Arta dipanggil oleh pelayan yang disuruh oleh Fanya sebelumnya.
"Hei gadis cacat, kau dipanggil cepatlah!" ketus pelayan itu memanggil Arta dengan nada mengejek dan tatapan merendahkan.
Arta menatap tajam pelayan itu, "apa hakmu mengejekku Erna? kuharap kau akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatanmu selama ini!!" balas Arta tak kalah ketus menanggapi pelayan sombong itu.
"Ternyata tamparan tuan Mahendra membuatmu jadi lebih berani ya dasar gadis cacat!!" ejek Erna lagi membuat Arta semakin geram.
Greppp....
Arta menarik leher baju Erna dan mendorong pelayan itu ke dinding ruangan itu sambil menatap mata pelayan itu dengan tajam.
brakkkk...
glek...glek...glek
"A...apa yang khau lakukhan....uhukk...lepas...kan a...ku!!" ronta Erna sambil tersengal-sengal sebab Arta mencekik lehernya dengan kuat.
Pelayan lain yang melihatnya sontak terkejut dengan sorot mata gadis itu, "astaga baru kali ini kulihat dia semarah itu!" gumam seorang pelayan yang menyaksikan pertengkaran mereka.
Arta seketika tersadar dengan perbuatannya, hampir saja dia melakukan kesalahan besar dan membuatnya dalam masalah.
"Itu untuk kesombongan mu Erna!" ucap Arta lalu berlalu keluar menuju ruang tamu.
Arta sampai di ruang tamu disusul oleh Erna tepat pada saat Jaya Mahendra menunjuk dirinya.
"Kak Arkan? ada apa ini?" gumam Arta menatap Arkan yang juga menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Bukankah kita sudah sepakat menikahkan Tania dengan Arkan Jaya?" ucap Mr. George bersikukuh dengan perjodohan itu.
"Semua keputusan ada di tangan kalian. Jika ingin menyelamatkan nama keluarga maka terimalah tawaran kami ini!!" ucap Jaya dengan tegas.
"Kau! bagaimana ini arhkk, apa kau setuju Arkan?" tanya Papa George beralih pada Arkan.
"Kenapa kau bertanya padanya? kalian kan memang harus menerima ini tuan George yang terhormat," ledek Fanya.
"Karena dia yang akan menjalani pernikahan ini Nyonya Mahendra!!" tegas Papa George.
Lama mereka terdiam hingga akhirnya Arkan membuka suara.
"Aku setuju," ucapnya lantang.
Sontak Fanya dan Jaya tersenyum sumringah begitupun dengan Tania, sementara Arta hanya bisa menonton pertunjukan itu, ia tak kalah kagetnya dengan keluarga Mahendra.
"Kak Arkan setuju? bagaimana mungkin!!" gumam Arta.
Keluarga Whitegar justru begitu terkejut dengan keputusan Arkan ini. Karena hal ini bukan bagian rencana mereka. Tapi apa boleh buat Arkan sudah memutuskan.
Sebelumnya mereka hanya berniat untuk mengetahui kebusukan keluarga Mahendra dan menyelesaikan perkara itu dengan pemutusan hubungan, ternyata mereka malah membawa pulang calon anggota keluarga yang baru.
"Apa dia akan setuju?" tanya Mrs. Lily khawatir walaupun sebenarnya dia menaruh harap pada gadis yang mencuri perhatiannya itu. Entah apa yang membuat Mrs. Lily menyukai gadis itu padahal ini pertemuan pertama mereka.
"Dia akan setuju," sahut Fanya Mami Tania dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Arta kemari-lah!" Panggil Jaya Mahendra.
Arta berjalan mendekat lalu duduk di kursi di hadapan Arkan.
"Seminggu lagi kamu akan menikah dengan Arkan. Kamu harus bantu menyelamatkan nama keluarga Om dan Tante sebagai balas Budi telah merawat-mu selama ini!" ucap Papi Tania tegas.
"Ta...tapi......," ucapnya terputus saat melihat Fanya dan Tania memelototi dirinya.
"Baik Om!" ucap Arta lirih.
Arta menyetujui permintaan Om-nya karena diancam oleh Tania sebelumnya.
"Kak Roki harus selamat, Lebih baik aku menikah dengan kak Arkan, dia orang baik tapi apa keluarganya akan menerimaku? hah sudahlah yang penting aku bisa segera keluar dari neraka ini. Ayah Ibu bantu aku" ucap Arta dalam hati.
"Hahahah baguslah, ternyata otakmu tidak cacat seperti wajahmu. Kau akan jadi pasangan yang serasi dengan si cupu itu!" ejek Tania yang bisa didengar oleh setiap orang dalam ruangan tersebut.
"Tuan, Nyonya den Robin sudah tiba," ucap pelayan.
"Suruh dia masuk!" titah Jaya Mahendra.
Robin masuk dengan gaya angkuh dan sombongnya, sontak Tania bangkit berdiri dan menghamburkan pelukannya pada Robin. Ia bergelayut manja di lengan kekar pria itu, sungguh membuat mata risih memang.
"Dasar murahan!!" gumam Mama Lily yang sedari tadi menahan diri untuk tidak mengamuk di ruangan itu.
"Sayang kau lama sekali, oh iya perkenalkan ini calon suamiku!" ucap Tania menatap Robin dan orang-orang itu secara bergantian.
"Selamat malam Om Jaya,Tante Fanya dan ah ya keluarga Whitegar!" sapa Robin sambil mendaratkan tubuhnya di salah satu sofa di ruangan itu diikuti oleh Tania yang setia bermesraan dengannya.
"Selamat datang menantuku," ucap Jaya dan Fanya dengan begitu bahagia, sementara keluarga Whitegar begitu jengah dengan tingkah mereka.
Arta sungguh geram dengan kehadiran mantan kekasihnya itu, sungguh ia ingin mencabik-cabik pria itu saat ini tapi apa daya itu hanya hayalannya saja.
"George, kami akan membantu kalian setelah acara pernikahan seminggu lagi!" ucap Jaya.
"Kenapa begitu mendesak Jaya?" tanya Papa George melanjutkan drama yang sudah ia mulai sejak tadi.
" Jangan banyak tanya, jika tidak mau ya sudah kami tak akan membantu kalian sepeser pun!!" tegas Jaya Mahendra dengan tatapan merendahkan ke arah Papa George.
"Sialan kau jaya Mahendra!!!!" gumam Papa George menahan rasa kesalnya.
"Baik seminggu lagi pernikahan dilaksanakan!" tegas Papa George lalu bangkit berdiri diikuti oleh anggota keluarga yang lain.
"Hei nak siapa namamu?" tanya Papa George lembut membuat Arta mendongakkan kepalanya terkejut dengan suara lembut Papa George.
"Arta Om," ucapnya pelan.
"Kemarilah, mulai detik ini kau adalah bagian keluarga Whitegar, mulai detik ini tidak ada hubungan apapun antara keluarga Whitegar dengan keluarga Mahendra !!" tegas Papa George dengan aura kepemimpinannya yang mampu membuat semua orang bergidik merinding mendengarnya.
"Bawalah si pembawa sial itu, dan kau Arta kita tidak memiliki hubungan apapun lagi! Kau hanya benalu persis seperti Ibumu yang jalang itu dan juga Ayah bajinganmu itu!!" ejek Jaya tepat dihadapan wajah Arta.
Hati gadis itu remuk, ia sungguh kecewa, rasa sayangnya selama ini pada keluarga itu ternyata sia-sia. Ia mengepalkan tangannya, berusaha tetap menahan dirinya untuk tidak menghajar orang di hadapannya itu. Tapi sungguh penghinaan yang diterimanya begitu besar, Arta melangkahkan kakinya dengan wajah marah dan kecewa mendekati Jaya dan
Brughh brughh brughh
Arta terkesiap, belum sempat ia melayangkan tinjunya, Arkan sudah mendahuluinya menarik tubuh Jaya Mahendra dan menghajar pria paruh baya itu dengan tiga pukulan sekaligus.
"Papi...!!" teriak Tania dan Fanya segera berlari membantu Jaya bangkit karena tengah tersungkur di lantai akibat pukulan Arkan.
"Dasar pria tua bangka bau tanah!!" ejek Arkan memperbaiki pakaiannya ya g sedikit berantakan, ia mendekati Arta dan menggenggam dengan lembut tangan gadis itu.
"Ayo kita pergi!" ucap Arkan melangkah keluar menarik tangan Arta dengan lembut.
"Hei kalian harus datang ke pesta pernikahan kami ya, mumpung gratis sekaligus si cacat itu bisa menikmati pesta orang kaya lagi seperti dulu!" ucap Robin tanpa tahu malu.
"Cih ! setelah membuang Arta dan menghina keluarga kami kalian masih mengharapkan kehadiran kami? tak akan pernah terjadi!!" seru Samuel angkat bicara, sebab sedari tadi dia sudah sangat geram dengan kesombongan orang-orang itu.
Semua orang terkejut dengan pernyataan penuh penekanan yang dilontarkan Samuel. Aura dingin dan kejam terasa menusuk tulang jika berada di ruangan itu.
"Heh dasar orang miskin!" decak Tania kesal.
"Hei Arkan apa kau tidak jijik dengan mantanku yang cacat itu? Dia dulu memang sangat cantik tapi wajah busuknya itu merusak segalanya" ledek Robin pada Arkan.
Arkan berhenti melangkahkan kakinya, " Arta, kemasi barang-barang mu," ucapnya lembut lalu melepas genggamannya dan membiarkan gadis itu menuju kamarnya.
"Aku justru jijik dengan manusia sampah seperti kalian! kalian semua membuangnya hanya karena rupanya tak seindah harapan kalian. Tapi terimakasih karena kalian aku bisa bertemu gadis tercantik di dunia!" balas Arkan membalikkan tubuhnya dengan tatapan penuh amarah melihat orang-orang itu.
"Hahaha kau sudah gila rupanya! Kalian memang terlihat serasi, Si cupu miskin dan si gadis cacat," ejek Robin yang diikuti kekehan Tania.
"Kau Putra Sanjaya kan? tunggu bagianmu!" ucap Mama Lily tersulut emosi.
"Memangnya apa yang bisa kalian lakukan? kalian hanyalah sampah yang tidak lagi ada gunanya. Jujur saja dulu kami menerima perjodohan ini karena kalian punya status sebagai orang terkaya di negeri ini, tapi ternyata tidak bertahan lama!" ucap Fanya dengan sombongnya.
"Bersyukur kami tak jadi menikahkan anak kami dengan putrimu. Kalau pernikahan itu dilanjutkan entah apa yang akan terjadi nantinya! cuih menjijikkan!" ucap Mama Lily penuh emosi.
"Sudahlah Ma, jangan meladeni wanita gila itu. Arta sepertinya sudah selesai," ucap Samuel saat ia melihat Arta mengangkat koper miliknya dan membawa serta seekor anjing kecil.
"Kami permisi tuan Jaya Mahendra yang terhormat! setelah kejadian ini kita tak punya hubungan apa pun lagi ! " tegas Mr. George dan langsung berlalu meninggalkan mereka dalam ruangan itu.
"Dasar orang miskin sombong!" ucap Papi Tania.
"Hei Arta jangan lupa datang ke pesta pertunangan kami ya, bawa suami culunmu itu!" teriak Robin pada Arta yang sudah melangkah keluar rumah.
Arta yang mendengar kata-kata itu mengepalkan tangannya dengan erat. Ingin sekali rasanya ia menarik mulut pria itu lalu mencabik-cabik tubuhnya dan menggantung organnya di alun-alun kota.
Pada akhirnya mereka pergi dari rumah itu menuju kediaman keluarga Whitegar.
Arta dan rombongan keluarga Whitegar melakukan perjalanan menuju rumah mereka. Selama diperjalanan Arta hanya diam, ia menatap sendu ke arah luar melalu jendela mobil itu. Tubuhnya terasa sakit namun hatinya lebih sakit lagi, ia tak menyangka orang yang selalu dianggapnya keluarga rela menukar dirinya demi kepentingan mereka tanpa memperdulikan pendapatnya.
"Arta maaf melibatkanmu dengan masalah ini," ucap Arkan menatap Arta yang sedari tadi terdiam. Arta dan Arkan berada dalam mobil yang sama sementara Papa George,Mama Lily dan Samuel berada di mobil lain.
"Sudahlah kak, ini bukan salahmu, sudah nasibku menjadi orang buangan," ucap Arta sendu.
Mendengar itu Arkan meminggirkan mobilnya ke tepi jalan, ia menatap Arta dengan tajam.
"Apa kak Roki mengajarimu untuk jadi orang yang lemah seperti ini hah!!" bentak Arkan membuat Arta terkejut dengan bentakan pria berkacamata itu.
"Ak...aku...hiks...hiks...hiks," belum sempat Arta melanjutkan perkataannya ia sudah menangis, entah mengapa bila di dekat pria ini rasanya ia bisa menangis dengan aman.
"Hahh....." desah Arkan.
"Maaf, aku hanya khawatir padamu," ucap Arkan lembut.
.
.
.
.
Like, vote, koment 😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Susan Handayani
syukurlah s Arta s bawa oleh keluarga s Arkan 🥰🥰🥰
2021-11-13
1
Lili Yoon
aku kira keluarga Arkan gak suka sama Arta Krn wajahnya tp malah di luar nalar
2021-09-16
1
Obibibi
sukakkk terhura aku
2021-09-13
0