NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Pernikahan Kilat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.

Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.

Akankah dendamnya terbalaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Nyonya Andrea's melambaikan tangan sambil tersenyum manis kepada Ruby. "Sayang... duduk di sini sama Mama," panggilnya lembut.

Tanpa curiga, Ruby langsung duduk di tengah, di antara ibu dan ayahnya.

Di pojokan, Aquilla menatap pemandangan itu sambil terkekeh garing. "Papa lagi prank aku, kan? Cuma bercanda, kan?" bisiknya bergetar, berharap Daniel cuma main-main.

Namun, Daniel malah menatapnya dingin. "Apa saya kelihatan lagi bercanda, Aquilla?"

Aquilla menelan ludah, menahan perih. "Terus... kenapa kalian manjakan aku selama ini kalau aku bukan anak kandung?"

"Kapan kami pernah manjakan kamu di rumah?" potong Daniel datar. "Kasih sayang kemarin itu cuma akting di depan orang-orang. Kamu pasti tahu alasannya."

Hati Aquilla rasanya seperti dihantam batu besar. Ia menoleh ke ibunya, tapi wanita itu cuma diam sambil mengelus rambut Ruby. Tak ada pembelaan sama sekali.

Daniel kembali bicara tanpa emosi, "Kamu cuma anak formalitas. Saya sengaja pakai kamu supaya musuh-musuh di luar sana terkecoh dan mengira kamu anak kesayangan. Jadi kalau mereka mau balas dendam, bakal ke kamu. Anak kesayangan saya yang asli itu Ruby."

Dada Aquilla makin sesak. Jadi selama ini dia cuma tameng hidup?

Melinda menimpali santai, "Kamu itu cuma anak panti asuhan yang kami adopsi buat umpan, biar kami bisa ambil Ruby lagi. Jangan lupa posisi kamu."

Tubuh Aquilla oleng, tapi tangan Altair dengan cepat menahan bahunya.

Aquilla menepis tangan itu kasar. Matanya menyala menatap Daniel, Melinda, lalu beralih ke Ruby yang cuma tersenyum tipis. "Jadi begini cara kalian balas perlakuan aku selama ini?"

"Mau berharap apa lagi?" balas Daniel cuek. "Mau minta warisan? Nggak usah mimpi. Kamu bukan darah daging kami. Harusnya kamu bersyukur bisa hidup mewah pakai uang saya. Baju mahal, tas branded, sekolah, semuanya dari kantong saya. Nggak usah protes."

Pandangan Daniel beralih ke Altair. "Jadi gimana, Altair? Kamu masih mau nikah sama Aquilla yang ternyata cuma anak angkat?"

Ruangan mendadak hening. Semua menatap Altair.

Altair terdiam. Di kehidupan sebelumnya, setelah fakta ini terbongkar, keluarga ini langsung mendepak Aquilla. Kenapa sekarang alurnya mendadak dipercepat?

Di sisi lain, Aquilla cuma bisa menangis diam-diam. Dia sudah tak peduli lagi apa jawaban Altair.

"Aku tetap nikahi dia," jawab Altair tenang.

Daniel dan Ruby kaget. Daniel tak menyangka Altair tak peduli, sementara Ruby kecewa berat karena batal melihat Aquilla hancur sendirian.

Aquilla yang sedang menangis langsung tertegun. Ada rasa heran, tapi sedikit lega karena ternyata masih ada yang memilihnya, entah atas alasan apa.

Daniel menghela napas. "Ya sudah kalau itu mau kamu. Besok kalian menikah, terus langsung angkat kaki dari sini. Kamu juga, Aquilla."

"Mulai sekarang kamu bukan anak saya lagi," lanjut Daniel tanpa beban. "Fasilitas ditarik semua, kecuali biaya kuliah sampai kamu lulus. Hitung-hitung uang capek karena sudah pura-pura jadi anak saya."

Aquilla makin lemas.

"Kalau kamu diincar musuh saya di luar sana, jangan cari saya," tambah Daniel dingin.

"Papa..." bisik Aquilla pasrah.

"Jangan panggil Papa! Kamu nggak pantas panggil begitu. Panggil saya Mr. Daniel, istri saya Nyonya, dan Ruby Nona Muda."

"Ini nggak adil!" jerit Aquilla, meski suaranya keburu habis.

Daniel melotot. "Nggak adil di mana? Kamu sudah menikmati posisi putriku bertahun-tahun! Sadar diri, kamu cuma anak pancingan." Daniel menatap Altair lagi. "Kamu yakin mau sama dia? Sifatnya manja, keras kepala, dan suka bikin pusing."

"Saya yakin, Mr. Saya tetap mau sama Aquilla," sahut Altair santai.

Aquilla bingung. Biasanya Altair benci setengah mati padanya, tapi kenapa sekarang malah membela? Saat Altair meliriknya sambil tersenyum tipis, Aquilla tahu ada maksud lain di balik itu.

"Anggap saja ini balasan karena kamu pernah nolong aku dulu, Aquilla," batin Altair. "Kamu nggak bakal selamat kalau bertahan di rumah ini."

"Oke, fix! Besok kalian akad. Aquilla, kamu cuma boleh bawa baju seadanya. Semua barang di rumah ini punya saya," tegas Daniel. "Dan buat kamu Altair, meski nggak tinggal di sini, kamu tetap kerja jadi eksekutor keluarga. Gaji tetap sama."

"Baik, Mr," angguk Altair.

Aquilla emosi melihat kepasrahan Altair. "Loe jangan asal setuju aja dong!" teriaknya.

Altair cuma cuek. Kesal setengah mati, Aquilla melirik Ruby yang masih santai dielus ibunya. Rasanya darah Aquilla langsung mendidih.

"Gara-gara loe ya, sialan!" teriak Aquilla mau menerjang Ruby.

Tapi Daniel keburu menahan tangannya dengan kuat. "Jangan berani-berani sentuh putriku!" bentaknya dingin.

Hati Aquilla makin hancur ditolak terang-terangan begitu.

"Bawa dia keluar sekarang," perintah Daniel pada Altair.

Altair mengangguk, lalu merangkul paksa pinggang Aquilla.

"Lepasin gue! Tangan gue gatal mau jambak cewek sok polos itu!" amuk Aquilla sambil berontak.

Tanpa banyak bicara, Altair langsung membopong Aquilla keluar ruangan, mengabaikan tatapan heran para pelayan di sepanjang koridor. Dia membawa gadis itu masuk kamar lalu mengunci pintunya dari dalam.

Setibanya di dalam, Altair langsung melempar Aquilla ke kasur.

"Loe apa-apaan sih? Harusnya loe tolak pernikahan itu, bajingan!" teriak Aquilla dengan muka merah padam.

"Percuma loe ngamuk, La. Mereka nggak bakal dengerin loe lagi," kata Altair datar. "Kita berdua ini sama-sama dibuang. Gue eksekutor buangan, loe anak pancingan. Nggak usah ngemis-ngemis, bukan gaya loe banget."

Suara Aquilla mendadak pelan, "Terus kenapa loe terima, Al? Kalau loe menolak, gue mungkin masih bisa tinggal di sini..."

Altair menghela napas panjang. "Loe masih polos ya. Mau gue menolak atau nggak, loe bakal tetap diusir. Memang sudah takdir loe begini."

Altair melangkah ke pintu kamar, lalu melirik sekilas. "Bawa barang seadanya aja. Rumah gue kecil, nggak muat buat nampung barang-barang nggak penting loe."

Pintu ditutup rapat, menyisakan tangisan histeris Aquilla di dalam kamar.

Altair bersandar sejenak di balik pintu, memejamkan mata mendengarkan tangisan itu, lalu berbisik pelan, "Mungkin ini memang jalan kita, Illa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!