Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.
Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.
Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.
Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.
Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.
Selamat membaca❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf, Aku Salah...
"Apa-apaan sih, galak banget!?"
Suara Shana terdengar nyaring, di tengah keramaian taman di tengah kota. Beberapa orang menoleh ke arahnya. Termasuk seorang pria yang ia tegur dan tengah berdiri di hadapan nenek itu.
Shana melangkah cepat menghampiri mereka.
"Bisa sopan sama orang tua?" Shana berucap tegas menatap tajam pria itu.
Pria itu terlihat tak suka dengan kedatangan Shana. Wanita yang datang tanpa permisi, tanpa tau permasalahannya yang sebenarnya. Wajahnya tampan, rapi dan terlihat tenang, meski telah diteriaki di depan umum.
Lain halnya dengan sang nenek, justru ia merasa panik.
"Nak, bukan begitu..."
"Tidak apa-apa, Nek. Biar saya yang bicara." Potong Shana, masih dipenuhi dengan rasa kesal.
Pria itu menghela napas panjang, menanti aksi selanjutnya dari Shana, wanita yang tengah memarahinya.
"Kalau mau marah-marah, cari lawan yang seimbang. Masa beraninya sama orang tua." Shana berucap kembali dengan nada sinis.
"Sudah puas nuduhnya?"
"Belum.." Shana menantang dengan tegas.
"Kau tahu, kau telah salah paham."
"Salah paham." ulang Shana menatap keduanya secara bergantian."
Pria itu mengangguk pelan.
"Yaa, sangat salah paham."
Belum sampai Shana membalas ucapan pria itu. Sang Nenek meraih lengan Shana untuk lebih dekat dengan nenek itu.
"Nak, dia ini cucu Nenek."
Hening sesaat
Seketika wajah Shana memucat.
"Cu..Cucu..?
" Iya.." Jawab sang nenek.
"Ya.. tapikan tetep saja ga boleh kasar. " Shana mencoba membela diri dengan wajah yang sebenarnya sudah sangat gugup.
Pria itu kembali menarik napas panjang. Rasanya dia sangat kesal sekali. Kenapa ada wanita yang begitu keras kepala.
"Kasar.., kau nuduh aku berbuat kasar sama nenekku sendiri. "
"Ya.. kamu memarahinya.., itu kan kasar namanya."
Nenek melangkah dan berdiri di antara mereka berdua.
"Sudah-sudah cukup, ini semua nenek yang salah. Cucu nenek bermaksud mengajak nenek ke rumah sakit. Namun nenek sangat keras kepala, dan membuat cucu nenek marah. Tapi cucu nenek tidak benar-benar marah sama nenek."
Jantung Shana seakan behenti sesaat. Shana menatap pria itu kemudian. Namun pria itu menatapnya tampa ekspresi.
"Maaf.., aku salah." Ucap Shana akhirnya.
Nenek tersenyum menatapnya, mengusap bahu Shana perlahan.
"Terima kasih ya Nak, sudah membela Nenek."
Tanpa berucap, pria itu langsung meraih tangan sang nenek dan mengajaknya menjauh dari Shana.
"Ayo Nek, kita pergi sekarang." Pinta pria itu.
Sang nenek melambaikan tangan ke arah Shana.
"Sampai jumpa kembali." Pamit nenek dan pria itu tak berucap bahkan menatap Shana pun tidak.
Hening untuk beberapa saat.. Shana masih terdiam seperti patung.
"Huaaaaaa.. " Teriak Shana akhirnya memecahkan kesunyian.
"Kenapa aku melakukan hal bodoh sih.. " Gerutunya sendiri, menyesali apa yang telah terjadi.
Shana tidak tahu, bahwa pertemuan yang memalukan itu bukanlah yang terakhir.
Di tempat lain, di dalam mobil. Sang Nenek tersenyum menatap cucunya yang masih tampak kesal.
"Semoga bisa bertemu dengan wanita itu lagi." ucap nenek dan berhasil membuat sang cucu terkejut menatap tak percaya doa sang nenek.
"Ayolah Nek, dia itu menyebalkan."
"Persis seperti kamu."
"Jangan samakan aku dengan dia, Nek. "
"Dia cantik, berani, penyayang dan satu hal yang penting, dia itu satu-satunya wanita yang berani memarahi kamu." Nenek tertawa kemudian. Sedangkan pria itu, hanya bisa diam dan masih begitu kesal.
Yah, untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang telah berhasil mengusik hatinya.
-My Boss, My Mistake-
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭