Suamiku Tak Terlihat
Part 19
Hubungan Vanesa dan Affan semakin dekat dan hari ini ia akan melamarnya. Dengan bersemangat ia mengendarai motornya menuju rumah Vanesa. Ia sengaja pulang agak awal dari kantor, tak lupa ia membawa sekotak brownis kesukaan sang pujaan hati dan sebuket bunga Mawar merah.
Ia memarkirkan motornya di halaman rumah Vanesa dan segera menghampiri Vanesa yang sedang duduk di kursi taman.
"Kok awal pulangnya?" sambut Vanesa ketika Affan duduk di sampingnya.
"Emang sengaja diawalkan, mau ngajak kamu diner di luar," ucap Affan.
"Emm, ke mana?"
"Ada deh, tapi mau 'kan?"
"Berdua saja?"
"Iya."
"Emm, ayah dan Siti gak diajak?"
Affan tertegun sejenak dan berkata, "Ya ...terserah kamu aja kalo mau diajak juga." Raut ceria Affan berubah menjadi datar.
Vanesa menahan senyumnya melihat gelagat Affan. "Oke deh."
Affan mengacak rambutnya dan menarik nafas kesal.
"Oh ya, ini buat kamu, Van." Affan menyodorkan sekotak brownis.
"Makasih, kebetulan lagi pengen mengunyah sesuatu gitu." Mata Vanesa langsung berbinar bahagia menerima brownis dari Affan.
Langsung saja ia melahap habis beberapa potong brownis itu dan tiba-tiba dia seperti mengunyah sesuatu yang keras. Vanesa langsung mengambil sesuatu itu dari mulutnya.
Sebuah cincin berlian bermata love keluar dari mulutnya dengan balutan adonan hitam brownis.
"Affan!!! Gak lucu deh nyimpan cincin dalam kue gini, kalo ketelan gimana?"
"Kalo ketelan, ya gak apa-apa. Tinggal di operasi ceasar aja perutnya." Affan langsung tersenyum pada Vanesa.
Vanesa langsung memukul bahu Affan dengan kesalnya.
"Aduh, sakit, Van. Mau gak cincinnya?" Affan meringis kesakitan.
"Ya, gak maulah," jawab Vanesa pura-pura marah.
"Loh kok gak mau, Van?" Affan mulai kecewa.
"Ya, gak maulah kalau gak dipasangin sekalian." Vanesa tersenyum menatap Affan.
"Yes, jadi mau juga dong kalo jadi istriku?" Affan memegang tangan Vanesa dan hendak memasangkan cincin ke jari manisnya.
"Ya, nggak lah," jawab Vanesa lagi.
"Kok nggak sih?"
"Ya, nggak mau nolak lah." Vanesa tersenyum lebar penuh kebahagian.
"Yesss!!!" Affan memasangkan cincin itu dan mencium tangan Vanesa.
Affan langsung ingin memeluk si calon istri.
"Ups, tunggu sudah halal saja." Vanesa tertawa dengan menutup mulutnya.
"Iya deh, Sayang. Tunggu saja kalo udah halal. Nggak bakalan aku lepaskan lagi meluknya." Affan memundurkan tubuhnya.
Taklama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah Vanesa. Dan keluarlah mamanya Affan bersama Saskia.
"Mama kamu, Fan," ucap Vanesa yang jadi gugup melihat kedatangan calon ibu mertuanya.
"Oh...pantas saja pulang ke rumah kalau sudah waktunya mau tidur saja, rupanya di sini kamu?" mamanya Affan langsung melabrak Vanesa dan Affan dengan suara lantang.
"Apa-apaan sih ma?" Affan berdiri di samping sang mama dan menarik tangannya.
"Kamu ini ya! Kan mama udah bilang gak akan pernah menyetujui hubungan kamu dengan wanita ini. Masih aja ke sini setiap hari."
"Udah deh ma, jangan teriak-teriak gak jelas gitu." Affan menatap wajah sang mama dengan pandangan kesal.
"Vanesa, saya tidak menyetujui hubungan kamu dengan Affan ya! Saya setujunya Saskia yang menjadi istrinya. Kamu mengerti?" Mama Affan menatap tajam mata Vanesa.
Vanesa langsung tertunduk diam dan berusaha menahan air matanya. Hatinya yang tadi sedang berbunga-bunga langsung di hantam tsunami yang memporak porandakan seisi hamparan ladang cinta yang baru saja bersemi itu.
Tiba-tiba, sebuah taxi masuk ke halaman rumah Vanesa. Seorang wanita berjilbab dengan mengenakan tunik ungu dan celana hitam berjalan menuju ke arah mereka.
"Ada apa ini?" sapa wanita itu sembari membuka kacamatanya.
"Tante Parida." Vanesa langsung memeluk wanita itu.
Mama Affan tertegun melihat wanita itu dan memperhatikan detail penampilan seseorang yang di peluk Vanesa. Seperti sedang mengingat, dia meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
Tante Parida melepaskan pelukannya dari Vanesa dan menatap ke arah mama Affan. "Diana!!!" teriaknya histeris.
"Parida, jadi benar ini kamu?" Mama Affan memegang bahu Tante Parida.
"Iya, ini Parida si cantik. Masa si Centil bisa lupa? Haha .... "
Keduanya langsung berpelukan dan melompat-lompat seperti anak ABG saja. Dan mereka langsung menyerukan iyel-iyel : "Biar centil tapi cantik, biar gak pinter tapi kreatif, biar gak mecing tapi keren."
"Astaga Parida, aku gak nyangka banget bisa ketemu kamu di sini loh!"
"Sama, kira'in kita gak bakalan pernah ketemu lagi." Tante Parida menarik tangan mama Affan masuk ke dalam rumah.
Affan, Vanesa dan Saskia hanya terbengong-bengong memperhatikan tingkah dua sahabat yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak bertemu itu. Dan mengikuti belakang mereka ikut masuk ke dalam juga.
"Kok kenal dengan tante Parida ma, gimana ceritanya?" tanya Affan tak sabar.
"Parida ini teman mama sewaktu kuliah di UI dulu, kita teman satu kelas dan satu kamar kost. Dan..." mama Affan melirik tante Parida.
"Dan...satu pacar juga, hahahaaa" jawab mereka serempak.
"Kok bisa?" Affan bertanya lagi.
"Tuh cowok brengset, kita berdua dipacari sekaligus. Dan akhirnya sempat pakum juga persahabatan kita. Untung saja kita cepat-cepat menyadari bahwa persahabatan lebih penting dari pria hidung belang itu" ucap tante Parida bersemangat.
"Iya, ya, Parida. Dia memang pria sialan."
"Mas Farhan, Diana. Cie .... "
Hahaaa...mereka berdua tertawa bersama dan mengenang masa-masa kuliah dulu. Mama Affan pun melupakan Saskia yang duduk manyun di sampingnya.
"Bukankah mama dan tante Parida sudah bertemu waktu acara pernikahan kami yang batal tempo hari?" Affan mengerutkan dahinya.
"Iya ya, tapi kemaren mama hanya melihat Parida sekilas dan belum mengenalinya. Dia juga begitu sibuk waktu itu."
"Sama, aku juga begitu. Mau menyapa tapi takut salah orang. Apalagi kamu begitu angkuh waktu itu, Diana?"
"Haha .... " Mereka tertawa bersamaan.
"Janji kita dulu ketika sehabis melempar si ******** Farhan, akan menjodohkan anak kita." ucap mama Affan.
"Emm...iya, tapi sayangnya anakku cuma dua dan sudah menikah semuanya. Gimana dong say?"
"Eh, cepat banget sih pada nikahnya. Anakku 3 dan belum pada nikah semuanya. Dua putri, satu putra bungsuku, Affandi." Sang mama menunjuk Affan di depannya yang duduk bersampingan dengan Vanesa.
"Oh, jadi Affan putra bungsu kamu, Say? Ehm, kalau gitu sama ponakan aku aja, Vanesa." Tante Parida menunjuk sang ponakan yang membuat pipi Vanesa merona.
"Jadi Vanesa keponakan kamu, Say? Kalau begitu, aku setuju." Mama Affan mengahampiri Vanesa dan memeluknya.
"Ih ... Tante, terus aku gimana dong? Bukannya tante setuju Affan menikah denganku?" Saskia merengek menarik ujung baju mama Affan.
"Maaf ya, Saskia," ucap mama Affan.
"Ih, menyebalkan!" Saskia berdiri dan menghentakkan kakinya kesal. Kemudian dengan cepat berlari keluar dari rumah Vanesa.
"Jadi mama merestui pernikahan Affan dan Vanesa kan?" Affan tersenyum ke arah sang mama sambil menggenggam tangan Vanesa.
"Iya dong." Mamanya mengangguk mantap.
********
Seminggu kemudian, pernikahan Vanesa dan Affan pun dilangsungkan.
"Ananda Affandi Pratama bin Pratama Ibrahim saya nikahkan dan saya kawinkan Engkau dengan putri saya Vanesa Audia binti Muhammad Nasir dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang senilai Rp10.110.100,00. TUNAI." Ayah Vanesa menjabat tangan Affan.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Vanesa Audia binti Muhammad Nasir dengan maskawin tersebut, tunai," jawab Affan mantap.
"Sah." ucap semua tamu undangan serempak.
"Alhamdulillah." Affan menatap Vanesa yang duduk di sampingnya.
Vanesa mencium punggung tangan Affan yang sekarang sudah 'sah' menjadi suaminya. Keduanya tersenyum dengan memegang buku nikah yang diberikan pak penghulu. Para Fotografer pun langsung mengabadikan momen itu.
Tante Parida meneteskan air mata ketika Vanesa menyalami dan memeluknya, "selamat ya Vanesa, keponakan tante tersayang."
"Iya, Tante, terimakasih."
"Jadilah suami yang baik untuk putri ayah, cintai dan sayangi dia serta bimbinglah dia menjadi istri yang sholeha!" ucap ayah Vanesa ketika Affan mencium tangannya.
"Iya, Ayah, Insyaallah."
Kini Vanesa sudah resmi memiliki suami yang terlihat. Terlihat di matanya dan mata semua orang. Dan hidupnya pun berubah, menjadi lebih bewarna. Ia tidak menjadi gadis penyendiri lagi, sekarang sudah ramah dengan semua orang.
Beberapa tahun kemudian, ayah Vaneasa pun sudah pensiun. Setelah menikah, Affan ikut Vanesa tinggal bersama ayah mertuanya. Karena kasian juga ayahnya kalau ditinggal berdua saja dengan Siti pembantunya.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Ina Core
lanjut thor
2021-09-16
0
Tien 💕💕
akhirnya berjodoh juga...... Affan penuh perjuangan buat dapatin Vanessa
2021-09-14
0
Merry Dara Santika
Alhamdulillah akhirnya menikah jg dengan manusia sungguhan
2021-08-16
2