Chapter 368 : Terus Berlanjut
Tempat Heraces berada.
Setelah melalui beberapa pertarungan, tetap tidak ada perubahan, kedua belah pihak masih bisa berdiri, baik itu Heraces maupun Ciefguard. Sepertinya pertarungan mereka tidak akan berakhir di sini.
Mereka berdua segera memutar satu sama lain secara melingkar, menunggu salah satu di antara mereka untuk memulai serangan. Selama mereka berputar-putar, tidak ada di antara mereka yang berniat untuk menyerang. Keduanya masih dalam posisi bertahan. Pemikiran mereka berdua adalah menunggu siapa yang akan memberikan serangannya.
Namun, pada akhirnya ada juga salah satu dari mereka yang bergerak. Dia adalah Ciefguard. Sesaat, dia memberhentikan langkahnya yang membuat Heraces harus ikut berhenti juga.
"Aku sudah cukup bosan dengan hal ini. Karena tidak ada yang menyerang, maka saya yang akan mengambil inisiatif untuk menyerang. Jadi, kamu bersiap-siaplah!"
Ciefguard ternyata sudah bosan dengan apa yang mereka lakukan. Tadinya mereka akan berniat untuk kembali bertarung, tapi malah sekarang mereka hanya sekedar berputar-putar. Rasa bosan pun melanda pikirannya. Jadi, Ciefguard pun berniat untuk melancarkan serangan pertama.
Dia pun mulai bersiap-siap, membentuk sikap kuda-kuda dengan kedua kaki yang sudah siap dijadikan sebagai tumpuan. Perlahan, aura hitam yang tadi menyelimutinya mulai menyebar ke sekitarnya.
Dan Heraces yang menyadari jika Ciefguard akan melancarkan serangannya dalam waktu dekat ini, juga meningkatkan kewaspadaan yang juga ikut bersiap-siap.
"Baiklah, kalau begitu akan ku mulai!" teriaknya yang kemudian melangkahkan kakinya.
Ciefguard langsung bergerak maju dengan aura hitam yang terus mengikutinya. Di sisi lain, Heraces yang sudah melihat jika Ciefguard bergerak, juga ikut bergerak. Beberapa saat akhirnya mereka berdua sudah saling bertatap pandang. Tan ada keraguan sedikit pun mereka berdua segera menghabiskan masing-masing pedangnya ke sisi yang berlawanan.
"Tangg!"
"Tangg!"
"Ting!!"
Tangg!!"
Suara benturan dari dua benda padat terus terdengar, melenyapkan segala keheningan yang ada di sana. Dua jenis serangan berdua jingga dan merah kehitaman yang terus diberikan oleh masing-masing dari mereka.
Setidaknya sudah ada puluhan tebasan yang dilesatkan dalam waktu 1 menit dan serangan itu semakin intens lagi. Baik dari kedua orang tersebut, mereka samar-samar terfokus dengan serangan yang ada. Bisa dibilang mereka terlihat seimbang. Tidak ada satu pun celah yang terlihat yang berarti tidak ada kesempatan di antara mereka untuk menciptakan serangan yang menghasilkan sebuah kerusakan.
Tapi itu tidak bertahan lama. Setelah waktu yang terus termakan oleh pertarungan mereka, sedikit demi sedikit celah yang tertutup kini mulai menunjukkan dirinya. Lebih tepatnya Heraces lah yang terbuka celahnya.
Ya, serangan yang dilancarkan oleh Ciefguard terus memberikan penekanannya terhadapnya walaupun Heraces masih bisa menangkisanya karena kecepatannya lebih unggul. Akan tetapi, dia tidak unggul dibidang kekuatan. Setiap tebasan yang Ciefguard berikan, kekuatan yang ada pada tebasan tersebut meningkat dan terus meningkat. Tentunya ini akan terus menambah beban Heraces dalam menahan serangannya.
Ciefguard tersenyum semakin lebar saat melihat Heraces yang ada dihadapannya saat ini sedang tertekan. Dia pun meningkatkan lagi kekuatan pada serangannya.
"Hahaha, apakah kamu sudah kewalahan dengan serangan ku ini? Padahal di awal tadi ku kira kamu adalah orang yang hebat. Ternyata kamu hanyalah seorang pecundang, sama seperti mereka. Lemah dan tidak berarti."
Jelas, dari perkataannya yang barusan dia keluarkan, Ciefguard mencoba untuk memprovokasi Heraces agar dia semakin emosinya membeludak dan akhirnya kesempatan untuk melukainya semakin terbuka lebar.
"Pecundang... lemah, dan tidak berarti...." Kata-kata itu terngiang-iang di dalam kepalanya sehingga secara refleks keluar dari mulutnya. Heraces akhirnya terpancing dengan perkataan Ciefguard. "Sebaiknya kamu menarik perkatamu itu."
"Zraaat!!!"
Secara tiba-tiba Heraces membalas balik serangan Ciefguard dan menciptakan aliran petir yang lumayan besar sehingga membuat pedang Ciefguard terlempar ke atas. Dia agak terkejut dengan munculnya petir di sekitar mereka. Tapi itu hanyalah sesaat. Ciefguard kembali menarik pedangnya dan segera kembali menebas Heraces secara vertikal.
"Tangg!!!"
Suara benturan yang amat keras terdengar. Suara itu juga menghilangkan petir-petir yang ada menjadi tekanan angin yang menyebar ke sekitar. Jarak pandang masing-masing dari mereka semakin dekat.
Ciefguard kembali berbicara, mencoba untuk terus memanaskan Heraces, "Apakah kamu marah? Kalau itu benar, berarti kamu itu memanglah lemah." Dan kemudian dia mendorong Heraces menggunakan pedangnya.
Heraces langsung terpental ke belakang beberapa meter, tapi dia masih bisa menyeimbangkan dirinya sehingga dia tidak terjatuh. Heraces pun menguatkan kuda-kuda sekali lagi dan berdiri menatapnya dengan ekspresi yang tidak bersahabat.
"Lightning movements!"
Seluruh tubuh Heraces mengeluarkan petir berwarna jingga. Setelah itu, dia pun menghilang dari sana. Bukan menghilang, lebih tepatnya berpindah tempat dengan begitu cepat. Sesuai dengan nama harusnya yaitu 'Gerakan kilat', Heraces berpindah tempat dari tempat satu ke tempat lain dengan begitu cepat diiringi dengan kilat yang ikut bersamanya.
Dia berpindah tempat mengelilingi Ciefguard secara terus menerus. Semua itu dilakukan agar pergerakannya tidak terbaca olehnya dan dia bisa memberikan serangan kepadanya. Sekarang, Dia terlihat seperti sebuah petir yang berada di mana-mana.
Melihat Heraces yang terus-terusan berpindah tempat membuat Ciefguard kesal. "Kamu... jangan mencoba menggunaan trik licik seperti itu!" Ciefguard langsung memberikan mengayunkan pedangnya ke segala sisi sembari berkata.
"Slash of Darkness Black Wind!"
Slashh!!
Slashh
"Slash!!"
"Slash!!"
Serangan berupa tebasan terbang berwarna hitam terus Ciefguard keluarkan. Setiap dia melihat Heraces muncul, dia akan melemparkan tebasannya berharap jika dia terkena serangan itu. Namun,m takdir berkata lain. Tidak ada satupun dari serangannya yang berhasil, bahkan menyentuhnya. Setiap dia mengeluarkan serangannya, Heraces berpindah tempat dengan kemampuannya.
Setelah beberapa saat setelah mencoba, hasilnya sama saja. Ciefguard pun pada akhirnya tidak lagi mencoba untuk menyerang Heraces. Sekarang Dia hanya terdiam Di tempatnya, tidak menunjukan satupun pergerakan.
Hal itu dilihat secara langsung oleh Heraces yang sedari tadi berpindah tempat dengan kemampuan Lightning movements-nya.
"Sepertinya dia sudah tidak memiliki harapan untuk bisa mengenaku. Ini adalah kesmepatanku untuk mengalahkannya."
Heraces pun segera mempercepat pergerakannya dan semakin cepat berpindah tempat.
"Zraat!"
"Zraat!"
"Zrrat!"
Zraat!!"
Suara kilat yang timbul akibat pergerakan Heraces terus terdengar dan semakin banyak. Itu sudah membuktikan seberapa cepat dan banyak dia berpindah tempat. Itu sungguh cepat.
Kemudian, setelah cukup dengan perpindahan tempatnya, Heraces menemukan sebuah moment yang pas untuk melakukan penyerangan terakhir. Dia berhenti dengan cepat, tepat di belakang Ciefguard dan mengganti gayanya, dengan sikap kuda-kuda dengan ujung pedang yang dihadapkan di belakang.
"Lighting Up!"
Sekali lagi tubuh Heraces di selimuti oleh petir, dan itu dalam jumlah yang besar. Tidak sampai disitu, pedangnya juga ikut diselimuti oleh petir sehingga membentuk sebuah Great Sword. Semua itu tercipta dalam waktu yang sangat singkat. Sesudah perubahan itu, Heraces pun langsung melesat dengan kecepatan yang tinggi, mengarah ke Ciefguard yang membelakanginya.
Dalam waktu yang amat singkat, Heraces sudah berada tepat di belakang. Dan Ciefguard masih tidak menunjukkan satupun tanda pergerakan yang menandakan kalau dia sadar akan posisinya yang tidak pengerasan di belakangnya. Tanpa adanya rasa ragu sedikitpun, Heraces mengangkat pedangnya setinggi-setingginya, mengarah ke langit. Terasa jika waktu yang ada di sana diperlambat. Heraces pun segera menurunkan pedangnya, segera menebas Ciefguard secara telak.
"The Rage of Thunder!!"
"Bammm!!!"
"Zraat!!"
"Zraat!!"
Ledakan besar sekali lagi tercipta di sana. Sebuah serangan penghabisan dari Heraces. Serangan yang dia kira akan menghabisi Ciefguard. Semua petir yang ada di tubuh dan pedangnya, seketika keluar, mengarah ke Ciefguard. Mereka semua menjadi liar yang menyerang apapun yang mereka sentuh seakan mereka sedang marah. Yah, petir itu sudah menggambarkan seberapa emosinya Heraces terhadap Ciefguard yang sebelumnya mengata-ngatakannya sebagai seorang pecundang, orang lemah dan sebagainya.
Tidurlah dengan damai didalam amarah ku....
**
Sejenak Setelah penyerangan itu, Heraces merasakan ada sesuatu yang aneh. Pedangnya masih tertahan oleh sesuatu.
Kenapa pedangku bisa tertahan. Seharusnya kan setelah serangan ini, dia akan terbelah sepenuhnya??
Belum terjawab pernyataannya, kini aura hitam muncul dan membeludak, mengusir petir yang ada di sekitar sana hingga pada akhirnya seluruh petirnya telah menghilang. Dan setelah hilangnya petir tersebut, Heraces dikejutkan oleh sesuatu yang menghalangi jatuh pedangnya.
Sebenarnya Apa-apaan dia ini?!
Yang dia lihat adalah ada dua pedang yang sedang menahan jatuh pedangnya. Namun itu bukanlah hal yang membuatnya terkejut, melainkan dua orang asing yang menahan pedangnya. Mereka berdua memiliki pakaian yang sama persis seperti Ciefguard dan juga memakai senjata yang sama persis. Memang itu sudah mengejutkannya, namun yang lebih membuat dia terkejut adalah mereka berdua menempel di punggung Ciefguard yang seakan mereka tumbuh di sana.
Dan dari depan, terlihat jika Ciefguard tetap terdiam, namun memasang sebuah senyuman lebar. Senyuman itu seperti senyum yang menyatakan jika dia lah yang telah memimpin pertarungan. Sesaat dia pun berkata,
"Special Darkness: Additional Body."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Umi Aulia
🆗
2022-03-02
1
Hirage Mieru
Upp
2021-05-14
0
Irwan ID
bang nonton one piece movie ga? movie stampade gokil parah 😭🙏
2021-05-05
3