NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Ibu Kos masih genggam tangan Anya. Panasnya nular ke tangan Anya yang sedari tadi dingin."Janji ya nak," bisik Ibu Kos. "Besok pagi. Kita naik bareng. Jangan ada yang sendirian."

Anya ngangguk pelan. Tapi matanya masih lurus ke arah dapur yang gelap. Di lantai keramik dapur, jejak basah itu masih ada. Mengkilap kena lampu. Mulai dari depan kulkas, belok lalu berhenti pas di anak tangga pertama.

_Kreeet..._Suara itu lagi. Dari atas. Kayak kayu ditarik pelan di lantai.

Wulan langsung nyusup di balik punggung Tari. "Itu apaan sih..."

"Shhh..." Tari nepuk bahu Wulan. "Baca doa. Baca doa aja."

Tio belum duduk dari tadi. Dia berdiri di tengah ruang tamu. Jadi tameng. Matanya tidak lepas dari tangga."Bu," kata Tio pelan." apa sebaiknya kita hubungi keluarga Anya."

Ibu Kos menoleh. Matanya yang sembab langsung ngeliat ke Tio. Bu mimi nelan ludah. "Buat apa nak?"

Tio ngusap tengkuk. Napasnya masih belum rata. "Biar...?biar ada yang tau, Bu. Takutnya, Anya kenapa-kenapa. Terus biar sekalian minta didoain dari rumahnya."

Serra langsung geleng. "Jangan dulu, Tio. Nanti malah bikin orang tuanya panik."Tangan Serra masih megang selimut. Ujungnya udah kusut dia remes-remes.

Wulan ngintip dari balik Tari. "Iya...! jangan. Nanti dikiranya kita yang nakut-nakutin Nya."

Anya ngusap jempolnya ke punggung tangan Ibu Kos. Dingin."Enggak usah, Tio," kata Anya pelan. "Aku nggak mau Bapak, Ibu dan kakakku di rumah khawatir."

Ibu Kos mengangguk. "Iya nak. Kita urus dulu sendiri. Kalau besok pagi udah nggak reda, baru Ibu yang telpon." Suara Ibu Kos serak. "Dulu...?waktu Anya yang dulu kejadian, Ibu juga telat ngabarin. Tiga hari. Ortu nya nyamperin pas jenazahnya udah di kamar mayat."

_Kreeet..._

Suara gesekan kayu dari atas lagi. Lebih panjang. Kayak ada yang narik sesuatu dari dalam kamar atas. Lima orang langsung diem. TV masih nyala pelan. Penyiar berita udah ganti jadi iklan obat. Suaranya cempreng di tengah sepi.

Tio duduk juga akhirnya. Di lantai. Nyender ke meja. "Jadi...?kita tunggu sampai pagi gini aja, Bu?"

"Iya," Ibu Kos narik selimut, nutupin bahu Anya. "Kita jaga. Kita temenin. Kita jangan pecah."

Hawa dingin masih nusuk. Tapi ada anget dikit dari badan mereka yang pada dempetan.

_Tik... tik..._ Air netes lagi. Dari plafon ruang tamu. _Pluk._ Jatuh di tempat yang sama tadi.

Wulan langsung merem. "Ya Allah..."

"Udah, jangan diliatin," bisik Tari. Dia mulai baca Al-Fatihah pelan. Yang lain ngikutin. Suaranya kecil, komat-kamit.

Al-Fatihah mereka pelan. Suaranya ketahan di tenggorokan. Ibu Kos paling kenceng. Tapi tiap sampai ayat terakhir, suaranya selalu pecah. Anya duduk paling tengah. Punggungnya disenderin ke kaki Ibu Kos. Selimut nutup sampai dagu. Tapi bahunya masih gemetar.

_Tik... tik..._

Air netes lagi. _Pluk._ Jatuh di keramik yang sama. Udah bikin genangan kecil.

Tio ngeliat ke atas. Ke plafon. Bercak airnya makin lebar. Bentuknya aneh. Kayak telapak tangan kebuka."Bu," bisik Tio. "Itu...?itu makin gede."

Ibu Kos nggak jawab. Dia malah makin ngerat tangan Anya. "Lanjutin nak. Jangan berhenti."

Mereka mulai lagi. Dari awal.

_Bismillahirrahmanirrahim..._

_Sreeess..._

Suara kran. Dari dapur seperti ada yang bukan kran dengan pelan. Lima pasang mata langsung nengok bareng. Gelap. Cuma keliatan meja sama kursi. Tapi airnya ngalir. Kedengeran jelas. _Sreeess..._Terus berhenti._Tek._ Kran ditutup lagi.

Hening.

Dari ujung dapur, ada bayangan. Tinggi. Basah. Berdiri diem. Kepalanya nunduk. Rambutnya nutupin muka. Baju daster putih. Ujungnya basah semua, netes ke lantai.

Wulan langsung jerit kecil. Ketahan. "Aaaaa..."

Tari langsung nutup mulut Wulan. "Shhh..." Bayangan itu nggak gerak. Cuma berdiri.

3 detik.....5 detik. Terus pelan-pelan... nengadah. Tidak ada muka. Kosong. Hitam. Tapi dari situ keluar suara. Suara Minar.

"Temani aku."

Suara ketawa kecil. _Hehe..._lalu bayangan itu mundur. Masuk lagi ke gelap dapur. _Srek..._ Lampu ruang tamu kedip. _Kretek._Pas nyala lagi, dapurnya sudah kosong. Cuma ada jejak basah baru. Dari dapur, nambah satu. terlihat jejak Ke arah tangga.

Ibu Kos gemetar. "Ya Allah...!Ya Allah...!"

Serra langsung peluk Anya. "Nya, merem. Merem aja. Jangan liat."Tapi Anya nggak merem. Matanya malah kebuka lebar. Nanar.

"Aku kenal, Ra," bisik Anya. "Itu daster yang aku pake kemarin. Yang basah kuyup." Dunia Serra mendadak dingin setelah dengar kata-kata Anya.

_Kreeet..._

Dari atas lagi. Kali ini bukan narik. Tapi kayak ada yang duduk. Kayu kasurnya berdecit. Lama. Lalu terdengar suara Lirih seperti orang kedinginan.

Jam dinding nunjuk jam 2 lewat 44. Masih 1 jam lebih ke subuh. Ibu Kos narik semua makin rapet. "Kita dzikir aja nak. Istighfar. Sampai adzan." Dan mereka mulai. Pelan-pelan.

_Astaghfirullah...

_Astaghfirullah...

Astaghfirullah..._

Suara mereka kecil. Kompak. Tapi bergetar semua. Ibu Mimi paling kenceng. Tasbih di tangannya jalan satu-satu. _Klik... klik..._

Tangan kirinya masih genggam tangan Anya. Kenceng banget. Kayak takut dilepas. Anya merem. Tapi bulu matanya basah. Pipinya dingin. Di luar selimut, napasnya keluar jadi asap tipis._Srek... srek..._

Langkah kaki basah masih muter di ruang tamu. Pelan. Muterin meja. Muterin TV. Berhenti pas di depan pintu kamar Ibu Kos.

_Tok. Tok. Tok._

Tiga ketukan. Sama kayak tadi. Semua langsung diem. Dzikirnya berhenti.

"Bu...!buka dong. Dingin..." Suara itu lagi. Lirih. Tapi jelas. Kayak bibirnya nempel di pintu.

Wulan langsung nangis. Dipeluk Tari. Bahunya guncang. Tio berdiri. Badan dia maju setengah langkah. Ngehalangin pintu. Ibu Kos menggeleng pelan. Bibirnya komat-kamit. "Hasbunallah wanikmal wakil..."

Ketukan berhenti. Ganti suara lain. _Sret..._

Kayak kuku. Digores pelan dari atas ke bawah di pintu kayu. _Sreeeet..._

Terus hening. Beberapa detik yang rasanya sejam._Pluk._ Ada yang jatuh di depan pintu luar.

Tio ngintip lewat celah bawah pintu. Matanya langsung merem lagi. "Bu..." suaranya ketahan. "Itu...? rambut. Basah."

Ibu Kos langsung narik semua. "Jangan liat! Baca lagi!"

Mereka mulai dzikir lagi. Lebih cepet.

_Astaghfirullah... Astaghfirullah..._

_Tik... tik..._ Air dari plafon masih netes. Tapi sekarang udah 2 titik. Satu di ruang tamu. Satu lagi di depan pintu kamar ini. _Pluk._

Jam dinding. _Tik-tok. Tik-tok._ Jam 2 lewat 58. 10 menit lagi jam 3. Dari atas, suara decitan kasur berhenti. Ganti suara buka tutup laci. _Kreeek... tutup. Kreeek... tutup._

terdengar suara langkah kaku turun dari tangga. _Srek... srek... srek..._

Suara Berhenti pas di anak tangga terakhir. Smuanya Langsung diam. Lampu ruang tamu kedip 2 kali. _Kretek... kretek._Terus padam.

Gelap total. Cuma ada lampu kecil dari luar yang masuk lewat sela gorden.Di tengah gelap itu, kedengeran suara napas. Bukan napas mereka berlima. Lebih berat. Lebih basah.

"Nya..."Bisikan itu seperti lewat angin."...aku tunggu kamu di kamar ya. Bawa selimutku..."Suara itu menghilangkan, seakan tak pernah ada.

Hening.

Ibu Mimi langsung peluk Anya. Erat. "Denger ya nak. Jangan jawab. Jangan nyaut. Apapun yang terjadi." Anya ngangguk di pelukan Ibu Mimi. Tapi air matanya netes ke daster Ibu Mimi

Jam 3 lewat 5. Dari masjid kejauhan, mulai kedengeran. _Allahu Akbar... Allahu Akbar..._ Adzan subuh. Lampu ruang tamu nyala lagi sendiri. _Kretek._ Ruangan terang. Lantai masih basah dan Jejaknya masih ada. Tapi di depan pintu kamar. Ada daster putih, Basah, Dilipat rapi. Di atasnya ada sisir. Dan karet rambut.

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!