Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : JALAN PENGUBAH NASIB
Kabut masih menggantung rendah, menyelimuti semak belukar dan jalan tanah yang licin diterpa embun pagi. Hening menyelimuti lembah, hanya terdengar suara gemericik air sungai dan gesekan halus daun yang ditiup angin sepoi-sepoi. Di balik rimbunan semak duri dan batang pisang rimbun, puluhan pasang mata menatap tajam ke arah jalan setapak yang terlihat samar di kejauhan.
Bayu meremas gagang kampak di pinggangnya, napasnya ia atur perlahan agar tak terdengar. Di sebelahnya Karta berjongkok rapat, ujung bambu runcing dipegangnya erat. Di posisi lain, Jaka Kelitik memastikan kembali tali jerat yang dipasangnya, sementara Dul Kalong mengintai dari dahan pohon yang menjulang di atas jalan itu.
"Sudah siap semuanya?" bisik Bayu, suaranya hampir tak terdengar.
Karta mengangguk pelan. "Semua sudah pada tempatnya. Tinggal tunggu mereka datang."
"Jangan terburu-buru," ingat Bayu kembali, menatap satu per satu wajah kawan-kawannya yang ada di jangkauan pandangan.
"Tahan dulu sampai mereka tepat di tengah jangkauan kita. Ingat pesan Kapten Wirayuda: hentikan, bukan membunuh tanpa alasan."
"Aku tahu, Yu. Tapi kalau mereka berani menembak duluan, apa kita diam saja?" tanya Embek Gombloh pelan, tangannya besar mengepal kuat sebilah kayu keras.
"Kalau begitu kita bertahan sekuat tenaga. Tapi selagi masih bisa bicara dan mencegah pertumpahan darah, kita usahakan jalan itu duluan," jawab Bayu tegas.
Dari kejauhan terdengar samar suara langkah kaki berbaris. Dul Kalong memberi isyarat tangan dari atas: lima orang, membawa senapan, berjalan santai tak merasa terancam.
Sersan Pieter berjalan paling depan, matanya menyapu sekeliling jalan setapak yang sepi. Di belakangnya empat prajurit berjalan beriringan, senapan Mannlicher tersandar di bahu. Mereka lewat berkali-kali di jalur ini, dan tak pernah ada hal yang mencurigakan.
"Lopen maar door, niets aan de hand hier. Die inlanders zijn allemaal lafaards," ucap Pieter santai sambil meludah ke samping.
(Terus jalan saja, tak ada apa-apa di sini. Penduduk pribumi itu semuanya penakut)
"Lama sekali perjalanan hari ini," gumam Hendrik sambil membetulkan ikat pinggangnya. "Apakah benar ada laporan pencuri di sekitar sini?"
"Ja, Haji Lontang meldde dat een groep jonge mannen het bos in ging. Onzin natuurlijk. Ze zijn gewoon bang voor de verplichte arbeid," jawab Pieter menyepelekan.
(Iya, Haji Lontang melapor sekelompok pemuda masuk hutan. Tentu saja itu omong kosong. Mereka cuma takut disuruh kerja paksa)
"En als het wel klopt?" tanya Karel ragu.
(Kalau beneran ada gimana?)
"Dan pakken we ze op! Geen zorgen, wij zijn de baas hier," potong Pieter tegas.
(Ya kita tangkap saja! Tenang saja, di sini kitalah penguasanya)
Mereka makin mendekat, tepat melewati titik tempat jerat dipasang. Saat Sersan Pieter melangkah satu langkah lagi, tiba-tiba kakinya tersangkut erat. Tali akar yang disembunyikan di bawah dedaunan kering terangkat cepat, membuat kakinya terangkat ke atas, tubuhnya tergantung terbalik seketika.
"Verdomme! Wat is dit?! Laat me los!" teriaknya kaget.
(Sial! Apa ini?! Lepaskan aku!)
Sebelum keempat temannya sempat bereaksi, Bayu sudah melompat keluar dari persembunyian diikuti yang lain. Karta langsung memukul ujung senapan prajurit terdekat sampai terlepas dari tangannya. Sukria melompat ke samping lain, menahan lengan prajurit kedua sebelum ia sempat menarik pelatuk.
"Jangan bergerak! Jangan berteriak!" bentak Bayu, kampak diangkat sejajar mata mereka. "Kami tak bermaksud menyakiti, tapi kalau kalian melawan, kami terpaksa!"
Hendrik dan Karel membeku di tempat, tangan perlahan terangkat ke atas. Hanya Jacob yang sempat meraba pinggang hendak menarik senjata samping, namun Dul Kalong sudah melompat turun dari pohon, memukul pergelangan tangannya sampai senjatanya jatuh bergemerincing ke tanah.
"Lebih baik turunkan tanganmu. Nyawamu lebih berharga daripada perintah komandanmu," ucap Dul Kalong dingin.
Jaka Kelitik segera memotong tali jerat, Sersan Pieter jatuh terguling ke tanah dengan kasar. Ia berusaha bangun, namun Embek Gombloh sudah berdiri tegak di hadapannya, tubuhnya yang besar menutupi segala jalan pelarian.
"Hei! Siapa... siapa kalian? Berani sekali menghadang pasukan Kerajaan Belanda!" suaranya masih terbata, logat asingnya sangat kental. "Ini... ini sangat salah besar! Kalian semua akan dihukum berat!"
"Kami adalah penduduk tempat ini. Yang kalian sewenang-wenangi selama ini," jawab Bayu mendekat perlahan. "Kami hanya ingin tahu, apa tugas kalian lewat jalan sunyi ini?"
Pieter membuang muka kasar. "Saya... saya tidak mau bicara sama... sama orang pemberontak macam kalian!"
Karta maju selangkah, ujung bambu runcingnya mendekat tepat ke arah dada Sersan Pieter.
"Pikirkan baik-baik. Nyawa kalian sekarang ada di tangan kami. Kalau kalian mau selamat, ceritakan saja apa yang kami tanyakan. Tak ada yang akan menyakiti."
Sersan Pieter melihat sekeliling. Mereka dikepung sepenuhnya. Tak ada jalan kabur, tak ada yang bisa ditolong. Ia menghela napas berat, sadar posisinya sudah tak berdaya.
"Baik... baiklah. Saya bilang," ucapnya pelan, sesekali terhenti mencari kata yang pas.
"Kami... kami keliling jalan untuk pastikan aman saja. Besok... akan ada rombongan datang untuk ambil semua hasil panen dari desa kalian."
"Berapa banyak tentara yang datang?" tanya Bayu cepat.
"Dua puluh... dua puluh orang. Dipimpin Kapten De Vries. Mereka akan bawa semuanya pergi. Tidak ada satu butir pun yang ditinggal."
Bayu mengangguk paham. Ia menoleh ke arah Sukria yang sedang memeriksa isi senapan yang dirampas.
"Ambil semua perlengkapan mereka, bawa juga peta yang terselip di saku sersan ini. Kita harus pergi sekarang, takut ada yang menyusul."
"Lalu... lalu kami?" tanya Karel dari belakang, suaranya gemetar.
"Bolehkah kami... kami pergi sekarang?"
"Kalian boleh pergi. Tapi ingat pesanku," kata Bayu menatap tajam satu per satu.
"Katakan pada Mayor Van Der Hock: tanah ini dan isinya bukan miliknya untuk diambil sesuka hati. Kalau mereka datang lagi membawa senjata dan kekerasan, kali ini kami takkan selembut ini."
Setelah semua senjata, peta, dan surat perintah diambil, Bayu memberi isyarat memberi jalan. Sersan Pieter dan keempat prajuritnya segera berlari terbirit-birit menjauh, tak berani menoleh ke belakang sedikit pun. Terdengar samar suara mereka saling berteriak panik: "Snel weg! Vertel de kapitein onmiddellijk!"
(Cepat pergi! Segera kabari kapten!)
Kembali ke balik pepohonan yang lebih rapat, mereka duduk melingkar menatap benda-benda yang kini ada di hadapan mereka. Dua buah senapan Mannlicher M1895, sebilah belati kecil, dompet berisi uang koin asing, dan selembar peta wilayah yang ditandai banyak coretan tinta merah.
"Benar juga kata mereka, di sini lingkaran merah menandakan tempat pengumpulan padi," tunjuk Sukria sambil jarinya bergerak perlahan di atas kertas itu.
"Dan jalur masuk mereka ditandai jelas."
"Berarti kita sudah tahu rencana mereka. Tapi masalahnya, dua senapan ini tak cukup melawan dua puluh orang bersenjata lengkap," ucap Karta sambil memegangi senapan itu segan-segan. Rasanya berat, asing di tangannya yang terbiasa memegang cangkul.
"Justru ini awalnya, Karta," sahut Bayu.
"Selama ini kita cuma menduga-duga. Sekarang kita tahu kapan mereka datang, lewat mana, dan berapa kekuatannya. Itu jauh lebih berharga daripada sepuluh senjata sekalipun."
Pak Somad yang ikut menyertai mereka hari itu memungut sebutir peluru yang terjatuh, diperiksanya dengan teliti. "Besi ini ditempa kuat. Kalau bisa dikuasai dengan benar, satu peluru saja cukup melumpuhkan musuh dari jauh. Tapi yang paling sulit adalah cara merawat dan mengisinya kembali."
"Kapten Wirayuda pasti lebih paham soal ini. Kita harus sampaikan kabar ini padanya secepatnya," usul Dul Kalong.
Bayu bangkit berdiri, melipat peta itu dan menyimpannya rapi di bagian paling dalam ikat kepalanya. Ia menatap teman-temannya satu per satu, wajah-wajah yang semalam masih penuh ragu, kini tampak mulai tegar dan berani.
"Hari ini kita buktikan satu hal: mereka bukan raja di mana-mana. Mereka juga bisa terkejut, mereka juga bisa takut, dan mereka juga bisa kalah kalau kita bersatu," ucap Bayu mantap.
"Tapi ini baru permulaan. Mulai sekarang, mata kita harus lebih tajam, telinga kita lebih peka, dan langkah kita harus senyap mungkin."
"Kalau mereka tahu kita yang melakukan ini, mereka pasti akan datang membakar seluruh lembah ini," kata Embek Gombloh ragu.
"Biarkan mereka datang. Selama kita tahu jalan masuk dan keluar, selama kita tahu di mana jebakan bisa dipasang, merekalah yang akan celaka," jawab Bayu tegas.
"Mulai hari ini, tak ada lagi yang namanya berdiam diri menunggu ditimpa musibah. Kita yang akan menentukan jalan cerita kita sendiri."
Mereka pun bergerak perlahan menjauh, menyusuri jalan tersembunyi kembali ke tempat persembunyian utama. Di sela dedaunan yang bergoyang diterpa angin pagi, tinggal jejak langkah patroli yang kini sudah tak lagi sama. Mereka bukan lagi sekadar rakyat kecil yang pasrah ditindas. Hari ini, untuk pertama kalinya, merekalah yang mengatur langkah. Dan langkah pertama itu dimulai tepat di jalan setapak yang dulu selalu dilalui dengan gemetar ketakutan.
Saat matahari makin meninggi menyinari bukit tempat mereka berlindung, kabar penyergapan itu pun disebarkan perlahan ke telinga setiap warga yang bisa dipercaya. Tak ada yang bersorak riuh, namun di setiap helaan napas dan tatapan mata, terpancar satu hal yang selama ini hilang: harapan yang nyata, yang tumbuh dari keberanian yang akhirnya berani dipancangkan.
📝 PESAN PENULIS
Bagi yang fasih bahasa Kompeni, mohon koreksi jika ada yang keliru. Semua terjemahan ini murni dari Google Translate 🙏