"Ak...aku...hiks...hiks...hiks," belum sempat Arta melanjutkan perkataannya ia sudah menangis, entah mengapa bila di dekat pria ini rasanya ia bisa menangis dengan aman.
"Hahh....." desah Arkan.
"Maaf, aku hanya khawatir padamu," ucap Arkan lembut. Dia mengerti jika perasaan gadis itu kini sedang sangat rapuh, ia menarik pelan tubuh gadis itu, di tatapnya wajah pilu gadis itu.
"Lihatlah wajahmu ini,sampai bengkak begini ck, apa kau tak melawan saat mereka memukulmu, bagaimana aku tidak khawatir kalau kau sampai lebam seperti ini Arta!" ucap Arkan semakin kesal.
"Lihat tanganmu ini, lehermu juga semuanya luka! jahat sekali mereka!" Arkan mengamati tubuh Arta yang penuh luka, ada rasa sakit di hatinya saat melihat luka-luka itu.
"Apa ini tidak sakit hmm?" ucapnya seraya memegang dahi lebam gadis itu.
Arta hanya menangis, ia menangis sejadi-jadinya saat melihat dan mendengar perhatian Arkan.
"Hiks..hiks..hiks..huaaaaa....hiks,"
Arkan memeluk Arta dengan lembut, "Menangis lah sepuasmu, buang semua bebanmu malam ini," ucap pria culun itu .
Lama menangis di dalam mobil membuat Arta terlelap dalam dekapan Arkan, dengan sigap Arkan meletakkan tubuh gadis itu dengan lembut di kursinya dan menurunkan kursi mobilnya agar Arta nyaman.
Arkan membawa Arta menuju kediaman utama keluarga Whitegar. Dalam perjalanannya ia memikirkan banyak hal, semua kejadian tidak terduga hari ini sungguh di luar nalarnya.
Ia memang berjanji akan menjaga Arta, tapi apakah harus melibatkan gadis itu dalam masalahnya? di satu sisi ia mulai menaruh hati pada Arta dan ingin melindungi gadis itu, disisi lain ia tak ingin Arta merasa sedih karena harus menikah dengan dirinya yang culun itu, ia takut Arta tak menerima dirinya.
Arta dan Arkan sampai di kediaman Whitegar, rumah mewah dengan fasilitas lengkap, nuansa hitam putih lebih dominan dalam rumah tersebut. Arkan mengangkat tubuh Arta dengan perlahan menuju kamar tamu yang sudah dipersiapkan.
"Kasihan sekali dia," ucap Mama Lily mengamati seluruh tubuh Arta yang terluka.
"Ma tolong jaga dia sebentar biar Arkan hubungi Fiko," ucap Arkan yang ditangguhkan oleh Mama Lily.
Mama Lily membersihkan tubuh Arta dengan air hangat yang sebelumnya dibawakan oleh pelayan rumah itu.
"Kamu pasti gadis yang baik, Mama akan jaga kamu sayang," ucap Mama Lily. Sejak melihat gadis ini, ia sudah tahu kalau gadis itu adalah gadis baik, ia sudah menyukai gadis ini sejak pertama kali melihatnya.
Beberapa saat kemudian Fiko yang merupakan dokter pribadi Arkan tiba atas panggilan Arkan.
"Kenapa bro?" tanya dokter Fiko pada Arkan yang tengah menunggunya di ruang santai dekat kamar Arta.
"ikut gue!" ucap Arkan.
Mereka memasuki kamar Arta bersama sama. Fiko menyergitkan keningnya, sejak kapan ada wanita lain di rumah ini? Arkan kan tak bisa sedekat itu pada wanita ? begitulah isi pikiran Fiko saat melihat Arta berbaring di atas kasur.
Fiko menatap Arkan penuh pertanyaan namun Arkan tak menggubris, sorot matanya memerintahkan Fiko untuk segera memeriksa kondisi gadis itu.
"Malam Tante Lily," sapa Fiko.
"Malam nak, sudah datang rupanya, tolong periksa kondisi anak Tante," ucap Mama Lily memberi ruang pada Fiko.
Anak? pikir Fiko, siapa gadis ini? itulah yang ada dalam benaknya saat ini. Namun melihat kondisi Arta, Fiko memilih diam dan melanjutkan tugasnya. Fiko memeriksa keadaan Arta dengan seksama, beberapa menit kemudian dia sudah selesai.
"Saya sarankan nona ini istirahat dahulu, banyak lebam di tubuhnya menurut perkiraan saya dia sudah mengalaminya sejak lama, bahkan masih ada bekas luka lama yang belum kering," tutur Fiko.
"Dan ini obat resep yang harus ditebus di apotek, mohon perhatikan juga pola makan dan pola istirahat nona ini," jelas Fiko.
"Baik, terimakasih Fiko," ucap Mama Lily, sementara Arkan hanya diam, ia menatap Arta dengan tatapan tak biasa.
"Ar, gue mau bicara," bisik Fiko.
"Nanti Fik, Lo balik aja!" ucap Arkan.
Fiko hanya mendengus kesal, sudah dipanggil malam-malam begini, dibuat penasaran, malah disuruh pulang tanpa penjelasan.
"Terserah Lo deh, Tan Fiko pulang ya!" pamit Fiko yang dianggukkan oleh Mama Lily.
Arkan dan Mama Lily menatap sendu ke arah Arta yang masih terlelap, setelah beberapa menit mereka keluar dan meninggalkan gadis malang itu disana.
Malam berganti menjadi pagi, Arta mengerjapkan matanya, berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya meskipun luka-lukanya belum sembuh sepenuhnya.
"Hmmm....dimana aku?" gumamnya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mewah itu. Arta bangkit dari tempat tidurnya, kepalanya sedikit pusing, dilihatnya jam menunjukkan pukul 6 pagi.
Setelah membersihkan dirinya sekedarnya, Arta melangkah keluar dari kamar itu. Dia berjalan menyusuri ruangan mewah dan indah itu.
"Ini dimana?" tanyanya dalam hati, seketika langkahnya berhenti saat melihat foto keluarga terpampang jelas di ruang santai, ia berjalan mendekati figura itu.
"Ah....jadi ini di rumah kak Arkan, tapi kak Arkan yang mana?" ucap Arta bingung saat melihat tak ada foto pria culun itu disana.
"Kamu sudah bangun Arta?" terdengar suara berat khas milik Arkan mengejutkan Arta.
"Eh...kak, aduh ma..maaf Arta gak bermaksud sembarangan," ucap Arta tertunduk takut.
"Sini, duduk dulu," ucap Arkan sambil menarik lembut tangan gadis itu.
Mereka duduk di ruang santai keluarga Whitegar.
"Bagaimana keadaanmu? apa ada yang sakit? apa kamu lapar? luka-lukamu bagaimana? ada yang kamu butuhkan? hmmm?" cerca Arkan dengan banyak pertanyaan membuat Arta bingung sendiri.
"Eh...kak hmmm Arta baik-baik saja kok," ucap Arta gugup menjawab pertanyaan Arkan.
"Hufftt.....ini obatmu, pastikan kamu konsumsi dengan teratur, pakai juga salepnya supaya luka-lukanya cepat sembuh, kata dokter kamu harus banyak istirahat, makan juga yang benar jangan sampai saki,''ujar Arkan panjang lebar membuat Arta seketika tersenyum mendengar betapa cerewet nya pria di depannya itu
"Hehehe....kak Arkan ternyata cerewet ya," kekeh Arta membuat Arkan tiba-tiba tersadar betapa cerewetnya dirinya sejak tadi.
"Ehmm...eh...pokoknya lakukan saja," dengus Arkan malu dengan ucapan Arta, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu untuk menetralisir rasa gugupnya.
"Iya kak, terimakasih ya," ucap Arta dengan senyuman lembut membuat Arkan salah tingkah, jantungnya terasa berdegup kencang melihat senyuman manis itu.
"Hmmm, a..ayo ke ruang makan," ucap Arkan gugup dan langsung berjalan mendahului Arta.
Dibalik dinding, Mama Lily, Papa George dan Samuel terkikik kecil menahan tawa mereka saat melihat ekspresi Arkan yang salah tingkah.
"Hahahaha, Pa Arkan lucu sekali ya, baru kali ini Mama dengar dia begitu cerewet dengan seseorang," kekeh Mama Lily.
"Arkan juga ternyata bisa dekat dengan wanita Pa, Ma, wah gadis ini membawa pengaruh baik bagi Arkan," ucap Samuel.
"Sudah- sudah ayo kita sarapan," ucap Mama Lily.
Mereka berkumpul di ruang makan, Arta dengan sigap membantu pelayan mempersiapkan sarapan pagi walaupun harus berdebat dengan pelayan disana.
"Bik biar Arta bantu ya," ucap Arta memelas.
"Nggak usah non, ini sudah tugas kami," ucap Bibi pelayan di rumah itu.
"Please ya bik, Arta bantu ya ya ya ....hmm?" pinta Arta memelas membuat Pelayan itu gemas sendiri dengan perilaku nona manis itu.
"Tapi kami akan kena marah nanti non, biar kami yang lakukan ya nona duduk saja di samping tuan Arkan," kekeh Pelayan paruh baya itu melanjutkan pekerjaannya.
"Hmmph...," dengus Arta,
"Pokoknya Arta bantu ya bik," ucap Arta yang sudah kabur membawa makanan yang sudah di tata oleh pelayan itu. Beberapa pelayan disana tersenyum melihat tingkah jenaka gadis itu, mereka tak menyangka bahwa tamu spesial yang dibawa oleh tuan mereka adalah orang yang sangat ramah dan baik.
"Sepertinya rumah ini akan diberkati dengan kebahagiaan setiap hari," gumam pelayan itu memandang Arta yang sibuk menata makanan di atas meja makan.
"Ar biar pelayan saja, " ucap Arkan tak ingin Arta lelah.
"Eheheh, Arta bantu sedikit kok," ucap Arta.
Tak beberapa lama semua keluarga sudah berkumpul dalam ruang makan, Arta memilih berdiri di samping pelayan paruh baya karena merasa tak layak jika harus duduk semeja dengan mereka.
"Arta duduk disini," ucap Arkan, gadis itu duduk di samping Arkan. Mereka melanjutkan acara makan pagi mereka dengan hening.
"Arta bagaimana keadaanmu?" tanya Mama Lily membuka percakapan.
"Arta sudah mendingan kok Tan," jawab Arta.
"Maaf membuatmu terlibat dengan masalah keluarga kami nak," ucap Papa George menimpali.
"dan lagi kamu harus menikah dengan anak kami," tambah Papa George.
"Bagaimana perasaanmu nak? apa kamu setuju? kami juga tak mungkin menghentikan pernikahan ini, kami mohon bantulah kami." pinta Mama Lily, sementara itu Arkan dan Samuel hanya diam, merreka menyerahkan masalah ini pada kedua orangtuanya.
"Ehmm...sebelum itu Arta mohon jelaskan dahulu situasinya Om, Tan agar Arta setidaknya bisa mengerti, selain itu Arta juga sudah mengiyakan ucapan Om Jaya waktu itu, tak mungkin Arta menolak lagi, jika menolak sama saja Arta akan disiksa lagi oleh mereka," lirih Arta, matanya mulai menganak sungai namun semampunya ia menahan tangisnya itu.
Mereka pun menceritakan semua rangkain peristiwa penyebab masalah ini terjadi, kenyataan bahwa mereka tidak bangkrut dan kenyataan bahwa Tania bermain api di belakang mereka selama ini.
Arta begitu terkejut mendengar penjelasan mereka, ia tak menyangka Tania akan melakukan hal sebejat itu.
"Bagaimana nak, apa kamu bisa membantu kami ? Mama jamin kamu akan bahagia disini," pinta Mama Lily dengan nada memohon.
"Tapi..apa kalian tidak malu?" ucap Arta yang membuat semua orang mengerucutkan keningnya bingung.
"Maksud kamu?" tanya Arkan yang akhirnya buka suara.
"Apa kalian tidak malu punya keluarga cacat seperti Arta?" jelas Arta dengan maksudnya.
"Kami tidak malu, kamu lihatkan penampilan Arkan itu? kami tak pernah malu dengan penampilannya yang culun itu, apalagi hanya sebuah goresan kecil di wajahmu itu, masih bisa diperbaiki jika kamu tak nyaman," tukas Samuel yang tak suka dengan pemikiran sempit calon adik iparnya itu.
"Kamu tenang saja nak,Papa, Mama dan semua orang di rumah ini tidak pernah memandang orang dari rupa, bagaimana kamu mau kan melanjutkan pernikahan kalian?" tanya Papa George.
"Arta mau kok Om, Tan," ucap Arta pelan.
"Yes!" teriak Arkan yang membuat semua mata tertuju padanya.
"Eh..aww...maksudnya awww Ka...Kiky ke..keram...ehemmm..." ucap Arkan gelagapan karena sedari tadi sebenarnya ia sangat gugup menanti jawaban gadis itu.
"Bwahahahhaha......Arkan Arkan," ledek Samuel.
"Ada-ada saja kamu Arkan, nak Arta maafkan perilaku anak-anak Mama ya memang agak gimana gitu heheh," kekeh Mama Lily,
"Iya Tan," ucap Arta malu.
"Mulai sekarang jangan panggil Om Tente lagi, panggil Papa Mama seperti Sam dan Arkan ya," ucap Papa George.
"Baik Om...eh Pa, Ma," ucap Arta dengan senyuman bahagia, akhirnya ada orang yang bisa dia panggil lagi dengan sebutan itu.
Mereka pun melaksanakan aktivitas mereka dengan semangat, Samuel berangkat ke kantor dan Arkan melakukan aktivitasnya seperti biasa, sementara Papa George dan Mama Lily berangkat keluar mengurus seusatu.
Arta diminta tinggal dan beristirahat di rumah agar cepat pulih, Arta memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara dengan kakaknya perihal pernikahannya.
Mereka melakukan aktivitas dan mengurus beberapa masalah hingga hari menjelang malam dan satu-persatu anggota keluarga kembali ke rumah.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Sani Srimulyani
akhirnya arta berada di lingkungan yg tepat.
2022-12-31
0
Susan Handayani
y Arta lebih baik kamu sm s Arkan dr PD SM s Robin 😋😋😋
2021-11-13
2
Sumarni Marrynys
arkan arkan kok aku gemes sendiri sih denger arkan yg bahagia banget bsa sama arta😊😅
2021-10-29
0