Setelah sekian lama kedua orang yang masuk ke dalam sungai tidak kembali lagi,
"Bagaimana ini kapten? sepertinya mereka telah tewas" celetuk salah seorang prajurit,
'Plak'
prajurit itu dipukul kepalanya oleh kapten,
"Kalau begitu lebih baik kau menyusul mereka" kapten menyuruh prajurit itu untuk menyusul temannya.
"Ta-tapi kapten kita disini sudah menunggu selama lebih dari 1 jam, tidak mungkin mereka tahan berada di dalam air lebih dari 1 jam" prajurit itu menjelaskan pada kapten nya, menegaskan bahwa orang yang mereka tunggu memang sudah tidak ada.
"Lalu bagaimana nasib kita kapten?" salah seorang prajurit yang lain bertanya pada kapten nya,
"Aku pun tidak tahu b*d*h, kalau bisa diwakilkan lebih baik kau yang mewakilkan hukumanku" kapten itu hanya memikirkan dirinya sendiri, dia memikirkan bagaimana caranya dia bisa lolos dari hukuman sang Raja.
"Ku mohon ampuni aku" putri yang sudah tenggelam, masih terus berdoa dalam hatinya berharap dia bisa terlindungi dan bisa bertemu dengan ibu nya yang sudah tiada, tapi nasib nya berubah saat kesadarannya sudah menghilang.
Di lain waktu kedua orang tua aletta terus menangis disampingnya,
"Leta ayo bangun nak, mama sama papah kangen kamu" ibu aletta terus menggenggam tangan putrinya, tidak disangka tangan yang ia genggam bergerak secara perlahan.
"Leta" sang ibu masih belum percaya dengan apa yang dia lihat, dia terus memperhatikan pergerakan tangan aletta
"Pah papah! leta aletta bangun pah" ibu aletta berteriak memanggil suami nya, ia pun berlari mendatangi istrinya.
"Leta bangun mah?" ayah aletta terlihat sangat senang dikala melihat tangan putrinya bergerak, perlahan aletta membuka matanya
"Leta? syukurlah kamu sudah bangun sayang" kedua orang tua nya memeluk aletta erat.
"Ah sakit sekali" aletta mengerang kesakitan, orang tua nya pun melepas pelukannya
"Sakit sayang?, pah tolong panggil dokter!" ibu aletta menyuruh ayahnya untuk memanggil dokter, dia pun berlari mencari dokter.
"Apanya yang sakit sayang?" ibu nya bertanya tapi aletta hanya diam menatap wajahnya,
"Siapa nona ini?" batin aletta dalam hati
"Maaf nona siapa?" aletta bertanya pada ibunya, ibunya tidak tau bahwa yang ada di diri aletta bukanlah aletta yang sesungguhnya tetapi putri lilian.
"Ma-maksudnya sayang? kamu tidak ingat bunda?" ibu aletta menatap lekat manik mata putrinya berharap dia hanya bercanda, mengenal sifat aletta yang suka bercanda dan jahil bahkan kepada orang tua nya sendiri.
"Bunda? apakah aku sudah mati? aku bertemu ibunda? tapi tempat apa ini? apakah ini di surga?" sang putri yang ada didalam tubuh aletta masih belum sadar bahwa dirinya telah bertukar jiwa dengan aletta.
Setelah itu dokter datang bersama dengan ayah aletta, dia memeriksa keadaan aletta.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter? dia tidak mengingat saya" ibu aletta menangis menjelaskan kejadian yang di alaminya.
"Tenang bu, kejadian ini biasa terjadi pasca kecelakaan karna kepala putri ibu membentur sesuatu dengan keras" dokter menjelaskan pada kedua orang tua aletta, aletta hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Putri? tuan tahu kalau saya seorang putri?" aletta memegang tangan dokter itu dan bertanya dengan mata berbinar,
"Apakah tuan adalah prajurit yang di utus baginda untuk menangkap saya?" aletta menatap lekat wajah dokter itu berharap dia bukanlah orang yang disuruh oleh ayahnya untuk menangkap dirinya.
"Dokter bagaimana ini? putri saya kenapa? apakah dia berhalusinasi?" ayah aletta bertanya dengan nada khawatir pada dokter,
"Aku mohon jangan tangkap aku, aku tidak ingin menikah dengan Raja Naga Biru" aletta menangis sangat sedih.
"Tenang.. tenang aletta sedang mengalami fase stress jadi mohon kalian tenang dan jangan terlalu banyak mengajaknya berbicara, biarkan dulu dia tenang" dokter memberi saran pada kedua orang tua aletta, mereka hanya mengangguk dengan pasrah.
Setelah itu aletta di beri obat penenang karna dia terus-terusan menangis dan menyebut nama Raja Naga Biru secara terus menerus, ia pun tertidur dengan tenang masih jelas nampak di wajahnya bekas ia menangis.
"Sebenarnya kamu kenapa nak?" ibu aletta mengusap-usap kepala anaknya, ia menangis kembali tangisan bahagia dan juga tangisan sendu karna anak semata wayangnya harus mengalami kejadian yang tidak diinginkan seperti ini.
Di sisi lain ayah aletta sedang menghubungi pak bram untuk memberi tahu kondisi aletta
"Syukurlah kalau leta sudah bangun, aku akan segera kesana rama" pak bram menutup panggilan telepon dan langsung berangkat menuju rumah sakit.
"Theo, ayo ikut papah!" pak bram memaksa anak nya untuk ikut bersama nya,
"Kemana sih pah?" theo menjawab dengan malas
"Kita jenguk leta, leta sudah siuman" pak bram menjawab pertanyaan anaknya dengan antusias, berbeda dengan tanggapan anaknya.
"Kenapa dia harus bangun?" theo membatin dalam hati, dia sama sekali tidak ingin perjodohan ini dilanjutkan
"Theo ada perlu pah, jadi gak bisa ikut" theo hendak berbalik meninggalkan ayahnya, tapi tangannya ditahan oleh ayahnya
"Sampe kapan kamu terus-terusan gini theo? ayo kamu harus ikut kita gak enak kalau gak jenguk" ayah theo memaksanya untuk ikut, akhirnya ia pun menurut pada pemaksaan ayahnya walau dalam hatinya dia sangat kesal.
Mereka di sambut oleh orang tua aletta,
"Nak theo juga datang" ibu aletta menyapa theo,
"Ya tante, dipaksa papah" theo menjawab jujur, kaki nya pun diinjak oleh ayahnya
"Aww pah" theo protes ke ayahnya.
"Ahaha bagaimana kondisi leta sekarang?" tanya pak bram untuk mengalihkan pembicaraan,
"Leta sedang istirahat sekarang, dari tadi dia terus berhalusinasi bahkan dia tidak mengingat aku dan ana" ayah aletta menjelaskan keadaan aletta.
"Hah harusnya dia tidak perlu sadar, kalo bisa hilang aja ingatannya" batin theo dalam hati, dia sangat tidak suka pada aletta
"Sabar ya kalian, pasti nanti aletta akan bisa normal kembali" pak bram menyemangati keduanya, berbeda dengan theo yang hanya diam menatap benci aletta.
Sesekali aletta sesenggukan menangis, walaupun mata nya terpejam tidur tapi air mata nya terus mengalir deras
"Kenapa dia?" theo masih memandangi wajah aletta yang menangis
"Hm bukan urusan gue" theo memalingkan wajahnya dari tatapannya pada aletta.
Sepanjang dia berada di ruangan itu, theo hanya diam sambil sesekali menatap wajah aletta tanpa ekspresi.
"Aku harap kau bisa menerima nya, theo" batin pak bram dalam hati, dia berdoa agar putra nya bisa menerima aletta tanpa harus adanya paksaan dari dirinya.
"Bagaimana bisa seorang aletta menjadi seperti ini? rasanya sangat asing bagiku bahkan biasanya setiap hari terdengar suara cempreng dan nyaringnya itu" lagi-lagi theo memikirkan aletta, tapi dia lalu menepis jauh-jauh pikiran itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
AYU DANI
sangat d sayangkan knpa lemah gt mc nya thor...
2021-10-08
1
shana 3108
lanjut lagi ya thor
2021-07-10
1