Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan Yang Gagal
Matahari tepat berada di atas kepala. Lokasi syuting sedang dalam jeda makan siang, suasana studio yang tadinya riuh mendadak menjadi lebih santai. Yeza memanfaatkan waktu itu untuk duduk di kursi lipat di sudut ruang rias, membuka kotak makan siangnya.
Baru saja ia hendak menyuap makanannya, ponsel di dalam saku celananya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal tertera di layar. Yeza mengerutkan dahi sejenak, namun karena berpikir itu mungkin urusan pekerjaan, ia pun mengangkatnya.
"Halo, dengan Yeza?" suara di seberang sana terdengar sangat ramah, nyaris terlalu ramah.
"Iya, benar. Dengan siapa ini?" tanya Yeza sopan.
"Ah, halo Yeza! Aku dari agensi talent internasional. Aku melihat unggahan foto Laura beberapa hari lalu, dan jujur saja, teknik riasmu luar biasa. Sangat detail dan artistik. Kami sedang mencari Key Makeup Artist untuk proyek besar, dan aku rasa kamu kandidat yang sempurna. Bisakah kita bertemu hari ini atau besok untuk menandatangani kontrak eksklusif? Gajinya jauh lebih besar dari apa pun yang kamu bayangkan."
Yeza terdiam sejenak. Mendengar nama Laura disebut, instingnya langsung waspada. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu di mana Laura memicu drama karena unggahan itu.
"Terima kasih atas tawarannya," jawab Yeza tenang, suaranya tetap profesional namun tegas. "Tapi saya harus menolak. Saat ini saya sudah terikat kontrak eksklusif dengan agensi saya, dan saya tidak bisa menerima proyek lain tanpa izin."
Suasana di seberang telepon sempat hening selama dua detik, sebelum suara itu berubah sedikit dingin. "Oh... sayang sekali. Padahal kesempatan ini tidak datang dua kali, Yeza."
"Mohon maaf, saya tetap pada keputusan saya. Terima kasih," ucap Yeza sopan sebelum menutup teleponnya.
Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan helaan napas panjang. Yeza tidak terlalu memikirkannya, ia menganggap itu hanya tawaran headhunter biasa. Namun, ia tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakangnya, Max yang baru saja selesai minum air putih sedang berdiri mematung.
Max tidak mendengar isi pembicaraannya secara detail, tapi ia melihat perubahan raut wajah Yeza yang tadinya tenang menjadi sedikit terusik. Max langsung melangkah mendekat.
"Siapa yang menelepon?" tanya Max dingin, matanya menatap tajam ke arah ponsel Yeza.
Yeza mendongak, terkejut melihat kehadiran Max yang begitu tiba-tiba. "Oh, hanya seseorang yang menawarkan proyek. Tapi saya sudah menolaknya karena saya tidak bisa mengambil pekerjaan di luar kontrak agensi kita."
Rahang Max mengeras. Ia melirik ponsel Yeza, lalu beralih menatap sekeliling studio dengan pandangan menyelidik. Ia tahu betul perilaku Laura yang licik. Baginya, tidak ada kebetulan di dunia ini—terutama setelah apa yang terjadi kemarin.
"Lain kali, kalau ada nomor tidak dikenal yang menawarkan sesuatu, jangan pernah layani. Langsung berikan ponselmu ke Bram atau kepadaku," ucap Max dengan nada yang tidak terbantahkan.
Yeza mengangguk pelan, sedikit bingung dengan reaksi Max yang begitu protektif, namun ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan sang aktor darinya. Sementara itu, di sebuah lokasi tersembunyi, seorang pria yang baru saja menutup telepon dari Yeza segera menghubungi nomor lain.
"Dia menolak, Nona Laura. Dia bilang sudah terikat kontrak eksklusif," lapor pria itu.
Di ujung sana, Laura yang sedang memegang gelas wine di kamar hotelnya membanting gelas itu ke atas meja hingga retak. "Keras kepala sekali gadis itu! Baiklah... kalau dia tidak mau datang dengan cara halus, aku akan membuatnya datang dengan cara lain."