Saat ini para jendral dan prajurit suruhan Raja sedang mencari keberadaan dimana putri,
"Di mana sebenarnya kau Putri" batin jendral dalam hati
"Semoga kau baik-baik saja" jendral berdoa dalam hati.
Tidak ada yang tau perasaannya, hanya dia sendiri yang tau dia yang selalu memperhatikan putri louisa, melindungi putri louisa dari jauh. Ya dia tidak akan berani mendekatinya.
...Flashback...
"Jendral Zhi kemarilah" louisa memanggil jendral itu dan tersenyum melihatnya,
"Ya ada apa tuan putri?" jendral itu menghampiri luoisa,
"Duduklah!" louisa menyuruh jendral itu untuk duduk, ia pun menurut.
"Makanlah jendral, aku membawa banyak makanan" louisa membagi makanan yang dibawanya,
"T-tapi putri ini adalah makanan putri saya tidak berani memakannya" ya emang si jendral terlalu patuh ke Raja.
"Hey kau pikir makanan ku ini beracun jadi kau tidaj mau makan?" louisa kesal pada jendral yang tidak mau ikut makan dengannya,
"Tidak putri, bukan itu maksud saya" jendral gelagapan, louisa tertawa melihat jendralnya panik.
"Tidak apa-apa jendral, ayo makan denganku" louisa masih memaksa jendral untuk makan dengannya, bahkan memasang wajah puppy eyes nya. Siapa yang tahan coba?
"Baiklah putri" jendral akhirnya menurut.
"Jendral itu harus makan yang banyak supaya kuat" louisa mengeluarkan semua makanan yang di bawanya, makan di bawah pohon kerajaan beralas tikar.
"T-tapi putri bagaimana jika baginda melihat saya, ia pasti akan menghukum saya" jendral masih cemas,
"Ssttt sudahlah ayahku tidak akan marah padamu jendral apalagi menghukummu" louisa tersenyum pada jendral itu. Apalagi jendral zhi adalah jendral terbaik kepercayaan Raja.
"Baiklah putri" akhirnya mereka makan bersama, louisa banyak bercerita tentangnya.
"Lain kali jendral yang bercerita tentang jendral ya" louisa tersenyum manis.
...Flashback end...
"Bahkan aku belum mewujudkan keinginannya, aku ingin bercerita tentangku" jendral memejamkan mata nya menghela napas,
"Jendral?" kapten yang mengejar louisa menghampiri jendral.
"Bagaimana? dimana putri?" jendral langsung bertanya pada kapten itu,
"Ah itu jendral, maaf kami tidak bisa menemukan putri" kapten menjelaskan sambil menunduk dia sangat takut pada jendral itu.
"Apa maksudmu?" jendral langsung menarik baju kapten itu, ia keliatan sangat marah
"M-maafkan kami jendral, kami sudah menangkapnya tapi putri menjatuhkan diri ke dalam sungai persembahan" kapten itu sangat takut.
"B*d*h" jendral melepas baju kapten itu dan mendorongnya, ia langsung lari ke tepi sungai persembahan.
"Pegang pedangku, jika aku tidak kembali sampaikan kepada Raja jika aku sudah mengabdi kepadanya" jendral itu melepas pedang dan baju dinasnya dan memberikannya pada kapten.
"Tapi jendral untuk apa anda melepas ini semua?" kapten itu masih bingung apa yang akan jendralnya lakukan,
"Aku akan mencari tuan putri" dia tersenyum pada kapten itu.
"Jangan jendral! prajuritku pun tidak kembali setelah mencari tuan putri di sungai ini" kapten masih melarang jendral untuk melancarkan niatnya, tapi tentu saja tidak ngaruh.
"Aku akan mencarinya sampai dapat" lalu setelah itu jendral masuk kedalam sungai persembahan itu, dia ingin melihat putri walaupun untuk yang terakhir kalinya.
"Ku mohon putri aku ingin melihatmu walau untuk yang terakhir kali" jendral memohon dalam hatinya, tercium bau menyengat air di sungai ini. Sudah berapa banyak orang-orang yang menjadi persembahan di sungai ini?
Walaupun tawanan-tawanan yang di jadikan persembahan tapi tetap saja sudah banyak yang menjadi persembahan di sungai ini. Benar-benar bau busuk menyengat di seluruh air, bahkan sampai tercium di sekitar sungai.
"Bagaimana ini kapten sudah lama jendral tidak kembali ke permukaan" salah satu prajurit berkata pada kaptennya.
"Aku pun tidak tahu harus apa, semoga jendral baik-baik saja" walaupun memang jendral terkenal dengan jendral kematian di medan perang tapi itu sangat berbanding terbalik di dalam kerajaan dia sangat mementingkan anak buahnya.
"Huwaaa kalau jendral tidak kembali bagaimana nasib kita" prajurit yang lain merengek, ya orang yang selalu melindungi prajurit-prajuritnya itu dari hukuman mati Raja ialah jendral zhi.
"Berisik b*d*h kau sama sekali tidak membantu" kapten itu menepuk kepala prajuritnya yang merengek seperti bayi itu, jujur saja dia pun memang merasa khawatir pada jendral.
"Kapten!! lihat itu!" salah satu prajurinya menunjuk ke arah sungai, di sana terlihat jendral menyembulkan kepalanya dan serta membawa tubuh putri dan prajurit yang sudah pucat membiru itu.
"Jendral syukurlah kau kembali" para prajurit dan kapten membantu jendral naik ke tepi sungai, jendral lalu meletakkan tubuh putri louisa dan prajurit itu di tanah.
"Putri" jendral menggenggam tangan putri louisa ia mengecek denyut nadi ditangan putri louisa, tubuhnya benar-benar sudah pucat. Sudah tidak ada denyut, ya tentu saja sudah beberapa hari ia di dalam sungai.
"Jendral sepertinya putri sudah tidak bernyawa, sudah berapa hari dia ada di dalam sungai" kapten berbicara pada jendralnya, jendral hanya menghela napas.
"Kemarikan bajuku" kapten lalu mengambil dan memberikan baju jendral, jendral lalu menutupkannya pada tubuh putri.
"Ayo kembali, ingat kejadian ini kalian rahasiakan dari siapapun!" jendral memperingati prajurit-prajurit itu dan kaptennya.
"Baik jendral" mereka mengangguk tanpa berani menanyakan maksud dari jendralnya menyembunyikan ditemukannya tubuh putri.
Mereka pun kembali ke kerajaan dengan membawa tubuh putri yang di sembunyikan di istana jendral.
"Jendral bagaimana jika nanti kami ditanya tentang putri?" kapten itu bingung jika ditanya mengenai putri.
"Kalian bilang saja jika putri tidak bisa ditemukan, aku akan menjamin nyawa kalian jika kalian menuruti perintahku" jendral memberi tahu apa yang harus dilakukan oleh anak buahnya itu.
Ia menepuk pundak kapten sambil tersenyum,
"Terimakasih sudah membantuku" kapten mengangguk dan tersenyum lebar.
"Kami yang berterima kasih jendral" mereka semua tersenyum.
Setelah itu mereka kembali ke tempat masing-masing dan prajurit yang sudah tidak bernyawa itu di kebumikan dengan hormat, tanpa ada yang tau selain mereka yang ada disana.
"Beristirahatlah dengan tenang" jendral memegang batu yang dijadikan nisan di makam prajuritnya itu,
"Jendral bagaimana dengan putri?" kaptennya bertanya pada jendral karna ia tidak melihat ada tubuh putri di sini.
"Aku merasa putri masih hidup" jendral melihat ke arah kaptennya,
"Tidak mungkin jendral bahkan prajurit kita sudah tidak bernyawa" kapten yang tidak percaya itu berkata pada jendralnya.
"Aku yakin dia masih hidup" jendral tersenyum tipis ya dia mendengar detak jantung putri walaupun sangat pelan, lalu sekarang putri sedang dirawat oleh tabib kepercayaan.
"Bagaimana jendral bisa yakin jika putri masih hidup?" kapten yang masih penasaran itu masih bertanya pada jendralnya, yang lain hanya menyimak pembicaraan mereka.
"Karna aku menyukainya" jendral yang langsung berbicara tanpa pikir panjang itu sontak membuat semua prajurit yang ada di situ menganga tanda terkejut.
"Hah" mereka masih tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, sedangkan yang berkata hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka.
"Tolong!" jendral menempelkan jari telunjuknya di bibir mengingatkan untuk mereka semua diam tidak menyebarkan berita tentangnya.
"B-baik jendral" mereka menunduk takut dengan pikiran mereka masing-masing, ada yang senang ada yang khawatir bagaimana nasib jendralnya jika dia ketahuan menyembunyikan putri louisa. Mungkin hukuman mati untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments