Arta masuk ke dalam toilet lalu membersihkan wajahnya dan menghilangkan bekas lukisan itu. Kini bekas luka itu jelas terlihat di wajahnya.
Arta mengganti pakaiannya dengan kaos oblong berwarna hitam serta jeans hitam dilengkapi dengan sneaker putih di bagian kakinya.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai tak lupa ia memakai masker menutupi wajahnya.
"Hei jantung kumohon bekerja samalah denganku, jangan buat malu!" ucap Arta menatap wajahnya di depan cermin sambil mengelus dadanya agar merasa tenang.
"Huh sudah selesai!" ucapnya lalu keluar dari ruangan itu.
Saat Arta keluar ia terkejut melihat Arkan yang membaringkan Celo di atas sebuah meja.
"Tante!" seru kedua anak kecil itu berlari memeluk Arta.
"Hai sayang kalian baik-baik saja kan?" ucap Arta menyamakan posisi tubuhnya setinggi kedua anak itu.
"Iya Tan, terimakasih sudah bantu Jo dan Jen," ucap gadis kecil bernama Jeni itu.
"Iya sayang sama-sama, oh jadi nama kalian siapa tadi?" tanya Arta menatap keduanya.
"Aku Josua tan dan ini adik kembar ku Jeni," ucap Josua menjelaskan.
"Wah si kembar imut ini, ya sudah kita duduk dulu disana," ucap Arta ingin beranjak namun kedua anak itu menahan Arta.
"Tan kenapa pakai masker? Jeni jadi takut," ucap Jeni berkaca-kaca.
"Hmm? kalau tante buka masker justru kamu akan lebih takut sayang," ucap Arta membelai wajah gadis itu.
"Tan di buka ya pliss, kita gak akan takut kok. Justru kami takut kalau Tante pakai masker seperti ini, kami trauma dengan penjahat-penjahat itu tan. Mereka memakai masker seperti tante," ucap Josua menjelaskan trauma mereka sambil menenangkan Jeni yang mulai menangis ketakutan.
Arta tidak tega melihatnya, akhirnya ia membuka maskernya lalu terlihat dengan jelas bekas luka di pipi kanannya itu.
"Ya sudah ini Tante buka, tapi kalau takut bilang ya karena Tante cacat," ucap Arta menjelaskan sambil membuka maskernya.
Kedua anak itu melihat arta dengan tatapan bahagia, bukannya takut mereka malah tersenyum bahagia melihat Arta.
"Kalian kenapa senyum senyum?" tanya Arta bingung.
Seharusnya mereka takut tapi malah tersenyum melihat wajah buruk milik Arta itu.
"Tante cantik seperti yang dikatakan om itu!" ucap Jeni tersenyum sumringah menampakkan gigi putihnya sambil menunjuk ke arah Arkan.
Arkan yang menyadari dirinya ditunjuk, membalikkan badannya sambil berpura-pura mengecek keadaan Celo yang masih pingsan cantik.
"Siapa?" tanya Arta mengikuti arah tangan gadis kecil itu. Matanya tertuju pada Arkan yang pura-pura sibuk.
"Hahahah, bisa saja kalian ini," ucap Arta terkekeh geli sambil mencubit gemas kedua bocah itu.
"Ayo kesana!" ajak Arta.
"Dia mengatakan aku cantik? aduh kenapa lagi kau jantung tolonglah berhenti, eh tapi kalau berhenti aku mati dong hahah," ucap Arta dalam hatinya.
"Kak kenapa cecunguk ini?" tanya Arta pada Arkan sambil menatap tubuh Celo.
"Pingsan tadi, gak kuat sama kenyataan hahah," ucap Arkan terkekeh geli mengingat ekspresi kaget Celo ketika Jo dan Jen keluar dari lemari itu.
"Dasar ni anak ya!" ucap Arta kesal.
"Kak bisa bantu Aku? kalian juga Jo dan Jen bantu om Arkan menggoncang meja ini biar kita kerjain Om tampan itu," Seru Arta dengan rencana Liciknya.
Arkan bersama si kembar Jo dan Jen mulai menjalankan aksinya, sementara Arta menjatuhkan barang-barang hingga terdengar keributan disana.
"Celo bangun !!ada gempa!!" teriak Arta.
"Gempa! Gempa! tolong- tolong," teriak Celo bangun dari meja itu sambil berlari terbirit-birit keluar dari ruangan itu.
"Hauahahahahah" suara tawa memenuhi ruangan itu. Sementara itu Celo yang berada di luar ruangan itu merasa heran sebab orang-orang memandanginya dengan tatapan aneh.
"Astaga bodohnya kau Celo!!kau di kerjain sama kak Arta," gerutu Celo menepuk-nepuk jidatnya lalu kembali ke ruangan itu.
"Kak Arta !!" teriak Celo kesal.
"Ayo anak-anak kita keluar, mari kak," ucap Arta menggendong Jeni sementara Arkan menggendong Josua, mereka bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa barusan.
"Hei kau Celo cepatlah! siapkan mobil kita pergi makan, sepertinya kau sangat lapar hingga suara perutmu terdengar hingga ke penjuru dunia!!" seru Arta pada Celo yang bingung dengan keadaan yang dilihatnya dan memang benar dia sedang lapar.
"Ah baiklah!" ucapnya berlari mendahului mereka lalu menyiapkan mobil untuk mereka kendarai.
Arkan yang melihat hal ini, semakin penasaran dengan siapa sebenarnya sosok calon istrinya itu .
"Siapa sebenarnya kamu Arta? mengapa banyak kejutan dari dirimu? tapi aku juga punya hutang penjelasan sih heheh," ucap Arkan sambil senyum-senyum sendiri dalam lamunannya.
"Apa yang lucu om?" tanya Josua yang berada dalam pangkuannya.
"Ah tidak sayang," ucap Arkan mengelus kepala anak lelaki itu.
Mereka pun meninggalkan gedung dan festival itu menuju rumah Arta di sebuah kawasan elit.
"Kak kita ke rumahku saja ya, takut kalau preman itu kembali mengejar mereka berdua," ucap Arta pada Arkan yang duduk disampingnya sambil menggendong Josua yang telah terlelap begitu juga dengan Jeni yang terlelap di pangkuan Arta.
"Terserah kamu saja Arta," ucap Arkan pelan namun masih bisa didengar Arta agar tidak menggangu tidur dua bocah itu.
"Kalian sudah seperti sebuah keluarga yang harmonis," ucap Celo dari depan.
"Menyetir saja yang benar, kita ke rumah!" seru Arta.
"Hehehe siap buk bos!" ucapnya sambil mengangkat tangannya membentuk huruf O.
"Oh iya kenalkan dia calon suamiku, Arkan, " ucap Arta memperkenalkan Arkan pada Celo.
Celo tersentak kaget hingga tak sengaja menekan klakson mobil. Beruntung mereka sedang berhenti karena lampu merah, bisa-bisa Celo malah menabrak kendaraan lain.
tinnnn
"Astaga Celo! kamu hampir membuatku benar-benar serangan jantung, untung anak-anak tidak bangun," ucap Arta berdecak kesal
"Maaf Kak, benarkah dia calon suami kakak?" tanya Celo memastikan ucapan Arta.
"Menurutmu setelah melihat adegan tadi?" kali ini Arkan menyanggahi Celo, Arta yang mendengar itu merasa malu mengingat kejadian tadi walaupun dibuat-buat tapi rasa gugupnya benar-benar nyata.
"Ehem...oh oke baiklah ternyata kakakku ini tak lagi jomblo hahahha," ucap Celo tertawa riang mendengar kabar bahagia itu.
"Lalu siapa mereka?" tanya Celo melirik kedua anak yang tengah tertidur pulas itu.
"Kami juga tidak tahu, tapi sepertinya mereka dalam bahaya jadi kami menolong mereka," jawab Arta.
"Coba kalian jelaskan supaya aku mengerti," ucap Celo sambil melajukan mobil itu karena lampu sudah berubah menjadi hijau.
Arta dan Arkan menjelaskan secara bergantian mengenai kejadian tadi hingga akhirnya Celo yang hampir berburuk sangka mengerti cerita yang sebenarnya.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian Kota yang dipanggil kota Bunga itu.
Tak lama mereka sampai di sebuah kawasan elit, kawasan rumah mewah orang-orang kaya. Dari luar tampak rumah itu sangat mewah dibandingkan rumah yang lain, saat memasuki kawasannya sungguh menakjubkan, terdapat sejumlah taman bermain disana lengkap dengan taman bunga.
Rumah itu terdiri atas 4 lantai yang dihuni oleh karyawan-karyawan Star Company yang bekerja dengan Arta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Susan Handayani
Arta ternyata Lo kokai knp Lo menutupinya 🥺🥺🥺
2021-11-13
0
Lili Yoon
Arta bener bener penuh dengan misteri dan Riko keluar negeri juga bekerja sebagai apa ya ?
apa juga mengurus perusahaan besar juga ?
2021-09-16
0
kookv
waow surprise... mau aj dianiaya padahal kaya....
2021-09-06
0