Chapter 371 : kerja sama Armegon dan Gordon
Bottlomless Gap, tempat Armegon dan lainnya berada.
"Pang!"
"Tang!"
"Bom!"
"Bom!"
"Bom!"
"Bom!"
"Pang!"
....
Benturan dari kedua benda padat terus terdengar di sana. Percikan api yang dihasilkan dari kedua benturan tersebut, bermekaran bagaikan layaknya sebuah kembang api yang bermekaran di angkasa. Jumlah percikan api bisa dikatakan tidaklah sedikit, melainkan banyak, yang itu berarti, orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak berhenti untuk saling menyerang.
Itu adalah sedikit gambaran dari pertarungan yang terjadi antara Gordon dan The Giant Skull of Doom atau yang bisa disebut sebagai Tengkorak Raksasa. Pertarungan dahsyat yang menegangkan. Tidak ada celah sedikitpun dari mereka ketika pertarungan terus berlangsung seakan-akan mereka sudah saling terhubung untuk bertarung.
Tetapi yang bisa dilihat kalau Si Tengkorak Raksasalah yang terus memberikan serangan. Sementara itu Gordon hanya bisa bertahan dan menangkis serangan yang datang. Bagaimana tidak, dari jumlah senjata saja Gordon sudah ketinggalan jauh dengan si Tengkorak Raksasa . Monster tersebut memilik empat buah senjata utama, yaitu Gada raksasa yang dijadikan sebagai senjatanya. Semantara itu, Gordon hanya memiliki satu buah senjata utama, yaitu palu raksasa yang dia pegang saat ini.
Walaupun begitu, Gordon tidak terlalu kewalahan dalam menghadapi serangannya, malahan dia dengan santai menahan dan terkadang-kadang, memberikan serangan balik. Sudah dapat terlihat dari wajahnya yang tidak begitu panik dalam menghadapinya.
Namun, tidak untuk Si Tengkorak Raksasa. Seiring dia terus mengerang Gordon, dia dapat merasakan jika orang yang dia hadapi bukanlah orang biasa. Dia sedikit was-was akan hal itu.
Orang ini ... dia sungguh berbahaya. Tidak heran jika dia berani berkata seperti itu sebelumnya ....
Dia mengingat sebelum mereka berdua saling berbentrokan, Gordon sempat mengatakan beberapa hal yang menunjukkan kesombongan dirinya, bahkan sampai membuat dia kesal. Awalnya dia berpikir jika itu hanyalah omong kosong, perkataan penuh bualan yang keluar dari mulut manusia, akan tetapi saat ini secara tidak labgsung dia sudah membuktikan jika kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa dipertanggungjawabkan. Itu semakin menambah beban kecemasannya.
Kalau begini terus bisa bisa aku akan kalah .... Ah, aku harus segera mengakhiri semua ini!
Akhirnya setelah memikirkan sesuatu, dia mendapatkan sebuah keputusan, yaitu untuk segera mengakhiri pertarungan ini. Memang ini harus di selesaikan secepat mungkin agar dia bisa mengurangi kerusakan yang akan diakibatkan jika berlama-lama di sini.
Si Tengkorak Raksasa pun segera melangkah mundur dan menarik semua senjatanya, kemudian dipegang secara erat. Aura hitam pun mulai menyelimuti dirinya. Namun sebelum dia berniat untuk menyerang, secara mendadak Gordon melompat mundur, menjauhinya. Hal itu secara reflek membatalkan niatnya untuk menyerang.
Me**ngapa dia malah mundur?!
Di sisi lain, Gordon yang sudah melompat mundur, kini melihat jika jarak antara dia dan Tengkorak Raksasa tersebut sudah saling berseberangan dengan jarak sekitar 7-10 meter. Dia segera menguatkan kedua tumpuannya dan mengangkat palunya ke atas dan setelah itu terus hingga kepalanya menghadap ke belakang dengan kedua tangannya.
"Hehehe, sekarang gantian. Saya yang akan menyerang," ucapnya disertai dengan sedikit tawaan.
Dengan cepat Gordon mengayunkan palunya ke depan hingga akhirnya menyentuh permukaan tanah.
"Hammer Storm Blast!"
"Bam!"
"Bam!"
.....
Ledakan seketika tercipta di tempat itu. Ledakan itu terus menjalar dan mengharukan apapun yang menjadi hari lintasnya, termasuk tanah yang seketika hancur lebur karenanya. Yah, itu adalah salah satu keterampilan milik Gordon yang pernah dia tunjukkan beberapa waktu sebelumnya ketika mereka memulai penyerangan melawan pasukan Undead. Sebuah ledakan tanpa henti yang terus menjalar ke arah yang menjadi targetnya disertai dengan petir yang muncul di antara ledakan tersebut.
Serangan itu terjadi dengan begitu cepat sehingga membuat Tengkorak Raksasa tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Dia pun segera menggunakan keempat Gadanya itu menjadi tameng pelindunginya.
"Bammm!"
Tengkorak Raksasa dibuat termundur oleh serangan tersebut hingga pada akhirnya durasi dari serangan tersebut habis. Kepulan asap mulai membumbung tinggi, kemudian meluas. Keberadaan si Tengkorak Radjasa itu pun hilang ditelan oleh tebalnya asap.
Saat ini Tengkorak Raksasa masih berada di dalam kabut asap. Ternyata dia masih bisa bertahan dari serangan yang dilancarkan oleh Gordon.
"Huff ... tadi itu serangan yang menakutkan ...," ucapnya dengan rasa lega. Kemudian sebuah pertanyaan keluar dari pikirannya, "Sebenarnya siapa orang itu? Walaupun di usia serentan itu, dia masih mampu membuat serangan sehebat ini. Kalau saja dia masih muda, mungkin aku sudah habis dilibas olehnya."
Namun, dengan cepat dia menolak pendapat yang sekilas keluar dari kepalanya. "Tidak, tidak, tidak! Mengapa aku malah mengatakan hal seperti itu. Aku adalah salah satu makhluk Andalan dari Tuan Gluch, aku tidak boleh membuat Nama-nya kotor."
Saat dia sedang sibuk memikirkan hal tersebut, kabut yang ada depannya mulai bergerak secara tidak wajar, awalnya dia tidak terlalu memperhatikannya karena terlalu fokus dengan permasalahan di dalam kepalanya. Akan tetapi ketikan pergerakan kabut itu semakin dekat, barulah dia sadar.
"Eh, apa it-!"
Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, seseorang muncul dari balik kabut itu. Pergerakannya sungguh cepat sehingga dia tidak sempat melihat wajahnya. Dalam waktu singkat, orang tersebut sudah berada di depannya.
"Sekarang, rasakan ini!" ucap orang tersebut sembari mengayunkan palu raksasa yang dia pegang.
Ternyata orang tesebut adalah Gordon. Sewaktu dia selesai memberikan serangannya kepada monster tersebut, dia masuk menyelinap di antara kabut-kabut yang beterbangan. Gordon tidak ingin membuang kesempatan ini. Sudah pasti setelah serangan itu, Tengkorak Raksasa itu terkejut dan menjadi panik, ditambah dengan kabut yang menghalangi pandangnya, dia pasti tidak tahu kalau dirinya sedang berlari menuju dirinya. Dan benar saja, Gordon dapat dengan mudahnya tiba di hadapannya. Jadi tanpa berbasa basi lagi, Gordon segera mengayunkan palunya, pergi menyerangnya.
"Bukk! Bukk! Bukk! Bam!"
Gordon mengayunkan palunya beberapa kali. Di setiap ayunannya, serangannya pasti mengenai salah satu bagian tubuh si Tengkorak Raksasa. Hingga, setelah sekian pukulan, dia pun memberikan serangan terakhir sehingga membuat Tengkorak Raksasa terpental. Di saat bersamaan, kabut yang menutupi mereka berdua Sudah mulai menipis dan akhirnya menghilang. Armegon yang ada di luar kabut sudah dapat melihat mereka berdua.
"Ah, itu mereka!"
Di saat si Tengkorak Raksasa itu terpental, Gordon segera meneriaki Armegon.
"Armegon, sekarang!"
Itu merupakan pertanda darinya agar Armegon melanjutkan apa yang mereka rencanakan tadi yang tidak lain adalah kesempatan bagi Armegon untuk menyerang. Gordon telah membuat celah dengan membuat si Tengkorak Raksasa terpental sehingga dia kehilangan keseimbangan dan tidak dapat menyerang maupun bertahan.
"Baik!"
Armegon pun merespon ucapan Gordon dengan cepat. Dia pun mengaktifkan keterampilan yang sudah dia pikirkan.
"En Sun!!"
Setitik api kecil muncul dari tangannya kemudian membesar membetuk sebuah bola dan semakin membesar. Sekarang, ukuran dari bola api tersebut berukuran lima kali dari ukuran tubuhnya. Yah, ini adalah keterampilan Armegon yang di mana dia bisa menciptakan sebuah miniatur matahari dan salah satu keterampilan andalannya dalam menghadapi monster dalam jumlah yang besar karena keterampilan ini termasuk ke dalam kategori serangan AoE.
"En Sun!!"
Sekali lagi Armegon berteriak menyebutkan nama keterampilan yanh sama seperti yang dia sebutkan tadi. Muncullah setitik api lain dari tangannya, sementara itu miniatur matahari yang sudah jadi, secara otomatis menjauh dari dirinya dan hanya melayang di sekitarnya. Perlahan, terciptalah lagi Miniatur matahari lainnya. Total ada dua Miniatur matahari dengan ukuran yang sama persis.
Sebenarnya keterampilan En Sun milik Armegon bisa mengeluarkan empat buah Miniatur matahari, namun dia hanya bisa mengeluarkan dua dari total yang ada. Dia tidak bisa melakukannya saat ini karena cuaca yang ada di sekitar sini tidak berada dipihaknya. Namun, dia rasa ini sudah cukup untuk memeberikan kerusakan kapada Monster itu.
"Tengkorak Raksasa, rasakan ini!!"
Armegon langsung melempar kedua bola miniatur terebut menuju ke tempat si Tengkorak Raksasa itu berada. Kedua bola minaturnya pergi terbang dengan begitu tinggi di udara, saling mengelilingi satu sama lain, berputar dan kemudian menurun ketika mereka sudah berada di lokasi Tengkorak Raksasa berada.
Beberapa detik kemudian, kedua bola tersebut menghantam tubuhnya. Tengkorak Raksasa tersebut berteriak dengan penuh kesakitan.
"Aduh, aduh, aduh! Sakit ...! Panas!"
Bola itu terus menekan tubuhnya sehingga sekitar area tulangnya berwarna merah terang karena suhu yang amat panas. Tentu saja angka-angka kerrusakan terus bermunculan. Ban kesehatan dari Tengkorak Raksasa tersebut kembali mengalami penurunan.
Sesaat ...
"BAMM!!!"
Ledakan besar tercipta di sana. Ledakan tersebut hingga menimbulkan dampak cahaya terang yang menyinari seluruh area tersebut. Tengkorak Raksasa tersebut telah sepenuhnya ditelan oleh cahaya dari ledakan tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Umi Aulia
🆒
2022-03-02
1
Refielpansah Papanya Aurora
hfdssf
2021-08-29
0
Zen
hadit
2021-05-16
0