NovelToon NovelToon
Sebuah Janji Di Balik Rindu

Sebuah Janji Di Balik Rindu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:596
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.

​Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.

​Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.

​"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.

​"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.

​Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di bawah Bayangan Gedung Belakang

​Di sekolah ini, setiap menyambut perayaan 17 Agustusan, pihak sekolah memang selalu memfasilitasi seluruh kostum untuk para siswa. Mulai dari baju adat hingga busana karnaval semuanya disiapkan langsung oleh panitia, sehingga para murid tidak perlu repot menyewa sendiri keluar.

​Anggi menerima garment bag berisi gaun adat tersebut dengan hati-hati dari tangan Zayan.

​"Nanti aja deh, Kak, aku cobanya di rumah," ucap Anggi canggung namun manis, menyadari situasi ruang OSIS yang perlahan mulai dipadati murid-murid lain.

​"Oke, nggak masalah, Gi. Nanti kalau ada yang kurang pas atau kekecilan, tinggal kabarin aku aja di WhatsApp ya," balas Zayan lembut, menyunggingkan senyum khasnya.

​Mely yang berdiri di samping Anggi bergegas mengambil bagian kostum miliknya dari pengurus OSIS lain di meja sebelah. "Sip, makasih ya, Kak!" ucap Mely riang.

​Namun, saat Anggi dan Mely membalikkan badan hendak keluar dari ruangan, mereka terkejut melihat deretan siswa yang mendadak sudah mengantre mengular hingga ke luar pintu. Rupanya berita bahwa pembagian kostum pawai 17-an sudah dibuka telah menyebar cepat ke kelas-kelas lain.

​"Wah, rame banget," bisik Mely sambil bergidik pelan. "Untung kita tadi gercep ke sini, Gi, kalau nggak bisa habis waktu istirahat cuma buat antre."

​"Iya, untung banget," sahut Anggi setuju.

​Di tengah desakan murid-murid yang antre di lorong, Zayan yang melihat Anggi agak kesusahan berjalan langsung maju sedikit dan merentangkan tangannya, memberi ruang agar Anggi dan Mely bisa lewat tanpa terdorong oleh kerumunan.

​"Awas ketabrak, lewat sebelah sini," ujar Zayan pelan di dekat telinga Anggi.

​Anggi menengadah, menatap Zayan yang berada sangat dekat dengannya. Dengan pipi yang kembali merona, ia mengangguk pelan. "Makasih banyak ya, Kak Zayan."

​Suasana di lorong depan ruang OSIS makin riuh dan padat oleh jejalan siswa yang mengantre. Di antara kerumunan itu, mata Azka yang sejak tadi mencari-cari akhirnya menangkap sosok Sheila yang berdiri diam di barisan tengah antrean, menatap lurus ke depan dengan raut wajah dingin.

​Tanpa berpikir panjang, Azka menerobos kerumunan siswa.

​"She, kita perlu bicara," bisik Azka tegas.

​Sebelum Sheila sempat memprotes atau menghindar, Azka menyambar pergelangan tangan cewek itu dan membimbingnya keluar dari antrean. Beberapa siswa sempat menoleh heran, namun Azka tak peduli. Ia terus menarik lembut lengan Sheila menjauh dari keramaian, menuju ke arah gedung belakang kelas X—area sepi yang jarang dilewati murid saat jam istirahat.

​Setibanya di belakang gedung yang dinaungi pohon mahoni rimbun, Azka melepas genggamannya. Suasana di sana begitu hening, hanya terdengar gemerisik daun yang bertiup angin.

​"Ka, apa-apaan sih?!" seru Sheila kesal sambil mengusap pergelangan tangannya. "Aku kan udah bilang di WhatsApp, aku mau kita break dulu! Jangan panggil atau cari aku!"

​Azka mengusap wajahnya kasar. Lingkaran hitam di matanya dan raut lelah di wajahnya terlihat begitu jelas di bawah naungan bayang-bayang gedung.

​"Aku nggak bisa, She," potong Azka dengan suara parau yang menahan sesak. "Aku nggak tenang kalau kita gantung gini. Aku ke sini mau minta maaf secara langsung, bukan cuma lewat pesan."

​Sheila melipat tangan di dada, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Minta maaf buat apa, Ka? Buat perasaan kamu yang ternyata belum bisa move on?"

​"Aku akuin aku salah!" panggil Azka frustrasi. Ia maju satu langkah mendekati Sheila. "Aku salah karena sempat kepikiran masa lalu. Tapi jujur sama aku, She... aku udah jelasin semuanya sama Anggi tadi pagi di kelas. Aku udah minta maaf sama dia, dan Anggi sendiri yang bilang kalau dia udah nyaman tanpa ada aku lagi di hidupnya."

​Sheila tertegun sejenak, lalu menatap Azka dengan tatapan nanar. "Terus? Karena Anggi udah nolak kamu dan nutup pintu rapat-rapat, kamu baru kembali ke aku? Gitu, Ka?"

​"Bukan gitu, Sheila!" tegas Azka, matanya memerah menahan luapan emosi. "Aku baru sadar pas Anggi ngomong gitu... yang aku butuhin dan yang ada di depan mata aku sekarang itu kamu. Hubungan kita yang udah mau tiga tahun ini bukan bercandaan buat aku. Tolong, kasih aku kesempatan buat perbaikin semuanya."

1
Lisa
Udh ending y Kak ? ceritanya bagus banget..👍
Lisa: 😊 gitu y Kak..kita tunggu karya selanjutnya y Kak..
total 2 replies
Lisa
Bahagia selalu y Anggi..
Lisa
Congratz y Anggi..semangat & sukses yaa 🙏
Lisa
👍 semangat Anggi utk menyongsong masa depan..
Lisa
Semangat y Anggi 💪
Lisa
Kayaknya Anggi bakal balik sama Azka lg nih .
Lisa
Ternyata Zayan selingkuh nih 🤭
Lisa
Congratz y Anggi..sukses y utk langkah selanjutnya 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Waaaaaa_: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!