Menyadari

Semakin hari keadaan aletta kian membaik, hanya ya dia masih sering ketakutan dia masih belum sadar bahwa dia telah bertukar tubuh dengan seseorang dari masa depan.

"Leta sayang" ibu aletta memanggil leta,

"Apakah leta itu namaku?" putri yang ada di dalam tubuh aletta belum sadar bahwa dirinya telah bertukar tubuh, ia masih sering melihat-lihat sekitar dengan tatapan takut dan was-was.

"Ya tentu saja sayang, namamu kan Aletta Luvenia putri semata wayang nya mamah sama papah" ibu aletta memeluk putrinya dan menangis

"Maafkan mamah ya sayang, kalo aja mamah larang kamu buat main jauh kamu pasti masih baik-baik aja" ibu aletta masih menangis, bahkan sekarang memeluk dengan erat.

"Mamah? apakah yang ia maksud adalah ibu? lalu aletta? siapa dia?" putri membatin dalam hati masih belum menyadari situasi,

"Maaf tapi namaku Louisa fae caravin, bukan aletta luvenia" putri itu memberi tau nama aslinya, nama dirinya sendiri.

"Sayang, kamu itu putri mamah pasti mamah tau lah nama kamu, kamu lupa namamu pasti karena kamu abis kecelakaan nak" ibu aletta mengelus kepala putrinya, putri cuman diem masih belum sadar.

"Oh ya nanti sore kamu sudah bisa pulang, cuman nanti sesekali harus cek" ibu letta menjelaskan pada anaknya,

"Memangnya aku kenapa? bukan kah aku terjatuh ke sungai persembahan? ibu bukan kah kita di surga? tapi kenapa wajah ibu berbeda?" putri yang ada di tubuh aletta menjelaskan kejadian yang di alaminya.

"Sstt nak, kamu ini ngomong apa sih kamu masih hidup sayang kita kan lagi di rumah sakit" ibu aletta mengelus lagi kepala aletta,

"Ma-maksudnya tapi aku ini seorang putri ayahku Raja zulivan fae caravin dan ibu ku permaisuri Lilian fae caravin" sang putri memberi tau siapa dirinya yang sebenarnya.

"Mamah gak nyangka ternyata kamu suka baca cerita tentang kerajaan ya" ibu leta tersenyum melihat putrinya, dia tentu saja tidak percaya tentang apa yang dibilang putri karna yang ada dihadapannya itu putrinya yaitu Aletta Luvenia.

"Tapi aku benar, aku bukan lah anakmu" putri masih berusaha menjelaskan,

"Udah sayang kamu istirahat aja ya, nanti pulang mau mamah masakin apa?" ibu aletta mengalihkan pembicaraan putrinya.

"Ada apa dengan putriku? apa benar ingatan nya menghilang?" ibu aletta membantin dalam hati, ia jelas sangat sedih apalagi aletta anak semata wayangnya.

Sore ini aletta sudah bisa kembali ke rumah setelah dirawat lama ia akhirnya bisa kembali, tapi masih harus tetap sering² control.

"Jangan lupa jadwal control nya ya" dokter mengingatkan lagi,

"Ya baik pak, terimakasih" akhirnya mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke rumah.

Sepanjang perjalanan aletta hanya terdiam, namun orang tua nya memaklumi itu mungkin karna bagi mereka aletta masih trauma jadi mereka biarkan mereka sering mengajaknya berbicara agar pikirannya teralihkan.

"Nah dah sampe sayang, ayo mandi dulu trus turun ya buat makan" ibu aletta senang mengajak aletta pulang,

"Aku harus mandi dimana?" aletta bertanya pada ibu nya,

"Ayo ibu anter" ibu aletta memapah tubuh aletta menuju kamarnya.

"Pah jangan lupa barangnya dibawa masuk!" ibu aletta berteriak menyuruh suaminya untuk membawa barang yang dibawa ke rumah sakit.

"Iya mah, dah sana anter leta dulu hati-hati naiknya" ayah leta menasehati mereka berdua.

Setelah sampai ibu leta menjelaskan kegunaan semua barang yang ada dikamar leta, karna ia tau pasti anaknya tidak memgerti kegunaannya.

"Terimakasih" aletta menunduk mengucapkan terimakasih.

Sontak ibu nya terperangah kaget, sejak kapan leta jadi sopan gini? mana leta yang bar-bar kaya ulet bulu yang gak bisa diem.

"Ya sayang, kalo ada yang kamu lupa panggil mamah aja yah" ibu letta tersenyum lalu kembali ke bawah untuk memasak dan menyiapkan makanan.

"Gimana mah?" ayah leta tiba-tiba muncul dari kamar mandi setelah mandi.

"Papah ngagetin aja ih!" ibu leta mencubit lengan suami nya itu,

"Aww ya maaf mah, jadi gimana leta?" tanya ayah leta sekali lagi.

"Sudah pasti banyak yang ia lupa pah, bahkan barang yang paling ia sukai pun ia lupa" ibu leta terlihat sangat sedih, ya tentu saja sedih karna keadaan anaknya yang seperti itu.

"Ini kamarku?" aletta berjalan berkeliling melihat-lihat apa isi kamarnya, tapi ditegaskan sekali lagi ini bukanlah aletta yang sesungguhnya, diri yang ada di dalam tubuh aletta adalah seorang putri.

Aletta berjalan dan berhenti di depan cermin, ia memperhatikan tubuhnya. Ia berpakaian yang ntah pada zaman nya dia tidak pernah melihatnya, setelah hoddie berwarna hijau tua di padukan dengan celana jeans panjang.

"Pakaian apa ini?" aletta memegang baju dan celana nya,

"Dan rambutku kenapa sangat pendek?" bagi ia rambut di bawah bahu tentu saja pendek, karna zaman dulu bahkan rambutnya melebihi pantat.

"Leta ayo makan dulu" ayah aletta mengetuk pintu kamarnya,

"Iya ayah" aletta membuka pintu,

"Loh kok belum ganti baju? ganti dulu sayang" ayah aletta memperingatinya.

"Baju?" aletta malah mengulang kata ayah nya,

"Ya baju mu, ayo masuk dulu" ayah aletta menggiring anaknya untuk masuk lagi ke kamarnya, ia kemudian menuju lemari tempat dimana anaknya menaruh berbagai macam baju yang dibelinya.

"Ini baju-baju mu, ya udah kamu ganti dulu nanti trus turun ya makan mamah udah nungguin" aletta hanya mengangguk dan ayah nya pun turun untuk ikut membantu menyiapkan makanan.

"Pakaian apa lagi ini?" aletta melihat-lihat isi lemari nya, termasuk pakaian dalam nya. Berbagai macam jenis baju pun ada, kaos, kemeja, mini dress, long dress, macam-macam karna aletta yang sesungguhnya sangat hobby yang namanya belanja.

"Mungkin ini cocok untukku" aletta mengambil sebuah long dress lengan panjang.

"Wah ternyata pakaian ini sangat indah" aletta memperhatikan tubuhnya di depan cermin.

"Tubuh ini ternyata masih kecil ya?" sebenarnya bukan kecil memang aletta tidak tinggi, kulit putih pucatnya sama dengan warna kulit putri yang ada di tubuh aletta.

"Oh aku harus ke bawah" aletta pun kemudian turun menemui ayah dan ibu nya,

"Wah cantik" ibu dan ayah aletta tersenyum melihat penampilan anaknya, berbeda dari biasanya anaknya suka memakai pakaian kaos dan jeans pendek di atas paha.

"Terimakasih ibu ayah" kedua orang tua aletta saling berpandangan, aletta sekarang selalu memanggil mereka dengan sebutan ayah ibu padahal biasanya aletta memanggil mereka mamah papah.

"Sayang kamu lebih nyaman panggil ayah ibu dari pada papah mamah?" ayah leta berkomentar,

"Pah udah gapapa senyaman leta aja" aletta hanya diam mendengar obrolan kedua orang tua nya, sebenarnya dia masih belum paham apa arti papah mamah. Tapi di masa lain ada bencana karna kemurkaan seseorang...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!