[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
(Diana Xylaria, 7 tahun) (sekolah asrama)
Mereka semakin menyudutkanku... Aku harus bagaimana? Aku sungguh tak sengaja menabraknya tadi...
"Beri dia pelajaran untukku, dia belum tahu siapa aku, dia belum tahu berapa harga bajuku."
"Ayo sini kau, beraninya kau ganggu Mia."
"Jangan! Akkh!!" Gadis itu menarik rambutku, itu sakit, air mataku keluar, kenapa tak ada yang datang? Dadaku sesak... Berat sekali... Napasku... Suaraku tak mau keluar... Mataku mulai tertutup, rasanya seperti tenggelam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hei! Diana!"
Deg. Apa itu barusan? Kenapa aku duduk? Di mana ini? Ruang guru? Apa aku tertolong? Siapa yang menolongku? Aku menatap sekitar. Tapi... Aneh kenapa semuanya—
"Diana! Kenapa kamu malah melamun! Ibu sedang bertanya padamu!"
Bertanya? Padaku? Wajahku bingung tapi kenapa ibu malah tampak kesal?
"Maaf Bu, Ibu tanya apa tadi?"
"Kenapa kamu memukul mereka sampai separah itu?"
Ibu menunjuk Mia dan temannya. Mereka terluka parah. Kenapa bisa? Bukannya tadi.... Tunggu, aku yang memukul mereka? Aku? Mana mungkin!
"Gak Bu itu bukan saya!"
"Baru saja kamu bilang iya, sekarang tidak. Mana yang harus Ibu percaya?"
"Tapi itu beneran bukan aku Bu! Aku aja gak ingat sama sekali!"
"Buktinya sudah jelas, jangan bantah lagi. Ibu tak mau tahu, minta maaf ke Mia dan temannya, lalu bersihkan toilet."
Aku berdiri, berjalan lunglai ke tempat Mia. Wajahnya tampak ketakutan, tangannya gemetaran. Hidung dan bibir mereka berdarah. Rambut mereka berantakan.
"Aku minta maaf," ucapku pelan. Mereka tak berani memandangku. Tapi sudahlah. Aku pun berjalan keluar ruang guru, menuju arah toilet, mulai membersihkan.
Besoknya, aku masuk kelas seperti biasa. Tapi semuanya berbeda, mereka yang dulunya teman kelasku, malah tak berani menatapku. Mereka menjauhi aku, seolah aku ini virus. Hingga hari-hari berikutnya, mau seberapa keras aku menjelaskan, seberapa giat aku berbuat baik, semua tetap jauhi aku. Aku kesepian. Sepanjang hari.
(Diana Xylaria, 14 tahun)
"Jadi dokter?" tanyaku sedikit khawatir. Hari ini aku bertemu seorang psikolog. Diatur oleh guruku.
"Setelah diamati, kamu punya lupa ingatan jangka pendek, ada beberapa hal yang baru saja kamu lakukan dan kamu bisa langsung lupa, apalagi jika itu hal yang gak ingin diingat."
"Jadi gitu Dok, baiklah, terima kasih..." Aku berdiri, beranjak ke kamar. Jadi, itu alasannya aku beberapa kali gak ingat pernah lakuin hal-hal buruk?
Benar juga, lagipula beberapa kali aku pernah memimpikannya, atau aku pikir aku pernah mimpi itu. Ternyata bukan masalah yang terlalu besar juga.
Aku pun naik ke atas kasur, menutupi tubuhku dengan selimut, mencari posisi paling nyaman. Memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.
\=\=\=\=\=\=
Di mana ini?
Kenapa semuanya gelap?
"Berhenti Damien! Kau sudah bunuh kakakmu sendiri! Dan kau masih ingin diriku? Mimpi saja kau!"
Suara siapa itu?
Cahaya perlahan kembali. Aku melihat sekitar. Rumah siapa ini? Siapa dua orang itu?
"Aku mohon Damien... Berhenti... Ah... Ah... Itu sakit..."
Wanita itu tampak kesakitan. Wajahnya berdarah. Siapa laki-laki berengsek itu? Dadaku sesak lagi... Apa semua ini?
"Lari Diana! Lari sejauh mungkin!"
Tidak... Tidak! Tidak... Tidak mungkin... Aku tak mau! Aku berlari sejauh mungkin... Kakiku sakit. Aku tak mampu lagi... Dadaku... Mataku meredup.
Arggh!!!!
Aku terduduk di kasurku. Peluh membasahi kepala dan tubuhku. Hujan membasahi jendelaku, dan guntur menggelegar di luar sana. Napasku sesak. Tanganku gemetar.
Apa itu barusan? Itu mimpi? Tunggu. Mimpi apa aku barusan? Aku ada di... Di mana ya? Apa yang aku lakukan? Kenapa ini? Semakin aku ingat, semakin kabur.
Aku menenangkan napasku. Tarik napas, hembuskan. Oke. Aku rasa itu cuma mimpi buruk. Lebih baik aku tidak mengingatnya lagi. Lebih baik aku lanjut tidur sekarang.
Aku kembali merapikan rambutku, berbaring. Menarik selimut, menutupi tubuhku dari udara dingin yang menusuk. Suara hujan di luar menjadi musik latar belakang. Mataku perlahan terpejam, dan aku mulai tertidur lagi.
\=\=\=
(Diana Xylaria, 16 tahun, sekolah asrama)
"Anak-anak, hari ini ada murid baru. Silakan masuk."
Wah. Akhirnya datang juga seseorang yang baru di sini. Menambah anggota kelas kami yang hanya berjumlah 10 orang. Aku sudah bosan dengan yang lain. Maksudku... Memang mereka tak ingin berkawan denganku, tapi memang membosankan juga.
"Etta, silakan duduk di belakang Diana, yang itu."
Murid baru itu berjalan pelan ke belakangku. Wajahnya tampak percaya diri. Dia tersenyum kepadaku. Tapi... Lebih mirip mengejek. Apa karena pakaianku yang sedikit kotor ini?
"Baiklah, mari kita mulai pelajaran hari ini."
Aku membuka buku matematikaku. Mulai fokus pada pelajaran, bukan pada hal lain.
Akhirnya, bel berbunyi, tanda kelas hari ini telah berakhir. Aku membalikkan badan, mencoba berkomunikasi dengan murid baru itu.
"Hai Etta, kamu tinggal di kamar nomor berapa?"
"Kamar? Aku tinggal di rumahlah! Rumahku ada dekat sekolahan ini. Yang besar itu, dekat persimpangan," Etta menjawabku dengan sedikit ketus.
"Oh... Begitu ya?"
"Hei murid baru, mending jangan bergaul deh dengan dia, nanti ketularan kamu sama dia."
"Hah?!" Etta mundur lima langkah dariku. "Dia ada penyakit menular kan? Pantas saja, dari tadi aku lihat dia udah agak lain!"
"Eh bukan gitu!" Aku berdiri. "Apa-apaan sih kamu! Aku juga gak pernah ganggu kalian kan!"
Anak laki-laki itu mencibir. "Gak pernah ganggu kami kau bilang? Kau aja yang lupa."
Aku lupa? Kapan aku pernah mengganggu mereka? Apa memang aku lupa lagi?
"Saran aku sih, anak baru, mending sini, main sama kita aja. Emang ada virus menular dia. Virus miskin namanya," anak laki-laki itu tertawa keras, diikuti beberapa anak perempuan.
Etta pergi ke arah mereka, tidak lagi menghiraukan aku. Aku mencoba menahan perasaanku. Sudahlah. Lebih baik aku belanja di kantin saja.
Aku melangkah keluar dari kelas, menuju kantin yang lebih mirip supermarket itu.
Setelah selesai makan, aku pun membeli teh es, untuk dibawa ke kamar tentunya. Etta berjalan ke arahku dari kejauhan. Dan sepertinya, dengan sengaja dia menabrakku. Teh es milikku tumpah.
"Apaan sih kamu! Coba jalan yang bener!"
"Maaf, aku... Bukan aku yang menabrak duluan..." Aku mencoba membela diri.
"Dih dasar miskin. Pasti sayang banget ya tumpah, kalau sayang, mending langsung dijilat aja sekalian." Etta tertawa kecil.
Aku menahan air mataku. Berusaha untuk tidak meladeninya. Aku merapikan bajuku yang basah.
"Diana, Diana, maaf ya aku salah, lain kali aku gak buat lagi." Etta berlutut dan menangis di depanku. Apa maksudnya ini? Dia benar-benar menyadari kesalahannya?
"Jangan gitu... Ayo cepat berdiri," aku membujuknya. Bagus jugalah kalau dia tahu salah.
"AAH!!! Tidak! Jangan pukul aku! Aku salah!"
Hah? Kapan aku mau memukulnya?
"Diana! Kamu buat hal lagi ya! Kamu ini, dibilangin, gak pernah bisa dengar! Ayo ikut Ibu ke ruang BK!"
"Gak Bu... Tadi..."
"Jangan melawan! Ayo Etta, kamu juga."
Ibu guru membantu Etta berdiri, menyuruh kami mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba, mata Etta miring memandangku. Dalam diam, dia tersenyum licik, penuh kemenangan.
Aku terbelalak. Apa maksudnya barusan? Apa yang terjadi barusan? Dia... Dia... Sengaja... Tanganku terkepal erat. Tidak bisa. Harus ada keadilan di sini. Ini bukan salahku!
Di ruang BK kami dipersilakan duduk.
"Siapa yang menyuruhmu duduk? Berdiri! Etta, ceritakan semua yang terjadi. Jangan takut."
"Saya tak sengaja menabrak Diana Bu, lalu dia suruh saya berlutut, minta maaf. Suruh saya ganti barangnya 10 kali lipat. Saya menolak, jadi dia mau pukul saya," Etta menjelaskan. Wajahnya tampak menyedihkan.
"Itu gak benar Bu! Dia yang membuat-buat semua ini!"
"DIAM DIANA!" Ibu guru membentakku. Air mataku hampir menetes. Apa salahku? Jelas-jelas Etta yang salah.
"Kamu pintar pilih tempat Diana. Gak ada CCTV yang rekam semuanya. Tapi Ibu lihat semuanya Diana! Kenapa kamu susah dibilangin sih? Capek Ibu lama-lama sama kamu! Minta maaf sama Etta!"
Aku tak berusaha melawan lagi. Aku mendekati Etta. Wajahnya berseri penuh kemenangan.
"Aku minta maaf Etta."
Akhirnya, aku disuruh keluar. Aku berlari sekuat tenaga ke kamarku. Naik ke kasur, memeluk lutut. Air mataku jatuh berderai tanpa bisa aku tahan lagi.
Kenapa selalu aku yang disalahkan? Kenapa? Aku juga lelah menjadi kambing hitam terus. Kapan aku bebas? Aku lelah. Mataku perlahan terpejam dan aku jatuh tertidur.
\=\=\=\=
"Maaf, maaf, aku janji gak akan buat lagi. Aku mohon, jangan sakiti aku lagi..." Etta berlutut dan memohon.
"Kalau kau berani melapor pada guru atau siapa pun, naaah... Jangan salahkan aku kejam Etta..."
"Iya iya, maaf, aku janji gak akan melapor." Etta mulai menangis.
"Bagus. Kau begitu pintar. Kau tahu kan, harus bilang apa soal luka-luka ini?"
"A-aku tahu... Aku tak akan bilang soal ini..."
"Hm... Anak baik..."
Jambakan di rambut Etta lepas, kepalanya lunglai dan hampir membentur lantai porselen. Air matanya membasahi lantai. Dia hanya bisa menyesali nasibnya.
\=\=\=\=
"Hoaammm," aku menguap. Menatap keluar jendela. Ternyata sudah pagi? Astaga, aku tertidur hingga pagi?! Aku turun dari kasur, segera merapikan diri, sudah mau telat masuk kelas!
Setelah merapikan diri dan bersiap, aku segera membawa buku dan tas, berlari masuk kelas. Untung saja belum telat.
Kenapa itu? Semua orang mengerumuni Etta. Aku berjalan mendekat. Wajah Etta, dahinya sedikit benjol. Dia tampak pucat.
"Astaga, pasti sakit sekali... Kena apa Etta?"
"Jangan sok peduli lah Diana, aku curiga ini ulahmu..."
"Sudahlah, jangan salahkan Diana, ini salahku tidak hati-hati malah menabrak pintu. Ini tidak sakit kok..." Etta menjawab lancar, tapi aku memperhatikan tangannya yang mencengkeram kuat lengannya. Dia tak berani menatap langsung mataku.
Bel tanda masuk berbunyi. Aku segera kembali ke tempat dudukku. Mulai belajar. Etta tidak lagi duduk di belakangku. Dan di hari-hari selanjutnya, dia juga tak menggangguku lagi.
\=\=\=\=
(Diana Xylaria, 19 tahun, perusahaan)
Ahhh! Aku senang sekali, aku akhirnya diterima di perusahaan, Grup Lion yang terkenal di seluruh dunia! Gajiku sih lumayan lah, apalagi bonusnya! Aku bertekad untuk bekerja dengan sebaik-baiknya.
(besoknya...)
Hari ini hari pertama aku bekerja. Posisiku adalah... Sekretaris direktur, bertugas untuk mencatat berbagai hal, menjadwalkan rapat, dan menyusun berbagai jadwal atasanku.
Atasanku adalah seorang wanita cantik, baik dan kompeten. Dia tegas namun profesional. Aku agak gugup waktu pertama kali bertemu dia.
"Di sini, yang dibutuhkan adalah kemampuan, jadi, lakukan yang terbaik."
Itu kalimat pertamanya sewaktu bertemu denganku. Aku merasa sangat senang. Mungkin, sekarang keberuntungan akhirnya sudah mulai berpihak kepadaku.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖