"Yum... gue... dilamar."

Dunia Yuma mendadak freeze. Tangannya yang memegang lip balm menggantung di udara. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka.

"Hah?! Dilamar? Lo? Kanza Arumi yang kalau makan cilok bumbunya sering belepotan di jilbab itu? Yang kemarin hampir nangis gara-gara pensil mekaniknya patah?"

Kanza mengangguk lemah, seolah kepalanya adalah pemberat timbangan.

"Serius, Yum. Semalam. Habis Maghrib. Abi bilang ada cowok yang mau minang gue. Katanya anak baik, mapan, saleh, sudah kerja, rajin menabung, dan... pokoknya kalau lo denger kriterianya, lo bakal mikir dia itu karakter fiksi yang kesasar ke dunia nyata."

Yuma membelalak makin lebar, meletakkan lip balm-nya dengan kasar ke atas meja.

"Itu mah bukan calon suami, Za! Itu daftar prestasi murid teladan tingkat nasional! Siapa tuh? Malaikat mana yang GPS-nya rusak terus malah nyasar ke rumah lo?"

Kanza mengelus dadanya, mencoba mengatur napas yang tiba-tiba terasa sesak lagi.

"Gue juga bingung, Yum. Gue bahkan belum tahu bedanya lengkuas sama jahe, kalau disuruh bikin sayur asem mungkin jadinya jus jeruk hangat. Masa tiba-tiba harus jadi istri orang?"

Yuma mulai cengengesan, insting jahilnya mulai bangkit setelah kejutan awal mereda.

"Gue salut sih sama tuh cowok. Dia punya nyali gede buat 'pelihara' bocah kayak lo. Lo tuh belum bisa nyetrika jilbab sampai rapi, eh udah 'laku' duluan. Hidup lo fast track banget, Za. Gue baru semalem nangis gara-gara ending anime, lo udah dikirim undangan."

Kanza mengacak-acak hijabnya yang memang sudah berantakan, membuatnya tampak seperti habis tersengat listrik.

"Gue pengen nolak, Yum. Tapi sorot mata Abi tuh... penuh harapan. Kayak beliau baru dapet hadiah grand prize tapi hadiahnya itu calon mantu ini. Gue nggak tega bilang 'nggak' saat itu juga."

Yuma mengangguk-angguk, memasang raut wajah serius ala detektif yang sedang menangani kasus besar.

"Oke, kesimpulannya... lo dalam status Siaga Satu. Kita butuh rencana taktis. Plan A: Kita bikin lo jadi buronan. Lo ngumpet di gudang belakang rumah gue, atau kita kabur ke desa terpencil di kaki gunung. Lo ganti nama jadi Romlah, jualan krupuk keliling, dan kita hapus jejak digital lo!"

Kanza meledakkan tawa yang sangat keras hingga teman-teman di barisan depan menoleh dengan tatapan bingung. Rasa sesak di dadanya sedikit terangkat.

"Yum! Gue bukan buronan negara! Nikah itu ibadah, bukan kabur dari penggerebekan!"

"Yah, siapa tahu seru, kan? Kayak di drama china yang pendek-pendek itu. Cewek kabur dari lamaran, ketemu cowok ganteng di desa, eh malah nikah beneran sama cowok desa itu. Plotnya lebih dapet!" timpal Yuma sambil tertawa lepas.

Di sela tawa mereka, Kanza memeluk tasnya erat-erat. Walau kepalanya masih penuh dengan tanda tanya dan perutnya serasa diaduk setiap kali mengingat kata 'pinangan', ia bersyukur.

Setidaknya di antara tumpukan tugas sekolah dan masa depan yang tiba-tiba mengetuk pintu, ia masih punya Yuma untuk menertawakan kegilaan ini bersama-sama sebelum bel pelajaran pertama berbunyi.

~~~NEXT~~~

Salam Hangat Dari Penulisss....

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!