Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
"Hah?! Perjodohan?!" tanya Lia, terkejut dengan permintaan ayahnya. Pak Gunawan mengangguk.
"Ayah merasa berhutang budi dengan Tuan Damaris, Lia," kata Pak Gunawan berusaha membujuk.
"Yah, hutang budi nggak harus dibayar pake nikah kan? Udah bukan jaman Siti Nurbaya ini, Yah!" kata Lia memohon.
"Ayah tau,"
"Lagian Ayah, belum tentu Lia yang dipilih Tuan Muda Ren, udah bilang perjodohan segala," kata Bu Anna.
"Eh? Dipilih? Gimana maksudnya, Ma?" tanya Lia, bingung.
"Jadi gini, Lia. Tuan Damaris itu ngadain pesta. Nah, dalam pesta itu nanti puteranya, Tuan Muda Ren, bakal milih satu gadis yang akan dinikahinya," jelas Bu Anna. Lia manggut-manggut.
"Gitu. Ayah sih bilangnya, 'Lia, nanti malem ikut ayah ke perjodohan dengan Keluarga Damaris,' gitu Maa," kata Lia mengulang lagi kalimat ayahnya. Bu Anna tersenyum.
"Terlalu semangat ayah mu. Pengen banget besanan sama Tuan Damaris," kata Bu Anna.
"Siapa yang nggak pengen punya besan Tuan Damaris, Ma?" kata Pak Gunawan. Lia memutar bola matanya.
Setahu Lia, Damaris Digital Group (DDG) memang sedang menjadi perusahaan adikuasa di tengah perusahaan-perusahaan berbasis digital lainnya. DDG yang bergerak di bidang e-commerse dan layanan on-demand memang terkenal memiliki fitur dan layanan yang paling update dibanding dengan perusahaan digital lain.
"Lia sih yakin, Tuan Muda Ren nggak bakal milih Lia," kata Lia percaya diri. Ayahnya terlihat kecewa.
"Lhoh? Kenapa, Yah? Ayah harus terima kenyataan, kalo puteri ayah ini memang nggak ada spek buat jadi Nona Muda," kata Lia mencoba membuat ayahnya menerima hasil terburuk nantinya. Bu Anna terlihat menahan tawa melihat tingkah puteri dan suaminya.
"Setuju, Yah," kata Julio, adik Lia.
"Heh!"
"Kenapa? Kan emang bener? Kakak sendiri yang ngomong," kata Julio.
"Udaaah... Yang jelas ntar malem kita siap ke pesta Keluarga Damaris. Lia ikut mama ke salon," kata Bu Anna.
"Noooo!!!" teriak Lia yang memang tak begitu suka dandan. Julio tertawa terbahak melihat kakaknya terlihat tersiksa.
Pak Gunawan menatap Lia dan mamanya yang bersiap menuju ke salon.
'Firasat ayah nggak pernah salah, Lia,'
***
Seperti yang diharapkan dari pesta dansa Keluarga Damaris. Ballroom hotel bintang lima disulap megah bak ballroom istana kerjaan. Lampu-lampu gantung megah menghiasi langit-langit ballroom. Karpet merah tebal digelar, menambah mewah suasana ruangan.
Di tepi-tepi ruangan terdapat meja-meja panjang yang menyajikan berbagai macam hidangan —mulai dari kudapan, buah segar, sup-sup pembuka, hingga hidangan utama.
Para tamu undangan sudah memenuhi sebagian ruangan sepuluh menit sebelum acara dimulai. Terlihat banyak nona muda dari berbagai kalangan keluarga kaya raya berkumpul —mulai dari anak pejabat, pewaris perusahaan besar, hingga artis-artis papan atas.
Lia menatap sekeliling dengan takjub. Baru pertama kali ini Lia menghadiri pesta semegah ini.
"Orang kaya, mah, kelaaas..." komentar Julio tepat di telinga Lia. Lia menoleh ke arah adiknya.
"Eh, kita juga orang kaya ya, tapi nggak hedon kek mereka aja," kata Lia. Julio mencebikan bibirnya.
"Bilang aja nggak ada dananya buat hedonisasi," kata Julio sambil menatap sekeliling ruang pesta.
"Bukan nggak ada dananya. Kita cuma mengalirkan dana ke tempat yang diperlukan saja, adik kecilku sayang," kata Lia gemas, sambil juga menyapukan pandangannya ke seluruh ruang pesta.
"Eh, kita berdiri kek gini nggak ada yang ngira kita pacaran kan?" tanya Julio pada kakaknya, memastikan. Karena Julio dan Lia memang sering dikira sepasang kekasih oleh orang-orang yang tidak mengenal mereka.
"You're my savior," kata Lia sambil tersenyum licik.
"Sial! Mending gue cari gandengan juga. Mumpung disini, siapa tau dapet Ariana Letusya," kata Julio sambil hendak melangkah pergi. Namun, tangan Lia dengan cepat menarik lengan Julio.
"Heh! Jangan mimpi dapet artis tersohor sekelas Ariana Letusya!" kata Lia.
"Kak, bukankah kita selalu diajarkan untuk mempunyai cita-cita setinggi langit?" kata Julio, sedikit sebal.
"Cita-cita kamu yang itu bukan lagi setinggi langit, tapi setinggi nirwana," kata Lia, gemas.
"Kalian berdua ngapain malah berantem?" tanya Pak Gunawan pada kedua anaknya.
"Lagian Ayah kenapa malah ngilang?" protes Lia.
"Ayah baru menyapa rekan bisnisnya, Lia. Begitu kami sadari kalian udah nggak ada," kata Bu Anna.
"Kakak ini emang suka tiba-tiba berpetualang, Ma," kata Julio. Bu Anna langsung menimpuk pelan bahu Julio.
"Eh, lihat! Tuan Muda Ren menatap ke arah kita," bisik Pak Gunawan. Lia menoleh ke arah ayahnya melihat.
Lia melihat sosok yang benar-benar mencerminkan tuan muda kaya raya, pewaris tunggal. Tak jauh beda dengan tokoh utama CEO muda dalam drama Asia yang sering dia tonton —tinggi, tampan, tatapan tajam, aura dingin.
"Wah! Tipe Kakak banget tuh!" celetuk Julio. Lia seketika menimpuk pelan kepala adiknya itu. Julio terlihat meringis sambil mengusap-usap kepalanya.
Ren Damaris sudah mengamati Lia sedari tadi. Dia berpikir, mungkin Lia akan menjadi kandidat yang cocok untuk menjadi calon isterinya. Tidak seperti para nona muda lainnya yang hadir disana, Lia terlihat sama sekali tak tertarik dengan Ren. Lia sedari tadi terlihat sibuk mengobrol dengan pemuda di sampingnya dan sesekali wajahnya terlihat kesal.
Ren memutuskan untuk menghampirinya. Ren melihat Pak Gunawan berdiri di samping Nona Muda yang sudah dia perhatikan sejak awal. Sudah jelas. Nona Muda yang menarik perhatian Ren pasti puteri Pak Gunawan, pemilik Lavendra Hotel and Resort.
"Tuan Muda Ren. Suatu kehormatan bagi kami diundang ke pesta ini," kata Pak Gunawan ramah. Ren hanya mengangguk dan tersenyum tipis lalu menjabat tangan Pak Gunawan. Auranya benar-benar dingin.
"Beuh! Cool, Kak," bisik Julio pada Lia.
"Bisa diem nggak sih?" desis Lia.
"Perkenalkan, Tuan Muda. Ini puteri saya, Edelia Lavendra, dan putera saya, Julio Prakoso," kata Pak Gunawan dengan senyum lebar. Ren menatap Lia dalam-dalam. Lia merasa sedikit takut dengan tatapan Ren yang terlihat mengintimidasi.
"Jadi... nama Lavendra diambil dari nama puteri Bapak?" tanya Ren, kembali menatap Pak Gunawan. Pak Gunawan mengangguk.
"Saat saya sedang memulai bisnis, isteri saya sedang hamil anak pertama kami. Kami sudah menyiapkan namanya. Jadi, sebagai pengingat, maka saya gunakan juga nama itu untuk hotel dan resort saya," jelas Pak Gunawan. Lia tersenyum menatap ayahnya. Dia selau tahu ayahnya begitu menyayanginya.
Ren kembali menatap Lia. Ada sedikit keraguan dalam hatinya untuk memilih Lia. Bukan karena Lia tak pantas untuknya atau karena Ren membencinya. Melainkan karena, mungkin, dirinya akan melukai anak gadis dari seorang ayah yang begitu mencintainya.
Ren kembali menoleh, menyapukan pandangannya ke seisi ruangan pesta. Tak ada lagi nona muda yang seperti Lia. Dia harus melakukan ini. Demi nama baik keluarganya. Demi nama baiknya sendiri. Dan demi... menutupi sebuah rahasia kelam dalam dirinya.
"Nona Edelia Lavendra," panggil Ren, membuat Lia seketika sigap.
"Maukah Anda menikah dengan saya?" tanya Ren pada Lia, membuat mata Lia membulat sempurna.
Seisi ruangan menatap ke arah Lia. Lia menahan napasnya, tak percaya dengan kalimat yang baru saja dia dengar.
'Tunggu. Ini pasti cuma prank kan? Acara reality show? Kamera, mana? Mana kamera?'
***