Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: EVAKUASI BOCIL KEMATIAN
Sore hari di kediaman mewah keluarga Wicaksono benar-benar dibuat gempar oleh kelakuan di luar nalar dari Princess mereka. Bagaimana tidak? Setelah membuat seisi mansion panik setengah mati karena menghilang selama dua jam penuh, Anaya justru ditemukan sedang tertidur dengan sangat pulas di atas dahan pohon mangga yang tinggi. Pemandangan itu semakin terlihat absurd karena mulut dan pipi tembamnya tampak penuh dengan bekas daging buah mangga yang mulai mengering.
“Ya Tuhan, putri Mommy...! Dia bisa jatuh, Dad!” ucap Siska dengan suara bergetar karena takut, matanya menatap horor ke arah dahan tempat putrinya meringkuk nyaman tanpa beban.
(Anaya bobo di pohon)
Tingkah ajaib Anaya ini sukses membuat seluruh anggota keluarga yang berkumpul di bawah pohon dilanda dilema yang hebat antara ingin panik atau tertawa. Dua jam lamanya para pemuda dan bapak-bapak Wicaksono berlari kesana-kemari hingga mandi keringat demi mencari keberadaannya, namun orang yang dicari justru sedang asyik menikmati embusan angin sore di atas ketinggian.
“Ini gimana caranya mengambil Naynay, ya?” ucap Marco bingung sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“Ya dipanjatlah, Bodoh! Masa mau lo guncang pohonnya sampai dia jatuh?” sahut Selatan ketus, ikut menatap ke atas dengan dahi berkerut dalam.
“Biar gue yang naik,” sela Arka cepat. Wajah sang abang kandung sudah tampak sangat tegang. Jantungnya berdegup tidak keruan melihat posisi tidur adiknya yang sedikit bergeser ke ujung dahan.
Sebelum Arka sempat melangkah maju, Marvel sudah lebih dulu melepas jaketnya dan melemparkannya ke atas rumput. “Gue lebih tinggi dari lo, Ka. Gue yang naik, lo siaga di bawah kalau-kalau dia terbangun dan kaget,” perintah Marvel dengan suara tenangnya yang tidak bisa dibantah.
Opa Darwin yang berdiri di barisan belakang langsung ikut berkata panik, “Marvel, hati-hati! Angkat dia pelan-pelan!”
“Iya, Opa,” jawab Marvel pendek. Dengan gerakan lincah dan terlatih, pemuda bertubuh atletis itu mulai memanjat batang pohon mangga. Baginya memanjat pohon sebesar ini adalah hal mudah, namun membawa turun seorang bocil yang sedang tertidur pulas adalah urusan lain.
Sementara Marvel merayap naik dengan sangat hati-hati di antara dedaunan lebat, barisan bapak-bapak di bawah—langsung merentangkan kedua tangan mereka lebar-lebar di sekeliling pohon, bersiap menjadi matras darurat demi menjaga keselamatan harta paling berharga keluarga Wicaksono.
Saat Marvel berhasil mencapai dahan pohon dan menggendong tubuh Naya dengan sangat hati-hati, Naya mendadak terbangun dengan muka bantal. Dengan mata bulatnya yang jernih, gadis mungil itu mengerjap polos beberapa kali lalu menguap kecil sembari mengucek matanya.
Bukannya merasa takut karena berada di ketinggian, Naya justru menatap wajah Marvel tanpa dosa dan berucap, “Abang mau mangga juga? Mangganya manis sekali, Abang. Tapi... tapi sudah habis Naya makan.”
Celetukan jujur itu seketika membuat Marvel mendengus geli, sementara orang-orang yang berjaga di bawah pohon serempak mengembuskan napas lega sambil mengelus dada mereka pasrah.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Marvel membawa tubuh mungil Naya turun hingga akhirnya kedua kaki mungil gadis itu menapak dengan aman di atas rerumputan taman. Namun, begitu mendarat di bawah, Anaya justru menatap sekelilingnya dengan pandangan penuh tanya.
“Kalian semua kenapa berkumpul di sini? Mau makan mangga juga ya, seperti Naya?” ucapnya polos tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Selatan yang sejak tadi menahan gemas melihat kelakuan ajaib adik sepupunya itu sudah tidak bisa membendung diri lagi. Dengan gemas, ia langsung maju dan mencubit gemas pipi tembam Anaya yang belepotan getah mangga. Cubitan yang agak kencang itu seketika membuat Naya memekik kesakitan.
“Awsss! Abang Selatannnn... Sakiiit! Hwaaa, Daddy! Abang Sel jahat, cubit-cubit Naya!” tangis Naya akhirnya pecah seketika, air matanya langsung luruh membasahi pipi.
Selatan yang mendadak merasakan hawa di sekelilingnya mendingin drastis baru saja tersadar dari perbuatan impulsifnya. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu menolehkan kepalanya ke samping dengan gerakan yang sangat kaku.
Begitu matanya menangkap jajaran tatapan dingin mematikan yang dilayangkan serempak oleh Opa Darwin, Daddy Hendra, Paman Arga, hingga Arka dan Marvel, seketika itu juga seluruh bulu kuduk Selatan berdiri meremang. Aura membunuh para pria Wicaksono langsung aktif dalam hitungan detik.
‘Mampus gue!’ umpat Selatan menjerit histeris di dalam hatinya.
“Hehe... peace! Selatan cuma bercanda kok, beneran!” ucap Selatan buru-buru mengangkat kedua jarinya membentuk tanda damai, lengkap dengan senyuman bodoh yang dipaksakan di wajahnya yang kini sudah pucat pasi.
...****************...
Sementara itu di tempat lain, Devan, Reno, Gavin, dan Bintang sedang berada di basecamp yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul. Setelah menyelesaikan rapat OSIS yang cukup menyita waktu di sekolah, mereka lebih memilih untuk bersantai di tempat rahasia tersebut demi melepas penat.
“Ini serius Arka gak ikut bekumpul bareng kita?” tanya Bintang sembari membuka kaleng minuman sodanya, menatap ke arah tempat duduk yang biasanya ditempati oleh kapten basket mereka.
“Yee... lo kayak gak tau aja. Dia pasti lagi pengen habisin waktu bareng adik kecilnya,” sahut Reno ceplas-ceplos. “Lo kan tahu sendiri, sikap Anaya yang sekarang jauh berbeda dari yang dulu. Dulu jangankan bermanja-manja, Anaya mana mau dekat sama Arka atau anggota keluarga Wicaksono yang lain.”
“Lagian, ya, gue sebenarnya masih penasaran sama perubahan sikap Anaya,” timpal Gavin, membuka topik yang sejak tadi mengusik pikirannya.
“Maksud gue gini, sebelum Anaya berubah jadi sosok yang pendiam dan pemberontak, aslinya dia emang anak yang ceria, kan? Meskipun gak polos kaya sekarang, dulu dia tetap gadis yang menyenangkan. Tapi setelah itu, dia tiba-tiba berubah drastis menjadi pendiam, dingin, dan sering sekali mencari masalah di sekolah,” jelas Gavin panjang lebar, mengingat kembali memori masa lalu.
“Seperti ada sesuatu atau seseorang yang sengaja mengubah kepribadiannya menjadi buruk. Itu yang gue rasakan,” ungkap Bintang, menyuarakan kejanggalan yang selama ini ia amati pada adik sahabatnya itu.
“Iya juga, sih. Kalau dipikir-pikir memang aneh banget,” ucap Reno membenarkan, manggut-manggut setuju.
Devan yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, tak ayal membenarkan ucapan kedua temannya di dalam hati.
“Gue rasa memang ada yang gak beres sama masa lalu Anaya sebelum dia amnesia,” ucap Gavin lagi, matanya menatap intens ke arah Devan. Reno dan Bintang pun kompak mengangguk setuju.
Meski responsnya terlihat sangat acuh, jauh di dalam lubuk hatinya, Devan sudah menyusun rencana. Otak cerdasnya juga sudah berpikir bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dari kelinci nakalnya tersebut.
...****************...
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB 16..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP PAGI DAN MALAM JAM 08.00-09.00 dan 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 08.00-09.00 dan 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
udah bikin satu kelas mikir berjamaah dianya malah anteng anteng aja🤭
Jangan lupa like, komen dan klik favorit yaa🥰
HAPPY READING & HOPE YOU ENJOY GUYSSS💜