NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Rendra Anak Juragan Pasar

Setelah menutup aplikasi trading di handphone android barunya dan merapikan kasur busanya, Bumi mendadak merasakan keroncongan yang luar biasa dari dalam perutnya. Sejak pagi fokus menganalisis pergerakan grafik saham emiten membuat ia melewatkan jam makan siang. Tanpa membuang waktu, Bumi segera mengunci pintu kamar kosannya dan berjalan cepat menuju warung nasi milik ibunya Alya yang terletak di sudut barisan ruko pasar.

Begitu melangkah masuk ke dalam warung yang aromanya selalu menggugah selera itu, Bumi tersenyum melihat sosok yang familiar. Ternyata Alya juga baru saja tiba dari kampus. Gadis itu masih mengenakan almamater biru mudanya dan sedang meletakkan tas ranselnya di atas salah satu meja makan yang kosong.

"Eh, Mas Bumi! Pas banget baru mau saya panggil lewat pesan," seru Alya dengan wajah semringah begitu melihat Bumi masuk. "Kamu belum makan siang, kan? Sini, langsung duduk. Ibu lagi di belakang bikin es teh manis."

Bumi tersenyum santai dan langsung mendudukkan diri di kursi kayu panjang berhadapan dengan Alya. "Iya nih, Mbak Alya. Kebetulan perut saya udah demo dari tadi gara-gara keasikan mantau layar hp di kosan. Saya pesen nasi rames pakai telur dadar sama ayam suwir ya, Mbak."

"Siap, laksanakan! Sebentar saya ambilin," kata Alya lincah bergerak ke etalase kaca, mengambil piring, dan menyendokkan nasi hangat beserta lauk-pauk pesanan Bumi dengan porsi yang cukup banyak.

Setelah meletakkan piring di depan Bumi, Alya tidak langsung pergi. Ia duduk kembali di hadapan Bumi, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil memandang Bumi dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat. Sambil menemani Bumi yang mulai menyuap nasi ramesnya dengan lahap, Alya langsung membuka obrolan tentang kejadian di kampusnya tadi pagi.

"Mas Bumi, kamu tahu gak? Pelajaran di kampus hari ini bener-bener bikin geger satu kelas tahu!" buka Alya dengan nada suara yang sangat ceria dan bersemangat.

Bumi mengunyah makanannya perlahan sebelum menyahut, "Geger kenapa emangnya, Mbak? Dosennya galak atau ada ujian mendadak?"

Alya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya dengan heboh. "Bukan! Tapi karena semua pembahasan, rumus, sampai contoh studi kasus laporan keuangan yang kemarin sore kamu ajarin ke aku sama Dika, itu semuanya sama persis, plek-ketiplek dengan yang diterangkan sama Dosen killer di depan kelas tadi pagi! Aku sampai merinding pas denger penjelasan dosennya."

Bumi pura-pura terkejut, walau dalam hati ia tahu otak supernya memang tidak mungkin salah memprediksi materi buku teks tersebut. "Oh ya? Wah, kebetulan yang pas banget kalau gitu ya, Mbak."

"Kebetulan gimana, itu mah namanya kamu yang emang kejeniusan, Mas!" potong Alya dengan wajah penuh rasa bangga yang tidak bisa disembunyikan. "Gara-gara itu, aku sama Dika mendadak jadi orang paling pintar di jurusan hari ini. Pas dosennya ngasih pertanyaan kasus defisit modal yang paling sulit dan biasanya gak ada yang bisa jawab, Dika langsung maju ke papan tulis terus nulisin rumus restrukturisasi aset yang kamu ajarin kemarin. Dosennya sampai melongo, terus nanya Dika belajar dari profesor mana. Hahaha!"

Bumi ikut terkekeh melihat gaya bercerita Alya yang sangat ekspresif. "Terus si Dika jawab apa?"

"Ya dia bilang belajar mandiri dong, gengsi dia kalau bawa-bawa nama kuli pasar, hahaha! Tapi setelah itu giliran aku yang ditanya soal efisiensi pajak, dan aku jawab lancar banget pake penjelasan kamu. Kita berdua bener-bener dapet nilai A plus hari ini, Mas. Aku tuh bangga beneran deh punya mentor kayak kamu," ucap Alya tulus, tatapan matanya memancarkan rasa kagum sekaligus perasaan menaruh hati yang makin mendalam kepada Bumi yang kini tampak sangat bersih dan tampan.

"Alhamdulillah kalau ilmu yang sedikit kemarin bisa kepake buat kuliah kalian," kata Bumi santai setelah meneguk setengah es teh manisnya. "Yang penting kalian tetep rajin belajar aja—"

Brakk!

Belum sempat Bumi menyelesaikan kalimatnya, pintu masuk warung nasi yang terbuat dari kayu mendadak didorong kasar dari luar hingga menghantam dinding dengan keras. Obrolan ceria di antara Bumi dan Alya langsung terhenti seketika.

Dari ambang pintu, melangkah masuk seorang pemuda berpenampilan sangat perlente. Ia mengenakan jaket kulit hitam mahal, jam tangan emas yang mencolok, dan rambut yang ditata rapi dengan minyak rambut wangi. Pemuda itu adalah Rendra, anak dari juragan tanah dan pemilik kios paling kaya serta paling berkuasa di seluruh kawasan pasar induk.

Namun, yang membuat pandangan mata Bumi langsung menajam bukan hanya kehadiran Rendra, melainkan sosok pria berbadan besar, tegap, dan bertato penuh di lengannya yang berjalan di belakang Rendra. Pria bertato itu tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu preman anak buah si Garong—orang yang sama yang telah memukuli dan merampok Bumi hingga babak belur di lorong sepi minggu lalu.

Rendra melangkah masuk dengan angkuh, matanya langsung tertuju pada posisi duduk Bumi dan Alya yang tampak sangat dekat. Wajah Rendra seketika mengeras penuh dengan rasa tidak suka, cemburu, dan benci yang amat sangat.

"Oh... jadi bener laporan anak-anak pasar, kalau belakangan ini lu sering banget keluyuran sama gembel panggul ini, Al?" ucap Rendra dengan nada suara yang meninggi dan penuh penghinaan, sambil menunjuk wajah Bumi dengan jarinya.

Alya langsung bangkit berdiri dari kursinya, wajahnya berubah menjadi tegang dan kesal. "Rendra?! Mau ngapain kamu datang ke warung Ibu sambil bawa-bawa preman begini? Terus maksud kamu ngomong kayak gitu apa, ya? Mas Bumi bukan gembel, dia temen aku!"

Rendra berjalan mendekati meja mereka, lalu menggebrak pinggiran meja kaca dengan tangan kanannya. "Temen lu bilang? Al, sadar dong! Lu itu mahasiswi terpelajar, anak kuliahan, masa depannya cerah! Sedangkan dia? Cuma kuli panggul rendahan yang numpang hidup dari angkat keranjang sayur di pasar bokap gua! Kagak level banget tahu gak!"

Rendra kemudian melirik ke arah preman bertato di belakangnya, lalu tersenyum sinis sambil menunjuk ke arah Bumi yang masih duduk tenang di kursinya. "Eh, lu kenal kan sama ini orang? Ini kan kuli yang waktu itu lu gebukin sampai mampus di gudang belakang karena berani ngelawan? Kok sekarang dia masih bisa keluyuran di sini dengan muka sok ganteng begini?"

Preman bertato itu menyeringai licik, membunyikan buku-buku jarinya hingga terdengar suara gemertak yang mengerikan. "Oh iya, Bos Rendra. Ini si tikus pasar yang waktu itu kita kasih pelajaran. Ternyata nyawanya rangkap ya, Bos, udah digebukin balok kayu masih bisa seger begini."

Rendra bersedekap dada, menatap Bumi dengan pandangan muak. "Lu denger ya, kuli miskin. Gua bener-bener gak suka dan muak banget ngelihat kedekatan lu sama Alya belakangan ini. Lu itu gak ada apa-apanya dibanding gua! Sekarang, biar lu tahu diri dan gak berani lagi deket-deket sama calon cewe gua... Woy! Pukulin ini orang sampai dia gak bisa jalan lagi sekalian! Seret keluar!" perintah Rendra kejam kepada preman di belakangnya.

"Siap, Bos Rendra! Kerjaan gampang ini mah!" seru preman bertato itu penuh percaya diri. Ia langsung melangkah lebar maju ke depan, melayangkan sebuah pukulan mentah yang sangat keras ke arah wajah Bumi dari samping.

Melihat serangan mendadak itu, Alya langsung panik luar biasa. Wajahnya pucat pasi. Tanpa berpikir panjang karena rasa khawatirnya yang teramat sangat, Alya mencoba melompat ke depan Bumi untuk menjadi tameng pelindung. "Mas Bumi, awas!! Rendra, stop!! Jangan pukulin dia lagi!!" teriak Alya histeris.

Namun, Bumi bergerak jauh lebih cepat. Menggunakan ketajaman indra dan reflek fisiknya yang kini berkali-kali lipat lebih cepat daripada manusia biasa berkat khasiat ramuan herbal leluhurnya, Bumi dengan sangat lembut menarik pundak Alya ke belakang tubuhnya agar tidak terkena imbas perkelahian.

Bumi berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat tenang, tegap, dan tanpa rasa takut sedikit pun di wajahnya. Matanya menatap lurus ke arah kepalan tangan preman bertato yang sedang meluncur cepat menuju wajahnya. Di mata manusia biasa, pukulan itu sangat cepat dan mematikan, namun di mata Bumi yang sekarang, gerakan tinju preman itu terasa sangat lambat seolah-olah sedang bergerak di dalam air.

Tap!

Dengan satu gerakan tangan kiri yang sangat santai, Bumi dengan mudah menangkap pergelangan tangan kekar preman bertato tersebut tepat beberapa sentimeter di depan wajahnya. Pukulan keras itu terhenti mutlak, tidak bisa bergeser maju satu milimeter pun.

Preman bertato itu langsung terbelalak kaget. Ia mencoba menarik kembali tangannya, namun genggaman tangan Bumi di pergelangan tangannya terasa seperti jepitan besi hidrolik yang sangat kokoh dan menyiksa. "H-hah?! Kok bisa... kok tangan gua gak bisa gerak?!" erang preman itu mulai panik, keringat dingin mulai menetes di dahinya.

Bumi menatap preman itu dengan sorot mata yang dingin namun penuh wibawa, sama sekali tidak gentar dengan gertakan maupun otot besar lawannya. "Waktu itu gua emang diem pas kalian keroyok karena gua gak punya kekuatan apa-apa. Tapi untuk hari ini, di depan warung ini... lu gak bakal bisa nyentuh gua atau Mbak Alya sedikit pun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!