NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua dokter

Kesunyian masih meliputi kedua pemuda beranjak dewasa di sebuah apartemen minimalis yang cukup rapi.

Salah satu nya bernama Ivan memakai kaos putih dengan sedikit bercak darah di bagian kanan bawah dan celana selutut nya, masih setia memusatkan pandangan matanya pada atap-atap apartemen yang dia beli dengan hasil keringatnya sendiri semasa kuliah dulu. Pandangan matanya terlihat kosong menerawang pada satu fakta yang membuatnya menyesal beberapa hari ini. Fakta bahwa dirinya telah menjadi dokter kejam yang tidak ber peri kemanusiaan. Dan pemuda yang lainnya bernama Hendry memakai kaos hitam dengan celana selutut nya, setelan khas yang selalu dia gunakan kala tertidur. Matanya pun sama menerawang dengan pandangan kosong ke arah atap langit-langit apartemen ini. Dia merasa bingung, dia merasa kesal, dia merasa marah pada sahabatnya ini. Seseorang yang duduk bersebelahan dengan nya sekarang. Seseorang yang telah menjadi Sahabat nya hampir enam tahun ini. Sahabat yang dia temukan di masa ospek awal dirinya memasuki dunia perkuliahan.

"Apa rencana Lo?" Hendry mencoba membuka suara memecah kesunyian ini.

"Gue mau ikutin maunya Adit. Gue udah usahakan membatalkan semua nya, gue rela di depak dari rumah sakit Mahardhika dan gue pun siap jika harus mengganti semua hutang almarhum orang tua gue yang udah mereka lunasi. Tapi Adit yang mau, dia bahkan ngancam mau melanjutkan uji coba ini dengan dokter lainnya. Gue yakin nggak akan ada dokter yang mau, dan kalaupun dia menemukan dokter yang mau. Bisa dipastikan dokter tersebut tidak akan memanusiakan nya. Gue nggak mau itu terjadi. Jadi, gue memutuskan akan mengikuti apapun mau nya Adit sekarang." Ivan mencoba memberi penjelasan detail pada sahabat nya ini. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman lagi.

"Lo harus lengkapi semua alat medis dan obat-obatan ke sini Van. Jantung Adit sepertinya sudah mulai kena dampak obat ini. Gue khawatir." Hendry kembali bersuara, menyadari bahwa tidak ada pilihan yang lebih baik untuk sahabat nya ini. Opsi yang sudah dia pilih merupakan pilihan terbaik saat ini.

"Gue akan ikut mengontrol Adit, Lo fokus pemulihan dulu." Hendry melanjutkan dengan tekad bulatnya. Ya, dia memilih jalan ini. Dia akan ikut bertanggungjawab sekarang.

***

Dengan gerakan pelan aku mencoba bangun dan mendudukkan diriku. Perut mualku mulai memaksa untuk segera dikeluarkan isinya. Aku tidak benar-benar tidur dari tadi. Cukup lama aku memejamkan mata ini mencoba untuk tidur, namun nihil. Gerayang rasa mual dan tidak nyaman nya tubuhku membuatku sulit untuk benar-benar tertidur.

Kuturunkan perlahan telapak kaki ku menyentuh lantai marmer di apartemen ini. Rasanya dingin, dan rasa dingin itu cukup membuat tubuhku tiba-tiba bergidik menggigil. Tidak ada sandal disini, aku pun memutuskan tetap melanjutkan langkah untuk menuju toilet di apartemen ini meski rasa dingin mulai menguasai pertahanan kaki ku yang tidak beralas. Pintu kamar yang terbuka menjadikanku leluasa untuk bergerak keluar tanpa bersusah payah membuka nya.

"Adit?! Mau kemana?" Satu suara yang sangat ku kenal membuatku menghentikan langkah kaki ini.

"Ke toilet kak. Mual." Tanpa menoleh aku menjawab dan melanjutkan langkah pelan ku kembali. Ingin rasanya berlari tapi aku merasa seluruh badanku melemah dan rasanya sangat tidak nyaman, seperti merasakan sakit yang bukan rasa sakit biasanya. Intensitasnya lebih rendah dari rasa sakit namun menyeluruh ke hampir seluruh anggota tubuhku.

"Sini om anter." Kurasakan pegangan lembut pada punggungku berusaha menopang jalanku yang tertatih. Om Hendry pemilih tangan itu, menjajari langkahku dan tangan kirinya merangkul erat lengan tangan kiri ku.

"Thanks om."

Kami kembali melanjutkan langkah, jarak toilet yang hanya beberapa meter terasa lama kutempuh. Hingga akhirnya kami sampai di depan pintu toilet, om Hendry membukakan pintu untukku dan membiarkan nya terbuka. Aku menunggunya keluar, namun dia malah menarikku kedalam dengan dirinya yang seakan siap membantuku menuntaskan seluruh gejolak mual ini.

Bukan kah akan sangat menjijikkan?

"Om diluar saja, saya sendiri bisa om."

Tanpa aba -aba tiba-tiba gejolak mual yang kurasakan langsung menyerang dengan serangan bertubinya. Tanpa dapat kutahan aku memuntahkan semuanya, bahkan aku tidak sempat bersiap agar muntahan ku tepat sampai di kloset tapi malah justru mengotori lantai dan dinding toilet ini.

Om Hendry yang sepertinya sebagian kakinya ikut terkena pun, tidak lantas keluar dan membersihkan diri. Dia langsung memijat tengkukku mencoba membuatku relax dan bisa memuntahkan semuanya untuk menghilangkan gejolak mual ini.

Sampai akhirnya tidak ada lagi yang bisa aku keluarkan, aku masih membungkuk mencoba menuntaskan rasa mual ini meskipun tak ada yang kumuntahkan lagi.

Aku mengakhiri semua aktifitas ini dengan nafas tersengal.

"Kamu langsung cuci muka aja Dit, om yang bersihin disini." Om Hendry membantu mengusap wajahku dengan air di tangannya. Aku sedikit menghindar, aku merasa aneh kenapa aku harus diperlakukan seperti orang sakit?

"Adit aja om, dan sorry banget,, jadi kotor celana om Hendry."

"Tenang aja, bisa dibersihin. Ini handuk kecil kamu bawa aja, pake buat ngelap muka kamu. Ayo, langsung cuci tangan kaki dan muka trus langsung gabung bareng Ivan di depan." Aku menurut kali ini, sedikit lega karena bisa langsung beristirahat setelah ini. Tapi ada rasa malu dan nggak enak juga jika membiarkan om Hendry membersihkan semua kekacauan yang telah ku perbuat.

Aku melangkah pelan meninggalkan toilet yang pintunya langsung ditutup oleh om Hendry. Kuhampiri kak Ivan yang telah terpejam dengan posisi terbaring nya pada karpet tebal di bawah sofa panjang Yanga ada di ruang tamu apartemen ini. Aku mengambil bantal sofa dan mengikutinya berbaring di atas karpet ini. Kuikuti memejamkan mata juga, semoga kali ini bisa tidur nyenyak.

"Adit,, ini di minum dulu." Suara om Hendry membuatku membuka mata kembali dan duduk bersandar pada kaki sofa dibelakangku.

Kuambil satu Tumbler stainless yang disodorkan om Hendry.

"Hati-hati masih agak panas." Aku menyesap perlahan, rasa hangat menghampiri seluruh rongga dalam ku. Aroma rempah sangat terasa. Sangat menenangkan rasanya, tidak terlalu manis namun sangat menghangatkan.

"Makasih om, enak." Aku tersenyum tulus sangat berterima kasih padanya.

"Santai aja, sekarang gimana? Ada yang dirasa nggak enak?" Om Hendry merebahkan diri disampingku, celananya sudah berganti. Entah kapan dia menggantinya, aku merasa belum terlalu lama terpejam tadi.

"Aman om, tapi mungkin,,, aku butuh sandal buat alas. Tadi rasanya dingin banget Napak di lantai." Aku mencoba terbuka sekarang. Aku percayakan semua kondisi tubuhku pada kedua dokter muda disampingku ini. Satu yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi usus buntu dan satu lagi yang merupakan om dari sahabatku sendiri. Aku merasa harus melaporkan semuanya pada kedua dokter muda ini.

"Siap, nanti om ambil di tempat om ada. Apa lagi kira-kira yang kamu butuhkan?"

"Untuk sekarang itu dulu om." Om Hendry mengangguk dan dengan gerakan tangan nya memintaku untuk merebahkan tubuhku lagi.

"Kita tidur dulu siang ini, lumayan ada 2 jam lgi menuju jam satu. Kita sholat Dzuhur jam satu aja nanti. Biar Ivan puas dulu tidurnya. Om juga ngantuk berat semalem banyak pasien sampai menjelang shubuh."

Aku mengangguk dan segera merebahkan diri diantara dua dokter muda ini.

Aku senang,

Aku lega,

Aku merasa sangat dilindungi sekarang.

Aku merasa di prioritaskan sekarang.

Terimakasih kak Ivan

Terimakasih om hendry

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!