meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Kardus dan Suara Klakson
Pagi pertama sebagai suami istri di Surabaya terasa sangat berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di Semarang atau Jakarta. Tidak ada suara burung gereja yang berkicau lembut, tidak ada aroma kopi tubruk yang diseduh dengan tenang oleh pembantu, dan tidak ada keheningan yang menenangkan.
Yang ada adalah suara klakson angkot yang bersahut-sahutan, teriakan pedagang asongan yang menjajakan koran dan air mineral di perempatan jalan, serta dengung mesin motor yang tak pernah mati.
Meylani terbangun karena sinar matahari yang terlalu terang menembus celah gorden kamar tidur mereka. Ia mengerjap-kerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan realitas barunya. Di sebelahnya, Bima masih tertidur pulas, mulutnya sedikit terbuka, dan satu tangannya melingkar erat di pinggang Meylani. Wajah Bima terlihat jauh lebih muda saat tidur, tanpa kerutan khawatir di dahi yang biasanya muncul saat ia memikirkan proyek atau anggaran.
Meylani tersenyum tipis. Ia memandangi suaminya lekat-lekat. Pria ini adalah suaminya sekarang. Suami yang kemarin malam masih mengenakan beskap dan blangkon, namun pagi ini hanya mengenakan kaos oblong lusuh dan celana pendek kotak-kotak. Kontras yang tajam, namun somehow, membuat hati Meylani merasa hangat.
Perlahan, Meylani mencoba bangkit agar tidak membangunkan Bima. Namun, gerakan sekecil apapun sepertinya bisa dirasakan oleh pria yang tidurnya ringan itu. Mata Bima langsung terbuka.
"Pagi, Mey" sapa Bima serak, suaranya berat khas bangun tidur. Ia menguap lebar, lalu menarik Meylani kembali ke pelukannya. "Masih awal. Tidur lagi sana."
"sudah jam delapan, Mas," kata Meylani sambil cekikikan, mencoba melepaskan diri dari pelukan kuat suaminya. "Kita harus unpacking barang-barang. Kalau nggak, nanti malam kita tidur di atas tumpukan kardus."
Bima mendengus kesal, tapi akhirnya melepaskan Meylani. Ia duduk, menggaruk kepalanya yang berantakan, lalu tersenyum jahil. "Yaudah, kalau gitu aku bantu. Tapi sarapan dulu. Aku lapar banget."
Rumah sewa mereka berada di kawasan Wonocolo, sebuah daerah perumahan padat yang strategis. Rumah itu bukan rumah mewah bergaya minimalis seperti yang biasa dihuni Meylani. Ini adalah rumah tipe 45 dengan dua kamar tidur, halaman kecil yang sempit, dan dapur yang menyatu dengan ruang makan. Dindingnya dicat putih polos, lantainya keramik biasa, dan atapnya seng yang kadang berisik saat hujan deras.
Bagi Bima, rumah ini sudah cukup nyaman. Baginya, rumah adalah tempat untuk istirahat, bukan untuk pamer. Tapi bagi Meylani, ini adalah kejutan budaya kedua setelah pernikahan.
"Mbak Meylani! Ini kunci pagar cadangan ya!" teriak seorang wanita paruh baya dari balik pagar tetangga sebelah. Wanita itu bernama Bu Siti, tetangga kanan mereka yang sudah dikenalkan Bima sehari sebelumnya.
Meylani kaget. Ia belum siap berinteraksi dengan tetangga. Di kompleks elit tempat ia tinggal dulu, interaksi antar tetangga minimal, hanya sekadar anggukan kepala saat berpapasan di jalan lingkungan.
"Eh, iya... terima kasih, Bu," jawab Meylani canggung, menerima kunci besi yang disodorkan Bu Siti melalui celah pagar.
"Wes, nggak usah kaku-kaku, Mbak. Kalau butuh gula atau garam, ketok pagar aja. Saya di rumah terus," sahut Bu Siti ramah sebelum kembali ke aktivitasnya menyapu halaman.
Meylani menatap kunci itu, lalu menoleh pada Bima yang sedang membawa kardus besar berisi peralatan dapur dari mobil. Bima tertawa melihat ekspresi bingung istrinya.
"Gitu caranya orang Surabaya, Mey Ramah, peduli, tapi kadang kurang privasi. Kamu bakal terbiasa kok. Malah nanti kamu bakal kangen kalau pindah ke tempat yang sepi," goda Bima sambil meletakkan kardus di teras.
Meylani menghela napas. "Aku cuma takut salah bicara, Mas. Apa aku harus panggil 'Bu' atau 'Ibu'? Terus kalau diajak ngobrol lama, aku harus jawab apa?"
Bima meletakkan tangan di pundak Meylani, menenangkannya. "Santai aja, Mey. Panggil 'Bu' aja. Kalau diajak ngobrol, jawab seadanya. Orang sini nggak suka basa-basi bertele-tele. Kalau kamu jujur dan sopan, mereka akan sayang sama kamu. Lihat aja Bu Siti, dia baik banget. Kemarin dia bawain gorengan buat kita pas kita baru pindahan."
Meylani mengangguk pelan. Ia mencoba menyerap nasihat suaminya. Jujur dan sopan. Dua kata kunci yang sederhana, namun sulit dipraktikkan bagi seseorang yang terbiasa dengan protokol ketat.
Siang harinya, proses unpacking berjalan alot. Meylani terbiasa memiliki asisten pribadi yang mengurus segala hal, mulai dari membongkar kardus hingga menata lemari. Sekarang, ia harus melakukannya sendiri bersama Bima.
"Mey. tolong ambilkan piring yang di kardus nomor tiga ya!" teriak Bima dari dapur.
Meylani, yang sedang berusaha membuka lakban kardus di ruang tamu, menjawab, "Sebentar, Mas! Lakbannya susah dibuka!"
"Coba pakai gunting! Atau gigit aja kalau perlu!" seru Bima bercanda.
Meylani menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia mengambil gunting dari kotak alat, lalu memotong lakban tersebut. Saat ia membuka tutup kardus, ia menemukan set gelas kristal mahal pemberian ibunya. Dengan hati-hati, ia mengeluarkannya satu per satu.
Tiba-tiba, suara pintu depan diketuk keras. Tok! Tok! Tok!
Meylani kaget hingga hampir menjatuhkan gelas. Ia berlari ke pintu depan, membuka kunci, dan membukanya.
Di luar berdiri tiga orang ibu-ibu dengan wajah ramah. Salah satunya adalah Bu Siti.
"Assalamualaikum, Mbak! Kami dari arisan ibu-ibu RT mau nyambutin warga baru," kata Bu Siti ceria. Di tangannya ada sebuah toples berisi kue nastar.
Meylani terpaku sejenak. Kunjungan tetangga di hari pertama pindah? Di lingkungannya dulu, ini hampir tidak pernah terjadi.
"Waalaikumsalam, Bu. Silakan masuk," ucap Meylani gugup, memberi jalan bagi mereka.
Ketiga ibu itu masuk dengan santai, seolah rumah itu adalah milik mereka sendiri. Mereka langsung duduk di sofa ruang tamu yang masih berantakan dengan kardus.
"Waduh, masih banyak kardusnya ya, Mbak. Butuh bantuan nggak?" tanya Ibu kedua, Bu Yanti, sambil melihat-lihat sekeliling.
"Tidak apa-apa, Bu. Suami saya sedang membereskan dapur," jawab Meylani sopan.
"Oh, Mas Bima ya? Anak baik itu. Rajin, nggak sombong. Cocok banget sama kamu yang kelihatan elegan gitu," puji Bu Yanti sambil tersenyum licik. "Kalian udah punya rencana kapan punya momongan?"
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, seperti peluru yang melesat tanpa peringatan. Meylani tersentak. Pipinya memerah padam. Di dunia korporatnya, pertanyaan pribadi seperti ini dianggap tidak profesional dan melanggar privasi.
"Ehm... kami... masih menyesuaikan diri dulu, Bu," jawab Meylani terbata-bata, matanya mencari bantuan ke arah dapur.
Bima muncul dari dapur dengan tangan penuh tepung. Ia melihat situasi itu dan segera mengerti. Dengan sigap, ia mendekat dan menyelipkan diri di antara Meylani dan para tetangga.
"Wah, Bu Yanti, Bu Siti, Bu Harti! Senang sekali kalian datang. Maaf ya, rumah masih berantakan. Lagi capek-capeknya beresin," kata Bima ceria, mengalihkan topik. "Nih, saya baru bikin adonan kue pisang. Mau coba nggak? Nanti kalau jadi, saya anterin ke rumah masing-masing."
Para ibu itu tertawa senang. "Wah, Mas Bima rajin banget ya! Bisa masak pula!" seru Bu Harti.
"Biasa lah, Bu. Istri saya kan sibuk kerja, jadi saya yang harus jago di dapur biar nggak kelaparan," canda Bima sambil mengedipkan mata pada Meylani.
Meylani menghela napas lega. Bima berhasil menyelamatkan situasi dengan humor dan keramahannya. Para tetangga itu akhirnya pulang setelah mengobrol sebentar, meninggalkan toples nastar dan janji untuk mengundang mereka ke acara pengajian rutin RT.
Setelah pintu tertutup, Meylani ambruk di sofa, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Aduh, Mas... aku nggak kuat. Pertanyaannya langsung ke inti banget. Aku nggak siap," keluh Meylani.
Bima duduk di sebelahnya, mengelus punggung Meylani. "Sabar, Yang. Itu tanda mereka peduli. Di sini, privasi itu relatif. Kalau kamu dikirain aneh karena nggak mau ngobrol, mereka malah bakal curiga. Lebih baik kamu dianggap 'wajar' meski kadang kepo. Nanti juga kalau kamu udah akrab, mereka bakal ngehargain batasanmu."
Meylani menatap Bima. "Kamu kok bisa santai banget sih, Mas? Padahal kamu juga pasti kaget ditanyain begitu."
Bima tertawa. "Ya namanya juga hidup bermasyarakat, Mey. Di kampung saya dulu juga gitu. Kalau ada yang nikah, satu kampung tahu detailnya sampai ukuran cincin kawinnya berapa karat. Kita cuma harus belajar menikmati saja. Anggap aja ini bumbu kehidupan."
Meylani tersenyum lemah. Ia mengambil satu kue nastar dari toples yang ditinggalkan tetangga, lalu menggigitnya. Rasanya manis dan renyah.
"Terima kasih, Mas. Kalau nggak ada kamu, tadi aku mungkin sudah kabur lewat jendela belakang," canda Meylani.
Bima tertawa lepas. "Nggak akan aku biarin kamu kabur, Mey. Kita hadapi ini bareng-bareng. Pelan-pelan. Kamu belajar jadi lebih santai, aku belajar jadi lebih... eh, apa ya? Lebih rapi mungkin?"
Meylani menggeleng. "Nggak usah berubah, Mas. Aku cinta kamu yang apa adanya. Cuma... ajari aku cara bertahan di sini. Ajari aku jadi bagian dari komunitas ini tanpa kehilangan diriku sendiri."
Bima mencium kening Meylani. "Siap, Bos. Kelas adaptasi budaya Jawa Timur dimulai hari ini. Materi pertama: Cara menolak tawaran tetangga dengan halus tapi tetap akrab."
Mereka tertawa bersama di tengah tumpukan kardus yang belum selesai dibongkar. Di luar, suara klakson masih terdengar, teriakan pedagang masih bergema, dan panas Surabaya masih menyengat. Tapi di dalam rumah kecil itu, ada kehangatan yang tumbuh perlahan.
Meylani menyadari bahwa adaptasi ini tidak akan mudah. Akan ada banyak momen canggung, banyak pertanyaan yang membuat gelisah, dan banyak kebiasaan yang harus diubah. Tapi ia tidak sendirian. Ada Bima, pria yang ceplas-ceplos namun penuh perhatian, yang bersedia menjadi jembatan antara dunianya yang lama dan dunianya yang baru.
Dan bagi Meylani, itu sudah cukup untuk memulai. Satu langkah kecil, satu kue nastar, dan satu senyuman tulus dari suami yang paling tidak terduga dalam hidupnya.
...****************...