NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resonansi dan Keputusan Hati

Minggu telah berlalu sejak pertemuan tak terduga di perpustakaan Surabaya. Bagi Meylani, hari-hari setelahnya berjalan dengan ritme yang stabil, seolah-olah pertemuan itu hanyalah sebuah interlude singkat dalam simfoni kehidupannya yang sedang memuncak. Ia tidak menghubungi Andrian, dan Andrian pun tidak menghubunginya. Keheningan itu bukan lagi sumber kecemasan, melainkan tanda bahwa batas-batas baru mereka telah ditegaskan dengan jelas. Meylani kembali tenggelam dalam lautan data, strategi konten, dan rapat koordinasi tim. Ia bahkan mulai merasa nyaman dengan kesendiriannya di apartemen, mengubahnya dari tempat singgah sementara menjadi rumah yang sesungguhnya dengan menambahkan tanaman hias baru dan lukisan abstrak berwarna-warni di dinding ruang tamu.

Namun, alam semesta sepertinya memiliki cara humoris tersendiri untuk menguji keteguhan hati seseorang.

Hari Jumat sore itu, Meylani baru saja menyelesaikan presentasi bulanan kepada direksi pusat via konferensi video. Hasilnya sangat memuaskan; cabang Surabaya dinobatkan sebagai cabang dengan pertumbuhan engagement tercepat di Jawa Timur. Sebagai apresiasi, Bu Sinta, manajer operasional, mengajak tim marketing makan malam di sebuah restoran seafood legendaris di kawasan Kenjeran.

"Mey, kamu harus ikut! Ini tradisi kami kalau ada pencapaian besar," rayu Bu Sinta sambil merangkul bahu Meylani. "Jangan bilang tidak. Kamu butuh istirahat dari angka-angka itu."

Meylani awalnya ragu. Ia lebih memilih pulang, memesan makanan delivery, dan menonton film sendirian. Tapi melihat antusiasme timnyaPak Joko, Rina (via video call karena sedang dinas luar), dan anak-anak muda tim konten yang selalu ceria ia akhirnya mengiyakan. Lagipula, ia menyadari bahwa isolasi diri terlalu lama bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mentalnya.

Restoran itu ramai, penuh dengan suara tawa, denting piring, dan aroma bumbu rempah yang menggugah selera. Mereka duduk di meja panjang dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke laut Selat Madura. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma asin laut yang menyegarkan.

Makanan datang satu per satu: kepiting saus tiram, cumi goreng tepung, ikan bakar, dan nasi hangat. Suasana semakin cair saat Pak Joko mulai menceritakan kisah-kisah lucu tentang kliennya yang eksentrik. Meylani tertawa lepas, sesuatu yang jarang ia lakukan beberapa bulan terakhir. Ia merasa diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Di tengah keceriaan itu, ponsel Meylani bergetar di atas meja. Ia melirik sekilas. Nama "Andrian Alexander" muncul di layar.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, namun tidak sepanik sebelumnya. Ia membiarkan ponsel itu bergetar hingga berhenti. Ia tidak ingin mengganggu momen kebersamaan ini. Selain itu, ia sudah memutuskan posisinya. Tidak ada gunanya membuka pintu yang sudah ditutup rapat.

Beberapa menit kemudian, ponsel itu bergetar lagi. Kali ini diikuti oleh pesan teks.

"Mey, aku masih di Surabaya. Ada urusan lanjutan kasus. Aku tahu mungkin ini tidak pantas, tapi... bisakah kita bertemu sebentar? Hanya sepuluh menit. Ada hal penting yang ingin kusampaikan. Bukan tentang masa lalu, tapi tentang masa depanmu."

Kalimat terakhir itu membuat Meylani penasaran. Tentang masa depanku? Apa maksudnya? Apakah Andrian tahu sesuatu tentang karirnya? Ataukah ini hanya alasan klise untuk bertemu?

Meylani menatap layar ponselnya, lalu menatap rekan-rekannya yang sedang asyik bercanda. Ia merasa bersalah jika pergi, tapi rasa penasaran itu seperti duri kecil yang menusuk-nusuk.

"Aku permisi sebentar, ya," kata Meylani pada Bu Sinta. "Ada telepon penting dari kantor pusat. Urusan kontrak klien."

Bohong. Tapi kebohongan putih yang diperlukan untuk menjaga privasi.

Bu Sinta mengangguk paham. "Oke, Lan. Cepat kembali ya, dessert belum datang!"

Meylani berdiri, mengambil tas tangannya, dan berjalan keluar restoran menuju area parkir yang lebih sepi. Udara malam di sana lebih dingin. Ia menelepon balik nomor Andrian.

"Halo?" suara Andrian terdengar berat, latar belakangnya sunyi, kemungkinan ia berada di dalam mobil atau kamar hotel.

"Andrian, aku cuma punya waktu sebentar. Timku sedang menunggu. Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Meylani langsung pada intinya, tanpa basa-basi.

"Aku... aku sedang berada di parkiran restoran sebelah gedungmu, Mey. Aku melihat mobil timmu di sana. Maaf, aku mengikuti jejak media sosial Rina yang memposting lokasi makan malam kalian tadi," aku Andrian jujur. Pengakuan itu terdengar agak creepy, tapi juga menunjukkan betapa putus asanya ia untuk berbicara dengan Meylani.

Meylani menghela napas. "Baiklah. Aku akan keluar ke area parkir depan. Sepuluh menit, Andrian. Tidak lebih."

"Makasih, Mey."

Meylani berjalan menuju area parkir depan restoran. Tidak lama kemudian, mobil sedan hitam familiar itu muncul dari sudut gelap dan berhenti di depannya. Jendela turun. Andrian tampak lelah, matanya berkantung hitam, dan kemejanya sedikit kusut. Ia tidak turun dari mobil, seolah menghormati batas yang Meylani tetapkan.

Meylani berdiri di samping jendela mobil, menjaga jarak aman. "Apa yang ingin kamu katakan, Andrian? Ingat, waktunya terbatas."

Andrian menatap Meylani lekat-lekat, seolah ingin merekam wajah wanita itu untuk terakhir kalinya. "Aku mendengar kabar dari kolega di Jakarta, Mey. Perusahaan tempatmu bekerja sedang mempertimbangkan promosi nasional. Posisi National Marketing Director. Dan kandidatnya... adalah kamu."

Meylani terkejut. Informasi itu belum resmi dirilis ke publik, bahkan di internal perusahaan pun masih berupa rumor tingkat tinggi. "Dari mana kamu tahu itu?"

"Hubungan hukum sering bersinggungan dengan dunia korporat, Mey. Aku mendengar desas-desus dari klien kami yang merupakan pemegang saham di perusahaanmu. Mereka sangat terkesan dengan kinerja cabang Surabaya. Mereka menganggapmu sebagai aset strategis nasional."

Andrian berhenti sejenak, menelan ludahnya dengan susah payah. "Jika kamu menerima posisi itu, kamu akan berbasis di Jakarta. Kamu akan lebih jauh dari sini. Jauh dari Semarang. Jauh dari... segala kenangan kita."

Meylani diam. Ia memang menduga hal itu. Kinerja baiknya di Surabaya pasti menarik perhatian pusat. Tapi mendengar konfirmasi dari Andrian membuatnya terasa lebih nyata, lebih menakutkan, sekaligus lebih menggairahkan.

"Lalu? Apa hubungannya dengan 'masa depanku'?" tanya Meylani tajam.

Andrian menarik napas dalam-dalam. "Aku ingin kamu tahu... jika kamu pergi ke Jakarta, jangan biarkan kesepian atau ambisi buta membuatmu lupa pada kebahagiaan sederhana. Jangan jadi seperti aku. Jangan tukar jiwamu dengan gelar atau jabatan. Aku melihatmu bahagia di sini, Mey. Benar-benar bahagia. Jika Jakarta akan merampas cahaya itu... pertimbangkan baik-baik."

Kalimat itu terdengar seperti peringatan, namun juga seperti permohonan terselubung. Andrian tidak meminta Meylani kembali padanya. Ia meminta Meylani untuk tetap menjadi Meylani yang utuh, Meylani yang ia cintai dulu, sebelum egoisme Andrian menghancurkannya.

Meylani menatap Andrian. Untuk pertama kalinya, ia melihat Andrian bukan sebagai mantan kekasih yang menyakitkan, tapi sebagai manusia yang juga sedang berjuang dengan demonnya sendiri. Andrian mencoba menebus kesalahannya dengan cara yang canggung: dengan melindungi Meylani dari kesalahan yang sama yang pernah ia buat.

"Terima kasih, Andrian," kata Meylani lembut. "Aku menghargai kepedulianmu. Tapi keputusan tentang karir dan kebahagiaanku adalah hak prerogatifku. Aku tidak takut pada Jakarta. Aku tidak takut pada kesepian. Karena aku sudah belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari luar, tapi dari dalam. Dan selama aku memegang kendali atas diriku sendiri, aku akan baik-baik saja, di mana pun aku berada."

Andrian tersenyum sedih, senyuman yang penuh penerimaan. "Kamu benar, Mey. Kamu selalu lebih kuat dari yang kukira. Maafkan aku karena pernah meragukan itu."

"Sudah lalu, Andrian. Kita semua belajar dari kesalahan."

Hening sejenak. Angin malam berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut Meylani.

"Aku harus kembali ke timku," kata Meylani, mundur selangkah. "Selamat tinggal, Andrian. Semoga kali ini, perpisahan kita benar-benar final. Tanpa janji palsu, tanpa harapan semu. Hanya doa tulus untuk kebaikan masing-masing."

Andrian mengangguk. "Selamat tinggal, Meylani. Sukses di Jakarta nanti. Atau di mana pun takdir membawamu."

Mobil itu perlahan melaju pergi, menghilang dalam kegelapan malam Surabaya. Meylani berdiri sendiri di pinggir jalan, merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya. Namun, hatinya hangat. Hangat karena keyakinan.

Ia kembali masuk ke restoran, di mana timnya masih menunggu dengan sabar. Dessert telah disajikan es krim kelapa muda yang segar.

"Telepon pentingnya selesai, Mbak Meylani?" tanya Pak Joko sambil menyodorkan sendok.

"Iya, Pak. Selesai," jawab Meylani sambil tersenyum lebar, senyuman yang mencapai matanya. "Dan kabarnya bagus."

Ia duduk, mengambil sesendok es krim, dan memakannya dengan nikmat. Rasa manis dan dingin itu menyebar di lidahnya, simbol dari kehidupan barunya yang manis meski kadang dingin, namun sepenuhnya ia nikmati.

Malam itu, Meylani tidur dengan nyenyak. Ia tidak bermimpi tentang Andrian. Ia bermimpi tentang langit Jakarta yang luas, tentang gedung-gedung pencakar langit yang menantang, dan tentang dirinya sendiri yang berdiri di puncak salah satunya, memandang kota di bawah kakinya, bukan dengan rasa takut, tapi dengan rasa memiliki.

Interaksi terakhir antara Meylani dan Andrian. Tidak ada drama air mata, tidak ada pertengkaran. Hanya dua orang dewasa yang saling melepaskan dengan hormat, mengakui bahwa jalur mereka telah bercabang, dan bahwa percabangan itu adalah hal yang wajar, bahkan perlu, untuk pertumbuhan masing-masing.

Meylani kini siap menghadapi babak berikutnya: tantangan nasional, identitas baru, dan pencarian makna hidup yang lebih dalam di ibu kota. Dan ia melakukannya dengan kepala tegak, hati yang tenang, dan jiwa yang bebas.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!