Jendral zhi dan putri masih dalam pengepungan, jendral tidak mengira jika orang yang mengepungnya adalah sesama jendral di kerajaan.
"Jendral, kita libas aja yok" putri memanggil jendral, yang dipanggil hanya diam tidak mengerti artinya.
"Gelud ah elah" putri mengartikan, tapi jendral masih tidak paham.
"Hah, ya udah lah gue mulai duluan" putri mulai melancarkan aksinya, dia menggigit lengan prajurit yang menguncinya.
"Putri!" jendral berteriak memanggil putri yang nekat itu.
"Ayo jendral!" jendral akhirnya ngerti maksud putri dan mendorong orang-orang yang memegangnya.
"Berlindung di belakang saya!" jendral menarik tangan putri, agar dia berlindung di belakangnya.
"S*alan kau!, habisi mereka!" jendral bei menyuruh anak buahnya untuk menghabisi mereka berdua, bahkan dia sekarang sudah mengeluarkan pedangnya.
"Tenang jendral, gue bisa beladiri. Gue bakal lawan dia yang gak bawa pedang, lo yang lainnya" putri langsung berlari melawan prajurit yang tidak memakai pedang.
Ya memang aletta sama dengan via, dia sudah sabuk hitam karate. Walaupun memang lebih kuat via,
"Jangan putri, lebih baik putri lari dari sini!" jendral zhi yang sedang melawan orang-orang itu menyuruh putri untuk kabur.
"Jangan remehin gue, jendral" jelas lah putri tidak terima, tapi memang jendral tidak tau jika aletta yang ada di tubuh putri bisa bela diri.
Dilain sisi prajurit dari jendral zhi yang melihat putri di culik, dia meminta bantuan pada jendral Qan Lang dan membawa yang lain.
'Cring cring'
Suara pedang saling beradu, mereka masih melawan satu sama lain. Bahkan putri pun masih melawan.
"Putri!" walaupun jendral mengakui kehebatan putri ketika bertarung tapi dia tetap cemas.
"Santai jendral, gue gak kesusahan. Ini gampang elah" putri tidak tau jika sudah ada pedang yang mengayun padanya, jendral yang melihat itu langsung berlari ke arahnya.
"Arrghh" pedang itu mengayun tepat mengenai punggung jendral, darah bercucuran dari balik bajunya.
"J-jendral" putri menangkap tubuh jendral yang melemas.
"Kau akan mati" jendral bei yang senang itu hanya tertawa melihat jendral zhi yang terluka,
"Tangkap dia!" seseorang berteriak dari belakang mereka.
Ya mereka adalah pasukan jendral Qan Lang beserta pasukan jendral zhi,
"Bawa kembali jendral zhi" jendral lang memerintah prajurit jendral zhi membawa tuan nya kembali ke istana.
Mereka membawa jendral zhi dan putri kembali, bahkan sekarang mereka saling pandang saat melihat wanita yang ada di hadapan mereka.
"Tuan putri louisa?" salah satu prajurit yang tidak pernah melihat putri di istana jendral, menyebut nama putri.
"Woy yang bawa kuda cepetan, ini jendral udah sekarat anjay. Cepetan!" putri yang gak peduli tatapan kaget dari orang-orang itu, hanya fokus pada jendral zhi yang sedang terluka.
Akhirnya mereka sampai, tabib istana pun datang untuk mengobati jendral zhi.
"Gimana keadaan jendral" putri yang panik pun bertanya pada tabib itu.
"Luka yang ada di punggung jendral cukup dalam, ini membutuhkan waktu yang lama sampai jendral bisa benar-benar sembuh" tabib menjelaskan keadaan jendral. Dia tentu tak terkejut melihat putri, karna dia yang menyembuhkan putri.
"Tapi dia gak papa kan? gak mati kan?" putri yang emang bar-bar kalo ngomong gak di saring, masih cemas dengan kondisi jendral. Karna dia yang membuatnya terluka.
"Tentu saja jendral akan baik-baik saja, tapi perlu anda ingat jendral adalah orang yang kuat" tabib tersenyum melihat putri.
"Tapi tadi gue liat darah jendral muncrat banyak banget, yakali jendral baik-baik aja. Ini tabib bener apa kagak sih? jangan-jangan dia udah kerja sama, sama orang jahat tadi" putri membatin dalam hati, melihat ke arah tabib dengan tatapan curiga.
"Saya sudah berjanji mengabdi di sini seumur hidup saya, saya tidak akan berani melakukan hal rendah seperti itu tuan putri" tabib itu tersenyum lagi melihat tuan putri.
"Bjir bapak dukun ya? kok bisa tau apa yang gue pikirin?" putri yang takjub bertanya pada tabib itu.
"Tidak, saya hanya tabib putri. Bukankah sejak dulu pun saya yang mengobati anggota keluarga kerajaan anda, termasuk anda" ya mana ingat sih putri.
"Ah oke oke gue percaya, oh ya dan kalian" putri melihat ke arah belakangnya, di sana berdiri para prajurit yang menolong dia dan jendral.
Masing-masing dari mereka ada yang memang sudah tau jika putri di sini ada juga yang tidak tau,
"Jangan pernah bilang ke siapapun kalo gue ada di sini!" putri berbicara dengan naga tegas.
"Baik putri" mereka mengangguk dan menunduk karna takut pada tatapan tajam putri,
"Jika kalian berani nyebarin ini, siap-siap nyawa kalian yang jadi taruhan" aletta yang ada di tubuh putri memanfaatkan title nya.
"Baik putri, kami berjanji" mereka masih menunduk dengan perasaan takut, apalagi mereka juga tau jika putri adalah orang yang dilindungi jendral zhi.
Setelah beberapa hari, kondisi jendral zhi pun membaik. Jendral lang dan pasukannya pun berhasil mengalahkan jendral bei. Bahkan sekarang jendral bei sudah berada di tahanan karna hukuman dari Raja.
"Jendral sekali lagi gue minta maaf, karna gue gak fokus lo jadi terluka" ntah sudah yang keberapa kalinya putri meminta maaf pada jendral.
"Tidak tidak putri, ini memang salah saya" dan ntah sudah yang keberapa kalinya jendral mengelak jika itu salah putri.
"Ini emang salah gue, gue minta maaf. Tolong terima maaf gue" putri masih bersikeras memaksa meminta maaf pada jendral ,akhirnya jendral mengangguk.
"Baiklah putri saya maafkan, jadi mohon berhentilah menyalahkan diri putri" putri pun mengangguk.
"Tapi saya tidak mengira jika putri pandai bela diri" jendral kagum pada putri.
"Hey hey lo masih inget kan gue bukan putri asli, gue aslinya emang bisa bela diri" putri kembali mengingatkan jendral ,jika dirinya bukanlah putri yang dia kenal.
"Ya, kau aletta? tapi kau ada di tubuh putri louisa" jendral mengatakan hal yang memang putri beritahu padanya,
"Nah bener" putri mengangguk bangga.
Tidak berapa lama seseorang datang dengan terburu-buru dan mendorong dengan keras pintu kamar jendral,
"Jendral zhi" orang itu langsung memeluk jendral dengan erat.
"Ahh syukurlah kau baik-baik saja, maafkan aku yang baru datang ini" tidak salah lagi orang ini adalah jendral lang.
"S-sakit jendral" jendral zhi mengerang kesakitan, karna di peluk erat oleh jendral lang.
"M-maaf, aku terlalu senang" jendral lang melepas pelukannya.
"Ngomong-ngomong kemarin aku melihat wanita yang bersamamu, rasanya dia mirip sekali dengan putri louisa" jendral lang masih belum tahu jika orang yang dia bicarakan ada di belakangnya.
"Maksudmu dia?" jendral zhi menunjuk seseorang yang ada di belakangnya, jendral lang pun berbalik dan terkejut melihat orang yang ada di belakangnya.
"Tolong ampuni saya, tolong jangan ganggu saya tuan putri. Tolong jangan hantui saya, saya minta ampun" jendral lang bersujud di depan putri yang hanya berdiri cengo.
"Dia kenapa?" putri bertanya pada jendral zhi yang sedang tertawa melihat jendral lang yang sedang ketakutan.
"Dia menganggap anda hantu tuan putri" jendral yang mengetahui jika jendral lang penakut,
"Apa? hantu?" putri yang tak terima di samakan dengan hantu pun kesal.
"Tolong ampuni saya tuan putri, tolong jangan sakiti saya. Saya akan mengirim sesaji setiap hari untuk tuan putri" jendral lang masih bersujud di depan putri dengan perasaan takut dan paniknya yang bercampur aduk.
"Berdiri kau" putri menyuruh jendral lang untuk berdiri, dia pun menurut masih menunduk tidak berani melihat wajah putri.
"Lo pikir gue hantu?" putri yang masih kesal bicara ngegas ke jendral lang, tapi jendral lang hanya diam membisu.
"Jendral lang?" jendral zhi memanggil temannya itu, dia pun menengok ke arahnya. Tampak sudah wajah pucat dari jendral lang.
"Dia memang putri louisa, tapi dia bukan hantu. Tuan putri masih hidup" jendral zhi menjelaskan yang sebenarnya pada jendral lang.
"Apa kau bercanda?" jendral lang yang masih tidak percaya itu, sama sekali tidak berani melihat ke arah putri. Putri pun memegang tangan jendral lang.
"Aaa hamba mohon tolong ampuni hamba tuan putri, putri saya masih kecil masih membutuhkan saya" jendral lang memejamkan matanya yang ketakutan.
"Hih nyebelin banget sih ini orang, gue masih idup gue belum mati" putri yang kesal akhirnya memukul lengan jendral lang.
"Oh sakit memang, jadi benar tuan putri masih hidup?" kini akhirnya jendral lang melihat ke arah wajah putri yang memerah karna menahan kesal.
Setelah itu akhirnya mereka menceritakan yang sebenarnya terjadi, mulai dari proses menolong putri dan juga tentang hilang ingatannya putri. Tentu jendral menutupi tentang orang yang sebenarnya ada di tubuh putri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
V. Sonia
up lg kak
2021-03-26
2