Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar buruk
Di lantai dua kantor pajak negara, siang belum benar-benar datang, tapi ritme pekerjaan sudah seperti ombak yang tak pernah berhenti. Telepon berdering dari berbagai sudut. Printer menderu, mencetak lembar demi lembar laporan. Pendingin ruangan berhembus stabil, dinginnya merayap hingga ke tulang.
Di salah satu meja dekat jendela besar, Zahra duduk tegak di kursinya. Hijab pashmina warna dusty pink terurai rapi, blazer krem menambah kesan profesional sekaligus anggun. Jari-jarinya lincah menari di atas keyboard, matanya fokus menatap layar komputer berisi tabel angka dan kolom-kolom data yang harus ia selesaikan hari itu.
Ponsel di samping mouse-nya bergetar pelan. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Namun layar ponsel hanya menyala singkat lalu gelap kembali. Mode silent membuatnya tak berbunyi sama sekali. Zahra sama sekali tak menyadarinya. Ia terlalu tenggelam dalam pekerjaannya, mengejar target yang harus rampung sebelum sore.
Waktu berlalu. Hingga akhirnya, suara tawa kecil dan obrolan ringan mulai terdengar dari beberapa sudut ruangan. Jam dinding berbentuk bulat di tengah kantor menunjukkan pukul dua belas tepat.
“Zahra…” Sebuah tangan menepuk pundaknya pelan.
Zahra tersentak kecil lalu menoleh. Putri, rekan kerjanya, sudah berdiri sambil merapikan tas selempang.
“Udah jam makan siang, nih. Ayo, nanti keburu penuh tempatnya,” kata Putri ceria.
Zahra tersenyum tipis. Ia menekan beberapa tombol, memastikan pekerjaannya tersimpan aman. Lalu tangannya meraih ponsel. Begitu layar menyala, keningnya langsung berkerut. Ada delapan panggilan tak terjawab. Semuanya dari nomor yang sama. Kakaknya.
“Aduh…” gumam Zahra lirih.
Putri memperhatikan. “Kenapa?”
“Aa' ku telfon terus. Kayaknya ada sesuatu yang penting, deh. Aku harus telepon balik dulu, ya. Kamu duluan aja ya, Put. Nanti aku nyusul.”
Putri mengangguk pengertian. “Oke. Kita di rumah makan bebek dekat pertigaan itu ya. Jangan lama-lama. Mau di pesenin sekalian nggak?”
"Nggak usah deh, aku nggak lama kok."
"Ya udah... Kita duluan ya—"
Setelah Putri berlalu bersama teman-teman lain, Zahra buru-buru menekan tombol panggil.
Tak sampai tiga dering, suara di seberang terdengar.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Suara A’ Musa terdengar berat. "Akhirnya di angkat juga."
“A’ Musa? Kenapa dari tadi nelpon? Ada apa?” tanya Zahra, masih berusaha tenang. Namun hanya butuh beberapa kalimat dari kakaknya untuk membuat dunia Zahra seakan runtuh seketika.
“Zahra… Abah mendadak sesak napas tadi di kampus. Sekarang di Rumah Sakit Islam. Dokter bilang ada penghimpitan di jantung. Kamu bisa ke sini sekarang?”
Wajah Zahra seketika pucat. Tangannya gemetar memegang ponsel.
“Inna lillahi…” bisiknya pelan. “Aku ke sana sekarang, A’.”
Ia tak peduli lagi dengan makan siang, pekerjaan, atau apa pun. Ia meraih tasnya, berdiri terburu-buru, langkahnya nyaris berlari melewati lorong kantor yang masih ramai. Suara printer, telepon, dan obrolan mendadak terasa jauh. Yang ada di benaknya hanya satu: Abah Huda.
...
Mobil berhenti di parkiran Rumah Sakit Islam. Zahra turun tergesa, bahkan sempat tersandung kecil karena langkahnya terlalu cepat. Udara siang terasa panas, tapi keringat dingin justru mengalir di tengkuknya.
Ia berlari kecil melewati pintu otomatis rumah sakit. Aroma khas antiseptik langsung menyambut hidungnya. Lorong-lorong panjang, suara roda ranjang pasien, perawat yang berjalan cepat, dan bunyi monitor medis menjadi latar yang menegangkan. Zahra menekan lift berulang kali. Begitu pintu terbuka, ia masuk bersama dua pengunjung lain. Jantungnya berdetak keras hingga terasa di telinga.
Lantai ICU.
Begitu pintu lift terbuka, ia melihat mereka. Keluarganya sudah berkumpul di depan ruang perawatan intensif. A’ Musa berdiri dengan wajah tenang. A’ Akbar duduk di bangku tunggu sambil menunduk. Daud berdiri di sudut, mencoba menenangkan diri. Dan Hanifah… Begitu melihat Zahra, Hanifah langsung berdiri dan memeluknya erat.
“Teh Zahra…” suara Hanifah pecah. “Abah… Abah…”
Mereka menangis bersama. Tangis yang penuh takut, harap, dan doa yang tak henti terucap di dalam hati.
Zahra mengusap kepala adiknya. “Gimana Abah sekarang?”
A’ Musa mendekat. “Abah sudah sadar setelah tindakan dokter. Tapi kondisinya masih sangat lemah.”
Air mata Zahra kembali jatuh. Ia menutup mulutnya agar isakannya tak terlalu keras.
Tak lama, pintu ICU terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan hijab panjang syar’i keluar. Wajahnya teduh, tapi jelas terlihat garis kelelahan di sekitar matanya.
“Ummi…” Zahra langsung menghampiri.
Ummi memeluknya hangat. Pelukan seorang ibu yang menjadi tempat pulang segala rasa takut.
“Dokter bilang Abah sudah melewati masa kritis. InsyaAllah setelah enam jam observasi, bisa dipindah ke bangsal biasa.”
“Alhamdulillah…” Kelima kakak beradik itu spontan mengucap. Ummi tersenyum tipis. Lalu matanya beralih lembut pada Zahra.
“Abah dari tadi nyebut nama Teteh. Katanya ingin bicara empat mata denganmu, Teh Zahra.”
Zahra mengangguk pelan. “Baik, Ummi.”
Setelah mengenakan baju khusus dan mengikuti prosedur ICU, Zahra melangkah masuk. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya dipenuhi beban. Di dalam, suara mesin monitor berdetak teratur. Lampu putih menerangi tubuh seorang pria paruh baya yang terbaring lemah. Tubuh gempal yang selama ini kokoh, kini terlihat rapuh. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Kumis dan janggutnya hampir memutih seluruhnya. Bibirnya pucat.
“Abah…” suara Zahra bergetar.
Abah Huda membuka mata perlahan. Senyum tipis terukir di wajahnya. Zahra mendekat, duduk di sisi ranjang. Ia menggenggam tangan Abah yang besar dan berbulu di lengannya. Tangan yang dulu sering menggendongnya saat masih kecil. Tangan yang kini masih terasa hangat dan lemah.
"Abah kenapa bisa begini. Apa selama ini Abah sakit tapi nggak ngomong sama kita semua?” tanya Zahra pelan.
Abah menggeleng perlahan, "Kamu tau Abah mah orangnya kalo lagi sakit pasti satu rumah heboh karena harus mijitin abah, ngambilin air panas yang di masukin ke kantong air panas, harus ngebalurin minyak angi, walaupun cuma masuk angin…" pria paruh baya itu masih bisa terkekeh lemah.
"Ya Allah, Abah... Terus gimana sekarang? Apa abah masih sesak nafasnya?"
"Sedikit, tapi sudah baik-baik saja, Teh. Alhamdulillah tadi di kasih obat, pelan-pelan plong.”
“Alhamdulillah…”
Zahra mengusap lengan Abah lembut, sambil memperhatikan wajah yang terlihat masih agak pucat.
Suasana hening sejenak. Hanya bunyi monitor yang menjadi saksi. Lalu Abah menarik napas pelan.
"Teh?"
"Hmmm?"
“Mengingat Abah bisa tiba-tiba kena penghimpitan jantung, seperti ini. Abah jadi punya kekhawatiran.”
"Khawatir apa, Abah?"
"Ya khawatir sama kamu, sama Hanifah."
Zahra menatap ayahnya, keningnya berkerut kecil.
“Abah sudah beberapa kali menolak lamaran untuk Hanifah.” Suara Abah lirih, tapi jelas. “ Abah cuma ingin… kamu dulu, Teh.”
Zahra terdiam. Kepalanya tertunduk.
“Wallahi... Abah tidak mengkhawatirkan kematian karena Abah percaya, Allah maha rahman. Dan semua orang pasti akan bertemu hari kematiannya," lanjut Abah. “Abah takut, kalau waktu Abah habis, Abah tidak sempat menjadi wali nikah untuk putri-putri Abah. Meskipun Aa kalian, ataupun adik kalian masih bisa. Tapi?"
“Abah jangan ngomong begitu. Abah pasti sehat lagi. Kita masih punya waktu panjang, insyaAllah.” Suara itu membuat dada Zahra sesak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia menggenggam tangan Abah lebih erat.
“Abah ingin kamu menikah secepatnya… Jangan terlalu banyak memilih, Teh,” kata Abah lirih.
"Tapi menikah itu tidak bisa terburu-buru, Bah. Zahra juga… tidak punya calon.”
Dalam hatinya terlintas satu nama yang dulu pernah ia simpan rapat. Pria yang kini telah menjadi milik orang lain. Sejak saat itu, Zahra menutup pintu hatinya rapat-rapat.
"Alasanmu selalu seperti itu. Giliran ada yang datang untukmu? Malah justru di tolak."
Zahra menunduk. Abah menatapnya lembut.
“Teteh ingat? Dulu Teteh pernah janji sama Abah. ketika usia Teteh masuk angka tiga puluh, dan belum menemukan calon atas pilihanmu sendiri… Teteh bersedia dijodohkan oleh Abah. Teteh juga janji nggak akan nolak.”
Mata Zahra terangkat. Ia mengingatnya. Janji di usia dua puluh tujuh, diucapkan tanpa sadar sambil tertawa ringan. Tak di sangka ia sudah memasuki angka itu.
“Iya, Teteh ingat, Bah…” bisiknya.
“Kalau begitu…” Abah menarik napas pelan. “Mau ngga? Abah kenalin Teteh sama anak kenalan Abah?"
Zahra terdiam lama. Dadanya bergemuruh. Antara bakti pada orang tua dan ketakutan pada masa depan yang tak ia bayangkan.
"Orangnya ganteng, pengusaha. InshaAllah soleh, Teh. Abah pernah bertemu beberapa kali. Kalem, dan?”
“Ya, nanti Teteh pikirin, Ya, Bah. Sekarang mending Abah istirahat aja," potongnya hati-hati.
"Tuh kan, Teteh begitu sama Abah." Hembusan napas berat keluar dari bibir Abah. Zahra langsung menangkap sinyal kekecewaan halus di wajah ayahnya.
Ia tersenyum tipis, sembari merapikan selimut Abah, memastikan tubuh ayahnya hangat.
“Pokoknya Abah istirahat dulu. Jangan banyak bicara. Dan jangan memikirkan sesuatu yang nggak perlu di pikirkan disini. Zahra keluar sebentar."
Abah menatapnya, lalu mengangguk lemah.
Zahra berdiri. Sebelum keluar, ia menatap ayahnya sekali lagi. Sosok yang selama ini menjadi imam, pelindung, dan tempat bersandar untuk keluarganya kini terbaring tak berdaya di ranjang ruang perawatan intensif.
Begitu pintu ICU tertutup di belakangnya, Zahra menoleh lagi ke belakang.
Ya Allah, sembuhkan lah Abah. Panjangkan umurnya dalam kebaikan. Dan jika ada jalan yang Engkau pilih untuk hidupku, yakinkan aku hatiku pada keputusan yang tepat.
Air matanya jatuh tanpa suara, beraamaan dengan doa yang naik perlahan ke langit, membawa harapan yang tak pernah benar-benar padam.
🍂
🍂
🍂
Hai, aku Picis. Senang sekali bisa ketemu kalian lagi. Walaupun kadang aku tuh suka mikir untuk stop selamanya nulis novel. Tapi, aku bersyukur meskipun tinggal segelintir tapi kalian baik banget masih mau nunggu aku (terharu😭). Semoga nanti aku bisa memuaskan kalian dalam guratan penaku ini sampai selesai ya. Oh ya untuk yang di sebelah. Ntar2an aku lanjutin, soalnya ada perasaan nyerah di sana. 😅 tapi akan tetap ku tamatin kok meskipun agak terseok2.
Btw, terima kasih sekali lagi untuk kalian yang masih sudi mampir untuk membacanya. Dan, selama menunaikan ibadah puasa ya untuk kalian. Semoga tahun ini keberkahan selalu tercurahkan untuk kita semua, juga di beri kesehatan kita bisa menjalankan ibadah puasa tanpa kurang suatu apapun, Aamiin... Selamat membaca.🥰🥰