NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Malam itu, kediaman utama keluarga besar Adrian riuh oleh tawa dan kesibukan yang hangat.

Ruang keluarga yang lapang disulap menjadi pusat persiapan terakhir.

Pernikahan Adrian dan Liana tinggal menghitung jam.

Besok, wanita pujaannya itu akan resmi menjadi pelengkap hidupnya.

Saudara-saudara Adrian, mulai dari sepupu hingga kakak kandungnya, bergerak cekatan.

Ada yang sibuk memeriksa kembali daftar logistik vendor, memastikan setelan jas pengantin pria tergantung tanpa cela, hingga sekadar bercengkerama meredakan ketegangan sang calon mempelai.

Semua orang bahu-membahu, memastikan hari sakral besok berjalan tanpa cacat.

Di tengah keriuhan itu, Adrian melangkah sedikit menjauh ke sudut ruangan yang agak sepi.

Dadanya berdebar, ada rasa rindu dan kebahagiaan yang membuncah.

Ia merogoh saku, mengambil ponselnya, lalu mendial nomor Liana.

Panggilan pertama hanya nada sambung tanpa jawaban.

Panggilan kedua pun sama, hanya nada sambung yang terdengar datar.

Adrian menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap layar dengan kening berkerut.

"Kenapa dia tidak mengangkat ponselnya?" gumam Adrian lirih.

Namun, senyum maklum segera terbit di wajah tampannya.

Adrian berpikir Liana pasti sedang sangat sibuk. Mungkin dia juga sedang dikelilingi keluarga besarnya, menjalani ritual pingitan atau bersiap-siap, pikirnya menenangkan diri sendiri.

Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, suasana kontras menyelimuti sebuah kamar sederhana di area pondok pesantren.

Fatma baru saja melipat mukenanya setelah menunaikan ibadah sholat Isya.

Keheningan malam di pondok itu terasa begitu meneduhkan, namun tidak mampu mengusir gelisah yang bergelayut di hati Fatma.

Ia duduk di tepi ranjang, mengambil ponsel yang sejak sore ia geletakkan di atas meja kecil.

Jemarinya membuka galeri, menampilkan seulas senyum dari foto Jamie, pria yang selama ini mengisi hatinya.

Fatma mencoba menghubungi nomor pria itu, namun nihil. Sejak siang tadi, Jamie seolah hilang ditelan bumi tanpa kabar sama sekali.

"Kenapa kamu tidak menghubungi ku?" gumam Fatma pelan, suaranya sarat akan rasa rindu sekaligus cemas yang tak beralasan.

Matanya terus memandangi wajah Jamie di layar, berharap setidaknya ada satu pesan singkat yang masuk.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan lembut di pintu kamar memecah lamunan Fatma.

"Nduk, lekas istirahat. Besok jadwal di pondok padat," panggil Umi.

Fatma mengerjapkan mata, buru-buru menyimpan ponselnya.

"Inggih, Umi," ucap Fatma setengah setengah berseru agar terdengar keluar.

Menaati ucapan sang ibu, Fatma lekas naik ke atas tempat tidur.

Ia menarik selimutnya, mencoba memejamkan mata meski hatinya masih bertaut pada rasa cemas tentang Jamie yang tak berkabar.

Di tempat lain, kebisingan di lantai bawah rumah Adrian perlahan mulai surut seiring malam yang kian larut.

Adrian melangkah masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu, dan seketika kesunyian malam merengkuhnya.

Besok adalah hari besarnya. Hari yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Dengan napas berat yang sarat akan kebahagiaan, Adrian merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.

Ia menatap langit-langit kamar, membayangkan senyum Liana yang besok akan bersanding di pelaminan bersamanya.

Tanpa mereka berdua sadari, malam yang tenang ini adalah ketenangan terakhir sebelum badai besar meruntuhkan takdir mereka dalam beberapa jam ke depan.

Tepat satu jam setelah hening menyelimuti rumah masing-masing, sebuah getaran tajam memecah kesunyian kamar Adrian dan kamar Fatma secara bersamaan.

Ponsel mereka berdering nyaring, seolah menjadi penanda dimulainya babak kehidupan yang paling kelam.

Adrian yang baru saja terlelap tersentak bangun. Dengan mata yang masih berat, ia meraih ponselnya.

Nama yang tertera adalah nomor asing dengan kode wilayah kepolisian setempat.

Jantungnya berdegup tak enak saat suara berat di seberang sana memberikan informasi yang membuat dunianya seolah berhenti berputar.

"Kecelakaan? Siapa yang kecelakaan?" tanya Adrian, suaranya parau dan bergetar hebat.

"Kami menemukan identitas korban, Pak. Korban atas nama Liana..."

Deg!

Di sudut kota yang lain, Fatma baru saja terlelap setelah lelah menanti kabar.

Dering ponsel membuatnya terjaga dengan perasaan tak menentu.

Ia menempelkan ponsel ke telinga, wajahnya yang damai seketika pucat pasi mendengar penjelasan dari pihak kepolisian.

"Kecelakaan? Siapa?" suara Fatma bergetar, jemarinya mencengkeram sprei kasur dengan erat.

"Maaf, Mbak. Kami menemukan ponsel ini di saku korban atas nama Jamie..."

Dunia Fatma runtuh dalam sekejap saat mendengar jawaban dari kepolisian.

Di kediaman Adrian, pria itu membelalakkan mata.

Tanpa memedulikan baju tidurnya yang masih melekat, ia melompat turun dari kasur.

Tangannya yang gemetar meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja nakas.

Pikirannya kosong, hanya ada satu nama yang terus berteriak di kepalanya: Liana.

Ia berlari menuruni tangga, mengabaikan teriakan heran dari keluarganya di lantai bawah, lalu tancap gas membelah malam yang mencekam.

Di sisi lain, Fatma tidak membuang waktu. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyambar hijab instannya dan mengenakannya asal.

Air matanya sudah mengalir deras di pipinya, namun ia berusaha tetap tegar.

Ia keluar dari kamar dan berpamitan dengan Abah dan Umi.

"Hati-hati, nduk,"

"Inggih, Umi, Abah,"

Segera ia memanggil taksi dan menuju lokasi kejadian yang disebutkan polisi dengan langkah yang lunglai namun terburu-buru.

Malam itu, takdir sedang merangkai jalan bagi dua jiwa yang belum saling mengenal untuk dipertemukan di atas puing-puing tragedi yang sama.

Adrian dan Fatma, keduanya melaju menuju titik yang sama, membawa hati yang sebentar lagi akan hancur lebur saat melihat kenyataan pahit yang menanti di ujung jalan.

Malam itu, aspal jalanan masih basah oleh sisa hujan, memantulkan cahaya merah dan biru dari sirene mobil polisi yang berputar konstan.

Bau hangus logam dan bensin yang terbakar menyengat udara.

Adrian sampai terlebih dahulu. Ia mengerem mobilnya sembarangan di bahu jalan, melompat keluar, dan berlari menerobos garis polisi dengan napas memburu.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.

Ia langsung menghampiri seorang petugas polisi yang tadi menghubunginya.

"Di mana Liana?! Di mana calon istri saya?!" tanya Adrian dengan suara tinggi dan wajah yang panik.

Polisi itu menatap Adrian dengan tatapan penuh simpati yang justru membuat lutut Adrian lemas.

"Ikut saya, Pak," ujarnya pelan.

Polisi membawa Adrian ke arah ambulans yang terparkir di dekat puing-puing mobil yang ringsek parah.

Di sana, dua kantung jenazah diletakkan di atas brankar darurat.

Petugas menunjuk salah satu brankar yang ditutupi kain putih bernoda darah.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Adrian mendekat.

Perlahan, ia membuka kain penutup tersebut. Detik itu juga, napas Adrian seolah terhenti.

Ia melihat jasad Liana yang terluka parah. Wajah cantik yang seharusnya besok tersenyum di pelaminan kini pucat, dingin, dan dihiasi luka koyak yang mengerikan.

"Liana, enggak, ini enggak mungkin..." bisik Adrian sambil menatap tangan Liana dan lelaki itu saling menggenggam.

Tak berselang lama, sebuah taksi berhenti di dekat barikade polisi.

Fatma turun dengan langkah gontai. Hijabnya sedikit berantakan, wajahnya pias tanpa darah.

Ia berlari kecil menghampiri petugas yang berjaga di depan.

"Di mana Jamie? Di mana Jamie, Pak?" tanya Fatma, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang siap pecah.

Polisi yang sama menoleh, lalu mengajak Fatma ke area yang sama, tepat di sebelah brankar tempat Adrian berdiri mematung.

Polisi menunjuk brankar kedua yang berada di samping jasad Liana.

Fatma melangkah maju dengan sisa-sisa kekuatannya.

Sambil merapalkan doa di dalam hati, ia membuka kain penutup itu.

Begitu kain tersingkap, tangis Fatma langsung pecah.

Itu benar-benar Jamie, kekasihnya. Namun, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa seperti dihantam godam besar.

Tangan Jamie menjulur ke samping, menggenggam erat jemari jasad wanita di sebelahnya—Liana.

Genggaman itu begitu rapat, seolah bahkan maut pun tak bisa memisahkan mereka.

Fatma menutup mulutnya, kemerosot di samping brankar.

Air matanya mengalir deras, tubuhnya terguncang hebat saat ia menangis sesenggukan.

Rasa kehilangan dan pengkhianatan yang datang bersamaan membuat dadanya begitu sesak hingga sulit bernapas.

Adrian yang mendengar tangisan itu menoleh. Dengan mata yang merah dan basah oleh air mata, ia menatap wajah Fatma yang menangis sesenggukan di samping jasad pria asing tersebut.

Pandangan Adrian kemudian beralih pada tautan tangan Liana dan Jamie.

Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang.

Amarah yang pekat mulai membakar akal sehatnya.

Petugas kepolisian menghela napas berat sebelum menjelaskan situasi.

"Dari posisi benturan dan jejak rem yang minim di lokasi, sepertinya mereka melakukan bunuh diri dengan menabrakkan mobil ke pembatas jalan dengan kecepatan tinggi."

Mendengarkan perkataan dari petugas polisi itu, kewarasan Adrian runtuh seketika.

"Ini tidak mungkin, Pak! Jangan bicara sembarangan!" bentak Adrian keras, suaranya menggema di kegelapan malam.

Ia menunjuk jasad Jamie dengan telunjuk yang bergetar.

"Calon istri saya setia! Dia wanita baik-baik! Pasti lelaki ini bajingan yang menculiknya atau memaksanya! Lelaki ini yang merusak semuanya!!"

Fatma yang sedang memeluk lututnya sambil menangis sontak mendongak.

Di tengah rasa hancurnya, mendengar nama pria yang dicintainya dihina membuat hatinya kian tersayat.

"Astaghfirullah, hentikan ucapan Anda!" seru Fatma, suaranya parau dan bergetar, namun penuh penekanan.

QIa menatap Adrian dengan mata yang basah. "Jamie tidak seperti itu! Jangan menuduh orang yang sudah meninggal!"

Di bawah sorot lampu sirene yang temaram, dua orang yang sama-sama hancur itu saling melempar tatapan penuh luka dan amarah, mengawali takdir kelam yang akan mengikat mereka setelah malam ini.

1
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!