NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HANTU DI LORONG GELAP

Gedung Arsip Daerah itu berdiri seperti monolit beton yang terlupakan di tengah kota. Catnya mengelupas, jendela-jendelanya tertutup rapat oleh tirai tebal berdebu, dan bau apek menyeruak keluar setiap kali angin berhembus. Tempat ini adalah kuburan bagi dokumen-dokumen yang ingin dilupakan orang-orang berkuasa.

Lina berdiri di depan pintu samping yang berkarat, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena Kekhawatiran,Di sebelahnya, Arka memegang senter kecil, wajahnya tegang.

"Kunci dari Ibu Tuti benar-benar berguna?" bisik Arka, matanya menyapu kegelapan lorong kosong di sekitar mereka. "Aku merasa seperti tokoh utama film horor yang akan jadi korban pertama."

"Ibu Tuti tidak pernah bohong soal hal-hal praktis," jawab Lina pelan sambil memutar kunci tersebut. Klik. Suara logam beradu terdengar nyaring di keheningan malam. Pintu terbuka dengan deritan panjang yang mengerikan.

"Cepat masuk" perintah Lina.

Mereka meluncup masuk ke dalam kegelapan. Arka menyalakan senternya, sinar putih tipis menerobos debu yang melayang-layang di udara seperti partikel emas kotor. Lorong di depan mereka panjang, diapit oleh rak-rak besi tinggi yang penuh dengan kotak-kotak kardus usang bertuliskan tahun-tahun lama: 1998, 2005, 2010...

"Brankas utama ada di ujung sana, ruang nomor 404," kata Lina, mengingat peta yang digambar kasar oleh Ibu Tuti di atas napkin kafe minggu lalu. "Ruang 'Not Found'. Puitis, kan?"

"Sarkastik lebih tepatnya," gumam Arka, berjalan di belakang Lina dengan langkah hati-hati. "Lin, kita harus cepat. Kalau satpam patroli lewat..."

"Satpam di sini cuma Pak Asep, dan jam segini dia pasti sedang tidur sambil mendengarkan radio dangdut di pos penjagaan depan," potong Lina percaya diri. "Ibu Tuti bilang, Pak Asep punya jadwal tidur yang sangat disiplin. Jam 10 malam sampai jam 4 pagi. Kita aman."

Mereka berjalan menyusuri lorong. Langkah kaki mereka bergema, menciptakan ilusi seolah-olah ada orang lain yang mengikuti mereka dari kejauhan. Lina mencoba mengabaikannya, fokus pada tujuannya. Tapi rasa waspada tetap menghantui punggungnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar jelas dari arah persimpangan lorong sebelah kiri. Tap. Tap. Tap.

Lina dan Arka berhenti mendadak. Arka mematikan senternya, menenggelamkan mereka dalam kegelapan total.

"Siapa itu?" bisik Arka di telinga Lina, napasnya hangat dan cepat.

"Aku nggak tahu," balas Lina, tangannya mencari pegangan di rak besi untuk menyeimbangkan diri. "Mungkin tikus besar? Atau hantu dokumen yang marah karena diganggu tidurnya?"

"Tikus nggak pakai sepatu boots," desis Arka.

Suara langkah itu semakin dekat. Perlahan. Seolah-olah sang pemilik langkah tahu persis di mana mereka bersembunyi.

Lina menahan napas. Dia meraba-raba saku jaketnya, mencari benda apa pun yang bisa dijadikan senjata. Hanya ada pulpen dan lipstik. itu sama sekali Tidak membantu.

Sinar senter lain tiba-tiba menyala dari ujung lorong, menyilaukan mata mereka.

"Keluar," suara berat terdengar. Bukan suara Pak Asep. Bukan suara Victor.

Suara itu dingin,dan membuat darah Lina membeku.

Itu suara Ayahnya.

Lina merasa kakinya lemas. Bagaimana mungkin? Ayah seharusnya berada di rumah, atau di kantornya yang mewah. kenapa dia ada di gedung arsip tua yang terlantar ini? Dan bagaimana dia tahu mereka ada di sini?

Sesosok pria berjalan keluar dari bayangan. Dan mengenakan jas hujan hitam, topi rendah menutupi sebagian wajahnya, tapi Lina mengenali postur tubuh itu. Bahu yang lebar, cara berdiri yang angkuh.

Ayahnya melangkah maju, diikuti oleh dua orang pria berbadan besar yang tampaknya adalah pengawal pribadi. Salah satu dari mereka memegang tongkat listrik yang berdesis halus.

"Lina," kata Ayah, suaranya tenang namun mengandung ancaman terselubung. "Kamu selalu menjadi anak yang cerdas. Terlalu cerdas untuk kebaikanmu sendiri. Mencuri dokumen negara? Ini bukan lagi masalah keluarga. Ini kriminal."

Lina melangkah keluar dari persembunyian, menarik Arka bersamanya. Dia tidak akan lari kali ini.

"Ayah," kata Lina, suaranya bergetar tapi tegas. "Apa yang Ayah lakukan di sini? Menutupi jejak? Menghilangkan bukti korupsi tanah leluhur Victor? Atau mungkin... menyembunyikan fakta bahwa Dinda adalah otak dari semua rencana jahat ini?"

Wajah Ayah nya berubah sedikit. Ada kilatan kemarahan di matanya yang biasanya datar.

"Dinda melakukan apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan keluarga ini dari kebangkrutan," bentak Ayah, kehilangan ketenangannya. "Kalian berdua, Lina dan Raka, terlalu lemah. Terlalu sentimental. Dinda punya visi. Dia punya ambisi. Dan dia berhasil menggabungkan aset Raka dengan jaringan bisnis saya. Tanpa dia, kita semua sudah jatuh!"

"Jadi Ayah mengakui?" tanya Lina, merasakan amarah mendidih di dadanya. "Ayah menggunakan pernikahan lina sebagai alat? Ayah membiarkan Dinda menghancurkan hidup saya demi uang?"

"Itu bisnis, Lina!" teriak Ayah. "Dalam bisnis, tidak ada teman. Tidak ada keluarga. Hanya pemenang dan pecundang. Dan kamu... kamu memilih menjadi pecundang dengan lari ke gunung dan bermain drama patah hati."

Arka melangkah maju, melindungi Lina dengan tubuhnya. "Tuan, Anda berbicara tentang anak Anda sendiri seperti barang dagangan. Itu menjijikkan."

Ayah lina menatap Arka dengan pandangan meremehkan. "Dan kamu? Teman main baru Lina? Seorang pengacara gagal yang terjebak utang? Jangan sok suci di sini. Saya tahu siapa kamu, Arka. Saya tahu hubunganmu dengan Victor. Kalian berdua sama saja: parasit yang ingin menghisap darah keluarga saya."

Lina tertawa terdengar gila di lorong gelap itu.

"Parasit?" ulang Lina. "Ayah, lihat sekeliling. Gedung ini runtuh. Bisnis Ayah dibangun di atas tanah curian dan kebohongan. Dinda hamil dari pria yang dia manipulasi. Raka hancur karena judi. Dan Ayah? Ayah sendirian di puncak kekuasaan yang rapuh. Siapa sebenarnya parasit di sini?"

Ayah menggeram. Dia memberi isyarat pada pengawalnya. "Ambil folder itu. Dan bawa Lina pulang. Kita akan bicara di rumah. Secara privat."

Dua pengawal itu bergerak maju. Arka siap melawan, tapi Lina menahan lengannya.

"Tunggu," kata Lina. Dia tersenyum tipis, penuh dengan rahasia. "Ayah pikir saya datang ke sini hanya untuk mengambil dokumen?"

Ayahnya berhenti, alisnya berkerut. "Apa maksudmu?"

Lina mengeluarkan ponselnya dari saku. Layarnya masih retak, tapi fungsinya masih berjalan. Dia menekan tombol play pada aplikasi perekam suara yang sudah berjalan sejak mereka masuk gedung tadi.

Suara Ayah terdengar jelas melalui speaker ponsel yang pecah: "Dinda melakukan apa yang harus dia lakukan... Dalam bisnis, tidak ada teman... Hanya pemenang dan pecundang..."

Rekaman itu diputar ulang. Dan lagi. Dan lagi.

"Saya tidak hanya merekam pengakuan Ayah," kata Lina dingin. "Saya juga mengirim livestream audio ini ke grup WhatsApp keluarga besar, ke rekan bisnis Ayah, dan... ke email kantor Kejaksaan Tinggi yang sedang menyelidiki kasus penggusuran tanah Victor. Saat ini, ratusan orang sedang mendengarkan confessions Ayah."

Wajah Ayah memucat. Matanya membelalak ketakutan. Untuk pertama kalinya, sang raja bisnis itu terlihat takut. Benar-benar takut.

"kamu sudah gila!" teriak Ayah, suaranya pecah. "Hentikan itu! Hentikan sekarang!"

"Terlambat, Yah," kata Lina. "Dunia sudah mendengar. Dan sekarang, giliran saya untuk menjadi pemenang. Bukan dengan uang. Tapi dengan kebenaran."

Tiba-tiba, sirene polisi terdengar dari kejauhan, semakin mendekat. Bukan polisi biasa. Tapi mobil-mobil hitam tanpa plat nomor yang biasanya dikaitkan dengan agen khusus atau investigasi tingkat tinggi.

Victor.

Dia tidak hanya menunggu. Dia bertindak.

Ayah panik. Dia berbalik, hendak lari, tapi pengawalnya bingung, tidak tahu harus melindungi bosnya atau menyelamatkan diri sendiri.

"Lari, Lin!" teriak Arka, menarik tangan Lina.

Mereka berlari menuju pintu keluar belakang, meninggalkan Ayah yang berteriak-teriak marah di tengah lorong gelap, dikelilingi oleh hantu-hantu masa lalunya sendiri yang akhirnya bangkit untuk menuntut balas.

Saat mereka keluar ke hujan deras, Lina menoleh sekali lagi ke gedung arsip itu. Cahaya lampu sorot mobil-mobil hitam sudah memenuhi halaman depan.

Permainan belum selesai. Tapi skakmat sudah dimulai.

Dan kali ini, Lina tidak sendirian.

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!