"Tidak! aku harus memberitahukan ini karena kamu calon istriku!" ucap Arkan.
"Baiklah kak, Lalu apa yang terjadi saat kalian sampai di gedung itu?" tanya Arta.
"Saat itu saat kami sampai di atap gedung itu, kami mencium bau alkohol yang sangat kuat. Lalu terdengar suara tamparan dan pukulan berkali-kali namun kami tak tahu siapa yang jadi korbannya.
Saat itu hari sudah sore, perlahan-lahan kami mendekat ke sumber suara dan betapa terkejutnya kami melihat beberapa anak dengan tubuh besar yang biasanya menyempil diantara kami menganiaya Nathan di atap gedung itu. Nathan sudah bersimbah darah, saat hendak menyelamatkan Nathan, kak Roki mencegahku agar tidak gegabah. Kami menghubungi bodyguard yang selalu mengikuti kami untuk memberikan bantuan serta menghubungi polisi.
Namun saat itu, aku mendengar kata-kata yang membuat amarahku memuncak.
'hei cupu!! kau pikir dengan bergaul bersama anak orang kaya dan tampan seperti Arkan dan anak gaul seperti Roki akan mengubah derajat hidupmu hah?' kata seorang perempuan dengan sebatang rokok di tangannya sambil menarik kuat rambut Nathan. Dan kau tahu? perempuan itu adalah tania yang akan dijodohkan denganku.
'Bukan harta dan penampilannya yang ku lihat tapi hatinya' jawab Nathan walau dalam keadaan tubuh babak belur.
Mendengar jawaban Nathan, mereka semua malah tertawa terbahak-bahak, menghina, memukuli dan menendangi tubuh Nathan dengan brutal.
Seseorang dari mereka mengangkat tinggi tubuhnya seperti sebuah barang yang akan dihancurkan.
Melihat kejadian itu, karena sudah tak sabar aku malah berlari ke arah mereka berusaha menyelamatkan Nathan tapi naas, pria yang mengangkat tubuh Nathan hilang keseimbangan hingga menyebabkan Nathan terlempar ke luar gedung.
Namun, dengan sigap ku raih tangan Nathan hingga dia berada pada posisi bergelantungan di atas gedung itu.
Tangisku tak dapat ku bendung, Nathan memandang ku dengan senyuman tulusnya. Dia berterimakasih karena telah merasakan bagaimana punya sahabat sejati seperti aku dan kak Roki sebelum akhirnya dia melepas genggamanku dan terjatuh ke dasar gedung itu.
Kami semua syok bahkan tak ada satu orang pun yang bergerak dari gedung itu. Sejak saat itu, aku mengidap penyakit gangguan psikis dan trauma berat," ucap Arkan menjelaskan masa lalu dan penyakitnya.
"Lalu kapan itu kambuh?" tanya Arta.
"Penyakit ku bisa kumat saat aku terlalu lelah atau banyak pikiran, terkadang aku memilih tinggal terpisah dengan keluargaku bahkan tak terlalu melibatkan diri dengan perusahaan," jelas Arkan.
"Selain itu, dalam kondisi paling parah aku akan lumpuh lebih parah dari ini," tambahnya menjelaskan.
"Arta, ku harap kau mempertimbangkan pernikahan ini. Aku tak ingin kau menjadi pelampiasan ku saat aku kumat nanti. Karena aku tak tahu apa bisa ku lakukan padamu nanti nya," ucap Arkan sedih.
Arta terdiam, dia tak mampu mengatakan apa apa. Pikirannya kacau, baru saja ia mencoba menerima orang lain tapi justru orang itu punya penyakit yang malah bisa mengancam nyawanya.
"Kak Arta keluar dulu, tidurlah," ucapnya pada Arkan lalu berlalu keluar kamar itu.
Arkan menatap kepergian gadis yang telah mencuri hatinya itu. Ada rasa sesal dalam hatinya saat ia menceritakan semua masa lalunya itu, namun ini pilihan terbaik agar Arta tetap selamat.
Sementara itu, Arta tengah bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Apa yang harus ku lakukan Tuhan? bantulah anak-Mu ini, sungguh berat bagiku untuk mengambil keputusan," tangisnya dalam doanya.
Lama Arta menangis dalam kamar itu, hingga ia terlelap lalu masuk ke dunia mimpinya.
Dalam mimpinya, Arta berjalan di sebuah taman yang sangat indah nampak banyak bunga bertebaran.
Tampaknya taman tersebut berada di atas langit, sebab banyak awan putih nan bersih disana.
"Ahahahha" terdengar suara tawa anak kecil berlari ke arahnya sambil membawa setangkai bunga.
"Hei siapa namamu nak?" tanya Arta pada anak kecil itu.
" Ada deh, terima ini Tante!" ucap anak perempuan itu.
"Untuk apa sayang?" tanya Arta.
"Hadiah buat Tante, ku harap Tante menerimanya. Oh iya aku cuma mau bilang, kebahagiaan sudah dihadapan Tante, terimalah dia apa adanya dan kasihilah dia seperti dirimu sendiri. Dan yakinlah masa depan sungguh ada dan harapanmu takkan hilang Tante," ucap anak kecil itu.
"Apa yang harus Tante lakukan sayang?" tanya Arta pada anak itu.
"Berdamailah dengan dirimu, bersikap jujurlah, rawatlah dia dengan penuh kasih sayang karena hati yang gembira adalah obat tetapi semangat yang patah akan mengeringkan tulang. Terimalah dia Tante maka kebahagiaan menjadi milikmu," ucap anak perempuan itu lalu pergi meninggalkannya sendirian di taman itu.
"Hey nak tunggu aku belum selesai," teriak Arta namun anak itu telah menghilang.
"Hey!" teriak Arta bangun dari mimpinya.
"Ah mimpi ternyata, tapi sangat nyata. Jam berapa ini?" gumamnya sambil menoreh ke jam dinding yang menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
"Oh iya bagaiman keadaan kak Arkan?" ucapnya lalu bangkit berjalan menuju kamar Arkan.
Dibukanya pelan pintu kamar itu, ditatapnya pria itu tengah terlelap namun dengan wajah masih sedikit pucat. Arta berjalan mendekati Arkan dan duduk di pinggir kasur itu.
"Ah Tuhan, biarlah rancangan-Mu yang terjadi dan bukan rancangan-ku. Aku yakin Engkau telah menyediakan masa depan yang indah buat kami. Aku akan menerimanya, kumohon bantu aku menjalaninya Tuhan," ucap Arta pelan sambil menatap lekat pada Arkan.
Arta mengecek suhu tubuh Arkan dan terasa masih hangat. Mungkin tekanan berat akibat trauma dan gangguan psikis itu membuatnya lemah dan tak berdaya.
Setelah mengecek tubuh Arkan, Arta menambahi selimut Arkan supaya dia tidak demam. Ia dengan telaten mengelap wajah Arkan yang sedikit berkeringat. Arta seolah lupa dengan rasa kantuknya.
Setelah memastikan semuanya beres Arta memilih melanjutkan tidurnya dan memilih tidur di sofa panjang di sudut kamar itu untuk berjaga-jaga apabila Arkan membutuhkan bantuan nanti.
Malam yang dingin itu dilalui mereka dalam dunia mimpi mereka yang tenang dan indah.
Waktu terus bergulir, jam telah menunjukkan pukul 6 pagi , sang matahari tampak malu-malu menampakkan dirinya.
Arkan bangun dan duduk di tempat tidurnya, tubuhnya terasa agak mendingan saat bangun. Rasa sakit dan lumpuh di kakinya mulai mereda tidak separah semalam.
Saat bangun Arkan tak lupa berdoa sebelum memulai aktivitas nya. Selesai berdoa, Arkan duduk di kasurnya dia berpikir sejenak mengapa tubuhnya bisa pulih secepat itu. Biasanya jika penyakitnya kumat, paling cepat 3 hari ia pulih itupun setelah dirawat oleh dokter pribadinya.
Arkan tak menyadari Arta tengah terlelap di sofa kamar itu.
Saat ia mengarahkan pandangannya ke arah jendela yang kebetulan berada di dekat sofa, matanya terbelalak menyadari sosok manusia yang tengah terlelap di sana.
"Astaga Arta! kenapa dia tidur disana? Apa dia menjagaku semalaman?" ucap Arkan terheran dengan pemandangan di depannya.
Arkan dengan perlahan mencoba untuk bangkit dari kasurnya. Ia berjalan tertatih mencoba mendekati Arta untuk membangunkan gadis itu.
"brukk"
Arkan kehilangan keseimbangannya dan terjatuh karena kakinya masih lemah.
Arta terbangun saat mendengar suara jatuh itu. Dengan cepat dia bangkit dan didapatinya Arkan tersungkur di lantai.
"Kak Arkan!!" teriak Arta khawatir.
.
.
.
Mohon beri jejak 😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Anonymous
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
2022-03-22
0
Susan Handayani
Arta sayangilah Arkan seperti dirimu d sayangi oleh keluarganya 👩❤️👩👩❤️👩👩❤️👩
2021-11-13
0
Dream Girl
keren novel nya bagus thor
2021-11-07
0