NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

secarik rasa cemburu Elio

Mobil sport mewah Elio berhenti tepat di depan gerbang utama kampus. Suasana yang biasanya sibuk mendadak terasa sedikit lebih riuh karena kehadiran mobil yang jarang terlihat di area mahasiswa ini.

Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok yang sangat familiar. Bastian—teman sekaligus orang yang selalu sigap membantuku saat aku butuh bantuan—sedang berdiri di dekat pohon rindang.

aku keluar lalu melambai ke arahnya.

Elio mematikan mesin. Dia tidak langsung keluar, matanya yang tajam tertuju lurus ke arah Bastian yang kini sudah berdiri di dekaku

"Iya, itu Bastian," jawabku santai, lalu aku membuka pintu mobil tanpa ragu. "Dia kating baik hati yang selalu membantuku.

 " Mas Elio, aku duluan ya! Terima kasih tumpangannya, Mas!"

Tapi, sebelum aku sempat menjauh, sebuah tangan kekar mencengkeram lenganku dengan tegas—namun tidak kasar—dan menarikku kembali mendekat ke pintu mobil.

Elio sudah turun. Dia berdiri tepat di sampingku, tinggi badannya yang menjulang membuat Bastian yang baru saja sampai langsung berhenti melangkah.

"Aratala," suara Elio berat, berwibawa, dan sarat akan otoritas. Dia merangkul bahuku dengan posesif, membuat jarak di antara kami hilang seketika.

"Kenalkan aku pada temanmu ini."

Bastian menatap kami dengan bingung, terutama pada tangan Elio yang masih melingkar sempurna di bahuku.

"Eh, hai Aratala. Ini... siapa?"

Aku bisa merasakan otot-otot di balik jas Elio menegang. Dia sedang mengintimidasi Bastian tanpa perlu mengeluarkan kata-kata.

"Oh, kenalin, Bas," kataku, sengaja melirik Elio yang wajahnya sudah seperti tembok beton. "Ini Mas Elio, Bos tempat aku berkerja di cafe ituloh"

"Oh, benarkah?" Elio terkekeh sinis. Lucu sekali kau mendefinisikan hubungan kita sesuka hatimu."

Elio melangkah maju, memangkas jarak antara kami hingga aku terpaksa mendongak. Dia merendahkan suaranya, cukup pelan agar Bastian tidak bisa mendengar, tapi cukup jelas untuk membuat nyaliku ciut.

"Dengar, Aratala. Di mana pun kau berada—di rumah, di kampus, atau di dasar bumi sekalipun—kau tetap milikku dalam kontrak itu. Jangan coba-coba membatasi ruang gerakku dengan alasan 'bos dan bawahan'. Itu hanya akan membuatku semakin ingin menunjukkan pada dunia siapa yang sebenarnya memegang kendali atas dirimu."

Aku meneguk ludah, berusaha menutupi kegugupanku. "Tapi kita sudah sepakat..."

"Aku tidak pernah sepakat soal merahasiakan hubungan ini di depan pria yang menatapmu dengan cara menjijikkan seperti dia," Elio melirik Bastian sekilas dengan tatapan meremehkan. "Sekarang, masuk ke dalam kelas. Selesaikan tugasmu. Aku akan menjemputmu tepat saat jam kuliah selesai. Jangan berani-berani pulang dengan siapapun, termasuk teman 'baik hatimu' itu."

Tanpa menunggu jawabanku, Elio berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya dengan langkah angkuh.

Aku berdiri mematung, menatap punggungnya yang menjauh. Bastian akhirnya memberanikan diri mendekat, wajahnya terlihat sangat khawatir.

"Aratala... kamu baik-baik saja? Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia berbicara seperti itu padamu?" tanya Bastian dengan nada bicara yang sangat hati-hati.

Aku hanya bisa terdiam, menatap mobil sport Elio yang melaju meninggalkan area kampus. Perasaanku campur aduk. Elio benar-benar bos yang menyebalkan—pria yang baru saja mengubah hari tenangku menjadi sebuah panggung drama yang tidak pernah kuinginkan.

Elio mungkin baru saja memamerkan dominasinya, tapi dia lupa satu hal: dia sedang berurusan dengan Aratala. Aku tidak peduli dengan ancaman.

Begitu mobil Elio benar-benar menghilang dari pandangan, aku langsung menoleh ke arah Bastian. Wajah Bastian masih tampak syok, matanya terus melirik ke arah mobil Elio yang baru saja pergi.

"Sudah, lupakan saja dia," kataku santai sambil terkekeh. Dengan gerakan yang sangat natural, aku langsung mengapit lengan Bastian dengan erat. "Ayo, Bas! Kita sudah telat lima menit, dosennya bakal galak kalau kita masuk lebih lambat lagi."

Bastian tampak kaku sejenak, tubuhnya menegang karena tindakan tiba-tibaku, tapi kemudian dia tersenyum canggung. "Aratala, kamu yakin? Pria tadi... dia terlihat seperti bisa melenyapkanku kapan saja kalau dia mau."

"Ah, dia itu cuma bosku yang lagi kurang piknik," jawabku enteng, sengaja mengayunkan lengan Bastian saat kami mulai berjalan menyusuri koridor kampus. "Dia memang hobi mengatur hidup orang, tapi selama kita tidak dengarkan, dia juga tidak bisa apa-apa. Anggap saja dia angin lalu yang kebetulan pakai setelan jas mahal."

Aku sengaja berjalan dengan langkah yang sedikit lebih santai, pita pink di kepalaku bergoyang-goyang seirama dengan langkahku. Aku bisa merasakan tatapan beberapa mahasiswa lain yang memerhatikan kami, tapi aku benar-benar bodo amat.

Saat kami melewati kantin, aku melihat beberapa teman sekelas memberikan tatapan penasaran. Biar saja, pikirku. Kalau Elio ingin memaksaku mengakui hubungan itu, aku akan membalasnya dengan cara menunjukkan bahwa hidupku tetap berjalan normal tanpa aturan-aturannya.

Tepat saat kami sampai di depan pintu ruang kelas, aku menyadari satu hal. Ponselku di dalam tas bergetar hebat. Itu pasti Elio. Aku mengeluarkan ponsel, melihat notifikasi yang masuk, lalu dengan sengaja menekan tombol silent dan memasukkannya kembali ke dalam tas tanpa membacanya sedikit pun.

"Ada masalah?" tanya Bastian khawatir.

Aku tersenyum lebar, menatap Bastian dengan tatapan polos. "Nggak ada, Bas. Cuma gangguan kecil. Sekarang, ayo fokus ke kuliah! Aku butuh bantuanmu supaya nilaiku nggak anjlok."

Aku melangkah masuk ke kelas dengan kepala tegak, meninggalkan kekacauan di luar sana. Elio boleh saja menganggapku miliknya dalam kontrak, tapi di kampus ini, aku adalah Aratala yang tidak bisa dikurung oleh siapapun—apalagi oleh seorang bos yang terlalu banyak aturan.

🌴🌴🌴

Suasana kelas yang membosankan akhirnya berakhir juga. Aku merapikan buku-bukuku dengan terburu-buru, semangatku kembali membuncah saat Bastian mendekat ke mejaku dengan senyum yang khas.

"Aratala, tugas tadi lumayan menguras otak, ya," ujar Bastian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gimana kalau kita makan es krim dulu di kedai dekat gerbang depan? Ada menu baru yang katanya enak banget. Aku yang traktir, deh, sebagai bentuk apresiasi karena kamu hari ini sudah bertahan dari 'gangguan' bosmu tadi."

Mataku langsung berbinar. "Wah, tawaran menarik! Kamu benar-benar penyelamat, Bas. Ayo, aku sudah kepikiran pengen yang rasa cokelat mint sejak tadi!"

Tanpa basa-basi, aku langsung menarik lengan baju Bastian dan menyeretnya keluar kelas. Aku sama sekali tidak ingat dengan ancaman Elio yang akan menjemputku. Pikiranku saat ini hanya terisi oleh tumpukan es krim manis yang dingin.

Kami berjalan menuju kedai es krim dengan ceria. Aku bahkan sempat bercanda soal dosen yang tadi salah tulis rumus, membuat Bastian tertawa lepas. Di kedai, kami memilih meja di sudut yang dekat dengan jendela. Tidak butuh waktu lama sampai dua cone es krim besar tersaji di depan kami.

"Wah, ini sih surga!" seruku girang sambil mulai menjilat es krimku.

Bastian menatapku dengan geli. "Pelan-pelan, nanti belepotan."

"Biarin saja," sahutku cuek.

Saat aku sedang asyik menikmati es krim itu, suasana mendadak berubah. Kedai yang tadinya riuh oleh suara mahasiswa, tiba-tiba menjadi hening seketika. Banyak orang yang menoleh ke arah pintu masuk, lalu berbisik-bisik dengan heboh.

Aku yang masih memunggungi pintu, tidak terlalu ambil pusing sampai aku merasakan sebuah aura yang sangat berat dan dingin mendekat ke arah meja kami. Suasana di sekelilingku seolah membeku.

"Ternyata di sini tempatnya," sebuah suara bariton yang sangat kukenal terdengar tepat di belakang punggungku.

Aku membeku. Sendok es krim di tanganku berhenti tepat di depan bibir. Suara itu bukan angin lalu; itu suara Elio. Dan berdasarkan nada bicaranya yang sedingin es kutub, dia sudah melihat segalanya—termasuk fakta bahwa aku mengabaikan pesannya dan memilih pergi dengan Bastian.

Bastian di depanku langsung meletakkan es krimnya, wajahnya memucat seketika saat melihat siapa yang berdiri di belakangku.

"Aratala," panggil Elio lagi, kali ini dengan penekanan yang membuat bulu kudukku berdiri. "Sepertinya kau lupa dengan perintahku tadi pagi, ya?"

Aku tidak bergeming. Aku justru menyempatkan diri menjilat sisa es krim di ujung cone sebelum akhirnya memutar kursi dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat-buat elegan.

Di sana, Elio berdiri. Dia sudah melepas jasnya, memperlihatkan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku. Wajahnya? Jangan ditanya. Itu adalah wajah seseorang yang siap meluncurkan rudal nuklir ke tengah kedai es krim ini.

"Oh, Mas Elio," kataku dengan nada selembut sutra, sama sekali tidak merasa terancam. Aku bahkan sempat-sempatnya menyodorkan cone es krim-ku ke arahnya. "Mau? Rasanya cokelat mint. Katanya bisa bikin orang yang lagi marah jadi lebih rileks, lho. Kamu mau coba?"

Seluruh pengunjung kedai menahan napas. Bastian di depanku sudah hampir tenggelam ke bawah meja karena takut.

Elio tidak bergerak. Matanya yang tajam menatapku, lalu beralih ke tangan Bastian yang tadi sempat menyentuh pinggiran meja di dekat tanganku. Detik berikutnya, Elio menarik kursi kosong di meja kami dengan kasar, lalu duduk tepat di sampingku.

Dia tidak bicara pada Bastian. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang bisa membakar segalanya.

"Aratala," suaranya tenang, justru jauh lebih mengerikan daripada saat dia berteriak. "Aku sudah menunggu di parkiran selama tiga puluh menit. Ponselmu mati. Dan sekarang, aku menemukanmu di sini, sedang asyik bermain dengan... temanmu ini."

"Bukan bermain, Mas. Ini namanya bonding antar mahasiswa," sahutku santai, aku bahkan kembali menikmati es krimku seolah Elio hanyalah pajangan toko. "Lagipula, aku kan sudah bilang, di sini kamu itu cuma bosku. Dan bos yang baik itu tidak akan melarang karyawannya makan es krim setelah jam kerja berakhir, kan?" ucap ku sedikit pelan.

Elio mencondongkan tubuhnya ke arahku. Jarak kami sangat tipis sampai aku bisa merasakan aroma parfum cedarwood-nya yang maskulin bercampur dengan hawa dingin es krim.

"Kau benar," bisiknya tepat di depan telingaku, membuat bulu kudukku meremang. "Sebagai bos, aku tidak bisa melarangmu makan. Tapi sebagai suamimu—yang kau sebut-sebut sebagai 'bos' itu—aku punya hak penuh untuk membawa pulang istriku yang tidak tahu aturan ini sekarang juga."

Elio kemudian menoleh ke arah Bastian, memberikan tatapan predator yang membuat Bastian hampir tersedak ludahnya sendiri. "Terima kasih sudah menemani karyawan kecil saya makan es krim. Sekarang, dia punya urusan yang jauh lebih penting untuk diselesaikan di rumah."

Elio berdiri, meraih lenganku dengan genggaman yang sangat protektif, lalu menatapku dengan senyum miring yang penuh ancaman.

"Ayo pulang, Kita punya banyak sekali hal yang harus 'didiskusikan'."

Aku hanya mendengus, lalu menoleh ke Bastian. "Sorry ya, Bas. Bosku ini memang suka tiba-tiba kambuh mood swing-nya. Sampai ketemu besok!"

Aku membiarkan diriku ditarik keluar dari kedai oleh Elio, sementara di belakangku, aku bisa merasakan tatapan bingung dan penasaran dari orang-orang yang melihat aksi kami.

Termasuk Bastian.

🌴🌴🌴

jangan lupa like 😉

1
partini
elio kata"mu itu weleh
Nalara amora: tenang kaaa😭🙏
total 1 replies
partini
masih juga nyalahin orang lain situ tuh yg sarappp pak elio,, jangan lah unboxing kaya gitu trauma loh bukanya suka malah benci
Nalara amora: kaaaaaaa😭😭
total 1 replies
partini
good story
Nalara amora: ahhhhhh makasihh kaaa😄🤭🤭
total 1 replies
partini
busettt agresif sakleeee angel ini pura ' nih ceo ga mau di kokop 🤭
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu
Nalara amora: tebak hayoo kaa🤭🤭
total 1 replies
partini
ya elah di tuduh menggoda dasar CEO 1/2 ons ,,noh si angel datang jadikan pelampiasan emosi mu dasar CEO murahan
partini: esmosi aku thor🤭🤭 ,cegil ga boleh bersentuhan ma laki" lain eh dianya mah bebas grepek"😂
total 2 replies
Nalara amora
bagus bgt nih cerita nya, rekomendasi buat yg pengen baca yg manis manis plus ada tom and jary nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!