Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gas beracun
Setelah kepanikan akibat ledakan mobil mereda, sirene mobil ambulans terdengar meraung-raung mendekati lokasi kejadian. Petugas medis dengan sigap langsung menaikkan sang anak gadis yang masih pingsan ke atas tandu, disusul oleh ibunya yang terus menangis cemas. Namun, sebelum pintu ambulans ditutup, wanita paruh baya itu dengan kuat mencengkeram kemeja Bima, memaksa pria itu untuk ikut naik dan diperiksa juga di rumah sakit. Bima yang merasa tubuhnya masih baik-baik saja hanya bisa pasrah menuruti kemauan keras sang ibu demi menenangkannya.
Sesampainya di rumah sakit, suasana ruang UGD mendadak berubah panik karena kedatangan ambulans tersebut. Para perawat dan dokter jaga langsung berlarian membawa sang anak gadis masuk ke dalam ruang penanganan intensif, diikuti oleh ibunya yang terus mengawal dari samping. Bima pun melangkah pelan mengekor di belakang mereka, berniat memastikan kondisi kedua korban sudah benar-benar aman sebelum dia pamit pulang.
Namun, baru beberapa langkah menyusuri koridor rumah sakit yang dingin, pandangan mata Bima mendadak kabur. Kepalanya terasa berputar hebat, dan dadanya terasa sangat sesak bagai dihimpit batu besar. Tubuh atletisnya mendadak lemas tak bertenaga.
Bruk!
Bima pun akhirnya tumbang dan pingsan di atas lantai koridor. Rupanya, daya tahan fisik sekuat apa pun tetap ada batasnya. Tanpa disadari, Bima telah menghirup terlalu banyak asap beracun dan gas kimia berbahaya dari kap mesin yang terbakar saat dia bersusah payah mendobrak pintu mobil untuk menyelamatkan gadis itu tadi. Melihat sang penyelamat tiba-tiba ambruk, para perawat langsung berteriak panik dan bergegas membawa Bima ke ranjang pasien. Sang mantan prajurit pasukan khusus itu akhirnya resmi ikut dirawat di rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Satu jam berlalu dalam keheningan ruang perawatan. Kelopak mata Bima perlahan bergerak, dan dia mulai membuka matanya secara penuh. Pandangannya menangkap langit-langit putih bersih dengan aroma antiseptik yang menyengat hidung. Dia merasa sedikit bingung karena mendapati dirinya terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit dengan selang oksigen tipis yang terpasang di hidungnya.
Namun, hal yang membuatnya makin bingung adalah sosok wanita paruh baya berusia 40-an tahun yang tadi dia selamatkan, kini sedang duduk setia di kursi samping ranjangnya. Begitu melihat Bima siuman, wajah cemas wanita itu langsung berubah menjadi binar kebahagiaan.
"Syukurlah, Nak, kamu sudah sadar," ujar si ibu dengan suara yang bergetar menahan haru. "Dokter bilang kamu hanya keracunan asap ringan. Aku benar-benar sangat berterima kasih karena kamu sudah bertaruh nyawa menyelamatkan kami berdua tadi. Kami sekeluarga sudah berhutang nyawa padamu, Nak."
Bima hanya tersenyum tipis, lalu perlahan melepas selang oksigen di hidungnya karena merasa dadanya sudah kembali lapang. "Sudahlah, Bu. Tidak perlu berlebihan. Anggap saja hari ini ibu dan anak Ibu masih beruntung dilindungi Tuhan," jawab Bima dengan nada baritonnya yang tenang. Dia kemudian mencoba mendudukkan tubuhnya. "Dan maaf, Bu, sepertinya saya harus langsung pulang sekarang."
"Eh, di sini saja dulu, Nak. Biar tubuhmu dirawat sampai benar-benar pulih total oleh dokter," cegah si ibu dengan nada khawatir.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah sembuh kok. Fisik saya sudah biasa dengan hal seperti ini," tolak Bima halus sembari menurunkan kakinya dari ranjang.
Melihat keras kepalanya sang penyelamat, wanita itu akhirnya mengalah. "Baiklah kalau begitu, Nak," ujar si ibu. Dia kemudian meraih tas tangan mewahnya, mengambil sebuah kartu nama premium berukiran emas dari dalam sana, lalu menyodorkannya pada Bima. "Nak Bima, tolong coba kamu hubungi nomor yang ada di kartu nama ini sekarang. Biar kita bisa saling berkabar nanti."
Bima menerima kartu nama itu, lalu merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel miliknya. Begitu ponsel itu keluar, gerakan tangan si ibu mendadak terhenti dan matanya sedikit terbelalak kaget. Dia sangat syok karena pria gagah berpakaian kasual di depannya ini mengeluarkan sebuah ponsel jadul yang layarnya bahkan belum berwarna dan memiliki banyak tombol angka fisik. Sebuah pemandangan yang sangat kontras di era modern seperti ini, apalagi Bima adalah menantu konglomerat Utara, walau si ibu belum mengetahuinya.
Bima yang tidak memedulikan rasa heran si ibu langsung mengetikkan nomor yang tertera di kartu nama, lalu menekan tombol panggil. Detik berikutnya, suara dering telepon yang nyaring terdengar bergema dari dalam tas mewah sang ibu.
Bima langsung mematikan sambungannya. "Sudah masuk, Bu," kata Bima santai.
"Simpan nomorku baik-baik ya, Nak," ujar si ibu sembari mematikan dering ponselnya sendiri, tatapannya kini berubah menjadi penuh rasa kagum pada kesederhanaan Bima. "Kalau begitu, aku juga mau pamit dulu ke ruang sebelah. Aku mau memastikan sekali lagi bagaimana kondisi anak gadisku setelah ditangani dokter."
Bima mengangguk menghormati keputusan wanita itu, resmi mengakhiri pertemuan tak terduga mereka di rumah sakit tanpa tahu bahwa nomor telepon yang baru saja saling bertukar tersebut akan menjadi pembuka takdir baru lainnya di Kota Barat.