Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
Ep. 33- Bayang-Bayang Warisan dan Muslihat
Beberapa hari kemudian...
Di balik dinding-dinding kaca sebuah kafe eksklusif bernuansa remang di pinggiran kota, Ibu Hasnah dan Rina duduk berhadapan dengan seorang pria berjas abu-abu yang memegang berkas tebal.
Suasana di meja itu dipenuhi oleh aroma kopi pekat dan bisikan rencana yang sarat ambisi.
"Bagaimana, Pak Pengacara? Apakah dokumen kepemilikan aset atas nama Rendra itu benar-benar valid?" tanya Ibu Hasnah dengan mata yang berbinar lapar. Jemarinya yang dipenuhi cincin emas meremas ujung taplak meja.
Pria berjas itu mengangguk pelan seraya membetulkan kacamata mulusnya. "Sangat valid, Bu Hasnah. Almarhum Pak Rendra sebelum meninggal satu tahun lalu telah mentransfer sebagian besar dividen perusahaan, satu unit perumahan di Asri perdana Jakarta Pusat, serta dana deposito berjangka atas nama putri kandungnya... Aura."
Rina, adik almarhumah Ayu, menahan napas dan terperanjat. "Nilainya... berapa totalnya, Pak?"
"Jika ditotal secara keseluruhan, aset dan deposito yang diamanatkan atas nama Aura mencapai belasan miliar rupiah," terang pengacara itu. "Namun, karena Aura masih balita di bawah umur, seluruh akses finansial dan penguasaan aset tersebut berada penuh di bawah pengawasan wali sah yang memegang hak asuh atas anak itu. Dan saat ini, secara faktual dan administratif, status pengasuhan itu dipegang oleh Kirana."
BANG!
Ibu Hasnah mengepalkan tangannya di atas meja. Raut wajah tua itu berubah makin keruh dan ketus.
Sebenarnya, Kirana memang tidak sepenuhnya salah jika menuduh keluarga Ayu acuh tak acuh selama ini.
Dulu, pernikahan siri antara Rendra dan Ayu memang sama sekali tidak disetujui oleh keluarga besar Ayu. Bagi Ibu Hasnah dan kerabatnya, keputusan Ayu yang bersedia menjadi istri siri Rendra adalah sebuah tamparan keras dan aib besar bagi martabat keluarga.
Oleh karena itu, saat Ayu nekat menikah, keluarga besarnya memutuskan hubungan secara sepihak dan menganggap Ayu bukan lagi bagian dari keluarga mereka. Bahkan ketika Aura lahir ke dunia, tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengulurkan tangan atau sekadar menjenguk. Mereka bersikap seakan-akan balita itu tidak pernah ada.
Namun, di balik sikap acuh dan dingin itu, Ibu Hasnah dan Rina tetap memantau perkembangan Rendra dan Ayu dari kejauhan melalui jaringan kenalan dan orang suruhan.
Hingga beberapa bulan lalu, mata-mata mereka memberi kabar mengejutkan, Ayu telah meninggal, dan Rendra meninggalkan warisan dan aset senilai belasan miliar khusus atas nama Aura!
Seketika itu juga, rasa benci dan gengsi keluarga besar Ayu menguap digantikan oleh keserakahan yang meluap-luap.
Mereka mendadak menyusun rencana matang untuk merebut Aura dari tangan Kirana, bukan karena rasa kasih sayang seorang nenek pada cucunya, melainkan murni hanya karena ingin menguasai dan menikmati harta warisan bernilai fantastis itu!
"Belasan miliar..." bisik Rina dengan senyum licik yang makin melebar. "Ibu... kita tidak boleh membiarkan Kirana, wanita sombong itu, menguasai uang sebanyak itu! Uang itu hak darah daging Mbak Ayu!"
"Pasti, Rina!" sahut Ibu Hasnah, matanya memancarkan ketamakan yang mengerikan. "Gunakan celah kasus patah tangan anak itu kemarin! Buat opini publik dan pengadilan percaya bahwa Kirana adalah ibu tiri yang kejam dan tidak layak menjadi wali! Kita harus rebut Aura dan harta itu sampai tidak bersisa!"
Sementara itu, di kediaman Kirana, malam mulai larut . Di dalam ruang kerja lantai dua, Kirana duduk di balik meja kayunya seraya menatap layar laptop. Di sampingnya berdiri Pengacara Wijaya, pengacara kepercayaan keluarga Kirana yang telah mendampinginya jika dalam sebuah masalah.
"Jadi, tuduhan yang dialamatkan keluarga almarhumah Ayu itu murni mengincar aspek hak asuh, Bu Kirana," ujar Pengacara Wijaya seraya menyerahkan salinan surat gertakan hukum yang dikirimkan oleh pihak Ibu Hasnah sore tadi.
Kirana menyandarkan punggungnya di kursi, dan membolak-balik lembaran kertas itu dengan senyuman dingin yang terukir di bibirnya.
"Mereka pikir saya bodoh, Pak Wijaya," tutur Kirana. "Tiga tahun anak ini dibiarkan telantar. Saat mas Rendra dan Ayu meninggal, mana ada keluarga besar Ayu yang datang? Tidak ada sepeser pun uang mereka yang mengalir untuk membeli popok Aura."
"Betul, Bu Kirana. Secara legalitas emosional dan rekam jejak finansial, posisi Anda sangat kuat," pangkas Pengacara Wijaya. "Namun, yang perlu kita waspadai adalah status Anda secara de jure. Anda adalah istri pertama dari ayah si anak, bukan ibu kandung secara biologis. Pihak lawan pasti akan menyerang titik lemah ini, ditambah kasus insiden penganiayaan oleh mantan ART Anda beberapa bulan lalu."
Kirana mengepalkan jarinya di atas meja. Binar matanya menyala tajam bagaikan baja yang disepuh api.
"Mereka tidak akan bisa menyentuh Aura," tegas Kirana penuh penekanan. "Saya tidak merawat anak ini hanya untuk diserahkan pada lintah darat yang menyamar sebagai keluarga kandung. Persiapkan semua bukti penelantaran yang pernah dilakukan keluarga Ayu di masa lalu. Kita patahkan perlawanan mereka di Pengadilan Agama."
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗