Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ditagih hutang
"Aku harus mencari pekerjaan di mana lagi sekarang? Semua tempat sudah aku datangi, tapi tidak ada satu pun yang mau menerimaku. Apa karena aku hanya lulusan SMA?" gumam Felisyah lirih.
Rasa putus asa perlahan menyelimuti hatinya. Sudah berhari-hari ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, membawa map berisi berkas lamaran yang kini mulai kusut karena terlalu sering dibawa ke sana kemari. Namun hasilnya tetap sama, penolakan demi penolakan harus ia terima.
Di bawah terik matahari yang seakan membakar kulitnya, Felisyah terus melangkahkan kaki. Keringat membasahi kening dan pakaiannya, sementara tubuhnya terasa lelah karena belum sempat beristirahat sejak pagi. Namun, ia tidak memiliki waktu untuk menyerah.
Pikirannya kembali tertuju pada sang ayah yang terbaring lemah di rumah sakit. Biaya pengobatan yang semakin besar dan kondisi ayahnya yang belum juga membaik menjadi beban berat di pundaknya.
"Ayah, bertahanlah. Felisyah pasti akan menemukan jalan untuk menyelamatkan Ayah," bisiknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dengan langkah gontai, Felisyah mempercepat langkah menuju rumah. Ia harus segera membersihkan diri sebelum kembali ke rumah sakit untuk menemani ayahnya. Meski hati dan tubuhnya sama-sama lelah, ia tetap harus terlihat kuat di hadapan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Langkah Felisyah mendadak terhenti saat ia tiba di depan rumahnya. Napasnya tercekat ketika melihat pintu rumah yang terbuka lebar. Beberapa barang berserakan di lantai, meja dan kursi bergeser tidak beraturan, seolah seseorang baru saja mengacak-acak seluruh isi rumahnya.
"Ya Allah... apa yang terjadi? Kenapa rumahku jadi seperti ini? Apa ada pencuri?" gumamnya panik.
Tanpa berpikir panjang, Felisyah berlari masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya kembali membeku ketika melihat tiga pria bertubuh besar sedang mengobrak-abrik barang miliknya. Sementara seorang pria gemuk dengan penampilan seperti preman duduk santai di kursi sambil tersenyum sinis.
"Siapa kalian? Kenapa kalian ada di rumahku? Apa yang kalian lakukan?" tanya Felisyah dengan suara bergetar menahan takut.
"Hahaha... akhirnya yang kami tunggu datang juga," ucap pria gemuk itu sambil menyeringai.
"Aku bertanya, siapa kalian?" bentak Felisyah yang mulai memberanikan diri meski tubuhnya gemetar.
"Kami datang untuk menagih hutang ayahmu. Sudah beberapa bulan dia menunda pembayaran. Jika hari ini hutang itu tidak dilunasi, maka rumah ini akan kami sita," jawab salah satu anak buahnya dengan kasar.
"Hutang? Tidak mungkin! Ayahku tidak pernah berhutang kepada kalian. Kalian pasti salah orang!" bantah Felisyah cepat.
"Jangan sok tahu. Lihat ini!"
Pria itu melemparkan sebuah map ke hadapan Felisyah. Dengan tangan gemetar, ia mengambil dan membuka dokumen tersebut.
Sekejap, wajahnya berubah pucat.
Di sana tertulis nama ayahnya, Sanggara Sanjaya, dengan jumlah pinjaman sebesar lima puluh juta rupiah lengkap dengan tanda tangan yang sangat ia kenali.
"Tidak mungkin..." bisiknya lirih.
Kakinya terasa kehilangan tenaga hingga ia terduduk di lantai.
"Ayah meminjam uang sebanyak ini untuk apa? Selama ini kami hidup serba kekurangan. Untuk makan saja kami harus menghemat, bahkan Ayah bekerja sebagai kuli bangunan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika benar Ayah meminjam uang sebanyak ini... ke mana uang itu pergi?" gumamnya dengan mata yang mulai dipenuhi air mata.
Tiba-tiba sebuah kemungkinan buruk muncul di benaknya.
"Jangan-jangan... ada seseorang yang memanfaatkan nama ayahku?" ucapnya sambil menatap para pria di depannya.
"Kalian pasti tahu sesuatu, bukan? Ayahku bukan orang yang seperti itu!"
"Urusan itu bukan urusan kami," jawab anak buah pria tersebut dingin. "Yang kami tahu, hutang itu atas nama ayahmu. Bayar sekarang, atau angkat kaki dari rumah ini."
"Tidak... jangan lakukan itu. Ini satu-satunya rumah kami. Tolong, ayahku sedang sakit di rumah sakit. Kami tidak punya tempat lain untuk tinggal," pinta Felisyah sambil menangis.
Pria gemuk itu hanya tertawa mengejek.
"Kasihan sekali. Tapi kami tidak peduli. Kami akan datang kembali untuk mengambil rumah ini jika hutang itu belum dibayar."
Felisyah menggeleng cepat.
"Tolong... jangan ambil rumah ini. Kami benar-benar tidak tahu apa-apa."
Pria gemuk itu menatap Felisyah dari ujung kepala hingga kaki dengan senyum yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Sebenarnya ada cara lain agar rumah ini tetap menjadi milikmu."
Felisyah menatapnya dengan penuh ketakutan.
"Apa maksudmu?"
Pria itu tertawa pelan.
"Menikahlah denganku. Dengan begitu, aku akan menghapus seluruh hutang ayahmu."
Mata Felisyah membulat. Air matanya jatuh semakin deras.
"Tidak! Aku tidak akan menikah denganmu!" teriaknya.
"Kalau begitu, bawa dia!"
Perintah itu membuat dua anak buahnya segera mendekat dan mencengkeram kedua tangan Felisyah.
"Lepaskan aku! Tolong! Lepaskan!" jeritnya sambil berusaha memberontak.
Namun tenaga para pria itu jauh lebih kuat dibanding dirinya.
Pria tua itu mendekat, lalu mencoba menyentuh wajahnya. Felisyah menoleh dengan jijik dan ketakutan.
"Kau gadis yang cantik. Sayang sekali jika hanya rumah ini yang menjadi jaminan."
"Jangan sentuh aku!" teriak Felisyah dengan suara pecah.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Felisyah menghentakkan kakinya ke arah tubuh salah satu pria yang menahannya, lalu menggigit tangan pria lainnya hingga mereka melepaskan cengkeramannya.
"Arrgh!"
Tanpa menunggu kesempatan itu hilang, Felisyah segera berlari keluar rumah dengan napas tersengal dan air mata yang terus mengalir. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, tetapi satu hal yang ia tahu, ia harus menyelamatkan dirinya sebelum semuanya terlambat.
"Kejar dia! Jangan sampai gadis itu lolos!" teriak pria gemuk itu dengan wajah merah dipenuhi amarah.
Tanpa menunggu perintah kedua kali, dua anak buahnya langsung berlari mengejar Felisyah yang sudah lebih dulu keluar dari rumah.
Langkah Felisyah terasa begitu berat. Napasnya tersengal, dadanya sesak, dan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Rasa takut yang selama ini belum pernah ia rasakan kini menghantui setiap langkahnya.
"Ya Allah... tolong hamba. Tolong selamatkan aku..." isaknya di tengah pelarian.
Ia terus berlari menyusuri gang sempit yang sepi. Tidak ada satu pun orang yang lewat. Rumahnya yang berada di bagian dalam gang membuat teriakan minta tolongnya seakan hilang ditelan kesunyian.
"Tooolong... ada yang bisa menolongku?" teriaknya dengan suara yang mulai serak.
Namun tidak ada jawaban.
Dengan napas memburu, Felisyah menoleh ke belakang.
Sekejap jantungnya hampir berhenti.
Dua pria itu semakin dekat. Jarak mereka semakin sedikit. Bahkan salah satu tangan pria itu hampir saja berhasil meraih ujung pakaiannya.
"Tidak... aku tidak boleh tertangkap," gumam Felisyah sambil mempercepat langkahnya.
"Aku harus bertahan. Demi Ayah... demi masa depanku."
Tenaga yang hampir habis ia paksa untuk terus bergerak. Kakinya terasa sakit, dadanya seperti terbakar, tetapi rasa takut membuatnya tidak berhenti.
Hingga akhirnya, ia berhasil keluar dari gang dan mencapai jalan raya.
Di sana, seorang tukang ojek tampak sedang duduk di atas motornya sambil memeriksa ponselnya.
Harapan kembali muncul di mata Felisyah.
"Bang! Tunggu! Tolong saya, Bang!" teriaknya sambil berlari menghampiri.
Tukang ojek itu menoleh kaget.
"Ada apa, Mbak? Kok kelihatannya panik sekali?"
"Tolong antar saya ke rumah sakit sekarang juga. Cepat, Bang, saya mohon!" ucap Felisyah dengan suara bergetar.
Tanpa banyak bertanya, pria itu mengangguk.
"Baik, cepat naik."
Felisyah segera menaiki motor itu. Namun saat motor baru akan berjalan—
"Berhenti!"
Suara teriakan kasar dari belakang membuat tubuh Felisyah menegang.
Ia menoleh dan melihat kedua pria itu sudah sangat dekat. Salah satu dari mereka bahkan berusaha menarik tangannya.
"Turun sekarang juga!" bentaknya.
"Bang, cepat pergi!" jerit Felisyah ketakutan.
Seketika tukang ojek itu menarik gas motornya dengan penuh tenaga.
Brrraaaakkk!
Motor melaju meninggalkan tempat itu tepat ketika tangan pria tersebut hampir menyentuh tubuh Felisyah.
Dua pria itu hanya bisa berhenti di tengah jalan sambil mengumpat kesal.
Sementara Felisyah yang duduk di belakang terus menoleh ke arah mereka dengan tubuh gemetar. Air matanya tidak berhenti mengalir.
Ia berhasil lolos.
Untuk saat ini.
Namun Felisyah tidak menyadari, sepasang mata sedang memperhatikannya dari dalam sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat kejadian.
wanita di dalam mobil itu menatap Felisyah dengan sorot mata penuh kemenangan.
"Jadi... ini keadaanmu sekarang, Felisyah."
Siapa sebenarnya wanita misterius itu? Mengapa ia mengetahui nama Felisyah? Dan apakah kehadirannya akan menjadi penyelamat atau justru awal dari masalah yang lebih besar?
semangat✍️😉