Back to the

Di sisi lain ada yang merasakan ketakutan,

"Kapten bagaimana ini?" celetuk salah seorang prajurit,

"Sepertinya mereka tidak kembali lagi kapten" timpal prajurit lainnya,

"B*d*h aku juga sedang memikirkan bagaimana caranya kita bisa selamat" kapten nya pun sedang kebingungan, hah ya sudahlah biarkan mereka kebingungan.

"Bagaimana kalau kita kabur saja kapten?" salah seorang prajurit memberi ide,

"Lalu menurutmu kita akan kabur ke mana? bukan kah kau tau baginda kita itu seorang tirani" pemimpin dari prajurit itu hanya menimpali ide-ide dari prajuritnya tanpa membantu mencari ide.

"Tapi kita sudah berhari-hari menunggu di sini kapten, saya sudah merasa sangat lapar" kata salah satu prajurit sambil memegangi perutnya yang kelaparan.

'BUGH'

"Makan ini pukulan" sang kapten memukul kepala anak buahnya itu,

"Ampun kapten kami hanya merasa lapar saja" mereka menunduk takut, melihat mereka yang menunduk kapten sedikit merasa iba.

"Baiklah ayo kita cari makanan" kapten berdiri dari duduknya dan menatap semua anak buahnya,

"Benar kapten?" mereka terlihat sangat senang,

"Ya, sebelum aku berubah pikiran. Cepat!" kapten berlalu disusul anak buahnya yang mengikutinya.

"Kapten, waktu itu saya tidak sengaja seperti melihat cahaya dari sungai" kata salah seorang prajurit, kapten pun terkejut

"Cahaya? cahaya apa?" mereka semua jadi penasaran.

"Saya juga tidak tau, tidak lama setelah ryuji masuk ke sungai ada cahaya yang menyala di dalam sungai kapten" prajurit itu menjelaskan apa kejadian yang dilihatnya.

"Kau ini bicara yang benar, yang lain saja tidak melihatnya termasuk aku" kapten itu protes pada prajuritnya agar bicara yang masuk akal, tapi nampak di wajah kapten ada raut penasaran tidak sepenuhnya dia tidak percaya mengingat sungai itu adalah sungai persembahan, hal itu bisa saja terjadi.

"Lalu apa lagi yang kau lihat?" kapten nya kembali bertanya pada prajurit itu,

"Tidak ada kapten, setelah cahaya menghilang tidak ada apa-apa lagi" prajurit itu menyelesaikan penjelasannya.

Setelah itu mereka diam memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang di lihat oleh teman mereka itu, tapi bagaimana menurut kalian? cahaya apa itu?

"Jendral, cepat cari putriku dan seret dia kemari!" Raja memerintahkan jendral nya untuk membantu orang yang sudah di utusnya mencari Putri Louisa.

"Baik baginda" jendral itu membungkuk memberi salam dan berlalu meninggalkan istana.

"Dasar anak tidak tahu diri" teriak Raja marah, dia melempar barang yang berada di dekatnya.

"Pantas saja ibu nya pergi meninggalkan dia, juga meninggalkanku" Raja itu menunduk menutup wajahnya, dia sedih dan juga marah.

Dia tidak tau kalau sebenarnya anaknya sudah tidak ada di wilayah kerajaannya, bukan hanya itu dia memang sudah tidak ada di zaman nya.

"Pah theo berangkat dulu" theo berpamitan ke ayah nya,

"Ya hati-hati, berangkat dengan siapa?" ayah theo bertanya pada theo walaupun dia sudah tau jawabannya

"Sendiri" sudah ia duga jawabannya, theo pun berlalu.

Theo memang sangat dingin, bahkan banyak yang bilang ia tidak punya hati. Sebenarnya dulu theo bukanlah anak yang seperti itu, dia anak yang ceria dan sangat ramah pada orang lain.

"Mah bagaimana ini?" ayah theo terdiam, ia teringat dengan istrinya yang sudah tidak ada.

"Andai kamu masih ada, theo tidak akan menjadi seperti ini" ayah theo mengusap wajahnya.

...Di sekolah...

"Pagi theo" sapa cecil salah satu siswi dari pengagum theo, tapi di jawab pun tidak bahkan theo sama sekali tidak meliriknya, mungkin ia hanya menganggap orang itu hanyalah patung absurd yang tidak enak di pandang.

"Ih sombong banget, awas aja kamu" cecil tersenyum licik masih menatap punggung theo yang berjalan menuju kelasnya, ntah apa yang akan dia rencanakan.

"Ce, lagi apa lo?" salah seorang temannya menepuk punggung dia dari belakang, tidak salah dia adalah teman cecil yaitu julia.

"Heh ngapain lo liatin theo mulu, inget dia itu punya si leta. Lo gak takut apa sama leta?" julia mengingatkan cecil untuk tidak macam-macam pada theo.

"Halah lo juga tau kan theo tuh gak suka ke leta, jadi gue ada kesempatan kan buat deketin dia" jawab cecil dengan percaya diri,

"Lo gak kapok apa pernah di labrak leta?" julia mengingatkan cecil saat dia di labrak langsung.

"Gue gak peduli, yang penting gue bisa dapetin theo pangeranku" smirk cecil, julia hanya diam dia sudah tau gimana sifat cecil. Dia bakal lakuin apa aja yang penting bisa dapetin apa yang dia mau tanpa pikir resikonya.

"Ya udah lah terserah lo aja" julia sudah tidak mau terlibat urusan cecil lagi, dia sering ikut kena masalah padahal yang bikin masalah tuh cecil tapi dia ikut kena.

"Eh tapi emang si leta masih idup? bukannya dia tuh koma kan? mungkin sekarang udah mati" cecil berbicara dengan entengnya,

"Ntahlah gue gak tau" julia benar-benar tidak mau terlibat lagi, jadi dia hanya sedikit menanggapi pertanyaan cecil yang ga ngotak itu.

"Kalo aja gue ga ada utang budi ke lo, gak bakal gue mau temenan sama orang jahat kaya lo ce" julia membatin dalam hati.

"Welcome back Aletta" terdengar sorakan dari siswa siswi yang menyambut kedatangan aletta kembali ke sekolah, walaupun aletta orangnya bar-bar tapi banyak yang menyukainya karna dia tidak munafik.

"Terimakasih" aletta tersenyum manis, mereka yang melihat terdiam saat melihat senyum manis dari aletta karna biasanya mereka melihat aletta yang tersenyum lebar ataupun tertawa lebar. Lah ini lembut amat, berbanding terbalik.

"Ta, lo udah sehat?" tanya via teman dekat aletta, aletta mengangguk masih tersenyum manis

"Sudah kok" bahkan sekarang aletta menjawab dengan sopan gak ada bar-bar nya sama sekali.

"Ta lo kenapa dah, lo masih sakit ya?" timpal lely salah satu dari teman dekat aletta juga, aletta menggeleng.

"Aku sudah baik-baik saja teman-teman" yang benar saja sekarang bahkan dia menjawab dengan bahasa baku, teman-temannya semakin di buat heran oleh kelakuan aletta.

"Ya udah yok kita ke kelas" via merangkul leta dan mengajaknya masuk ke kelas,

"Ya ayo viani" aletta bisa tau namanya karna membaca bet nama temannya itu.

"Tumben lo njay panggil gue pake nama lengkap, biasanya juga panggil vi doang" via masih heran dengan kelakuan sahabatnya itu, seperti bukan aletta yang dia kenal bahkan aletta sekarang seperti terlihat lebih kalem dan polos berbeda dengan imej aletta yang biasanya.

"Heyoo theo, nih pacar lo dah masuk sekolah" dengan suara kerasnya via memanggil theo agar theo melihat ke arah aletta, tapi ya kalian sudah tau sendiri kan yakali mana ada theo mau natap aletta ngelirik aja nggak.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!