NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 17: Perubahan yang Terlalu Tiba-tiba

Keheningan di ruang tengah kediaman Arthur terasa begitu pekat hingga suara detak jarum jam dinding terdengar seperti dentangan lonceng kematian bagi rahasia Gisella.

Pertanyaan dingin Adrian—“Jiwa siapa yang sekarang sedang menempati tubuh istriku?”—

menggantung di udara, meruntuhkan semua pembelaan rasional yang telah dia bangun dengan susah payah.

Gisella menatap map kertas di atas piano, lalu beralih pada sepasang mata elang di balik kacamata perak itu.

Tidak ada lagi celah untuk mengelak. Adrian telah menyudutkannya dengan data hitam di atas putih.

Logika sains pria itu telah mendeteksi anomali yang tidak bisa dijelaskan oleh teori medis mana pun.

Jemari Gisella yang meremas gaun rajut abu-abunya perlahan mengendur.

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar di dadanya.

Jika dia terus bersikeras menggunakan alasan medis, Adrian hanya akan memandangnya sebagai pembohong atau, lebih buruk lagi, subjek eksperimen yang mencurigakan.

"Kau benar, Adrian,"

ucap Gisella, suaranya kini terdengar sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kedoknya dikuliti habis.

Dia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya tanpa ada lagi binar kepanikan.

"Perubahan ini terlalu tiba-tiba. Dan kau terlalu cerdas untuk bisa dibodohi oleh alasan benturan fisik."

Adrian tidak bergeming.

Dia tetap mengurung posisi Gisella dengan kedua tangannya yang menumpu pada bodi piano, namun sorot matanya sedikit berubah—ada kilat antisipasi, rasa ingin tahu yang masif dari seorang peneliti yang akhirnya akan mendapatkan jawaban atas teka-teki terbesar dalam hidupnya.

"Jadi, kau mengakuinya?"

bisik Adrian rendah.

"Aku mengakui bahwa aku bukan Gisella yang kau benci," jawab Gisella lugas.

Dia berdiri dari kursi piano, membuat Adrian terpaksa menegakkan tubuhnya dan mundur satu langkah untuk memberikan ruang.

Gisella berjalan perlahan menuju jendela besar, menatap taman mawar yang kini mulai temaram ditelan malam.

"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, apakah otak sains mu yang kaku itu bisa menerima sesuatu yang berada di luar hukum fisika dan biologi modern?"

Adrian membalikkan tubuhnya, bersedekap, matanya terus mengikuti pergerakan Gisella.

"Cobalah. Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk mempelajari hal-hal yang belum terbukti, sampai mereka terbukti."

Gisella tersenyum getir tanpa berbalik.

"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya secara ilmiah, Adrian. Tetapi dalam ingatan yang kupunya, aku menjalani kehidupan yang sepenuhnya berbeda sebelum terbangun di rumah sakit minggu lalu.

Di duniaku, aku adalah seorang wanita karier dewasa yang terbiasa hidup mandiri, mengelola krisis, memasak untuk bertahan hidup, dan ya... aku belajar piano klasik selama belasan tahun sebagai pelarian dari stres pekerjaan."

Gisella berbalik, bersandar pada bingkai jendela, menatap Adrian dengan tatapan yang sangat asing namun sarat akan kejujuran yang murni.

"Aku tidak memiliki niat untuk merebut tubuh istrimu, dan aku tidak tahu mengapa takdir melemparkan ku ke sini. Tapi saat aku membuka mata di bangsal rumah sakit itu, ingatan Gisella yang asli bercampur dengan ingatanku. Aku tahu semua hal buruk yang telah dia lakukan padamu, pada Valerie, dan pada keluarga ini. Aku tahu betapa dia mengacaukan hidupmu."

Adrian mendengarkan setiap kalimat itu dengan saksama.

Alisnya berkerut dalam. Secara psikologis, fenomena ini mirip dengan False Memory Syndrome atau gangguan identitas disosiatif yang ekstrem.

Namun, penjelasan itu kembali mentok pada fakta fisik yang dia temukan hari ini:

keahlian motorik tingkat tinggi pada piano dan pengetahuan kuliner yang presisi. Jiwa dan keterampilan tidak bisa ditransfer lewat delusi.

"Kau ingin aku percaya pada reinkarnasi atau perpindahan jiwa?"

tanya Adrian, suaranya terdengar skeptis namun tidak lagi sekeras sebelumnya.

"Aku tidak memintamu untuk percaya, Adrian. Aku hanya memberikan jawaban atas pertanyaanmu,"

sahut Gisella, melangkah mendekati meja tengah.

"Perubahan ini terlalu tiba-tiba karena aku memang bukan dia. Tetapi kau bisa tenang. Kontrak tiga puluh hari kita tetap berlaku. Aku tidak akan mengambil sepeser pun harta keluarga Arthur, aku tidak akan berhubungan dengan Julian, dan aku akan memastikan Valerie serta ibumu tetap aman sampai aku pergi dari sini."

Gisella mengambil draf surat perceraian yang sempat dia bawa turun siang tadi dari atas meja, lalu menunjukkannya pada Adrian.

"Dalam waktu kurang dari tiga minggu, aku akan menghilang dari hidupmu, dan kau bisa kembali ke duniamu yang tenang tanpa gangguan 'Gisella'."

Mendengar kata "menghilang" dan melihat kertas perceraian itu, entah mengapa ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam dada Adrian.

Rasa frustrasi yang tidak logis mendadak menyerangnya.

Adrian melangkah cepat, merebut draf surat perceraian itu dari tangan Gisella dengan kasar, lalu melemparnya begitu saja ke atas sofa.

Sebelum Gisella sempat memprotes, Adrian sudah mencengkeram kedua pergelangan tangan wanita itu, menguncinya di depan dada mereka.

"Kau pikir semuanya semudah itu?"

desis Adrian, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Gisella. Napasnya yang hangat berembus memburu.

"Kau datang ke rumah ini, mengubah dapurku, mengobati penyakitku, menyelamatkan nyawaku dan adikku dari kecelakaan maut, membuat ibuku tersenyum lagi, lalu kau dengan mudahnya berkata akan pergi dalam tiga minggu karena kau merasa dirimu adalah 'orang asing'?"

Gisella tertegun, matanya membelalak menatap intensitas emosi yang meledak dari diri Adrian.

Ini bukan lagi Profesor Adrian yang dingin dan metodis.

Ini adalah seorang pria yang sedang dikuasai oleh ego dan rasa kepemilikan yang kuat.

"Adrian, lepaskan... ini di luar protokol kita,"

bisik Gisella, mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Adrian justru semakin mengerat, tanpa menyakitinya namun mengunci pergerakannya mutlak.

"Persetan dengan protokol itu,"

ucap Adrian parau.

Mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Gisella, mencari sisa-sisa kebohongan yang mungkin terlewat, namun yang dia temukan hanyalah ketulusan dan ketakutan yang samar.

"Aku tidak peduli jiwa siapa yang ada di dalam tubuh ini, Gisella. Aku tidak peduli apakah kau datang dari dunia lain, dari masa depan, atau dari dalam mimpiku sekalipun. Faktanya adalah, wanita yang berdiri di hadapanku malam ini—wanita yang memasak untukku, yang memegang tanganku saat aku kesakitan, dan yang memainkan Chopin untuk menenangkan sarafku—adalah kau. Bukan Gisella yang dulu."

Adrian menurunkan intonasi suaranya, menjadi sebuah bisikan rendah yang bergetar di sekeliling pendengaran Gisella.

"Perubahanmu memang terlalu tiba-tiba, dan itu mengacaukan seluruh logikaku. Tapi kau sudah melangkah terlalu jauh ke dalam hidupku, Nyonya Arthur. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah kau mengacaukan detak jantungku."

Gisella merasakan dunianya seolah berputar balik.

 Pengakuan Adrian yang begitu intens dan mendominasi menghantam seluruh dinding pertahanan yang dia bangun.

Pria ini, karakter utama yang seharusnya membencinya sampai akhir plot, baru saja menyatakan bahwa dia tidak peduli pada identitas aslinya.

Di bawah temaram lampu ruang tengah yang mulai menyala otomatis, jarak di antara mereka berdua tidak lagi disekat oleh dinding rahasia.

Rahasia telah terbongkar, kebenaran telah diucapkan, namun alih-of-terpisahkan, hal itu justru menarik mereka ke dalam pusaran ikatan baru yang jauh lebih mengikat daripada kontrak kertas mana pun di dunia ini.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!