"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 28. Cerita Warga.
Pak Sutisna mengarahkan senternya kedalam, dan ternyata dia melihat ada pria yang masuk ke dalam bangunan sebelah, sama seperti yang Kara lihat. Dan karena orang itu mencurigakan, pak Sutisna ikut masuk ke dalam ruangan itu dan mengejar pria tadi.
Aneh nya.. Pada saat pak Sutisna masuk kedalam sana.. vibes atau suasana ruangan itu beda dengan saat siang hari, ada beberapa benda yang di letakan di tempat yang berbeda.
"Perasaan tadi siang tata letak ruangan nya nggak begini." Gumam nya, dia masih sangat ingat.
"TAK! TAK!" TAK!" Pak Sutisna mendengar suara seperti orang yang sedang memotong sesuatu.
Bersamaan dengan itu, suara dari perempuan yang berteriak kesakitan itu hilang. Pak Sutisna pun turun ke bawah untuk memeriksa, siapa sebenar nya yang berteriak kesakitan.
Tapi setelah sampai ke bawah, berbeda dengan apa yang di lihat oleh Kara, pak Sutisna tidak melihat perempuan yang sedang di pisah - pisahkan badan nya di meja, melainkan dia melihat seorang laki - laki yang sudah berumur sedang merebus sesuatu di panci dan tungku besar.
'Ini!! Ini apa!? Tadi siang di sini nggak begini.' Batin nya, pak Sutisna kaget melihat pemandangan ruang bawah tanah itu.
Lalu laki laki berumur itu mengeluarkan sesuatu yang di rebus di panci besar tadi, yang ternyata itu adalah tangan manusia yang sudah di potong.
"Astagfirullah!" Gumam nya spontan.
Selain lengan, ada juga kaki dan terakhir kepala yang di keluarkan dari panci itu. Kepala dengan rambut panjang yang wajah nya sudah tidak bisa di kenali sebab sudah matang.
"Hoekk!!"
"Hoek!!"
Refleks pak Sutisna mual, dia langsung mundur dan berbalik pergi dari sana. Saat dia berada di teras, dia memuntahkan semua isi perut nya. Sampai karena terlalu syok, pak Sutisna pingsan di tempat.
KE ESOKAN HARINYA.
Pak Sutisna sudah sadar, dan saat dia bangun rupanya dia sudah di kelilingi oleh warga setempat.
"Alhamdulillah, sudah sadar si bapak." Ucap salah satu warga.
"Aduh, takut saya teh.. Bapak kenapa ada di rumah ini?" Tanya yang lain.
Pak Sutisna yang baru sadar itu terlihat masih linglung, barulah dia teringat dengan apa yang dia lihat semalam.
"Kenapa ramai sekali?" Tanya nya balik.
"Bapak teh pingsan, saya nggak sengaja lihat bapak pingsan di dekat mobil." Ucap warga yang menemukan pak Sutisna.
Pak Sutisna makin bingung, jelas - jelas dia muntah - muntah di teras.. Yang artinya jika pun dia pingsan seharus nya dia pingsan di teras. Lalu tak lama datanglah ki Brojo yang tampak berjalan dengan tenang lalu menepuk pundak pak Sutisna.
"Kan sudah saya bilang, jangan di cari. Kamu pendatang, untung kamu di pulangkan." Ucap ki Brojo.
Pak Sutisna seolah mendapat teguran langsung, dan itu membuktikan bahwa ki Brojo yang dia lihat dalah manusia nyata.. Pak Sutisna lalu bergegas bangun dan berdiri.
"Terimakasih kalian sudah menolong saya." Ucap pak Sutisna dan para warga pun manggut - manggut sambil riuh berbicara dengan bahasa lokal sana.
"Di makan dulu atuh pak, supaya nggak lemes. Bapak teh pucat sekali." Ucap salah satu warga yang tampak nya khawatir dengan keadaan pak Sutisna yang memang pucat dan terlihat kebingungan.
Akhir nya pak Sutisna pun meng iya kan ajakan warga dan kemudian dia memakan makanan yang memang sudah di sipakan warga untuk nya. Warga yang semula acuh tak acuh bahkan menatap Kara dengan tatapan penuh curiga itu nyata nya memiliki sisi kemanusiaan.
Sementara pak Sutisna, dia kembali melirik ke rumah besar milik kakek nya Kara itu.. dia merasa memang ada sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan dengan logika. Sesuatu yang Kara dan Usi ceritakan kemarin.. Pak Sutisna yang semula tidak percaya seolah mendapatkan teguran dari ucapan nya yang tidak percaya bahwa Caca meninggal di bunuh hantu.
"Kalo boleh tau.. dulu nya apa ada sesuatu yang terjadi di rumah itu?" Tanya pak Sutisna, warga di sana kemudian saling pandang.
"Banyak pak." Jawab salah satu warga.
"Ada apa?" Tanya pak Sutisna, rasa ingin tahunya sangat besar.
Beberapa warga enggan bercerita karena itu adalah luka yang sangat besar bagi mereka yang bahkan sampai sekarang luka itu masih terasa, tapi ada warga yang pada akhir nya berani membuka cerita lama tentang apa yang terjadi di rumah itu dan juga siapa pemilik nya dan ki Brojo yang menjadi saksi nya.
Bersamaan dengan itu, Kara akhir nya di ijinkan pulang.. Tapi karena rumah kakek nya itu masih menjadi tempat oleh TKP, Kara akhir nya hanya bisa tinggal di rumah Putri. Kara sampai di rumah kakek nya bersamaan dengan warga yang hendak mulai menceritakan apa yang pernah terjadi di desa itu..
Warga yang melihat Kara datang tiba - tiba ekspresi nya berubah menjadi marah dan tidak suka dengan kedatangan Kara, tapi petugas dan pak Sutisna membiarkan Kara duduk di sana bersama mereka..
"Dulu.. Empat puluh tahun yang lalu."
FLASHBACK MASALALU
Dulunya desa itu terlihat sangat hidup, lingkungan di sana sangat bersahabat dan juga semua penduduk nya sangat suka sekali gotong royong. Mata pencaharian mereka adalah dengan berternak sapi dan kambing sekaligus menyediakan jasa untuk menjagal, sampai suatu hari.. warga mendengar bahwa ada banyak pendatang yang datang ke desa itu hilang secara misterius dan kebanyakan yang hilang di kabarkan adalah perempuan.
Dalam waktu yang berdekatan, ada saja warga pendatang yang hilang sampai muncul mitos bahwa di desa itu pendatang tidak akan memiliki nasib baik karena jika sudah hilang.. maka kemungkinan tidak akan pernah kembali. Hal itu yang id alami juga oleh tetangga dekat mereka yang juga sebenar nya merupakan pendatang dari desa lain
"Bapak - bapak, ibu - ibu!! Teh Carti sama anak - anak nya hilang!" Teriak seorang perempuan dengan tergesa - gesa.
"Apa! ada yang hilang lagi!?" Ucap warga yang kaget mendengar kabar itu.
"Ayo kita cari bapak - bapak!! Ini sudah tidak lazim, sepertinya teh ada yang memanfaatkan mitos yang beredar di desa kita." Ucap salah satu warga yang memang sudah merasakan ada yang janggal dengan kasus kasus hilang nya banyak warga secara misterius.
Kali ini satu keluarga beranggotakan tiga orang yaitu seorang janda dan kedua anak nya yang berjenis kelamin laki - laki dan perempuan di nyatakan hilang. Warga yang sudah beberapa kali melakukan perkumpulan di kantor kepala desa yakin bahwa ada pihak yang sengaja memanfaatkan mitos yang beredar untuk kepentingan yang tidak baik.
"TONG! TONG! TONG!"
Warga menabuh kentongan dari bambu untuk mencari keberadaan satu keluarga yang hilang itu, mereka menggunakan obor untuk menerangi perjalanan mereka menyusuri semua tempat.. semua sudah mereka datangi tapi nihil, tidak di temukan apapun di manapun di tiap sudut desa itu.
Sampai.. akhir nya di temukan kabar yang membuat para warga tak percaya.. bahwa telah muncul aliran baru, atau kepercayaan baru di desa itu, dan yang menjadi perantara utama adalah abah Engkus. Warga mulai menyelidiki nya, dan ternyata benar.. kabar tentang adanya aliran baru di desa mereka.
"Mereka terakhir kali di lihat ada di sekitar rumah abah Engkus!"
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk