Arkan tiba di apartemen Roki yang jaraknya menempuh 30 menit perjalanan. Apartemen sederhana di sebuah kawasan perkotaan dengan kesan minimalis sangat cocok bagi anak muda yang tidak suka hal-hal rumit.
Arkan melangkahkan kakinya menuju apartemen nomor 14 dan langsung memasukkan kode password pintu apartemen itu. Arkan sudah sering menginap di tempat itu dan sudah jadi seperti rumah kedua baginya.
"Kak gue datang!" seru Arkan pada Roki yang tengah berkutat dengan komputer di meja kerjanya.
"Eh nyampe juga si Jamet," ledek Roki pada Arkan membuat Arkan melayangkan tatapan mautnya ke arah Roki.
"Apaan sih Kak garing tau," cetusnya kesal sambil mendaratkan tubuhnya di atas kasur yang tak jauh dari ruang kerja Roki.
"Kenapa tu muka, kayak gak makan 30 hari 30 malam kusut!" celetuk Roki sambil berjalan menghampiri Arkan.
"Privasi brother," jawabnya asal.
"Halah privasi nenek moyang kau!! entar pulang- pulang lu nangis kayak si Jamet gak dikasih jatah sama si doi hahahah" ledek Roki pada Arkan yang membuat Arkan semakin kesal.
"Apaan sih kak," ucapnya sambil melemparkan bantal guling yang dengan sigap ditangkap oleh Roki.
"Cerita dong, siapa tau gue bisa bantu," ucap Roki.
"Gue mau ngebatalin perjodohan sama tu cewek kak," ucap Arkan sambil membenarkan posisi duduknya.
"Emang cewek Lo siapa sih Ar??" tanya Roki penasaran.
"Loh kak Roki gak tau emang?" tanya Arkan balik.
"Gue gak tau bro heheh maklum gue gak peduli sama yang gituan. Lagian kalian kan dijodohin dari kecil selain itu pertemanan kita kan terjalin 5 tahun terakhir,"
dan gue banyak habisin waktu di luar negeri, mana ada pikiran gue buat nanya sama Lo Ar karena gue segan aja nanya siapa calon istri seorang Arkan entar dikira gue mau nikung lagi hahahah," tuturnya menjelaskan ketidaktahuannya.
"Oh," ucap Arkan singkat.
"Buset lu irit amat," ledek Roki mendengar tanggapan Arkan.
"Kak Roki gak usah tau deh, lagian gue bakal hentikan perjodohan ini. Entar calon istri yang benar-benar gue cintai yang akan gue kenalin ke kak Roki," ucap Arkan yakin sambil tersenyum sumringah dengan jejeran pagar hijau di giginya.
"Hahaha ya udah terserah Lo aja dek," ucap Roki lalu berlalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Sementara Arkan menyelesaikan beberapa dokumen perusahaan miliknya yang sudah dikirim lewat email oleh asistennya di kantor.
Detik berganti menit, menit berganti jam tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Arta sedang berada di sebuah pondok kecil di belakang Star Cafe. Pondok ini merupakan tempat istirahat Arta bila sedang tidak berkutat dengan laptopnya.
Ting
Terdengar notifikasi pesan di ponsel Arta.
"Ar Kakak lagi jalan ke cafe, tunggu ya!" isi pesan kakak Arta.
Setelah melihat pesan itu, Arta tersenyum, ia bangkit dari tempat tidur mininya lalu masuk ke dalam cafe dan duduk di tempat biasanya.
15 menit kemudian saat Arta tengah asyik berkutat dengan laptopnya tiba-tiba ada seseorang menarik kursi yang ada di depan Arta lalu duduk disana.
"Sudah lama ya Arta Chan Kartier," ucap seorang pria berwajah lumayan menarik dan penampilan yang mampu menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.
Arta yang mendengar suara tak asing itu memanggil namanya dengan lengkap menegakkan wajah menatap datar ke arah lelaki yang adalah mantan kekasihnya itu.
"Mau apa kamu kesini Robin?" ucapnya dingin lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada Laptop miliknya.
"Hanya sekedar berkunjung, gak masalah kan gue duduk disini?" ucap Robin.
Arta tak menggubris perkataan Robin. Melihat Arta tak merespon Robin langsung menarik masker yang dipakai Arta hingga memperlihatkan bekas luka di pipi kanannya itu.
"Hahahah ternyata rupa seorang Arta yang cacat seperti ini, sungguh menjijikkan!!" ejeknya setengah berteriak sehingga dapat di dengar oleh pengunjung lain di cafe itu.
"Cuih pergi kau dari sini!" bentak Arta menatap sinis ke arah Robin.
"Wuhuh tenang dulu babe, gue cuma mau ngasih undangan ini," cetus Robin sambil menyodorkan sebuah undangan pernikahan.
Saat Robin menyodorkan undangan itu, seorang wanita cantik nan elegan berjalan berlenggak lenggok menghampiri mereka.
Wajah cantik yang dipoles penuh dengan make up dengan tubuh yang di balut dress di atas lutut, di bagian atas sedikit terbuka hingga mengekspos bagian dada dengan rambut panjang sebahu sukses menunjukkan aura seksi wanita itu.
"Sayang sudah selesai?" ucapnya sambil memegang mesra pundak pria itu.
Arta yang mengenali suara itu menatap ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya ia melihat sepupunya, terlebih panggilan sayang yang dilontarkannya pada mantan kekasihnya itu.
"Tania!" ucapnya terkejut.
"Hei cacat! jangan panggil namaku yang indah itu dengan mulut kototmu itu!!" ucapnya sambil memandang jijik ke arah Arta.
"Ar kenalin ini calon istri gue, Tania sepupu Lo," ucap Robin sambil merangkul pinggul Tania mendekat ke arahnya dengan cepat Tania menanggapi hal itu lalu langsung memeluk mesra Robin dihadapan Arta.
Kini mereka menjadi perhatian banyak orang. Sebab Robin adalah seorang Presdir muda pimpinan group Sanjaya dan Tania adalah Artis papan atas putri tunggal Mahendra Group, perusahaan berpengaruh di kota itu.
"Hah kalian sama saja, dasar perebut milik orang!!" cetus Arta kesal melihat adegan menjijikkan di hadapannya.
"Sejak kapan kalian bersama? bukankah kau sudah punya calon suami Tania? kalian akan segera menikah bagaimana kau bisa melakukan hal itu?" cecar Arta tak habis pikir dengan kelakuan Tania.
"Hahaha apa pedulimu? Aku akan membatalkan perjodohan dengan si cupu itu, mana mungkin aku menikah dengan pria aneh seperti itu, kalau kau mau ambil saja kalian akan cocok hahahhah," ucapnya mengejek pria yang akan di jodohkan dengannya.
"Pergilah!" ucap Arta datar.
" Kau yang harusnya pergi dasar cacat!!" ejek Tania pada Arta.
Tanpa sadar ketika mereka sedang berbicara dua pasang mata mengamati mereka dengan penuh amarah tak jauh dari posisi mereka bertiga.
"Sayang sudahlah, kita tinggalkan saja si cacat ini biarkan dia menikmati Cafe mahal ini, mungkin ia sedang mencari pria kaya di tempat ini untuk dijadikan pasangan itu pun kalau ada yang mau hahah," ledek Robin sambil beranjak dari kursinya dan merangkul pinggang Tania dengan mesra.
Arta hanya terdiam mendengar ejekan demi ejekan yang dilontarkan kedua orang itu.
Tiba-tiba saat Robin akan pergi dari meja itu, seseorang menarik tubuhnya lalu memukul Robin di bagian wajahnya.
Brughh
"Ini untuk penghinaan mu pada gadis itu," ucapnya sambil melayangkan satu tinjuan telak di wajah Robin.
Brughh
"Dan ini hadiah perselingkuhan mu dengan si ****** itu!!" ucapnya sambil melayangkan tendangan keras ke perut pria itu hingga membuatnya tersungkur di lantai.
Tania yang melihat Robin tersungkur dengan sigap membantu lelaki itu berdiri.
" Hei Arkan apa yang kau lakukan padanya!!" teriak Tania penuh amarah.
"Dia mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan!" cetus Arkan dingin.
"Dasar pria cupu berengsek! Aku akan membatalkan perjodohan sialan itu hanya Robin yang aku cintai," seru Tania pada Arkan.
"Dan kalian berdua segera angkat kaki dari rumahku!!" teriaknya pada Arta dan Roki.
"Tunggu saja pembalasanku!" ucap Tania penuh amarah sambil membopong tubuh Robin yang terluka cukup parah walaupun hanya terkena 2 kali pukulan.
Roki menghampiri Arta dan memeluk sambil menenangkan adiknya itu.
"Kamu baik-baik saja dek?" tanya Roki yang dijawab anggukan oleh Arta.
"Syukurlah," ucap Roki.
"Duduk dulu kak sama kakak yang pakai kacamata silahkan duduk kak!" serunya dengan senyuman yang dipaksakan.
"Mengapa mereka bisa sampai kesini dek?" tanya Roki penasaran.
"Robin dan Tania akan menikah kak," ucap Arta sambil menyerahkan sebuah surat undangan.
"Menikah? Apa Robin pria yang dijodohkan dengan Tania?" tanya Roki lagi.
"Sepertinya bukan kak karena Tania bilang akan membatalkan perjodohan mereka," tuturnya menjelaskan.
"Ehem," ucap Arkan menghentikan pembicaraan mereka berdua. Karena sedari tadi Arkan hanya diam seperti tidak dianggap kehadirannya diantara mereka.
"Oh iya aduh kakak lupa! maaf bro heheheh," ucap Roki pada Arkan.
"Ar kenalin ini sahabat Kakak namanya Arkan usia kalian beda 3 tahun kamu boleh panggil kakak juga sama dia. Pria baik-baik kok," ucap Roki memperkenalkan Arkan pada Arta.
"Arkan," ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
"Arta kak" balas gadis itu sambil tersenyum tulus.
Arkan sebentar menatap wajah Arta sambil memperhatikan bekas luka di pipinya itu.
"gadis cantik" gumamnya dalam hati.
Arta menyadari tatapan itu langsung menarik tangannya lalu terlihat mencari sesuatu dari dalam tasnya.
.
.
.
Like, koment dan vote 😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Ummu Faiz
sepertinya seru nih,aku dah like dn ko.en ya thor
2022-01-05
0
Delviaevh
kdang aq bingung bedakan arka sma arta
2021-12-24
0
Susan Handayani
semangat Thor 💪💪💪
2021-11-13
0