Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
“Pingsan segala, ketauan banget cari perhatiannya.”
“CK! Diem aja deh lo!”
Kepala Azalea terasa nyeri ketika perlahan-lahan kesadarannya kembali. Suara ribut dari orang-orang asing yang entah sejak kapan berada di dekatnya menyusup ke telinga seperti bunyi yang memantul-mantul di ruang sempit. Ia meringis kecil, berusaha menahan pening yang berdenyut di pelipisnya. Bahkan sebelum benar-benar membuka mata, Azalea sudah merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Udara di sekitarnya terasa berbeda. Bukan kamar tidurnya yang biasa ia kenal. Bukan aroma lembut selimut dan wangi kamarnya sendiri. Yang ia cium justru bau ruangan yang terlalu steril, tipis, dan asing. Seperti ruang kesehatan di sekolah. Tapi anehnya, ruangan ini tetap terasa familiar, seolah pernah ia lihat, namun tidak cukup jelas untuk diingat.
Azalea mencoba membuka mata perlahan. Cahaya yang masuk membuatnya semakin pusing, tetapi ia memaksa dirinya untuk bertahan. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan pandangan, lalu menghela napas pelan saat berhasil melihat dua sosok perempuan di samping tempat tidurnya. Mereka memakai seragam sekolah yang sama seperti yang pernah ia lihat sebelumnya, tetapi wajah mereka sama sekali asing.
Azalea langsung terduduk dengan refleks, meski gerakan itu membuat dadanya terasa sesak dan kepalanya semakin berdenyut.
“Lo siapa?!” serunya, sambil sedikit memundurkan tubuhnya.
Dua perempuan itu saling pandang. Yang satu terlihat jelas panik, matanya membesar seolah tidak percaya. Sementara yang satunya lagi justru mengernyit kesal, mulutnya tertekuk seperti sedang menahan omelan yang ingin segera dilepaskan.
Azalea menatap mereka bergantian, merasa dirinya sedang berada di tempat yang salah bersama orang-orang yang salah pula.
Saat salah satu dari mereka hendak menyentuh lengannya, Azalea spontan menepis tangan itu dengan gerakan kasar. Bukan karena ia sengaja bersikap kasar, melainkan karena otaknya sedang kacau, tubuhnya lemah, dan rasa asing yang ia rasakan membuatnya waspada.
“Ini gue, Maya. Lo kenapa?” ucap perempuan yang terlihat lebih lembut itu, nadanya dipenuhi kekhawatiran.
“Maya?” Azalea mengulang nama itu, alisnya berkerut dalam.
Gadis berambut panjang yang agak kusut itu menoleh ke sekeliling ruangan seolah berharap ada petunjuk yang bisa membantunya mengingat sesuatu. Tangannya memegangi kepala, sementara tubuhnya masih terasa lemah. Ia seperti baru saja dilempar ke dunia yang tidak ia kenal, tanpa diberi penjelasan sedikit pun.
Namun sekeras apa pun ia mencoba, tidak ada satu pun ingatan yang bisa ditarik kembali ke permukaan. Nama Maya terdengar asing. Wajahnya juga tidak terasa akrab. Azalea justru merasa ingat pada seseorang lain Raya, sahabatnya tetapi wajah Raya jelas berbeda dari perempuan yang duduk di sebelahnya saat ini.
“Maya siapa?” tanya Azalea lagi, kali ini dengan lebih pelan, lebih hati-hati.
Belum sempat Maya menjawab, salah satu perempuan lain yang sejak tadi memasang wajah kesal langsung mendengus.
“Nay, lo belum sarapan. Sekarang makan, ya.”
Azalea makin bingung. Nay? Siapa? Mengapa mereka memanggilnya dengan nama itu?
Ia menatap perempuan itu dengan tatapan curiga, lalu kembali mengarahkan pandangan ke Maya. Kenapa pertanyaannya justru diabaikan dan malah dialihkan pada makanan? Padahal Azalea merasa sedang menanyakan hal yang sangat penting.
Maya tampak sibuk membuka kotak makanan yang ada di tangannya. Ia mengambil satu per satu isi di dalamnya lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping brankar. Gerakannya lembut, seperti sedang berusaha menenangkan seseorang yang baru bangun dari pingsan.
Aroma makanan pun tercium samar. Hangat dan sederhana. Bikin perut Azalea yang entah sejak kapan kosong terasa perih.
Namun rasa lapar itu kalah oleh kebingungannya.
“Cih! Udahlah, lo urus dia sendiri aja. Males banget gue.”
Sosok perempuan yang sejak tadi memasang wajah tidak suka akhirnya benar-benar pergi dengan langkah keras. Sepatunya menghentak lantai, meninggalkan ruangan dengan ekspresi dongkol yang tidak disembunyikan. Pintu ruang UKS itu tertutup cukup keras, menandai bahwa ia memang tidak ingin terlibat lebih jauh.
Azalea mengikutinya dengan pandangan, lalu kembali menoleh ke Maya.
“Dia siapa?” tanyanya setelah perempuan itu benar-benar pergi.
“Lo beneran lupa, Nay? Serius?” Maya menatapnya dengan bingung. Ada kekhawatiran yang semakin jelas di matanya, seolah ia takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada temannya.
Azalea mengusap pelipisnya perlahan. Kepalanya masih sakit, tapi ia berusaha berpikir jernih. Ia merasa ada yang sangat tidak masuk akal. Ada sesuatu yang ia lupa, tetapi benda apa pun yang ia coba rangkai di kepalanya justru berakhir buntu.
“Dia Deviana, Nay,” kata Maya akhirnya.
“Nay siapa?” Azalea langsung menatapnya tajam. “Lo dari tadi manggil gue dengan sebutan itu. Nama gue bukan Nay.”
Maya terdiam sesaat, lalu menghela napas kecil seperti sedang menahan sabar.
Azalea kembali memandang sekeliling ruangan. Dinding putih, ranjang lipat, kotak P3K, tirai yang menggantung di salah satu sisi, semuanya terlalu rapi dan terlalu sekolah. Tapi tetap saja, ruangan ini bukan tempat yang biasa ia datangi. Dan kalau memang benar ia berada di sekolah, kenapa ia tidak ingat apa pun?
Sebentar.
Azalea memejamkan mata, mencoba menarik ingatannya mundur. Yang ia ingat terakhir adalah dirinya tidur di kamar. Mungkin ia sedang istirahat, atau mungkin baru saja rebahan setelah lelah. Lalu setelah itu… gelap. Tidak ada apa-apa. Hampa.
Ia membuka mata lagi dan menatap Maya dengan ekspresi serius. “Ini ruang UKS, kan?”
Maya mengangguk cepat. “Iya.”
“Berarti gue ada di sekolah?”
“Ya jelas, Nay.”
Azalea mengernyit lagi. “Kalau gitu kenapa gue nggak ingat apa-apa?”
Maya langsung membeku. Tatapannya berubah lebih hati-hati. Ia menaruh kotak makanan itu perlahan, lalu mencondongkan tubuh ke depan sedikit.
“Nayla…” panggilnya, kali ini lebih pelan. “Lo beneran amnesia ya?”
Azalea terdiam.
Amnesia?
Kata itu seperti petir yang menyambar otaknya. Ia tercekat, lalu merasakan seluruh tubuhnya kaku. Perlahan, sangat perlahan, ia mengulang nama itu di dalam kepala.
Nayla.
“Nayla?” ulangnya terbata. “Maksud lo… gue Nayla?”
Maya mengangguk kecil sebelum menjawab, “Iya. Nama lo Nayla Arabella.”
Begitu nama lengkap itu terdengar, Azalea membeku total.
“Nayla Arabella?”
Maya mengangguk lagi, kali ini disertai senyum tipis yang tampak lebih lega karena temannya setidaknya mulai mengingat sesuatu. Meski begitu, wajahnya tetap menunjukkan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Azalea menatapnya lekat-lekat, seolah sedang memastikan bahwa ini semua bukan mimpi aneh. Tapi setelah beberapa detik, yang muncul justru ekspresi tak percaya yang perlahan berubah menjadi kegirangan luar biasa.
“Hah?!”
Ia memekik begitu keras sampai Maya spontan memejamkan mata. Suaranya menggema di ruang kecil itu, membuat suasana yang tadi tegang langsung berubah kacau.
Namun Azalea sama sekali tidak peduli.
“Ini beneran? Gue Nayla Arabella?” tanyanya lagi, kali ini dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya, penuh semangat dan keheranan yang bercampur jadi satu.
Maya mengangguk sekali lagi, kali ini lebih mantap.
Dan detik berikutnya, Azalea justru tertawa kecil sebelum akhirnya bersorak kegirangan. Tangannya terangkat ke udara, wajahnya dipenuhi senyum lebar yang nyaris terlalu bahagia untuk ukuran seseorang yang baru saja pingsan dan bangun dengan ingatan yang kacau.
“Ya ampun!” serunya riang.
Maya menatapnya dengan bingung. Jelas sekali ia tidak menyangka reaksi seperti itu yang akan muncul. Ia bahkan sempat mengira keadaan Nayla jauh lebih buruk dari yang terlihat. Tapi perempuan di depannya ini justru tampak senang. Sangat senang.
Azalea mengangkat kedua tangannya seperti merayakan sesuatu yang besar. Lalu ia berhenti sesaat, menatap Maya dengan saksama.
“Lo pasti Maya, teman sekelas gue, kan?” tebaknya.
Maya mengangguk, masih kebingungan.
Senyum Azalea—atau lebih tepatnya Nayla—makin melebar. Demi apa pun, ia senang bukan main. Bukan karena pingsannya, bukan karena tubuhnya sakit, melainkan karena kenyataan yang baru saja ia sadari terasa terlalu ajaib untuk dipercaya.
Ia ternyata benar-benar masuk ke dalam tubuh seseorang bernama Nayla Arabella.
Dan lebih gila lagi, dari cara Maya memperlakukannya, sepertinya Nayla ini memang bukan gadis biasa.
Azalea mengedarkan pandangannya lagi. Sekarang semuanya terasa seperti potongan mimpi yang belum selesai disusun. Ada teman sekelas bernama Maya, ada Deviana yang tampak tidak suka padanya, ada ruang UKS, dan ada nama yang sama sekali bukan miliknya, tetapi kini justru melekat pada dirinya.
Dadanya berdegup kencang, bukan karena panik, melainkan karena rasa penasaran yang mulai tumbuh. Kalau ia benar-benar berada di tubuh Nayla Arabella, berarti hidupnya baru saja berubah total. Ia tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tidak tahu sampai kapan keadaan ini akan berlangsung, dan lebih penting lagi, tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Maya tampak membuka mulut, mungkin ingin bertanya sesuatu, tapi Azalea lebih dulu tersenyum lebar, seolah sedang menyembunyikan ribuan pertanyaan di balik ekspresinya.
“Jadi… gue ini Nayla,” gumamnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Maya mengangguk. “Iya. Dan lo barusan bikin semua orang panik karena tiba-tiba pingsan.”
Azalea tertawa pendek, lalu menatap langit-langit ruang UKS sejenak. “Oke. Kalau gue pingsan, berarti itu alasan logis kenapa kepala gue sakit banget.”
“Lo baru nyadar?” Maya mengangkat alis.
Azalea mengusap tengkuknya, lalu melirik makanan di atas meja. Perutnya kini mulai protes lebih keras. Apa pun yang terjadi, tubuh ini jelas butuh diisi dulu sebelum otaknya kembali diajak berpikir terlalu jauh.
Ia lalu duduk lebih tegak, menarik napas dalam, dan menatap Maya dengan tatapan penuh keyakinan yang justru membuat temannya itu tambah curiga.
“Kalau gitu… bantu gue ngerti semuanya,” kata Azalea pelan, senyumnya masih tersisa di sudut bibir. “Karena sejujurnya, gue sama sekali nggak tahu kenapa gue bisa bangun sebagai Nayla Arabella.”