Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Nara, Caca, Dion, bahkan Ziva ikut dengan Alex yang menggendong Emily. Di meja geng BLR mereka melihat interaksi itu.
"Wiss, kenapa tuh si Queen," ucap Tama heran.
"Kayaknya dia kesakitan, sakit perut kali," jawab Gio datar.
"Gercep banget cowoknya langsung digendong," ucap Ezra geli.
"Ya namanya juga pacaran bego, pasti gercep lah. Kalau nggak gercep dia minta tolong orang lain, hhha," timpal Bara sambil ngakak.
"Kelihatan banget kalau cowoknya kecintaan sama Emily," timpal Gio sambil melirik sinis.
"Iya emang. Emily tuh cantik, putih, langsing, hidungnya mancung, matanya sipit, pinter balapan, bodynya ughh. Siapa sih yang nggak kegoda sama pesona ketua geng Sport Queen itu," ucap Gio penuh kagum.
Rey yang mendengar Gio memuji Emily tiba-tiba hatinya mendidih. "Apa sih lo pada, nggak jelas," ucap Rey ketus.
"Nggak jelas apa bos? Bos nggak mau liat pesona ketua geng Sport Queen," ucap Gio menantang.
"B aja," ucap Rey dingin, tapi matanya masih melirik ke arah pintu, berharap Emily kembali duduk di meja itu.
Sedangkan di ruang kesehatan, Emily segera dibaringkan dan diperiksa oleh petugas. Ia segera diberikan obat pereda lambung. Sebenarnya Emily bukan hanya pura-pura sakit, dia memang agak perih lambungnya dan itu sudah terbiasa karena lupa membawa obat lambung dari rumah ibunya.
"Beb, kamu kenapa bisa begini," ucap Alex panik.
"Udah biasa gue, mh," jawab Emily pelan.
"Ily, lo bikin kita khawatir," ucap Dion bingung.
"Maaf ya," ucap Emily lirih.
"Gpp, Ily. Lo sahabat kita, tenang aja," timpal Ziva lembut.
"Tapi sebentar lagi kelas dimulai. Sekarang ada ujian, kalian masuk kelas aja. Biar gue di sini sendirian. Gue pengen istirahat, gue pengen tidur. Di kelas selanjutnya baru gue ikut," ucap Emily menegaskan.
"Aku temenin aja ya, Ily," ucap Ziva khawatir.
"Nggak usah, Ziva. Mau ujian kan mau presentasi. Jangan bikin nilai kalian jelek karena jagain gue. Udah tolong izinin gue aja, please. Gue cuma pengen tidur, serius deh," ucap Emily tegas.
"Kalian semua masuk kelas aja. Bentar lagi dosen datang. Biar gue yang jagain pacar gue," ucap Alex mantap.
"Apaan! Lo juga masuk sana. Mahasiswa kedokteran jangan banyak bolos, lo," ucap Emily sinis.
"Tapi kan gue mau nemenin lo, beb," ucap Alex manja.
"Gausah! Nanti selesai kelas baru ke sini lagi. Gue lagi nggak mood, mau tidur. Perut gue sakit," ucap Emily kesal.
"Ya udah, makanya gue temenin," ucap Alex ngeyel.
"Gue bilang nggak usah! Jangan jadiin gue alasan buat kemalasan lo. Ujung-ujungnya lo bolos lagi kan," ucap Emily menatap tajam.
"Iya deh, iya," jawab Alex pasrah.
Mereka semua pergi dari ruang kesehatan, meninggalkan Emily yang dijaga petugas. Setelah itu Emily langsung merebahkan tubuhnya dan meringkuk tidur. Sebenarnya bukan hanya lambungnya yang terasa, dia memang ngantuk karena semalam begadang. "Akhirnya gue punya waktu buat tidur," ucap Emily dalam hati.
Sedangkan di dalam kelas, saat Rey masuk, dosen belum datang. Dia melihat teman-teman Emily ada di sana tapi tidak melihat Emily. Rey berpikir Emily masih di ruang kesehatan.
"Rey, kemana?" tanya Ezra.
"Toilet," jawab Rey singkat. Yang satu kelas bersama Rey hanya Ezra dan Bara, sedangkan Tama, Gio, dan lainnya beda fakultas. Sama halnya dengan Emily dan sahabatnya—mereka satu fakultas, hanya Alex dari kedokteran.
Diam-diam, Rey bukan ke toilet, melainkan ke ruang kesehatan. Saat dia masuk, dia melihat Emily sedang meringkuk tertidur sendiri.
"Pinter banget akting lo, mau manasin gue apa emang mau nyari kesempatan buat tidur," ucap Rey sinis saat mendekati ranjang Emily. Dia sengaja menarik selimut hingga Emily terbangun.
"Apasih lo," ucap Emily kesal.
"Ngapain lo bolos," ucap Rey datar.
"Lo nggak ngeliat perut gue sakit," ucap Emily jengkel.
"Alasan," timpal Rey ketus.
"Alasan pea! Lo pikir gue secaper itu," balas Emily sinis.
"Ya kali pengen digendong pacarnya," ucap Rey sambil melirik tajam.
"Bukan urusan lo. Urusin aja tuh cewek lo yang sok kecentilan itu," ucap Emily sinis.
"Siapa cewek gue? Cewek gue yang lagi meringkuk ini," ucap Rey menatapnya.
"Alah ngeles aja lo," balas Emily sinis.
"Lo nggak percaya?" tanya Rey pelan.
"Nggak!" jawab Emily tegas.
"Bodo amat. Gue nggak peduli. Gue cuman mau bilang lo jangan pulang sendiri kalau lagi sakit," ucap Rey datar.
"Gue mau pulang ke rumah ibu ngambil motor," jawab Emily.
"Katanya lagi sakit perut," ucap Rey melirik sinis.
"Gue bisa ya lo lupa kalau gue ini pembalap handal. Cuman sakit perut nggak bakal ngaruh," ucap Emily ketus.
"Tar ada apa-apa lagi, gue yang repot," timpal Rey heran.
"Sejak kapan gue ngerepotin lo," ucap Emily ketus.
"Iya, gue tau. Repotin aja terus pacar lo itu," balas Rey sinis.
"Bodo amat. Lo juga punya pacar," ucap Emily ketus.
"Dia bukan pacar gue, Ily," jawab Rey datar.
"Alah, bilang aja. Sama gue lo suruh jaga batasan, lo juga nggak punya batasan. Inget ya, gue cuman ngimbangi sikap lo," ucap Emily menatap tajam.
"Kalau gue bilang nggak punya pacar ya berarti nggak punya pacar," ucap Rey mantap.
"Lo tadi makan apa emang sampai sakit perut kayak gitu?" tanya Rey datar.
"Nggak makan apa-apa, cuman makan bakso pakai sambal 10 sendok," jawab Emily cuek.
"Lo emang gila. Pagi-pagi makan bakso pakai sambal 10 sendok. Nyari mati lo," ucap Rey sambil geleng-geleng.
Di dalam kelas dosen tak kunjung datang. Tak lama Altan sebagai presiden mahasiswa sekaligus asisten dosen masuk.
Altan pun mengatakan bahwa dia akan menggantikan tugas dosen karena dosen yang seharusnya mengajar di kelas itu sedang berhalangan. Saat dia mengabsen, dia tidak melihat Emily di kelas itu, juga Rey. Lalu dia bertanya.
Saat Ziva mengatakan Emily izin, semua orang juga tahu bahwa Altan sang fresma itu adalah kakak kesayangan Emily.
"Izin, Kak. Emily tadi sakit perut jadi dia istirahat di ruang kesehatan," ucap Ziva
Altan mengaguk sambil melirik ke arah bangku Rey. Dia pun bertanya kepada teman yang duduk dekat Rey.
"Reyze apa tidak hadir?" tanya Altan.
"Tadi izin ke toilet, Kak, tapi belum kembali," jawab Ezra datar.
Tanpa perlu banyak penjelasan, sepertinya Altan sudah tahu bahwa Rey pasti menemani Emily. Rey juga tahu bahwa pernikahan mereka masih dirahasiakan.
Altan lalu memberikan beberapa tugas yang diperintahkan oleh dosen. Setelah selesai memberikan instruksi, Altan pun izin untuk keluar.
"Oke baik, tolong kerjakan tugas ujian dari dosen dan saya akan keluar sebentar. Mohon untuk tidak berisik," ucapnya tegas.
Altan keluar menuju ruang kesehatan. Dan benar saja, bisa dia lihat Rey sedang ada di samping Emily. Awalnya saat mendengar pintu terbuka, mereka berdua sempat kaget.
"Adeeeek!!!" ucap Altan heran.
"Iya, Abang," jawab Emily pelan.
"Kenapa masuk sini? Sakit apa?" tanya Altan khawatir.
"Abang kok tahu aku ada di sini?" balas Emily sedikit bingung.
"Tahulah. Abang lagi ganti tugas dosen buat ngasih ujian di kelas kamu. Abang lihat kalian nggak ada. Katanya kamu sakit perut… apa cuma alasan aja buat bolos?" tanya Altan curiga.
"Abang kok tega amat… enggak, aku emang sakit perut, Bang. Lupa obat lambungnya ketinggalan," ucap Emily lemah.
"Kenapa bisa begitu? Apa kamu nggak kasih dia makan, Rey?" tegur Altan sambil melirik tajam. "Baru satu hari juga belum keluar dari rumah kamu, udah begini adek."
"Emang belum sarapan, Bang," jawab Rey cepat. "Tadi katanya mau sarapan di kantin, tapi malah makan bakso pake 10 sendok sambal."
"Ya ampun, adeeek… kamu ini," keluh Altan geleng-geleng. "Udah, nanti Abang anterin obat kamu ya."
"Nggak usah, Abang. Nanti aku ambil sendiri," tolak Emily lembut.
"Yaudah, cepet sembuh ya ade"ucap altan sambil mengelus rambut Emily..
Altan menepuk pundak Rey sebentar. "Rey, titip adek kesayangan gue."
"Iya, Bang," jawab Rey singkat.