NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33

Raymond akhirnya mengembuskan napas pelan. Setelah beberapa saat terdiam, ia mengangguk kecil seolah sudah mengambil keputusan.

"Oke. Gue balik ke fakultas." Ia menepuk bahu Dion sebentar. Dion langsung menyeringai jahil.

"Yakin?" Raymond mengernyit.

"Kenapa?"

"Soalnya dari tadi kaki lo ngarahnya ke kelas DKV terus." Rio spontan menunduk melihat ke arah kaki Raymond.

"Anjir..."

"Bener lagi." Kevin langsung tertawa.

"Ray, ternyata kaki lo lebih jujur daripada mulut lo." Arga ikut menggeleng sambil menahan senyum.

"Badan lo mau pulang. Tapi kaki lo maunya nunggu Angela." Raymond ikut melihat ke bawah.

Benar saja. Entah sejak kapan, ujung sepatunya kembali mengarah ke pintu kelas Angela. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memutar arah kakinya.

Dion bertepuk tangan.

"Nah, gitu. Masih bisa diselamatkan."

Raymond baru melangkah dua langkah.

Brak!

Pintu kelas DKV kembali terbuka. Seorang dosen wanita berkacamata keluar sambil membawa beberapa map.

Di belakangnya, Angela ikut keluar.

"Bantu bawain ke ruang studio, ya."

"Baik, Bu." Angela menerima tumpukan map itu dengan kedua tangan. Begitu melihat Angela keluar, langkah Raymond langsung berhenti. Dion menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Nah...Mulai lagi." Rio menepuk bahu Kevin.

"Gue kasih waktu tiga detik. Satu..Dua...Tiga..."

Benar saja. Raymond langsung berbalik, lalu berjalan lagi ke arah Angela. Dion langsung menepuk jidat.

"YA KAN!" Kevin tertawa sampai membungkuk.

"Gue bilang juga apa. Refleksnya udah di luar kendali." Arga ikut mengangguk.

"Kalau udah lihat Angela, otaknya langsung kalah sama kakinya." Angela yang sedang membawa map akhirnya sadar Raymond sudah berdiri di depannya.

"Lo Lagi?"Ia mengembuskan napas pelan. Raymond melirik tumpukan map di tangan Angela.

"Berat." Angela ikut melihat map itu.

"Nggak juga."

"Gue bantu."

"Nggak usah."

Belum sempat Angela menghindar, Raymond sudah mengambil hampir setengah map dari tangannya.

Angela langsung mendelik tajam.

"Raymond."

"Hm?"

"Gue bilang nggak usah." Raymond menjawab santai.

"Sekarang udah nggak berat kan?" Angela menatap sisa map di tangannya, lalu menatap Raymond.

"Lo emang nggak pernah dengerin orang, ya?"

"Denger."

"Terus?"

"Gue cuma nggak nurut." Angela menggeleng pelan sambil terkekeh. Tawanya memang hanya sebentar, tetapi kali ini terdengar jelas.

Raymond yang melihatnya ikut tersenyum tipis. Meski nyaris tak terlihat, perubahan kecil di wajah dinginnya tidak luput dari perhatian teman-temannya.

"Woy." Dion langsung menyenggol lengan Rio.

"Apa?"

"Dia berhasil." Rio mengangguk mantap.

"Iya."

"Ternyata tujuan utamanya bukan bantu bawain map."

"Tapi bikin Angela ketawa." Arga ikut tersenyum.

"Dan... misinya sukses."

Angela yang baru sadar dirinya tertawa segera merapikan ekspresinya. Wajahnya kembali datar seperti biasa.

"Oke."

"Sekarang balikin mapnya." Raymond melirik tumpukan map di tangannya.

"Nanti aja." Angela mengernyit.

"Kenapa?"

"Biar sekalian gue anter." Angela mengembuskan napas pelan.

"Lo..." Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari ujung koridor.

"Angela!" Seorang mahasiswi DKV berlari kecil sambil membawa kamera yang menggantung di lehernya.

Angela menoleh.

"Ada apa, Maya?" Maya berhenti di depan mereka. Napasnya masih sedikit terengah.

"Dosen nyuruh semua anggota kelompok kumpul di studio sekarang. Kita mau bahas proyek pameran." Angela mengangguk.

"Oke. Gue langsung ke sana." Baru saat itu Maya menyadari Raymond berdiri di samping Angela sambil membawa setumpuk map.

"Kak Raymond, Kok ada di sini?"Ia tampak heran. Rio langsung berbisik pelan.

"Nah...Pertanyaan langganan muncul lagi."

Kevin dan Dion langsung memasang wajah penasaran. Semua mata kini tertuju pada Raymond. Mereka menunggu alasan apa lagi yang akan keluar dari mulut Pangeran Kampus yang belakangan ini makin sering terlihat di gedung DKV.

Maya kembali bertanya.

"Kenapa di sini, Kak? Kan fakultas ekonomi ada di ujung sana?" Lalu, Pandangan Maya bergeser ke map yang masih dibawa Raymond. Koridor mendadak hening. Detik kemudian, Rio menyenggol Kevin.

"Hitung." Kevin mengangguk.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga..."

Raymond menjawab tanpa ragu.

"Nganter." Raymond menjawab tanpa ragu. Maya berkedip beberapa kali.

"Nganter?"

"Iya."

"Nganter map?" Raymond menggeleng pelan.

"Angela."

"Hah?" Refleks Maya menoleh ke Angela.

Sementara Angela langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Ya Tuhan..." Rio langsung menepuk lengan Dion.

"Tuh, kan."

"Gue udah bilang. Sepupu gue udah nggak ada obat."Dion sampai memegangi perut karena menahan tawa.

Kevin menggeleng sambil tertawa kecil.

"Minimal cari alasan yang lebih masuk akal."

"Masalahnya dia nggak merasa lagi nyari alasan." Arga terkekeh pelan.

"Kalau soal Angela, dia terlalu jujur."

Mayamasih terlihat bingung.

"Oh..."

"Iya... yaudah, Kak.".Angela menghela napas.

"May."

"Iya?"

"Bantu gue." Maya langsung berdiri tegak.

"Siap."

"Tolong ambil map yang dipegang orang keras kepala itu." Maya menoleh ke Raymond, lalu menelan ludah.

"Ehm...Kak Raymond..."

"Boleh saya ambil?" Raymond menatap map itu beberapa saat. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkannya.

"Ini." Maya langsung menerima dengan kedua tangan.

"Makasih, Kak." Angela mengangguk puas.

"Nah, gitu." Ia kembali menatap Raymond.

"Sekarang tugas lo udah selesai." Raymond mengangguk.

"Iya." Angela tersenyum tipis.

"Hati-hati di jalan."

"Oke." Angela dan Fajar pun berjalan menuju studio.

Baru beberapa langkah, suara Raymond membuat Angela berhenti

"Angela." Ia menoleh.

"Apa lagi?" Raymond memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.

"Semangat." Hanya dua kata. Namun entah kenapa, ucapan sederhana itu membuat Angela terdiam beberapa saat. Akhirnya ia mengangguk pelan.

"Iya." Nada suaranya terdengar jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.

Melihat itu, Raymond akhirnya berbalik dan meninggalkan gedung DKV.

Rio memperhatikan dari kejauhan.

"Lho..."

"Dia beneran balik?" Kevin mengangguk.

"Kayaknya, iya." Dion buru-buru menyusul.

"Woy, tunggu." Raymond menghentikan langkahnya.

"Kenapa?" Dion berjalan di sampingnya.

"Lo sadar nggak?"

"Sadar apa?"

"Sekarang satu kampus udah tahu kalau lo lagi ngejar Angela." Raymond tetap tenang.

"Terus?" Dion melotot.

"'Terus?'"

"Iya." Dion mengusap wajahnya pelan.

"Lo bener-bener nggak peduli omongan orang, ya?" Raymond tersenyum tipis.

"Gue cuma peduli sama satu orang."

Dion mengangkat sebelah alis.

"Angela?" Raymond mengangguk mantap.

"Iya." Jawaban itu membuat Dion langsung berhenti melangkah. Ia hanya bisa menatap punggung Raymond yang kembali berjalan santai. Beberapa detik kemudian, Dion menggeleng sambil tertawa.

"Fix."

"Udah parah." Rio, Kevin, dan Arga yang mendengar percakapan itu langsung ikut tertawa. Rio berteriak dari belakang.

"Woy, Pangeran Bucin!" Raymond berhenti sebentar. Tanpa menoleh, ia hanya mengangkat sebelah tangan sebagai tanda mendengar. Rio kembali berseru.

"Hati-hati, jangan nyasar ke DKV lagi!"

Kevin dan Arga kembali tertawa. Dion ikut menambahkan.

"Kalau lima menit lagi ketahuan balik ke sini, gue laporin Tante Diana."

Kali ini Raymond menoleh. Senyum kecil akhirnya benar-benar terlihat di wajahnya.

"Coba aja." Jawaban santainya langsung disambut gelak tawa.

Sementara itu, dari balik jendela studio di lantai satu, Angela tanpa sengaja melihat Raymond berjalan menjauh. Ia menggeleng pelan.

'Dasar keras kepala' gumamnya dalam hati.

Tanpa disadari, sudut bibirnya kembali terangkat. Senyum kecil itu muncul begitu saja. Bukan karena dipaksa, melainkan karena tingkah konyol Raymond yang selalu berhasil membuatnya kehilangan cara untuk marah.

Di dalam studio, suasana sudah mulai ramai.

Beberapa meja dipenuhi maket, laptop, papan presentasi, dan contoh desain yang masih setengah jadi.

"Angela, sini!" Maya melambaikan tangan dari salah satu meja.

"Dosen udah mau mulai." Angela mengangguk.

"Iya." Ia menarik kursi dan duduk bersama anggota kelompoknya. Tak lama kemudian, dosen pembimbing masuk sambil membawa laptop.

"Selamat siang, semuanya."

"Siang, Bu," jawab seluruh mahasiswa serempak.

"Baik. Minggu depan kita akan mengadakan pameran karya antar fakultas." Kalimat itu langsung menarik perhatian seluruh kelas.

"Pameran ini akan dihadiri tamu dari luar kampus, termasuk beberapa perusahaan. Jadi saya ingin hasil karya kalian benar-benar maksimal." Beberapa mahasiswa mulai membuka buku catatan. Angela melakukan hal yang sama.

"Setiap kelompok akan mendapat satu klien simulasi. Kalian harus membuat konsep branding, poster, video promosi, hingga desain booth."

Suara gumaman mulai terdengar.

"Wah, banyak juga."

"Deadline-nya pasti mepet." Dosen kembali melanjutkan.

"Dan untuk proyek kali ini," ucapnnyaenghantujg di udara. Lalu, Beliau tersenyum tipis. "...kita akan bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi." sambungnya.

Seketika ruangan menjadi riuh.

"Hah?"

"Serius?"

"Ekonomi?" Maya langsung menoleh ke Angela.

"Lho..."

"Jangan-jangan..." Angela mengangkat sebelah alis.

"Jangan-jangan apa?" Maya tertawa kecil.

"Semoga aja bukan..." Sebelum ia menyelesaikan ucapannya, dosen kembali berbicara.

"Mahasiswa Fakultas Ekonomi akan menyusun strategi pemasaran dan proposal bisnis. Sedangkan mahasiswa DKV bertanggung jawab atas seluruh konsep visual." Entah kenapa, Angela mulai merasa tidak tenang.

"Semoga bukan," monolognya dalam hati

"Nama pasangan kelompok akan diumumkan besok." Setiap kelompok akan terdiri dari mahasiswa DKV dan Fakultas Ekonomi."

Jam tanda berakhirnya pengarahan pun berbunyi.

"Baik, cukup untuk hari ini. Silakan lanjutkan diskusi kelompok." Begitu dosen keluar, suasana studio kembali ramai. Maya menoleh ke Angela.

"Gue yakin."

"Yakin apa?"

"Lo bakal sekelompok sama Kak Raymond."

Angela menatapnya datar.

"Ngaco."

"Serius. Filling gue kuat." Angela menutup bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Filling lo sering meleset." Maya mengangkat kedua tangannya menyerah.

"Yaudah. Tapi kalau bener gimana?"

Angela berdiri sambil menyampirkan tas di bahunya.

"Kalau bener..." Ia mengembuskan napas panjang. "...berarti hidup gue lagi seneng ngetes kesabaran." Ucapan itu langsung disambut tawa seluruh anggota kelompok.

---

Sementara itu, Di Fakultas Ekonomi,

Raymond baru saja melangkah masuk ke ruang kelas. Suasana yang semula ramai langsung sedikit mereda. Beberapa mahasiswa spontan menoleh ke arahnya, lalu saling melempar pandang seolah sedang menunggu sesuatu.

Raymond tetap berjalan santai menuju bangkunya. Begitu ia duduk, Rendy langsung menyeringai lebar.

"Wih. Akhirnya nongol juga."

Mahasiswa lain ikut menyahut dari belakang.

"Gimana, Bro? Udah nganterin sampai depan kelas DKV?" Raymond mengangkat pandangan.

"Iya." Seisi kelas langsung terdiam.

"..."

"..."

Rendy sampai berkedip beberapa kali.

"Lah..."

"Lo ngaku?" Biasanya, Raymond hanya akan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.Tapi kali ini berbeda.

"Iya." Jawabannya singkat, tanpa raut canggung sedikit pun.

Suasana kelas langsung pecah.

"Waduh!"

"Parah!"

"Fix!"

"Pangeran kampus beneran jatuh cinta!"

Beberapa mahasiswa tertawa sambil menepuk meja. Yang lain bahkan sampai bersiul menggoda. Di saat yang sama, Dion baru saja masuk ke kelas. Begitu mendengar keributan itu, ia langsung ikut tertawa.

"Gue saksi hidup!" Semua orang menoleh ke arahnya. Dion berjalan santai menghampiri Raymond, lalu menjatuhkan diri di kursi sebelahnya.

"Laporan terbaru." Raymond membuka buku kuliahnya.

"Apa?"

"Sekarang satu kampus udah tahu kalau lo lagi ngejar Angela." Raymond membalik halaman bukunya dengan tenang.

"Terus?" Dion hanya bisa menggeleng sambil terkekeh.

"Lo sama sepupu gue emang udah nggak ketolong." Rendy yang mendengar itu langsung penasaran.

"Maksudnya?" Dion menunjuk Raymond dengan dagunya.

"Yang satu kelihatannya cuek. Padahal kalau udah suka, nekat." Ia lalu mengangkat bahu.

"Yang satu lagi keras kepala. Kalau digabung..." Dion tertawa kecil. "...jadi pasangan paling bikin heboh satu kampus."

Ucapan itu langsung disambut gelak tawa.

Bahkan beberapa mahasiswa mengangguk setuju.

Sementara Raymond, Ia hanya menutup bukunya pelan, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, Ia sama sekali tidak membantah. Melihat reaksi itu, Dion langsung mendekat sambil berbisik pelan.

"Bahaya." Raymond melirik sekilas.

"Apa?"

"Sepupu gue bukan cuma bucin. Dia sekarang malah bangga jadi bucin." Seketika satu kelas kembali tertawa. Bahkan Rendy sampai menggeleng sambil menepuk bahu Raymond.

"Udah, Bro. Lo resmi kehilangan image dingin lo." Raymond hanya terkekeh pelan.

"Biarin." Jawaban singkat itu justru membuat teman-temannya makin heboh.

Tak jauh dari sana, Di balik pintu kelas yang terbuka sedikit, seseorang berdiri tanpa mengeluarkan suara.

Clara.

Tatapannya tertuju lurus ke arah Raymond.

Melihat pria itu tersenyum karena Angela, wajah Clara berubah semakin dingin.

Jari-jarinya mencengkeram ponsel hingga buku-buku jarinya memutih.

"Angela..." gumamnya lirih, rahangnya mengeras. "Gue nggak bakal tinggal diam."

Tatapannya dipenuhi amarah dan rasa iri.

Perlahan, Clara membalikkan badan, lalu melangkah meninggalkan koridor.

Di sepanjang jalan, pikirannya terus bekerja.

Satu per satu rencana mulai tersusun di kepalanya.

Jam kuliah sore akhirnya berakhir.

Bel berbunyi nyaring, disusul suara kursi yang bergeser dan obrolan mahasiswa yang kembali memenuhi setiap sudut gedung.

Di Fakultas DKV, Angela baru saja selesai merapikan laptop dan buku catatannya ke dalam tas. Maya meliriknya sambil memasukkan kamera ke dalam tas ransel.

"Gimana?" Angela mengangkat kepala.

"Gimana apanya?"

"Perasaan lo masih nggak enak?" Angela menghela napas pelan.

"Sedikit." Maya terkekeh.

"Jangan-jangan masih kepikiran Raymond."

Angela langsung menatapnya datar.

"Lo mulai lagi."

"Hehe... cuma nebak." Angela menutup resleting tasnya.

"Gue kepikiran proyek pameran."

"Kalau besok beneran dipasangin sama anak Ekonomi, semoga aja orangnya enak diajak kerja." Maya mengangguk setuju.

"Iya sih. Soalnya kalau partner-nya susah diajak kerja, proyek bisa berantakan." Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari studio bersama mahasiswa lain. Koridor kembali dipenuhi langkah kaki dan suara obrolan.

Di saat yang sama, Di gedung Fakultas Ekonomi. Raymond baru keluar dari kelas bersama Dion, Rio, Kevin, dan Arga yang sengaja datang menjemputnya.

Rio melirik jam di pergelangan tangannya.

"Jam segini biasanya Angela udah pulang, ya?" tanya kevin seraya kembali menggodanya. Raymond hanya melirik sekilas.

"Nggak tahu." Dion langsung mendengus.

"Mulut bilang nggak tahu. Padahal hati hafal jadwalnya." Kevin tertawa kecil.

"Udah, jangan digodain terus." Arga menyelipkan kedua tangan ke saku celana.

"Terus sekarang kita ke parkiran?" Raymond mengangguk.

"Iya." Mereka pun berjalan menuju parkiran kampus. Namun, saat melewati taman yang menghubungkan Fakultas Ekonomi dan DKV...

Langkah Raymond tiba-tiba melambat.

Dari kejauhan, ia melihat Angela dan Maya sedang berjalan sambil mengobrol.

Maya tampak memperlihatkan beberapa hasil foto di layar kameranya. Angela sesekali tersenyum kecil sambil memberi komentar.

Dion yang menyadari arah pandangan Raymond langsung mendesah panjang.

"Tuh, kan." Rio ikut melihat.

"Anjir..."

"Ketemu lagi." Kevin menahan tawa.

"Ini namanya jodoh atau emang kampusnya sekecil itu?" Arga terkekeh.

"Menurut gue..Yang satu nyari, Yang satu nggak sadar lagi dicari."

Sementara itu, Angela yang sedang melihat layar kamera Maya sama sekali belum menyadari keberadaan Raymond.

Maya menunjuk salah satu foto.

"Nah, yang ini menurut lo gimana?" Angela memperhatikan dengan saksama.

"Komposisinya udah bagus."

"Cuma pencahayaannya kurang."

"Oh iya juga." Maya mengangguk sambil mengutak-atik pengaturan kamera.

Tanpa sengaja, ia mendongak.

"Lho...Raymond." Angela refleks ikut mengangkat kepala. Tatapan mereka kembali bertemu.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!