Di pagi hari yang cerah itu, Arta menghabiskan waktunya berkutat di depan laptopnya mengulas ulang semua rancangan bisnisnya.
Arta meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Lalu di bukanya ponselnya mencari sebuah nama dan menekan tombol panggilan telepon.
"Halo selamat pagi bos," sapa seorang wanita dari seberang telepon.
"Selamat pagi Karin, maaf mengganggu waktu Anda saya ingin semua laporan mengenai kantor pusat dikirim hari ini juga dan beritahukan kepada pria itu untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik karena festival akan dimulai 2 hari lagi," ucap Arta menjelaskan maksudnya.
"Baik Ar tak perlu sungkan, akan segera Saya kirim filenya dan semua dokumen tentang festival yang akan dilaksanakan," balas wanita itu dengan hormat.
"Oh iya, bagaimana kabar Perusahaan Mars itu? Apakah mereka akan ikut ambil bagian dalam festival bunga ini?" tanya Arta.
"Perihal Perusahaan Mars, kami baru menerima konfirmasi langsung dari Presdir nya bahwa mereka akan ikut ambil bagian dalam festival bunga tahun ini," jawab wanita itu.
"Baiklah segera lakukan tugasmu, Saya tak ingin ada kesalahan paham? " tegas Arta pada wanita itu.
"Paham Ar!" balasnya.
"Baik, terimakasih dan juga sampaikan terimakasih saya pada semua staf yang berjuang untuk festival ini. Pastikan semua berjalan lancar.oh iya jangan lupa kirim file perusahaan-perusahaan lain yang ikut andil dalam festival ini, jangan sampai ada yang terlewat!" seru Arta .
"Baik saya paham!" balasnya.
Arta mengakhiri panggilan telepon itu. Sejenak Arta memijat pelipisnya, masalahnya cukup kompleks saat ini, acara festival yang harus di handle olehnya serta acara pernikahan yang menunggunya Minggu depan.
Arta bukannya tidak bisa menolak permintaan keluarga Mahendra untuk menikah dengan Arkan. Dia punya kuasa yang bahkan tidak diketahui siapapun di dunia bisnis bahkan dia memiliki geng Mafia yang siap mendukungnya kapan pun.
Namun, keselamatan kakaknya menjadi taruhan karena dia tahu kalau Keluarga Mahendra dapat melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya.
Selain itu, Arta tidak bisa memastikan keselamatan kakaknya walaupun selalu ada yang mengawasinya dari jauh.
Dan untuk masalah pernikahan, Arta sepertinya merasa tenang karena keluarga Whitegar yang terkenal terhormat, kaya dan pesohor dunia itu ternyata menerimanya dengan kekurangan yang dimilikinya.
Arta pernah berjanji pada Orangtuanya bahwa ia akan menikahi siapapun yang mau menerimanya dengan tulus walau punya cacat di wajahnya. Karena dia yakin orang itu benar-benar tulus padanya.
Karena janji dan juga keselamatan kakaknya itulah Arta memantapkan hatinya untuk menikah dengan Arkan.
Merasa jenuh berjam-jam di depan Laptop, Arta melangkahkan kakinya berkeliling rumah besar itu. Saat ia melewati sebuah kamar dia mendengar suara isakan. Karena penasaran Arta mendekatkan telinganya ke daun pintu itu.
"Suara Kak Arkan!! Apa Kak Arkan menangis? tapi kenapa??" ucapnya dalam hati.
Dan benar saja suara isakan itu berasal dari kamar itu. Karena penasaran ia mengetuk pintu itu namun tidak ada respon. Sekali lagi ia mengetuk sambil memanggil Arkan namun juga tak direspon.
Karena cemas dengan keadaan Pria itu, Arta membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu.
Arta melangkah masuk dan melihat Arkan yang meringkuk di atas Kasur sedang menangis tersedu-sedu.
"Hiks hiks hiks jangan pergi Nathan! Nathan!" teriak Arkan histeris sambil memegangi kepalanya dan sesekali menarik rambutnya dengan kuat.
"Kak Arkan !!" teriak Arta menghampiri pria itu.
"Jangan kesini! aku pembunuh! Kak Roki maafin Arkan! Nathan !!" teriaknya semakin histeris.
Arta menarik tangan Arkan dengan lembut lalu memeluknya sambil mengelus pundak pria itu. Dapat dirasakan Arta kesedihan mendalam serta trauma psikis yang dialami oleh Pria berkacamata itu.
Tubuh Arkan gemetar, badannya terasa panas. Arta mengelus punggung Arkan dengan lembut, Arkan yang menerima perlakuan itu mulai merasa tenang. Ia memeluk Arta dengan erat mencoba untuk menghilangkan ketakutannya.
Mereka berada dalam posisi saling memeluk hingga akhirnya Arkan terlelap karena lelah dan sedang sakit.
Arta memperbaiki posisi tidur pria itu lalu menyelimuti sambil terus menggenggam tangan pria itu agar dia tenang.
Arta meletakkan punggung tangannya ke dahi Arkan.
"Dia demam, Sebenarnya apa yang terjadi padamu kak?" ucap Arta tanpa sadar ia mengelus kepala pria itu.
Arta pergi ke dapur, lalu mengambil handuk bersih dan air hangat serta membuatkan teh jahe dicampur madu dan membawanya ke kamar Arkan.
Dengan telaten tangan gadis itu mengompres tubuh Arkan yang penuh dengan keringat. Niatnya ingin mengganti pakaian pria itu namun diurungkan karena belum selayaknya ia melakukan itu.
Saat Arta melepas kacamata pria itu dan merapikan rambutnya, Arta tertegun dengan wajah karismatik dan tampan milik pria itu. Walaupun pucat pasi, tak menghilangkan ketampanannya.
Arkan perlahan-lahan membuka matanya lalu menatap ke arah Arta yang tengah mengelap tangannya dengan telaten.
"Arta," ucap Arkan lemah dengan suara paraunya.
"Eh kak, tidurlah lagi tapi sebelum itu ayo minum ini dulu," ucap Arta menyadari bahwa Arkan telah bangun.
Arta membantu Arkan meminum ramuan jahe yang dibuat Arta tadi.
"Tidurlah kak, kakak masih lemah Arta akan keluar agar tidak mengganggu," ucap Arta bangkit dari tempat duduknya.
Arkan meraih tangan gadis itu.
"Jangan pergi, tetaplah disini!" ucap Arkan menggenggam tangan Arta dengan erat.
"Ya sudah kakak tidurlah, Arta akan temani disini," balas Arta kembali ke tempat duduknya.
Karena masih belum pulih atau karena pengaruh ramuan itu, Arkan kembali terlelap sambil menggenggam erat tangan Arta.
Karena merasa lelah dengan tugas-tugas nya Arta meraih minuman jahe yang dibuatnya tadi lalu menenggaknya sampai habis.
Kemudian Arta ikut terlelap dengan posisi duduk di samping tempat tidur Arkan dan menyenderkan kepalanya di atas tangan pria itu.
Mereka berdua terlelap di siang itu.
Jam menunjukkan pukul 5 sore, Arkan dan Arta masih setia dengan mimpinya mungkin karena pengaruh ramuan jahe yang menenangkan tubuh itu.
Samuel sampai di rumah, saat masuk ia tak melihat siapapun di ruangan itu.
"Loh kemana mereka?" ucap Samuel bingung.
Ia melangkahkan kakinya menuju dapur namun terhenti saat melewati kamar Arkan yang pintunya sedikit terbuka.
"Eitss roman romannya ada adegan Romantis disini," ucap Samuel dengan insting ala paparazi abal-abal.
Samuel berjalan mengendap-endap lalu masuk ke kamar itu dan didapatinya lah dua makhluk beda gender itu sedang terlelap dengan posisi Arta dan Arkan saling menggenggam sementara Arta menyenderkan kepalanya dipinggir kasur itu.
"Cekrek !"
Samuel mengabadikan momen romantis itu tanpa sepengetahuan mereka berdua.
"Hahahah romantis sekali mereka ini, tapi sepertinya Arkan sakit lagi," ucap Samuel pelan.
"Baiknya aku keluar sebelum singa lapar itu bangun hii," oceh Samuel sambil mengendap-endap keluar dari kamar itu.
Samuel sedang senyum-senyum sendiri melihat beberapa foto yang diambilnya tadi. Tanpa ia sadari Mama dan Papa sudah kembali dengan membawa beberapa belanjaan dari supermarket.
"Woi anak laknat orang tua datang bukannya di bantu malah cengar-cengir kayak Kuda jantan yang dapat jatah," celoteh Papa George.
"Eh Tuan dan Nyonya yang terhormat sudah sampai rupanya, sini Saya bantu bawa harta Karunnya heheheh," jawab Samuel sambil meraih beberapa paper bag yang dibawa kedua orangtuanya.
"Kenapa kamu cengar-cengir begitu hah?" tanya Papa George.
"Tuh Pa, Ma lihat aja ponsel Samuel di atas meja," jawab Samuel sambil berlalu ke arah dapur dengan rombongan plastik itu.
"Ya ampun romantis sekali mereka ini!" seru Mama Lily penuh semangat.
"Iya ya ma, jadi keinget waktu muda heheh," ucap Papa George mengenang masa lalu.
"Hii iya Pa, Tapi kan sekarang juga romantisnya gak kalah heheheh," balas Mama Lily.
"Hehehe iya dong istriku. Kalau mereka dekat begini, kita bakal cepat jadi Opa Oma setelah mereka menikah," seru Papa George penuh semangat membayangkan dirinya menjadi seorang kakek.
"Iya Pa wah pasti menenangkan," balas Mama Lily.
"Heh apa yang menyenangkan itu? Apa Samuel yang imut ini kalah menyenangkan dengan khayalan Mama Papa itu?" tanya Samuel sambil merangkul Orangtuanya dari belakang Sofa.
"Hii kamu mah bujang lapuk hahaha," ejek Papa George.
"jomblo gini banyak fans loh Pa hahahha," balas Samuel.
"Astaga kalian berdua ini sungguh kekanak-kanakan," ucap Mama Lily gemas dengan suami dan anak sulungnya itu.
.
.
.
"Hai readers, kalau sudah baca beri jejak ya thanks 😊😊"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Susan Handayani
punya salah apa s Arkan dgn Nathan sampai" dia minta maaf sm s Roki 🤗🤗🤗
2021-11-13
1
Lili Yoon
Nathan siapakah ?
knp dia juga minta maaf sama Roki ?
2021-09-16
4
Ina Nanik
Kalau kak sam Sama q ajadeh
2021-07-20
0