Suasana ramai di area festival memenuhi alun-alun kota itu. Semua orang tampak menikmati acara yang diselenggarakan Star Company itu.
Banyak hal mengejutkan yang sontak menjadi perbincangan hangat di mata masyarakat. Miss Chan menjadi trending nomor 1 dalam pencarian internet, diikuti Mr. Lukas si pria tampan yang baru menampakkan diri dan diposisi ketiga adalah Pria bertopeng perwakilan Grup Whitegar yang rumornya mengalami kebangkrutan.
Saat semua orang menikmati berbagai macam acara di festival itu, seorang pria tampan dan muda dengan tinggi 183 cm, memakai setelan jas hitam dengan dasi merah maron tengah gelisah dan mengalami kegugupan.
"Sial! Harusnya gue gak nekat datang kesini, lagian kenapa si kunyuk itu harus mewakili perusahaan Papa sih? Bosnya dia gue atau Papa?" gerutunya kesal.
Jantungnya kini sudah tak normal, keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya, terlebih lagi rasa gugupnya karena terus dipandangi oleh pengunjung-pengunjung disana.
Bersyukur dia membawa 2 orang pengawal yang siap siaga melarang mereka untuk mendekat.
Tiba-tiba ada seorang wanita dengan pakaian kurang bahan hingga mengekspos bagian dadanya yang nampak diperbesar dan rok pendek yang menunjukkan pahanya,make up tebal seperti ondel-ondel dan rambut digulung ke atas, mendekat saat pengawalnya menahan gadis-gadis lain.
"Hai sayang! Kenalin aku Luna," ucapnya sambil duduk si sebelah pria itu lalu memegang tangannya dengan mesra.
Pria itu terkejut bukan main, dia hampir pingsan saat gadis itu menyentuh wajahnya.
"Pengawal!"teriaknya, segera pengawal itu menghempaskan tangan Luna dengan kasar.
"Sialan kau wanita jalang!!!" Murka pria itu lalu bangkit meninggalkan wanita itu disana.
"Cih lihat saja pasti kau akan jadi milikku!" Ucap Luna menatap punggung pria itu.
Pria itu melangkah tergesa-gesa sambil membuka dasinya dengan kasar, tubuhnya berkeringat dan jantungnya berdetak tak karuan.
Dia melangkah ke belakang panggung lalu masuk ke dalam sebuah bangunan di dekat area festival kemudian masuk ke dalam ruangan yang sepi untuk menenangkan dirinya.
"Hah hah.... sesak!!" teriaknya gelisah, seketika ingatannya akan sebuah trauma memenuhi kepalanya.
Dadanya terasa sesak, tubuhnya bergetar, keringatnya membasahi sekujur tubuhnya.
Tiba-tiba seseorang mendekap tubuhnya, ada rasa hangat dari dekapan orang itu seketika membuat tubuhnya yang lemah merasa tenang.
"Kak Arkan lihat Arta!" ucapnya sambil melepas topengnya.
Pria itu mendongakkan kepalanya menatap sosok hangat di depannya itu.
"Ar...Arta!" ucapnya sendu, kini ia membalas pelukan hangat gadis itu.
"Sudah tenang, Arta disini" ucapnya sambil memeluk Arkan.
Setelah tenang, Arta membawa Arkan duduk di kursi panjang dalam ruangan itu. Arta merogoh ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Halo Celo, tolong bawakan aku pakaian ganti dan bawakan juga sebuah kacamata dan masker sekarang ke gedung R!" titah Arta pada Celo lalu memutus panggilan itu.
"Kakak tenang saja, kita akan segera pulang" ucap Arta sambil memegang tangan pria itu.
"Hmm Kakak sudah tidak apa-apa," balas Arkan.
"Hah baguslah!" seru Arta.
"Tapi bagaimana kamu mengenaliku? selain itu ada apa dengan penampilanmu? Apa kau..?" tanya Arkan bingung.
"Nanti aku jelaskan, dan kurasa sudah waktunya aku memberitahukan semua tentang diriku pada kakak," ucap Arta menatap Arkan dengan serius.
"Dan kakak juga punya hutang penjelasan padaku," lanjutnya lagi sambil memandang Arkan dengan intens.
"Eh ba baiklah," ucap Arkan gugup.
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba ada sepasang anak kecil berusia 7 tahun berlari masuk ke dalam ruangan itu.
"brakkk"
Terdengar suara pintu dibuka dengan kasar. Kedua anak itu berlari bersembunyi di belakang Arta dan Arkan yang terkejut karena kedua anak itu.
"Om, Tan! tolong tolong bantu kami," ucap Anak laki-laki sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya memohon bantuan.
"i..iya Tan, Om bantu Josua dan Jeni!! kita dikejar-kejar penjahat," ucap gadis kecil itu memohon sambil menangis.
"Aduduh iya sayang kita bantuin. Jangan nangis ya," ucap Arkan tak tega melihat anak kecil itu menangis. Ia membawa kedua anak itu bersembunyi di dalam sebuah lemari.
"Ssst kalian disini diam ya, biar penjahatnya Om dan Tante yang urus," ucap Arkan mengelus wajah imut kedua anak itu.
"Terimakasih Om, Tante!" ucap mereka yang dibalas anggukan oleh Arkan dan Arta.
Arta tertegun dengan kelembutan Arkan pada kedua anak kecil itu. Sebentar ia tersenyum melihat perhatian pria itu.
Saat mereka menutup pintu lemari itu, tiba-tiba terdengar suara gebrakan pintu oleh 3 orang preman berwajah sangar.
"Cih, ada orang sedang bercinta disini! hei sebaiknya kalian cari hotel," seru pria besar itu kepada sepasang sejoli yang terlihat tengah melakukan aktivitas panas sambil bersandar ke lemari.
"Ayo kita pergi, sepertinya mereka tidak ada disini!" ajak pria yang satunya.
Mereka pun meninggalkan ruangan itu lalu beranjak mencari dua anak kecil tadi.
"Hmm kak..mereka sudah pergi," ucap Arta melepas tangannya dari bahu pria itu.
"Maaf Ar," ucap Arkan melepas pelukannya, wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang.
Tak berbeda dengan Arta, wajahnya merah padam, rasanya gugup berada pada posisi seperti tadi.
"Iya kak," jawabnya malu.
FLASHBACK
Mendengar suara langkah kaki ke arah ruangan itu, Arkan sontak menarik tubuh Arta yang berdiri di sampingnya. Arkan menyandarkan tubuh Arta ke lemari itu sambil mendekap tubuh gadis itu.
Sontak Arta terkejut namun ia mengerti apa tujuan dari tindakan Arkan ini.
Arkan memiringkan kepalanya ke arah kiri dan Arta ke kanan membuat seolah-olah mereka sedang berciuman padahal tidak.
"Ar, maaf bisa kau tahan posisi ini sebentar? dan letakkan tanganmu di bahuku," bisik Arkan pada Arta.
Dengan cepat Arta melakukan perintah Arkan, dan Pintu terbuka. benar saja 3 orang preman sangar hendak memasuki ruangan itu.
Arta memeluk Arkan sambil berpura-pura memejamkan matanya seolah menikmati kegiatan mereka namun jantungnya sudah berdegup kencang tak karuan.
"Astaga jantung, kumohon tenanglah!" ucap Arta dalam hati.
Dan benar saja tindakan mereka yang senatural mungkin itu berhasil mengelabui para preman itu.
FLASHBACK End
Suasana terasa canggung dalam ruangan itu. Arkan dan Arta terdiam membisu, rasanya jantung mereka akan meledak.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang membuka pintu pintu ruangan itu kembali.
Sontak mereka terkejut, dengan sigap mereka kembali berpelukan mengulang kejadian tadi.
Pintu terbuka dan betapa terkejutnya pria yang tak lain adalah Celo itu melihat aktivitas di hadapannya.
"Kakak!!" teriaknya menjatuhkan paper bag dari tangannya, matanya melotot dan rahangnya terjatuh.
Arta dan Arkan menoleh bersamaan ke arah sumber suara itu, mereka berdua terkesiap lalu langsung melepas pelukan masing-masing.
"Celo!!!" teriak Arta kesal sambil berjalan ke arah pria itu lalu mengunci pintu dan menarik telinga pria itu ke dalam ruangan itu.
"Ah..ah Ampun Kak Arta!" seru Celo meringis kesakitan.
"Kamu tuh ya bikin kakak senam jantung!" ucap Arta kesal karena yang mereka pikir preman tadi ternyata adalah si Celo.
"Loh kok kakak malah hukum Celo sih? harusnya Celo yang tanya kenapa kakak mesra-mesraan disini hah?" balas Celo sambil berkancah pinggang memelototi Arta dan Arkan secara bergantian.
Sementara Arkan hanya memangku tangannya di depan dada dengan wajah datar.
"Dan siapa pria berengsek itu kak hah?" geram Celo.
"Dan pakaian kalian? astaga apa kalian telah melakukan itu?" tanya Celo frustasi melihat jas dan dasi Arkan serta topeng dan sepatu Arta yang berserakan di lantai serta pakaian keduanya yang tampak acak-acakan.
"Hei kebumikan otak mesummu itu!!" ucap Arta kesal.
"Mana pakaianku?" ucapnya malas.
"Ini kak, tapi jelaskan dulu apa yang kalian lakukan disini hah? dan kenapa kalian berantakan sekali hah?" seru Celo bingung.
"Bukankah kau sudah mengatakannya tadi, kami melakukannya," ucap Arta mengerjai Celo lalu berlari menuju toilet di sudut ruangan itu untuk membersihkan dirinya.
Celo tak menyangka apa yang dikatakan oleh Arta, dia terpaku dengan perkataan bosnya itu.
Sementara Arkan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Celo dan Arta namun menurutnya sangat lucu.
Arkan membuka lemari dibelakangnya lalu mengeluarkan dua anak kecil yang bersembunyi tadi.
Dengan penuh perhatian dia menggendong kedua anak kecil itu lalu mendudukkan mereka di sebuah kursi.
"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Arkan sambil mengelus kepala mereka berdua yang dibalas anggukan kecil dua anak manusia itu.
Celo malah semakin terkejut melihat kehadiran dua sosok imut itu. Karena tak kuat menghadapi kejadian atau mungkin karena lapar karena tak sempat makan siang,Celo pingsan di tempatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Wulan Zahira
yaw ampun celo kamu tuh umur berapa🤣🤣
2022-04-25
0
Susan Handayani
celo knp kamu pingsan 😣😣😣
2021-11-13
0
Lili Yoon
miris sekali kau Celo 😂
2021-09-16
0