Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Hari libur
Arga pun tertidur pulas. Ia baru terbangun keesokan paginya ketika mendengar suara dering telepon yang sangat bising.
"Siapa sih? Mengganggu banget...!" umpat Arga kesal. Ia membuka matanya dengan enggan, lalu meraba-raba kasur untuk mencari ponselnya. "Halo... siapa ya?"
"Arga! Ke mana saja kamu?! Ini sudah jam 7 pagi dan kamu belum datang! Ini banyak pesanan makanan yang harus kamu antar!"
Suara di seberang telepon terdengar sangat familier di telinganya. "Ini kayak suaranya si botak," gumam Arga spontan.
"Apa kamu bilang?! Si botak?!"
Arga duduk perlahan di tepi kasur sambil mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih.
Sementara itu, pria di seberang telepon terus berteriak marah-marah dengan suara melengking. "Cepat datang ke restoran! Kalau tidak, gajimu saya potong!"
Tanpa rasa berdosa sedikit pun, Arga langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Ia mengambil handuk lalu bersiap-siap untuk mandi. "Orang itu masih saja suka marah-marah. Pantesan di masa depan dia cerai sama istrinya, wkwk," pikir Arga geli.
Setelah mandi sekitar sepuluh menit, Arga berganti pakaian menggunakan kaos hitam polos, celana panjang, dan sebuah topi yang ia pakai terbalik.
Sambil menatap cermin, Arga tersenyum sendiri.
"Nah, begini kan enak. Ganteng juga ya wajahku pas masih muda. Dulu di masa depan mataku punya kantung mata tebal dan wajah pucat, sekarang masih bersih begini."
Dengan senyum penuh semangat, ia melihat kalender yang tergantung di dinding kamarnya. "Ternyata hari ini beneran tanggal merah..."
Ia berjalan keluar kamar menuju ruang makan utama.
Di sana sudah berkumpul Gavin, Reyhan, dan Nabilla Clarissa, gadis yang di masa depan nanti akan menjadi model terkenal.
Begitu melihat kedatangan Arga, raut wajah mereka langsung berubah muram.
"Mau ngapain kamu ke sini?!" ketus Gavin tidak senang.
"Ya mau makan lah," jawab Arga santai.
Arga memperhatikan hidangan mewah yang tersaji di atas meja. Semuanya tampak sangat lezat.
Di kehidupan sebelumnya, Arga tidak pernah diizinkan untuk duduk makan bersama mereka di meja ini.
Namun sekarang? Ia tidak peduli lagi dilarang atau tidak. Ia akan tetap hidup sesuka hatinya.
Nabilla menatapnya dengan pandangan sinis. "Gak tahu malu sekali!"
"Apa sih nih orang? Diam deh, sok asyik banget," cibir Arga acuh tak acuh.
Ia langsung mengambil sepotong besar ayam goreng, roti, dan beberapa lauk lain ke atas piringnya hingga penuh. "Nah, sekarang aku mau makan di luar seperti yang biasa kalian suruh. Makasih ya makanan enaknya."
Nabilla sampai melongo tidak percaya melihat kelakuan Arga. "M-Mah, dia kenapa sih?"
Ratih yang baru datang ke ruang makan hanya bisa menghela napas lelah. "Mama juga gak tahu. Padahal kemarin-kemarin dia selalu murung, cuma fokus belajar, dan gak pernah bertingkah aneh kayak begini."
Gavin mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. 'Awas saja kamu, Arga! Bang Devan gak bakal tinggal diam melihat ini,' batinnya kesal.
Sementara itu, di area halaman, Arga mencicipi daging ayam gorengnya dengan nikmat. "Enak banget, gila. Makanan orang kaya memang beda kelas."
Seorang wanita paruh baya tiba-tiba mendekat dengan wajah penuh rasa khawatir. "Eh, Den Arga. Kenapa bawa piring makanan sebanyak ini?"
Arga menoleh. "Oh, Bi Asih. Tolong bantuin bawain lauk yang ini dong, Bi. Kita bawa ke depan, terus makan sama-sama."
Ya, walaupun di rumah mewah ini ia dianggap tidak ada oleh keluarganya, setidaknya masih ada orang yang tulus peduli kepadanya, salah satunya adalah Bi Asih ini.
"Den Arga dapat makanan sebanyak ini dari mana?" tanya Bi Asih ragu-ragu.
"Dari meja makan dalam," jawab Arga singkat.
Bi Asih tersentak kaget mendengarnya. 'Kok bisa Den Arga nekat mengambil makanan dari sana? Itu kan hidangan khusus untuk Tuan dan Nyonya,' pikir Bi Asih cemas.
Walau begitu, ia tetap membantu membawakannya ke area depan rumah, tempat biasa para pelayan dan pekerja kebun berkumpul untuk makan.
Di sana sudah ada beberapa pekerja lain yang sedang beristirahat.
Arga dan Bi Asih meletakkan piring-piring besar itu di atas meja kayu. "Nah, silakan makan semuanya. Hari ini kita makan enak, besok-besok juga bakal kayak gini lagi," ujar Arga ramah.
Semua pekerja saling pandang dengan heran dan bingung melihat perubahan sikap Arga yang mendadak ramah.
Meski begitu, mereka akhirnya makan bersama dengan lahap.
Orang-orang yang awalnya canggung dengan Arga justru mulai merasa nyaman karena sifatnya sekarang ternyata sangat asyik dan membumi.
Setelah selesai makan dan kenyang, Arga berdiri. "Aku pergi dulu ya semuanya, ada kerjaan di luar."
"Eh, Tuan Muda sudah mau pergi lagi?" tanya salah seorang pelayan.
"Iya, nanti kena omel bos."
Arga berjalan pergi meninggalkan area belakang.
Begitu sampai di halaman depan dekat garasi, matanya tertuju pada sebuah motor sport mentereng yang terparkir rapi. "Bukannya ini motornya si Gavin? Mau ke mana dia?" Sebuah senyum licik mendadak muncul di wajah Arga. "Kuncinya malah ditinggal di motor nih."
Tanpa pikir panjang, Arga langsung menaiki motor sport tersebut dan memutar kunci kontak. "Jadi gini rasanya naik motor mahal. Keren juga," gumamnya puas.