Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Akhir Kehidupan Lama, Awal Sebagai Bayi
Di dalam kamar kost sempit yang hanya cukup untuk memuat tempat tidur, meja kecil, dan lemari usang, Keisuki terbaring lemah di depan layar komputer. Udara di ruangan terasa pengap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu meja dan pantulan layar yang menampilkan dunia luas dalam permainan RPG kesayangannya. Sudah hampir dua puluh empat jam ia tidak beranjak dari tempat duduknya, terhanyut dalam petualangan virtual yang menjadi satu-satunya pelariannya dari kesunyian hidup.
Keisuki baru berusia dua puluh sembilan tahun. Sejak masih kanak-kanak, ia sudah ditinggalkan oleh ayah dan ibunya, meninggalkannya hidup sendirian dan bergantung pada biaya bantuan sosial serta hasil kerja sambilan. Sifatnya yang pendiam, cenderung menutup diri, dan sulit bergaul membuatnya tidak memiliki teman dekat. Dunianya hanya ada di antara halaman buku, tulisan, dan dunia ajaib yang tergambar dalam layar permainan. Di sana, ia bisa menjadi apa saja—pahlawan yang kuat, penyihir hebat, atau penjelajah yang menaklukkan tempat-tempat berbahaya.
Namun malam itu, rasa nyaman yang biasa ia rasakan perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
“Kenapa… kepalaku terasa berdenyut seperti dipukul palu?” gumam Keisuki dengan suara parau, tangannya terangkat untuk memijat pelipis yang terasa sangat berat. Pandangannya mulai kabur, seolah ada kabut tebal yang menyelimuti matanya. Jari-jarinya mencoba memegang tepian meja untuk menopang tubuh, tapi kekuatannya perlahan menghilang begitu saja.
Ia masih sempat melihat karakter yang ia kendalikan dalam permainan berdiri di depan gerbang sebuah kerajaan besar, dengan tulisan nama tempat yang ia hafal betul: Kerajaan Astoria. Sebuah tempat yang penuh dengan sihir, ras-ras yang beragam, dan petualangan tanpa batas.
“Kalau saja dunia nyata bisa seperti itu… pasti hidup tidak akan sesepi ini,” bisiknya terakhir kali, sebelum rasa pusing itu memuncak.
Tubuhnya terasa melayang, lalu jatuh perlahan ke samping. Kesadarannya menghilang seketika, digantikan oleh kegelapan mutlak yang terasa tenang sekaligus menakutkan.
Waktu seolah berhenti berputar. Tidak ada suara, tidak ada rasa sakit, tidak ada apa-apa. Keisuki mengira ini adalah akhir dari segalanya—istirahat abadi setelah menjalani kehidupan yang sepi dan biasa saja.
Namun ketenangan itu tidak bertahan selamanya.
Dari jauh, suara-suara samar mulai merembes masuk ke dalam kesadarannya. Suara itu terasa lembut, hangat, dan asing sekaligus. Lama-kelamaan suara itu semakin jelas, seolah mendekat perlahan dari balik dinding tebal.
“Lihatlah, Gareth! Matanya baru saja terbuka sedikit! Sungguh lucu sekali wajahnya,” terdengar suara wanita yang lembut dan berisi kebahagiaan yang meluap.
Suara pria yang berat namun hangat menyahut, “Benar kata kau, Elara. Anak ini terlihat sehat dan kuat. Aku berdoa semoga ia tumbuh menjadi anak yang baik hati dan tangguh, mampu menghadapi kerasnya hidup di desa ini.”
Suara-suara itu terus bergema, hingga akhirnya Keisuki merasakan sentuhan yang sangat lembut di dahinya. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya ingin membuka matanya untuk melihat siapa yang sedang berbicara. Dengan tenaga yang sangat terbatas, ia berusaha mengangkat kelopak matanya.
Awalnya pandangannya hanya kabur, dipenuhi cahaya putih yang menyilaukan. Namun perlahan-lahan, bayangan-bayangan mulai terbentuk menjadi wujud yang nyata. Di hadapannya terlihat wajah seorang wanita paruh baya dengan rambut cokelat terurai dan senyum yang begitu tulus, seolah memancarkan kehangatan matahari. Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh kekar, dengan kulit yang terbakar matahari dan tangan yang penuh kapalan—tanda seseorang yang biasa bekerja keras di ladang atau hutan.
Namun sebelum ia sempat memproses apa yang dilihatnya, matanya tertuju pada benda yang tergenggam di hadapan wajahnya sendiri.
Sebuah tangan. Tapi bukan tangannya yang biasa ia lihat setiap hari.
Tangan itu sangat mungil, kulitnya merah muda dan halus, jari-jarinya pendek dan tidak mampu digerakkan dengan leluasa. Ia mencoba mengangkat tangannya yang lain, dan hasilnya sama persis—sepasang tangan bayi yang baru lahir.
“T-tangan ini… apa yang terjadi pada tubuhku?” jeritnya dalam hati, panik bukan main. Ia mencoba berteriak meminta penjelasan, tapi suara yang keluar bukanlah suara pria berusia dua puluh sembilan tahun yang ia kenal, melainkan tangisan lembut khas bayi yang baru melihat dunia.
Wanita yang dipanggil Elara itu segera mengangkat tubuh mungilnya ke dalam pangkuan, mengayun-ayunkannya perlahan sambil menepuk punggungnya dengan lembut. “Sst… jangan menangis, Nak. Semuanya sudah aman. Ibu ada di sini, Ayah juga ada di sampingmu,” katanya dengan nada menenangkan.
Keisuki merasa kepalanya berputar hebat, bukan karena sakit, melainkan karena kenyataan yang baru saja menghantam pikirannya. Ia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian terakhir sebelum kesadarannya hilang—rasa pusing yang hebat, pandangan yang menggelap, dan kemudian kegelapan. Namun ingatan itu masih utuh, tidak ada satu pun yang hilang. Ia masih mengingat namanya, usianya, kehidupannya yang sepi di kamar kost, bahkan setiap detail aturan dan peta dunia dalam permainan RPG yang sering ia mainkan.
Artinya… ia tidak mati sepenuhnya. Ia terlahir kembali.
“Jadi… ini benar-benar reinkarnasi? Jiwaku masih ada, tapi tubuhku berubah menjadi bayi baru lahir?” batinnya dengan perasaan campur aduk antara kaget, takut, dan sedikit penasaran.
Ia kembali menatap sekeliling ruangan tempat ia berada. Dindingnya terbuat dari kayu kasar dan anyaman bambu, langit-langitnya rendah dengan seberkas cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela kecil. Di sudut ruangan terlihat perapian yang masih menyisakan bara api, dan di atas meja kayu tergeletak alat-alat dapur sederhana serta beberapa hasil hutan dan pertanian.
Pemandangan ini sama persis dengan gambaran desa permulaan yang ada dalam permainan kesayangannya.
“Tidak mungkin… apakah aku terlahir kembali di dunia yang sama persis dengan dunia dalam gamenya? Dunia yang dipenuhi sihir, berbagai ras, monster, dan kerajaan-kerajaan besar?” pikirnya makin kacau sekaligus bersemangat.
Di saat ia masih tenggelam dalam lautan pertanyaan di kepalanya, Gareth—ayah barunya itu—mendekat dan menyentuh pipinya yang mungil dengan jari telunjuknya yang kasar namun lembut.
“Mulai hari ini, nama panggilanmu adalah Rey. Nama yang sederhana, tapi mudah diingat dan penuh harapan. Semoga kau tumbuh menjadi cahaya bagi keluarga kita, Rey,” ucap pria itu dengan nada tegas namun penuh kasih sayang.
Elara tersenyum mendengarnya, lalu mencium kening bayi itu perlahan. “Ya, Rey. Selamat datang di dunia ini, Nak. Kita mungkin hanya keluarga rakyat biasa yang hidup sederhana, tapi Ibu dan Ayah akan berusaha memberikan segalanya agar kau tumbuh dengan bahagia dan sehat.”
Mendengar kata-kata itu, hati Rey yang sempat gelisah perlahan terasa tenang. Meskipun kehidupannya berubah secara drastis, meskipun ia terjebak dalam tubuh bayi yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan berbaring, setidaknya kali ini ia tidak hidup sendirian. Ia memiliki ayah dan ibu yang menyayanginya, sesuatu yang sangat ia rindukan sepanjang hidupnya di dunia sebelumnya.
“Baiklah… jika ini takdir yang diberikan padaku, maka aku akan menjalaninya. Sebagai Rey, anak dari keluarga petani dan pemburu di Desa Lembah Angin. Siapa tahu… di dunia yang penuh sihir ini, aku bisa menemukan makna hidup yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya,” tekadnya dalam hati, meski yang keluar dari mulutnya hanyalah suara dengusan lembut.
Di luar gubuk itu, angin berhembus lembut membawa aroma tanah basah dan dedaunan hutan. Di tempat yang jauh di luar desa, kabut menyelimuti pegunungan tinggi yang menjadi batas wilayah, seolah menyimpan jutaan rahasia dan bahaya yang menanti untuk dijelajahi.
Dan di dalam tubuh kecil Rey itu, tanpa ia sadari, aliran energi yang lima kali lebih besar dari sihir biasa mulai berputar perlahan, bersiap untuk bangkit seiring dengan pertumbuhannya. Sebuah kekuatan langka yang belum pernah tercatat dalam sejarah dunia itu—kekuatan menguasai kelima elemen alam sekaligus.
Namun saat itu, Rey belum menyadarinya. Ia hanya tahu satu hal: petualangan baru dalam hidupnya baru saja dimulai.