Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Arta dan Arkan masih terlelap di dalam kamar sementara Papa, Mama dan Samuel sudah berangkat mengahadiri jamuan makan malam kolega terdekat mereka. k
Dalam kamar itu tampak Arkan mulai mendapatkan kesadarannya. Arkan mengedipkan matanya menelusuri ruangan itu.
Matanya tertuju pada Arta yang tengah terlelap di atas tangannya yang menggenggam tangan Arta.
"Arta, bangunlah!" seru Arkan tak tega melihat posisi tak nyaman Arta.
"Hmm Ah Kakak sudah bangun rupanya,"sahut Arta reflek meletakkan punggung tangannya ke kepala Arkan.
Arkan yang diperlakukan seperti itu terkejut bukan main, wajahnya memerah jantungnya terasa sedang melakukan demonstrasi di rongga dadanya.
"Ah demam Kakak sudah turun," ucapnya dengan suara khas batu bangun.
Sadar dengan apa yang dia lakukan Arta reflek menarik tangannya, tanpa sengaja mata mereka bertemu.
Bak terjadi aliran listrik, tatapan itu terjadi cukup lama mata mereka saling mengunci untuk beberapa saat.
deg deg deg deg deg deg
Suara degup jantung yang cukup keras menyadarkan mereka berdua, sontak keduanya memalingkan wajahnya dengan cepat.
"Ehem Maaf kak, kalau kak Arkan sudah sehat Arta keluar dulu," ucapnya menahan malu dan langsung berbalik memegangi pipinya yang telah memerah.
"Ehem iya thanks Ar," balas Arkan canggung. Serupa dengan Arta, wajah Arkan sudah memerah bagaikan kepiting rebus menahan rasa gugup dan canggung karena kejadian tadi.
"Astaga ada apa denganmu jantung? tolong jangan buat malu seperti tadi," seru Arkan memegangi dadanya.
Sementara Arta di luar kamar sudah sangat malu dengan wajah merah merona seperti buah delima yang siap dimakan.
"Aduduh hei jantung ku perintahkan kau untuk diam, tolong jangan buat malu pemilik mu ini!" gerutu Arta memegangi dadanya yang masih terasa gugup.
"Kenapa aku segugup itu padahal biasanya aku juga menatap matanya kalau kami sedang berkomunikasi," ucap Arta bingung dengan dirinya.
"Huh sudahlah, aku siapkan makan malam saja," ucap Arta lagi sambil berlalu ke dapur untuk menyiapkan makan malam bagi mereka.
Sementara itu Arkan yang masih lemah menatap ruangan kamar itu dengan intens. Dilihatnya bakul serta mangkuk ramuan yang tertinggal disana.
"Ternyata dia merawatku dengan baik, bahkan menemaniku disini," ucap Arkan sambil tersenyum mengingat kejadian tadi.
Arkan meraih kacamatanya yang terletak di atas meja.
"Sepertinya dia sudah melihat wajahku tadi," ucap Arkan berusaha bangkit dari pembaringannya, namun karena masih lemah Arkan terjatuh dari tempat tidurnya.
Gubrak
"Arkhhh sial !! selalu saja begini!" ucap Arkan menahan sakit di kakinya. Arkan berusaha bangkit namun tidak bisa, kakinya sangat lemah dan terasa seperti sedang diikat dengan rantai yang sangat kuat.
Arta yang mendengar suara terjatuh dari arah kamar, langsung bergegas menghampiri sumber suara itu.
"Kak Arkan!!" teriaknya terkejut.
Arta membantu Arkan untuk berdiri, dengan penuh perjuangan Arta membopong tubuh Arkan ke atas tempat tidur. Bobot tubuh Arkan yang terbilang berbeda jauh dengan Arta cukup membuat gadis itu kesulitan.
"Kak Arkan masih lemah, jangan bergerak dulu," ucap Arta khawatir sambil membenarkan posisi Arkan.
" Terimakasih Arta," seru Arkan.
"Tak perlu sungkan kak, oh iya tunggu sebentar Arta ambil makan malam dulu ya," ucapnya lalu berlalu mengambil makanan yang sudah disiapkannya tadi.
Hitungan menit, Arta masuk kembali sambil membawa sebuah nampan berisi 2 mangkuk bubur ayam dan dua gelas teh hangat serta ramuan jahe untuk mereka konsumsi malam itu.
Arta meletakkan nampan itu di atas meja, lalu menyerahkan satu mangkuk bubur Ayam ke tangan Arkan.
"Makan dulu kak biar cepat pulih," ucap Arta sambil memberikan sendok ke tangan Arkan.
"Maaf aku jadi merepotkan dan terimakasih karena telah merawatku," ucap Arkan canggung.
"Heh tak perlu sungkan kak, toh kita juga akan menjadi keluarga," ucap Arta yang dibalas senyuman oleh Arkan.
"Ya sudah kita makan tapi sebelum itu kita berdoa dahulu," ucap Arta.
"Kamu yang pimpin," seru Arkan.
"Baik kak," ucap Arta sambil memegang tangan Arkan lalu berdoa meminta kesehatan bagi Arkan.
"Amin," ucapnya mengakhiri doa makan itu.
" Silahkan di makan kak," ucap Arta.
Arkan dan Arta menikmati makan malam mereka dengan tenang, tak ada perbincangan apa pun selama makan malam itu berlangsung.
Arta menghabiskan buburnya dengan cepat dia menatap Arkan yang tak berselera makan. Dengan sigap Arta mengambil alih mangkuk Arkan membuat sang empunya terkejut.
"Astaga kak! kalau makannya secuil gini gimana mau sehat hah?" seru Arta kesal.
"Aku gak selera Ar," balas Arkan lemas.
"Sini Arta aja yang suapin, supaya cepat habisnya!" ucap Arta sambil menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Arkan.
Tak beberapa lama karena kesabaran dan ketelatenan serta Omelan Arta akhirnya bubur tersebut habis dimakan Arkan.
"Sudah siap, sebentar ya kak Arta bereskan dulu," ucap Arta sambil membereskan peralatan makan mereka tak lupa membawa bakul yang dipakainya untuk mengompres Arkan tadi.
Setelah membereskan dapur yang sedikit berantakan Arta terlebih dahulu membersihkan dirinya dan menukar pakaiannya.
Setelah dirasa cukup, Arta kembali ke kamar Arkan dengan membawa segelas teh Crisan hangat yang aroma dan rasanya mampu menenangkan tubuh lalu meletakkannya di atas meja.
"Kak, Mama, Papa dan Kak Sam belum pulang. Apa kita hubungi saja?" tanya Arta.
"Tidak perlu Ar tadi sudah kakak hubungi, hari ini Mama, Papa dan kak Sam tidak pulang. Mereka pulang terlambat hari ini, ada acara pertemuan dengan kolega perusahaan," balas Arkan.
"Oh baiklah, kalau begitu kak Arkan istirahat saja dahulu," ucap Arta.
"Hmmm Ar, ada yang ingin ku bicarakan padamu," ucap Arkan menatap lekat kedua manik Arta.
"A ada apa ya kak?" ucap Arta gugup sambil mengalihkan perhatiannya.
"Tadi kamu lihat aku kumat kan?" tanya Arkan.
"Kumat maksud kakak? Arta pikir tadi kakak mimpi buruk sambil manggil nama Nathan juga kak Roki bahkan kakak bilang kakak pembunuh," ucap Arta menjelaskan apa yang dilihat dan didengarnya tadi.
"Ehm begini Ar, Kakak akan jujur padamu. Dan kakak harap kamu menjadikan ini sebagai pertimbangan untuk memikirkan kembali pernikahan kita," ucap Arkan dengan wajah sedih, hari ini ia harus memberitahukan rahasia yang disimpannya selama ini, trauma yang membuat hidupnya berubah.
"Sebenarnya ada apa kak? tolong jelaskan agar Arta paham," balas Arta
"Sebenarnya kakak punya penyakit kejiwaan berupa gangguan kecemasan dan trauma psikis akibat kejadian di masa lalu kakak," ucap Arkan mulai menjelaskan.
"Trauma seperti apa yang kakak alami?" tanya Arta.
"Kakak mengalami trauma akibat kematian sahabat kakak dan kak Roki bernama Nathan. Nathan adalah sahabat dekatku sejak duduk di bangku SMP ternyata Nathan juga bersahabat dengan kak Roki hingga 5 tahun yang lalu kami menjalin persahabatan karena Nathan mempertemukan kami. Nathan adalah anak pendiam dan penampilannya cupu dan aneh, banyak anak yang tidak suka dengannya namun karena bergaul denganku tak ada yang berani mengganggu Nathan,
Kak Roki juga kerap bermain bersama kami sehingga kami menjadi sahabat. Kami berkuliah di universitas yang sama.
Selama menjalin pertemanan Nathan tak pernah mengeluh tentang apa pun, dia selalu datang tersenyum menunjukkan behel hijaunya itu.
Saat itu aku dan kak Roki termasuk pemuda yang dikagumi oleh banyak orang hingga membuat banyak yang iri dengan Nathan yang bisa bergaul dengan kami namun tak ada yang berani menyentuhnya karena kami selalu menjaga Nathan sebab pernah sekali Nathan dibully habis-habisan oleh teman-teman kampus.
Sejak saat itu, Aku dan Kak Roki bersumpah akan menjaga Nathan dengan baik
Hingga suatu hari saat aku dan Kak Roki sedang bersama Nathan menghampiri kami dengan wajah sedikit lebam, saat kami tanya kenapa dia mengatakan hanya terbentur lalu tersenyum manis kepada kami.
Kak Roki yang instingnya sangat tajam mengajakku mengikuti Nathan hingga ke Rooftop sebuah gedung tak terpakai" ucapnya terputus saat air matanya menetes mengingat kejadian itu.
"Kalau kakak belum siap buat cerita, kapan kapan saja kak daripada trauma kakak terulang" balas Arta menguatkan Arkan.
"Tidak! aku harus memberitahukan mu tentang ini karena kamu calon istriku!" ucap Arkan dengan yakin, ia tak mau jika Arta harus mengetahui semua tentang masa lalunya dari orang lain.
.
.
.
.
Like,Komen dan voto ^-^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Wulan Zahira
kejujuran awal yg baik👍jd penampilan arkan itu dibikin kayak nathan dulu
2022-04-25
0
Susan Handayani
kejujuran adalah kunci kerukunan rumah tangga 🏡🏡🏡
2021-11-13
0
Lili Yoon
pantesan Arkan mengikuti gaya Nathan ternyata Arkan sangat merindukan mendiang sahabat nya
2021-09-16
4