NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Kicau burung terdengar bersahutan dari luar jendela kamar tamu kediaman keluarga Herman.

Sinar matahari pagi menyusup masuk secara perlahan melalui celah gorden yang sedikit terbuka.

Bima membuka kedua matanya dengan tenang setelah semalaman penuh bermeditasi.

Huuuh.

Dia menghembuskan nafas panjang untuk mengeluarkan sisa udara panas dari dalam paru-parunya.

Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan bertenaga dibandingkan malam sebelumnya.

Aliran tenaga dalam naga di titik meridiannya kini sudah berjalan dengan sangat lancar.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu terdengar cukup keras dari arah luar.

"Bima, apa kamu sudah bangun?" panggil suara Clara yang sangat khas dari balik pintu.

"Cepat keluar, aku punya sesuatu untukmu."

Bima segera turun dari ranjang dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.

Krieet.

Dia membuka pintu dan langsung disambut oleh senyuman lebar gadis cantik itu.

Clara mengenakan celemek bermotif bunga di atas pakaian santainya pagi ini.

Wajah gadis itu tampak sedikit cemong oleh noda tepung putih di area pipinya.

"Kamu sedang apa pagi-pagi begini dengan celemek itu?" tanya Bima dengan wajah datar.

"Tentu saja memasak sarapan untuk tunanganku tersayang," jawab Clara dengan nada bangga.

"Aku bangun lebih pagi hari ini khusus untuk menyiapkan makanan kesukaanmu."

Bima menaikkan sebelah alisnya merasa sedikit ragu.

Dia tahu persis bahwa putri tunggal keluarga Herman ini tidak pernah menyentuh peralatan dapur seumur hidupnya.

"Kamu yakin makanan buatanmu itu aman untuk dimakan?" selidik Bima terus terang.

"Aku tidak mau menjadi pasien di rumah sakit ayahmu karena keracunan makanan."

Clara langsung memanyunkan bibirnya mendengar tanggapan menyebalkan dari pemuda itu.

Bugh.

Gadis itu memukul pelan dada Bima dengan tangannya yang bebas.

"Mulutmu itu benar-benar tajam sekali kalau bicara," gerutu Clara kesal.

"Aku sudah bersusah payah belajar dari koki kepala di rumah ini tahu."

"Setidaknya hargai sedikit usahaku ini."

Bima tidak bisa menahan senyum tipisnya melihat tingkah manja gadis di depannya ini.

Dia mengulurkan tangannya dan mengusap noda tepung di pipi Clara dengan ibu jarinya.

"Baiklah, aku akan memakan apa pun yang kamu masak hari ini," kata Bima mengalah.

"Ayo kita ke ruang makan sekarang."

Wajah Clara seketika kembali cerah dan dia langsung menggandeng lengan Bima dengan erat.

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong lantai dua menuju ruang makan utama di lantai bawah.

Sesampainya di ruang makan, Pak Herman sudah duduk di kursi utamanya sambil membaca koran pagi.

Aroma roti panggang dan telur dadar yang sedikit gosong tercium cukup kuat di ruangan itu.

"Selamat pagi, Nak Bima," sapa Pak Herman sambil melipat korannya.

"Semoga kamu tidur nyenyak setelah kejadian melelahkan semalam."

"Saya tidur dengan sangat nyenyak, Pak Herman," balas Bima sopan sambil menarik kursi.

"Rumah ini memiliki sistem keamanan pasif yang sangat bagus."

Clara segera berlari ke arah dapur dan kembali dengan membawa sebuah piring besar.

Dia meletakkan piring itu tepat di depan Bima dengan wajah penuh harap.

"Ta-da! Ini adalah telur gulung spesial ala Clara Herman," ucap gadis itu ceria.

Bima menatap gundukan telur berwarna kuning kecokelatan yang bentuknya tidak karuan itu.

Beberapa bagian telur tampak hangus menghitam sementara bagian lainnya terlihat masih sedikit basah.

Pak Herman hanya bisa berdehem pelan untuk menutupi tawanya melihat hasil karya putrinya itu.

"Silakan dinikmati, Nak Bima," kata Pak Herman dengan nada sedikit menggoda.

"Clara sudah menghabiskan hampir dua lusin telur untuk percobaan sejak subuh tadi."

"Papa! Jangan bocorkan rahasiaku dong," protes Clara dengan wajah memerah karena malu.

"Yang penting rasanya pasti enak karena aku membuatnya dengan penuh cinta."

Bima mengambil garpu dan memotong sedikit ujung telur gulung tersebut.

Dia memasukkan potongan itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya secara perlahan.

Rasa asin yang sangat luar biasa langsung menyengat lidah Bima detik itu juga.

Clara menatap wajah Bima dengan mata berkedip-kedip penuh antisipasi.

"Bagaimana rasanya?" tanya Clara tidak sabar.

"Apa garamnya sudah pas atau kurang?"

Bima menelan makanan itu dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikit pun.

"Ini sangat enak," bohong Bima dengan suara tenang.

"Garamnya sangat pas dan teksturnya juga unik."

"Aku akan menghabiskan semuanya."

Mendengar pujian itu, Clara langsung tersenyum sangat lebar dan bertepuk tangan kegirangan.

"Syukurlah kalau kamu suka," kata Clara lega.

"Besok aku akan membuatkanmu menu masakan yang lebih sulit lagi."

Pak Herman menggelengkan kepalanya melihat interaksi kedua anak muda tersebut.

Dia tahu Bima hanya berusaha menjaga perasaan putrinya yang keras kepala itu.

Tap tap tap.

Terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari arah ruang tamu depan.

Kepala pelayan keluarga Herman masuk ke ruang makan dengan wajah yang terlihat sangat tegang.

Dia membawa sebuah nampan perak kecil di tangannya.

"Permisi Tuan Besar, maaf mengganggu waktu sarapan Anda," ucap kepala pelayan itu sambil menunduk hormat.

"Ada apa, Paman Yanto?" tanya Pak Herman meletakkan cangkir kopinya.

"Kenapa wajahmu terlihat panik begitu pagi-pagi begini?"

Paman Yanto melangkah maju dan meletakkan nampan perak itu di atas meja makan.

Di atas nampan itu terdapat sebuah amplop berwarna hitam pekat yang tertutup rapat.

"Ada kurir misterius yang mengantarkan surat ini ke pos penjagaan depan," lapor Paman Yanto gugup.

"Kurir itu mengenakan pakaian serba hitam dan langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun."

Pak Herman mengerutkan dahinya melihat amplop hitam yang terlihat sangat tidak biasa itu.

Dia mengambil amplop tersebut dan membolak-baliknya untuk mencari nama pengirim.

Tidak ada nama atau alamat pengirim yang tertulis di sana.

Hanya ada sebuah cap lilin merah berlogo ular kobra yang melilit sebuah jarum suntik.

Begitu melihat logo tersebut, raut wajah Pak Herman seketika berubah menjadi sangat pucat.

"Ini... ini tidak mungkin," gumam Pak Herman dengan suara bergetar pelan.

"Surat dari Asosiasi Medis Gelap?"

Mendengar nama organisasi itu disebut, Clara langsung menghentikan suapannya.

Gadis itu menatap ayahnya dengan pandangan penuh kekhawatiran.

Bima yang sejak tadi sibuk menghabiskan telur asin buatan Clara akhirnya mengangkat wajahnya.

"Buka saja suratnya, Pak Herman," kata Bima dengan nada sangat santai.

"Mari kita lihat omong kosong apa lagi yang ingin mereka sampaikan pagi ini."

Tangan Pak Herman sedikit gemetar saat dia merobek ujung amplop hitam tersebut.

Dia mengeluarkan secarik kertas perkamen dari dalam amplop dan membaca isinya dalam hati.

Mata pria paruh baya itu semakin melebar seiring dengan kalimat yang dibacanya.

"Apa isi suratnya, Papa?" tanya Clara tidak sabar melihat ayahnya terdiam kaku.

"Apakah mereka mengancam kita lagi seperti semalam?"

Pak Herman meletakkan kertas itu di atas meja dengan lemas.

Dia mengusap wajahnya yang tiba-tiba dipenuhi oleh keringat dingin.

"Ini bukan surat ancaman biasa," jawab Pak Herman dengan suara berat.

"Ini adalah undangan resmi untuk menghadiri Lelang Hitam Medis yang akan diadakan lusa malam."

Bima menaikkan sebelah alisnya merasa tertarik dengan informasi baru tersebut.

"Lelang Hitam Medis?" ulang Bima memastikan pendengarannya.

"Acara macam apa itu sebenarnya?"

Pak Herman menarik nafas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat.

"Itu adalah acara perkumpulan rahasia terbesar di dunia bawah tanah ibukota," jelas Pak Herman.

"Semua petinggi organisasi gelap, pengusaha kotor, dan ahli medis terlarang akan berkumpul di sana."

"Mereka melelang berbagai macam obat ilegal, organ langka, dan juga resep racun mematikan."

Clara menutup mulutnya dengan kedua tangan karena merasa ngeri mendengar penjelasan ayahnya.

"Lalu kenapa mereka mengundang keluarga kita?" tanya Clara bingung.

"Kita kan rumah sakit resmi yang menjunjung tinggi etika medis."

"Mereka tidak mengundang keluarga kita, Clara," jawab Pak Herman menatap putrinya sedih.

Pak Herman kemudian menggeser kertas perkamen itu ke arah Bima.

"Mereka secara khusus mengundang Tabib Dewa Muda yang telah menghancurkan rencana mereka," lanjut pria itu.

Bima mengambil kertas itu dan membaca tulisan tegak bersambung yang ada di sana.

Surat itu ditulis dengan gaya bahasa yang sangat sopan namun sarat akan niat membunuh yang kental.

Inti dari surat itu adalah mengundang Bima untuk membuktikan kemampuannya di hadapan para petinggi dunia medis bawah tanah.

Jika Bima menolak datang, mereka mengancam akan menghancurkan Universitas Nusantara Emas tempat Clara berkuliah.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!