Apa salahku?

Putri Louisa POV

Aku tidak pernah mengerti kenapa aku bisa berada di tubuh anak ini, aku ingat dengan jelas kejadian yang aku alami. Saat aku di tangkap dan aku memutuskan untuk menjatuhkan diri kedalam sungai persembahan.

"Aku siapa?" aku bergumam sendiri, walaupun sebenarnya aku sudah tahu siapa diriku.

"Heh lo ya aletta lah, ngelawak lo" orang-orang memanggilku aletta, padahal namaku louisa.

"Lo kenapa sih ta?" orang ini adalah viani, teman dekat dari tubuh anak ini.

"Tidak apa-apa" aku hanya tersenyum, bahkan aku sudah menceritakan yang sebenarnya tidak ada yang percaya padaku.

"Via" aku memanggilnya, dia melihatku.

"Apa kamu tidak merasa jika aku berbeda?" aku ingin membuatnya percaya jika aku bukanlah teman dekatnya yang dia kenal.

"Hahaha apaan sih lo, lo juga tiap waktu aneh dari jaman lo berojol lahir juga lo udah aneh kali" via tertawa meledekku, apa aku memang cocok menjadi bahan tertawaan?

'Brukk'

"Heh kalo jalan mata dipake!" orang itu bernama theo, laki-laki yang sekelas denganku. Aku tidak tahu mengapa dia begitu membenciku, atau dia membenci tubuh ini?

"Maaf aku tidak sengaja" aku membungkuk meminta maaf padanya, tapi dia hanya berlalu meninggalkanku yang masih membungkuk.

"Heh heh udah" via menarik pundakku agar tubuhku tegap,

"Kenapa dia begitu membenciku? apa aku pernah berbuat salah padanya?" aku bertanya pada via, mungkin dia tahu alasannya.

"Ahh itu gue juga gak tau, tuh orang kan emang aneh hehe" via menggaruk hidungnya, aku pikir dia berbohong yang aku tahu jika berlaku seperti itu artinya dia berbohong.

"Ah begitu" aku tidak menanyakan lagi, mungkin memang dia tidak ingin memberi tahuku.

"Ya udah yok makan lah ntar keburu bel dulu" via menarik tanganku dan menuju tempat makan yang orang-orang sebut sebagai kantin.

"Lo mau pesen apa?" via menawariku, aku sebenarnya tidak tahu makanan apa saja ini yang aku tahu hanya bakpau.

"Ini apa?" aku menunjuk makanan yang aku tidak tahu namanya.

"Bakso, nih lo kan paling suka ini" via memberi tahu makanan yang aku sukai, bukan aku melainkan tubuh anak ini.

"Apa ini enak?" aku bertanya lagi, aku ingin mencobanya.

"Enak dong, mang pesen bakso 2 porsi ya buat aku sama nih bocah" via menunjukku, aku tidak paham apa yang di maksud olehnya.

"Siap neng" orang itu menjawab via, sama-sama berteriak.

Setelah itu kami berdua duduk dan kata via menunggu pesanan yang kami pesan, kalau aku di kerajaan sudah terhidang semua makanan.

"Makasih mang" orang yang di panggil mang oleh via mengantar makanan yang kami pesan, orang itu mengangguk dan kembali ke tempatnya.

"Mang itu apa?" benar-benar banyak kata yang aku tidak tahu artinya.

"Mang itu buat panggilan misal kaya abang gitu" via menjelaskan tapi aku tidak tahu artinya,

"Abang memang apa?" aku bertanya lagi, karna aku tidak paham.

"Hah ya udah lah kalo lo gak tau, mending makan gue udah laper" via tidak menjawab pertanyaanku, dia lebih memilih makanannya. Huhu tega sekali dia tidak menjawab pertanyaanku.

"Nih biasanya kan lo suka yang pedes, nih gue bantuin dah" via memasukkan ntah apa itu ke dalam makananku,

"Apa ini?" aku bertanya padanya, yang berwarna merah terlihat seperti darah.

"Sambel sama saos, lo kan suka banget pedes" via tertawa, aku tidak tahu apa itu saos. Terdengar aneh dan lucu, aku pikir manis karna namanya yang lucu itu.

"Terimakasih via" aku tersenyum pada via, dan mencoba makanan ini. Dan apa yang aku rasakan? lidahku seperti terbakar.

"Hah apa ini rasanya sangat aneh" aku masih merasa lidahku terbakar, wajahku terasa sangat panas.

"Buahahah muka lo anjay, merah banget" via malah tertawa melihatku, aku mengambil minum yang ada di dekatku.

"Eh buset itu minuman gue" aku tidak tahu ini minuman via, rasanya sangat sejuk ketika minuman ini menyentuh lidahku.

"Hah" aku menghela napas, akhirnya aku tidak menghabiskan makananku padahal baru aku makan satu suap.

"Lo kenapa?" via bertanya padaku, sudah jelas-jelas aku merasa pedas yang sangat-sangat.

"Pedas" aku tidak bisa merasakan yang lain, hanya pedas yang aku rasakan.

"Tumben banget lo gak suka pedes, lagi mencret ya lo?" lagi-lagi via mengatakan hal yang tidak ku ketahui.

"Mencret? apa itu?" aku bertanya padanya, banyak sekali kata-kata aneh yang keluar dari mulutnya.

"Ah itu jorok dah, ntar aja gue lagi makan. Nih punya lo mau di abisin gak? kalo gak buat gue aja" aku mengangguk pada via, untuk menghabiskan makananku.

"Heh bener ya lo lupa ingatan" seseorang menggebrak meja yang ada di depanku, aku tidak tahu siapa dia.

"Apa sih lo cil, brisik tau gak? awas lo gak usah gangguin" via memarahi anak itu, memang ada apa?.

"Maaf siapa ya kamu?" aku bertanya pada anak itu, tapi dia hanya tertawa dan berlalu meninggalkan kami.

"Dia siapa?" aku bertanya pada via, aku pikir dia temannya.

"Cecil, orang yang musuhin lo terus yang cari ribut terus sama lo. Gak usah deket-deket sama dia, kalo gak mau ketularan" via menjelaskan padaku siapa anak itu.

"Loh memang kenapa?" aku masih penasaran alasan dia memusuhiku,

"Karna dia suka ke tunangan lo" via mengatakan orang yang bernama cecil menyukai tunanganku?

"Aku sering mendengarnya mengatakan tunanganku, bahkan ketika aku baru masuk ke sekolah ini" aku membatin dalam hatiku.

"Memang siapa tunanganku?" aku bertanya lagi padanya.

"Theo lah, theo alvaro orang yang tadi lo tabrak" aku terkejut aku pikir itu hanya candaan saja, ternyata memang benar dia tunanganku. Aku sama sekali belum pernah di beri tahu orang tua dari tubuh anak ini.

"Jika dia memang tunangan anak ini, kenapa dia membencinya? apa dia sepertiku? tidak ingin menikah dengan anak ini? apa anak ini anak yang jahat sehingga dia tidak ingin menikah dengan anak ini?" aku membatin dalam hatiku, jika memang benar tubuh yang aku tempati ini adalah anak yang jahat berdosa lah aku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!