NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Deru knalpot racing memecah keheningan pagi di kawasan Jalan Garuda, membuat beberapa pejalan kaki terpaksa menutup telinga. Pukul 06.45 WIB, gerbang SMA Nusantara seharusnya menjadi tempat berkumpulnya para siswa yang berbaris rapi atau berjalan terburu-buru mengejar bel masuk. Namun, pagi ini situasinya terasa jauh berbeda. Sebagian besar siswa memilih menepi, menciptakan sebuah jalur kosong di tengah jalan aspal seolah memberi jalan kepada para penguasa tak tertulis sekolah itu.

Empat buah motor gede berjejer rapi memasuki area parkir khusus yang ditakuti oleh siapa pun. Di barisan paling depan, sebuah motor sport hitam pekat dengan stiker lambang gagak hitam berhenti dengan suara mesin yang meraung garang sebelum akhirnya mati. Sang pengendara melepas helm full-face hitamnya dengan gerakan lambat yang penuh percaya diri.

Rangga Dewantara Aldebaran.

Nama itu cukup membuat koridor sekolah bergetar. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena helm, jatuh menutupi kening dan membingkai wajah tajam dengan rahang tegas yang mengeras. Sorot matanya dingin, tanpa ekspresi, memancarkan aura dominasi yang membuat siapapun tidak berani menatapnya lebih dari dua detik. Sebagai ketua geng motor Black Raven, Rangga bukan sekadar siswa biasa di SMA Nusantara; ia adalah hukum yang berlaku di tempat ini. Pihak sekolah, guru-guru bimbingan konseling, hingga kepala sekolah kerap kali menutup mata atas segala tindak tanduknya, mengingat latar belakang keluarga dan pengaruh besar yang ia miliki di kota ini.

"Mau langsung ke markas belakang, Bos?" tanya Satria, wakil ketua Black Raven, sambil melempar kunci motornya ke udara lalu menangkapnya kembali.

Rangga tidak langsung menjawab. Ia mengambil jaket kulit hitam berlogo sayap gagak dari spion motornya, mengenakannya dengan gerakan maskulin, lalu melirik sekilas ke arah koridor utama tempat para siswi berbisik-bisik memujanya dari kejauhan.

"Kalian duluan. Ada urusan sebentar," suara bariton Rangga terdengar berat dan dingin. Tanpa menunggu jawaban teman-temannya, ia melangkah pergi meninggalkan area parkir, menyusuri koridor yang mendadak terasa senyap setiap kali ia lewat.

Di sisi lain koridor, jauh dari kerumunan elit sekolah, Keisha Zahra Aurellia berjalan dengan langkah tenang sambil memeluk setumpuk buku tebal di dadanya. Mengenakan seragam putih abu-abu yang disetrika rapi, serta kacamata berbingkai tipis, Keisha adalah definisi nyata dari seorang siswi teladan penerima beasiswa penuh. Bagi Keisha, SMA Nusantara adalah tempat yang asing dan penuh dengan tekanan. Dunia mereka dan dunianya adalah dua garis paralel yang tidak akan pernah bisa menyatu.

Keisha benci perhatian. Prinsip hidupnya sederhana: datang ke sekolah, belajar dengan giat, jaga nilai beasiswa agar tidak melayang, dan lulus tepat waktu untuk membantu ibunya di rumah. Ia sama sekali tidak peduli dengan urusan geng motor, tawuran, atau siapa pun yang menguasai sekolah ini—terutama Rangga Dewantara Aldebaran.

Bruk!

Lamunan Keisha buyar ketika sebuah buku catatan bersampul biru terjatuh dari tumpukan di pelukannya akibat tersenggol oleh bahu seorang siswi populer yang sengaja melejiknya lewat. Buku itu meluncur bebas di lantai keramik koridor yang licin.

"Ups, sori, si anak beasiswa. Nggak sengaja," ucap Maya, salah satu siswi pengikut geng sosialita sekolah, dengan nada mengejek yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Teman-temannya tertawa kecil melihat Keisha yang langsung berjongkok untuk memungut bukunya.

Keisha hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak di dada. Ia sudah terbiasa dengan perlakuan sinis seperti itu. Di sekolah ini, status sosial adalah segalanya, dan menjadi anak beasiswa dari keluarga sederhana berarti ia harus siap menjadi objek keisengan mereka. Dengan tangan sedikit bergetar, ia meraih buku tersebut. Namun, sebelum tangannya menyentuh sampul biru itu, sebuah sepatu pantofel kulit hitam berukuran besar dengan ujung yang kotor karena debu jalanan sudah menginjak sudut buku tersebut.

Keisha mendongak perlahan, mengikuti garis kaki jenjang berbalut celana abu-abu ketat, naik ke jaket kulit hitam, hingga akhirnya manik matanya beradu pandang dengan sepasang mata kelam yang menatapnya tajam dari atas.

Rangga.

Jantung Keisha seolah berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Jarak mereka terlalu dekat. Bau maskulin yang bercampur dengan aroma tembakau dan dinginnya udara pagi mendadak memenuhi indra penciumannya. Seluruh koridor yang tadinya ramai oleh bisikan kini mendadak sunyi senyap, seolah alam semesta pun takut untuk membuat suara di dekat sang ketua geng.

Rangga tidak langsung beranjak. Ia menunduk, menatap gadis di hadapannya yang kini terlihat seperti anak rusa ketakutan di hadapan seekor serigala lapar. Alih-alih marah atau merasa terganggu karena jalannya terhalang, sudut bibir Rangga terangkat sebelah, membentuk sebuah senyuman miring yang misterius.

"Punya tangan dipakai buat megang barang, bukan malah dibiarin jatuh berserakan di jalanan," suara rendah Rangga bergema di lorong yang sunyi itu, terdengar begitu mengintimidasi namun sarat akan keanehan yang sulit dijelaskan.

Keisha menelan ludahnya susah payah. Tenggorokannya terasa kering. "Ma... maaf," cicitnya pelan, nyaris tak terdengar. Ia berusaha menarik buku catatannya, namun sepatu Rangga masih menahan bagian ujungnya.

"Lo siswi baru yang dapet jalur prestasi murni itu kan?" tanya Rangga tanpa mengalihkan pandangannya sedikt pun dari wajah Keisha. Tatapan itu menyelidik, seolah sedang membaca setiap inci ketakutan yang berusaha disembunyikan oleh gadis di bawahnya.

"I... iya. Tolong biarin saya ambil buku saya," jawab Keisha dengan suara sedikit bergetar, berusaha menunjukkan keberanian semu meski lututnya sudah terasa lemas. Ia tidak ingin berurusan dengan monster sekolah ini. Semakin cepat ia pergi dari sini, semakin aman hidupnya.

Rangga perlahan mengangkat kakinya dari buku tersebut. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah melewati Keisha begitu saja, meninggalkan embusan angin dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu merinding.

Keisha segera meraih bukunya, memeluknya erat-erat di dadanya seolah benda itu adalah perisai pelindung, lalu bangkit berdiri dan berlari kecil menuju kelasnya di ujung koridor. Ia tidak tahu, dan sama sekali tidak ingin tahu, mengapa tatapan tajam pria tadi terasa begitu membekas di benaknya.

Sementara itu, beberapa meter dari sana, Rangga menghentikan langkahnya sejenak. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, menoleh ke belakang sekilas ke arah pintu kelas tempat Keisha baru saja menghilang. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Di saat semua siswi di sekolah ini selalu berusaha mencari perhatiannya dengan berbagai cara murahan—mulai dari menebar senyum manis hingga sengaja mencari masalah agar ia perhatikan—gadis tadi justru terlihat begitu ingin menghilang dari dunianya.

Dan hal itu, entah mengapa, justru memancing rasa penasaran seorang Rangga Dewantara Aldebaran.

Jam pelajaran pertama dimulai dengan suara derit kapur tulis di papan tulis putih. Pak Gunawan, guru matematika yang terkenal killer, sedang menjelaskan rumus limit fungsi aljabar dengan suara yang monoton. Namun, pikiran Keisha sama sekali tidak berada di sana. Bayangan tatapan tajam dan suara bariton Rangga tadi pagi masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

Kenapa harus berurusan sama dia? batin Keisha merutuki nasibnya sendiri. Ia tahu betul siapa Rangga. Desas-desus tentang geng motor Black Raven sudah menjadi rahasia umum di kalangan siswa. Mulai dari balap liar tengah malam di jalan tol lingkar luar, tawuran antar sekolah yang berujung masuk rumah sakit, hingga rumor tentang keterlibatan mereka dalam kasus-kasus premanisme di luar jam sekolah. Berdekatan dengan mereka sama artinya dengan menggali kuburan sendiri.

"Keisha?" panggil suara lembut dari bangku sebelah.

Sintia, teman sebangku sekaligus satu-satunya temannya di kelas ini, menyenggol pelan lengan Keisha dengan siku. Wajah gadis berambut sebahu itu tampak cemas. "Lo sakit? Muka lo pucet banget dari tadi. Mikirin tugas matematika ya?"

Keisha menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum tipis untuk menenangkan sahabatnya itu. "Nggak apa-apa, Sin. Cuma kurang tidur aja semalam karena ngerjain tugas tambahan."

"Eh, lu tahu nggak berita hot pagi tadi?" bisik Sintia dengan mata berbinar-binar, khas anak muda yang hobi menggosip. Tanpa menunggu jawaban Keisha, ia langsung melanjutkan, "Tadi di gerbang depan, anak-anak Black Raven bikin ulah lagi. Katanya mereka habis menang taruhan balap liar lawan geng motor dari sekolah sebelah tadi malam. Dan yang bikin heboh... Rangga kelihatan bad mood banget gara-gara ada yang coba main-main di wilayah kekuasaan kita."

Mendengar nama itu disebut lagi, perut Keisha terasa mulas seketika. "Kenapa harus dibahas sih, Sin? Biarin aja mereka sama urusan mereka. Kita kan cuma siswi biasa yang fokus belajar."

"Iya sih, tapi tetep aja, Keish. Rangga itu... ganteng banget parah," desah Sintia pelan, seolah sedang membayangkan pangeran dalam negeri dongeng, meskipun pangeran yang ia maksud adalah seorang ketua berandalan jalanan. "Sayangnya dia itu kayak es batu. Nggak tersentuh. Siapa pun cewek yang coba mendekat pasti bakal diabaikan atau dibikin malu."

Keisha dalam hati membenarkan ucapan Sintia. Baguslah kalau begitu, pikirnya. Semoga saja kejadian di koridor tadi pagi hanyalah angin lalu dan pria itu tidak akan pernah mengingatnya lagi.

Namun, harapan Keisha ternyata harus bertepuk sebelah tangan.

Menjelang jam istirahat kedua, suasana kelas mendadak berubah riuh ketika seorang siswa kelas sebelah berlari masuk dengan napas tersenggah-senggah, berteriak kencang di ambang pintu.

"Keisha Zahra Aurellia! Mana yang namanya Keisha?"

Seluruh kepala di dalam kelas langsung menoleh ke arah meja Keisha. Jantung Keisha mendadak melonjak sampai ke tenggorokan. Perasaan tidak enak langsung menghantam batinnya dengan keras.

Sintia memegang lengan Keisha erat-erat, wajahnya ikut memucat. "Keish... itu kan nama lo yang dipanggil. Ada apa nih?"

Dengan tangan dingin dan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya, Keisha perlahan berdiri dari kursi. Ia melangkah keluar kelas dengan kaki gemetar. Di ambang pintu, siswa kelas sebelah tadi menatapnya dengan pandangan aneh—antara kasihan dan ngeri.

"Lo... dipanggil ke ruang OSIS sekarang," kata siswa itu dengan suara tercekat. "Sama... sama Rangga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!